Prague Solo Backpack – One Day Journey

It was so exciting. Prague was tremendously beautiful. I love the city, the architecture, the landscape, and particularly the view from the top of its castle and the hills.

DSC_0153

It’d been ‘oke oce’ since 2 years ago lol

This journey was a bit audacious one to be honest, due to lack of remaining days after the internship I had, that made me race against time in one day. I had the itinerary, but I must be strict with the time. If in case I’d ran out of time while backpacking I might have missed the bus to Berlin. And If I’d missed the bus to Berlin I would have missed the plane to Indonesia in the day after. Ran out of cash. No ticket to back. The visa expired. Deported.

Alhamdulillah it never happened.

Anyway, the incipience of this post was because I just found simple and cool video editor in Mac and randomly edited my (let’s say) vlog while doing solo backpack Journey in Prague, Czech Republic 2 years ago. Well vlogging was not really popular at that time. It is today, attested by abundant vlogging-type videos by so called Millennials. So I just combined some short random ‘shakky’ videos from my DSLR gallery, and created these three parts of the Journey. So most the stories would be told by these three clips

Prague was my final city of this solo backpacking journey in the end of intern, after Vienna and Budapest. Despite of one day, and having the tight time so I didn’t have the chance to enjoy Prague in the night, it was such an unforgettably amazing journey to experience this city.

That’s why I truly wish I could be able to come back here again to more enjoy the city without time boundary someday. And indeed not alone. Lol. Allahumma amiin.[]

W & P Variable

Experience does matters, doesn’t it. Terkadang untuk mengambil ilmu & pembelajaran dari sebuah pengalaman akan lebih mudah dan bertahan lebih lama dalam memori ketika kita sendiri yang melakukan pengalaman tersebut.

Well we can be inspired and learned from other people experience. But the effect is totally different. Mendengarkan cerita orang lain, pengalaman mereka, kesalahan yang mereka buat, dapat menjadi suatu pembelajaran bagi diri untuk menirunya jika baik ataupun menghindari nya jika buruk. But sometimes it will be just vanished the moment we get distracted by our own life, which must not be same with life of the ones we learned to.

Agree?

I do. I just experienced it by myself. About W variable (which is work) and P variable (which is prayer) in life.

Adalah suatu idiom umum, usaha dapat mengalahkan bakat. Man jadda wa jadda, siapa yang bersungguh-sungguh maka berhasil. Tidak ada yang sia-sia dalam berusaha. Dan seterusnya. Dan sejenisnya.

Well it’s true man! Saya merasakannya sendiri, dalam konteks ini yaitu dalam hal lari. Yap running. I started to routinely run recently. First because I have friends to run with. Second because there are many things now that make running is cool exercise. Cool means it’s easy to do it and it’s definitely affordable. Lol. True, we just need foot right. A bit will indeed.

640-Run-brother-l.jpg

First time running event I joined was 10K run in Jakarta. I finished it around 1 hour 11 minutes. But I felt brutally exhausted at that time. It’s been long time to have no routine exercise, then suddenly have to run 10K. Knocked Out! You know one day after race day, I took a leave. Lol

Subsequent to that event I started to use NRC apps, stands for Nike+ Run Club. It’s able to measure distance, time & pace of our running. And the cool thing is it also has coach feature, for example the one that I am currently using right now, the coach for preparing Half Marathon. I follow that schedule week by week. It usually consists of 2-3 runs per week. And it combination of interval run, speed, long run, recovery run, and others -depend on our condition and our goal. Early day, a bit inconsistent, but right now, well quite better.

I have friends as well to accompany me running both in weekday and weekend. And in some weekends we usually joined NRC event. Run together with the other NRC users. It was exciting to be honest. Another one reason that makes running is so cool.

You know, setelah beberapa bulan ke belakang, I did it routinely, yaitu sesuai dengan jadwal yang ada di NRC apps. Saya merasakan sesuatu yang beda ketika melakukan olahraga lain. Contohnya badminton. I started to play with friends routinely in every sunday. Dan entah mengapa I am not easily to get tired now. Terutama dari sisi nafas. Bisa lebih stabil dan not really easy to out of breath. Buktinya ketika main, double, single, terus double lagi, terus single lagi. I felt still good. Dan menang lagi :p

The point is work works. Usaha itu tidak akan pernah sia-sia. Dibanding dengan jauh berbulan-bulan lalu saya juga lari 5K, 10K sangat super ngos-ngosan. But now, masih aga ngos-ngosan sih, but not really hehe. Bahkan ketika lari dengan pace rendah, bener-bener ga kerasa capek, malah kayak jalan. While the others were tired instead. Others maksudnya yang baru-baru mulai lari gitu. Kalo dibanding pacer-pacer NRC mah kalah jauh. Well mereka juga lebih rutin & lebih lama lagi latihan lari tentu nya. Conclusion, work matters man!

Second thing about variable P, which is Prayer. Seperti di post sebelumnya, saya sekarang bekerja di early stage startup sebagai Associate Product Manager. As an APM I have to report directly to senior PM as well as CEO of the company. FYI, ini salah satu kelebihan bekerja di startup yaitu kita bisa langsung satu ruangan dan berdiskusi dengan executive dan team leaders, karena indeed team di early stage startup masih kecil dan struktur organisasinya tentunya juga masih ramping. Jadi interaksi antara even junior dengan executive sering terjadi.

Terkadang bahkan saya terjebak dalam satu diskusi langsung bersama dengan CEO, CTO dan COO this startup, -baru banget beberapa hari yang lalu- yang ketiganya sudah sangat experience. Another FYI, in startup I am working for right now, the founders are so experience. Eks Mc Kinsey, Deloitte, and some of them had founded successful acquired-startup in their past. Makanya ketika ngbrol terkadang saya agak sulit buat ngikutin, bahkan saya pernah berada sendiri, silent, dan berusaha mencerna in between their debates. Penasaran startup apa? Ntar deh saya cerita di post lainnya hehe. Semoga sempet.

Ohya. Karena founders nya super experience, terutama CEO nya, jadi sesekali (hmm ga ding) sangat sering bahkan, saya melakukan kesahalan. Mulai dari yang sepele sampai yang fatal. Jadi ga jarang juga saya kena semprot langsung oleh CEOnya, sampe ngerasa sudah kayak mau dipecat gitu haha. Semoga ga.

Jadi lumayan berbeda dengan kerjaan sebelumnya, di corporate, lumayan stabil, banyak duit, payung nya gede. Jadi pace nya santai. Kalo di startup yang bagus (banyak startup yang abal-abal emang), dan founders nya oke, kita dipaksa untuk marathon. Ga cuma marathon, tapi sambil sprint. Jadi pace nya cepet banget. If I was slow, then I would get scold! Sempet trauma bahkan, dulu pasca dimarahin, malem nya langsung ke bawa mimpi haha. But Alhamdulillah saya merasa bersyukur, accelerated learning nya bener-bener kerasa.

Ohya, kembali ke topic variable P. Disini karena sering dimarahin, jadinya saya sekarang sebelum berangkat kerja selalu doa keluar rumah. Every day, ketika saya ngelangkahin kaki keluar kontrakan, sambil di gojek, dan sebelum masuk kantor.

Bismillahi tawakkaltu’alallah, walaa haula wala quwwata illa billah

Dan kata-kata terakhir dari doa tersebut, “laa haula wala quwwata illa billah”, selalu saya ucapin di ruangan, ketika kerja, ketika data mining, coding, ngelakuin analisis, apalagi sebelum report atau meeting dengan CEO nya. Wajib itu haha. Selain itu juga saya biasanya banyak-banyak istighfar. Karena mistakes itu terkadang kita buat tanpa sepengetahuan kita, mau seteliti apapun kita. Sepandai-pandai tupai melompat pasti jatuh juga kan. Yang paling penting apakah timing kesalahan itu fatal atau ga. Effectnya gimana. Nah itu kan out of control. That’s what prayer for.

And it’s proven!

Ketika dulu, jarang dzikir, doa keluar rumah kalo inget aja, jarang istighfar. Kesalahan yang dibuat bener-bener fatal, dan sering dimarahin bos. But when I dit that dzikir, istigfar, doa, entah kenapa, I sometimes still created the mistakes but the timing was okay, I mean I still was be able to fix it. Dan entah kenapa juga terkadang pak Bos CEO, lagi slow, jadi malah memaklumi dan malah nasehatin buat improve. Prayers works man!

Experience matters. Self-experience more matters! Saya merasakan keduanya, bahwa varibale usaha dan doa itu benar-benar ada. And we have to combine both of them in our life. Tidak ada usaha yang sia-sia, nothing is wasted if we do something toward our goals. Doa itu sangat, sangat berdampak terhadap hasil nya. Which is out of our control. So let’s user these two variables! Allahualam.[]

Catatan Aksi 212

Ingin segera keluar air mata, ditengah teriakan salawat dan takbir beriringan, saya berjalan melangkah dalam barisan. Beberapa diiringi nasyid dan lagu perjuangan. “Bingkai kehidupan” adalah favorit saya, yang entah mengapa ketika ribuan orang melantukannya bersama dalam satu barisan, haru langsung mendera. Merambat pelan dari telapak kaki, badan, bahu hingga keluar dalam bentuk tangisan.

Allahu Ghayatuna
Ar-Rasul Qudwatuna
Al-Quran Dusturuna
Al-Jihadu Sabiiluna
Al-Mautu fii Sabilillah Asma ama  nina

Allah adalah tujuan kami
Rasulullah teladan kami
Al-Quran pedoman hidup kami
Jihad adalah jalan juang kami
Mati di jalan Allah adalah Cita-cita kami tertinggi

Ketika mulai memasuki bunderan HI, terlihat masa aksi sudah memadati sepanjang jalan Thamrin. Langkah diri masih terus berjalan dengan tujuan tempat terdepan. Berkali-kali banyak yang menawarkan nasi bungkus, minuman dan juga makanan ringan. Begitu dekat dan ikhlas terasa dari senyuman ketika mereka menyodorkan ke orang-orang.

Setelah sekian kalinya, akhirnya saya luluh juga, mengambil satu botol air mineral, dan peci putih. Hitung-hitung untuk wudhu sebelum sholat jumat nanti, dan peci agar semakin seragam dengan barisan aksi.

Maklum kaum milenial, tetap rasa ada ingin meminta foto dengan latar belakang keramaian, meng-upload satu ke facebook dan instagram, hanya sekedar untuk menunjukan rasa syukur karena saya diberikan kesempatan untuk berdiri disini. Kesempatan mahal yang mungkin banyak orang inginkan, namun masih memiliki beberapa halangan dan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Foto ini juga sebagai bentuk ajakan, agar teman-teman yang lain juga bisa ikut mendukung gerakan, setidaknya dalam untaian doa yang mereka ucapkan.

Rintik air turun dari langit. Kecil dan gerimis. Saya yang memang tidak membawa payung, membiarkan diri ini sedikit basah. Gerimis itu hanya sebentar. Seakan-akan pemberian Allah untuk membersihkan jalan, agar debu-debu yang berterbangan tersapu bersih oleh air hujan. Betapa indah skenario yang sudah Allah rancang.

Gerimis reda, matahari kembali bersinar, tapi juga masih lumayan mendung. Sedikit aneh memang cuaca hari itu. Seperti sudah di orkestra langsung oleh Sang Pemilik Semesta. Diri ini terus berjalan. Mendekati gedung Bank Indonesia, orang-orang sudah pada duduk membentuk Shaf rapi, persiapan sholat Jumat. Saya dan teman melipir ke pinggir jalan, masih ngotot ingin mencapai barisan terdepan yang bisa dijangkau.

Beberapa kali kami harus melompati orang yang sudah duduk. Tapi kembali terharu. Mereka sangat baik membuka jalan. Sempat saya tidak sengaja menendang orang yang duduk ketika melangkah, saking penuhnya. Tapi tidak ada emosi satu sama lain. Saya minta maaf, dia minta maaf. Malah mempersilahkan saya lewat. Saudara. Itulah ikatan saudara. Saya tidak kenal dia, dan sebaliknya. Tapi kami terikat dalam satu tujuan sehingga menghargai satu sama lain.

Sedikit terburu-buru, saya dan teman mencoba memotong jalan. Kami melawati pagar rendah trotoar di samping gedung BI. Tanpa sengaja kaki kami menginjak tanaman. Langsung ibu-ibu disebelah kami yang sedang duduk mengingatkan, awas jangan sampai menginjak tanaman. Langsung diri ini bergegas mengangkat kaki, melompat kembali ke trotoar. Saya meminta maaf dan bilang terima kasih. Ah indahnya saling mengingatkan. Seberapapun besar aksi kita, tetap harus taat peraturan dan tidak merusak sarana yang ada.

Saya dan teman terus berjalan dipinggir menggunakan trotoar. Jalan di tengah sudah penuh dengan shaf jamaah. Hingga akhirnya sampai juga kami di kolam patung kuda.

Monas sudah terlihat. Tapi masa aksi semakin penuh. Mentok. Kami tidak bisa maju lagi. Kami terhenti di tengah jalan, masih berdiri di aspalnya. Tidak bisa duduk karena sudah sangat penuh. Waktu masih menunjukan pukul setengah sebelas. Masih satu jam lebih menuju jumatan. Karena sudah mentok dan tidak bisa maju lagi, saya dan teman memutuskan untuk berhenti di tempat kami berdiri sekarang. Yap kami memutuskan tetap berdiri, tidak duduk, hingga adzan datang. Bukan tidak mau duduk, tapi memang tidak bisa duduk, karena tidak ada space sama sekali saking banyaknya masa aksi di area tersebut.

Untungnya mobil speaker tepat di samping kanan dan samping kiri kami, jadi tausiyah yang bergantian disampaikan oleh ulama di Monas terdengar jelas di tempat kami berdiri. Pegal kaki tidak ada apa-apanya dibanding siraman rohani ditengah-tengah (mungkin) jutaan umat islam disini. Apresiasi untuk panitia aksi yang sigap menyiapkan sound system di berbagai penjuru jalan.

Sebentar lagi masuk waktu zuhur atau dalam hal ini sholat jumat. Awan yang daritadi memang mulai mendung, akhirnya tidak kuasa lagi menahan air yang dia tampung. Langsung rintik cukup deras segera menyirami semua tempat di Monas dan sekitarnya. Basah kuyup dirasakan semua masa aksi. Tapi tidak ada kekacauan sedikitpun yang terjadi. Malah semua orang dengan ikhlas menerima air hujan, dan justru bahagia karena dengan ini terkabulnya doa akan semakin terwujud. Allahumma shoyyiban nafi’an.

Hujan semakin deras, baju yang saya pakai sudah kuyup menyerap air hujan. Saya sebenarnya sudah wudhu sebelumnya, tapi lupa apakah sudah batal atau belum. Dengan hujan yang makin deras, langsung saya kembali wudhu, menadahkan tangan, mengambil air hujan dengan tangan, dan berwudhu dengan air itu. Diikuti dengan banyak masa aksi yang juga melakukan hal yang sama.

Adzan dua kali berkumandang. Ditengah hujan, saya tidak bisa membedakan air yang ada dimuka saya, apakah air hujan atau air mata. Karena begitu terharu dengan kejadian hari itu. Kaki pegal karena berdiri, hujan mengguyur, dibersamai jutaan umat muslim, bacaan Quran yang terus berkumandang, dan adzan yang sangat menggetarkan telinga. Siapa yang kuasa menahan tangis dari hal itu.

Khotbah berapi-api dimulai. Begitu membakar tubuh dari dinginnya air hujan. Sebelumnya sempat terdengar desah-desuh suara, namun sekarang hening, tidak ada frekuensi suara sedikitpun yang keluar dari bibir para masa aksi. Yap, ketika khatib sudah naik mimbar, jamaah tidak diperkenankan berbicara, meski hanya sekedar menyuruh orang lain diam. Itu yang diajarkan dalam Islam. Begitu indah bukan.

Setelah khotbah berakhir, Iqomah langsung dikumandangkan. Hujan masih cukup deras. Kembali merasakan pengalaman sholat jumat yang tak terlupakan. Bacaan imamnya sangat menyentuh hati. Yang paling terasa ketika doa Qunud-nya yang panjang. Hampir setengah jam sepertinya. Isak-isak tangis terdengar dari kiri dan kanan saya. Saya pun begitu. Benar-benar menyentuh hati. Jujur kaki sangat pegal. Tapi ketika Qunud, seakan-akan saya tidak berdiri menggunakan kaki, tapi saya berdiri menggunakan hati. Sungguh khidmat dan syahdu.

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, density orang disana sangatlah padat. Saya tidak memilik space sama sekali untuk sujud. Alhasil saya sholat semampunya, rukuk 15 derajat, duduk sedikit jongkok, dan kepala tidak bisa menyentuh tanah. Maafkan ketidaksempurnaan gerak sholat ini Ya Allah. Saya yakin Engkau pasti Maha Mengetahui. Semoga sholat ini tetap Engkau terima. Aamiin.

Setelah selesai sholat Jumat. Massa aksi langsung tertib membubarkan diri, menuju ke berbagai arah, tapi tetap teratur. Beberapa orang segera menggenggam kantong plastik hitam besar, memungut sampah apapun di jalan. Sungguh indah. Saya dan teman memutuskan untuk kembali ke kantor menyusuri jalan Thamrin menuju Sudirman. Ada orang yang ingin melompati pembatas jalan tengah Thamrin dan menginjak rumput. Kemudian diteriaki oleh panitia aksi. Tanda tidak boleh. Betapa tertib, tidak hanya sebelum dan saat aksi berlangsung, tapi sesudahnya juga masa aksi benar-benar menjaga etika dan taat pada peraturan.

Ketika dijalan, mata ini menyaksikan seorang nenek, sudah sangat tua, menggunakan kursi roda yang didorong oleh entah anaknya atau cucunya. Masya Allah. Semoga Allah memberkahi umur nenek ya. Sempat juga melihat ibu-ibu menggunakan tongkat berjalan. Beliau terjatuh, dan orang-orang sekelilingnya langsung menolongnya. Senyuman tanda tidak apa-apa langsung terukir di wajahnya. Semoga Allah juga memberikan kekuatan kepada semua masa aksi yang sudah turun di tanggal dua kemarin.

Sungguh indah pengalaman hari itu. In syaa Allah akan menjadi sejarah tersendiri di garis kehidupan saya. Jika Allah memberikan kesempatan, ingin sekali saya ceritakan kepada generasi di bawah saya, terutama kepada anak dan cucu saya (aamiin). Bahwa pada tanggal 2 desember 2016, adalah satu hari, yang menjadi salah satu bukti bersatunya umat Islam dari berbagai penjuru Nusantara. Mereka berdiri dalam satu barisan kokoh, untuk bersama-sama memperjuangkan agama kebanggaanya.[]

whatsapp-image-2016-12-05-at-20-34-09

Foto basah kuyup pasca sholat jumat

Couch Surfing Experience (II): Random Conversation about God

Post ini sambungan dari part I sebelumnya. Tentang pengalaman couch surfing (CS) perdana di Budapest. Singkat cerita, ketika saya di Budapest saya menumpang di salah satu Host CS bernama Laszlo, dia orang Hungary asli.

Di hari terakhir saya di Budapest, tepatnya sebelum pulang saya iseng-iseng aja nanya ke Laszlo tentang agama dan bagaimana pandangannya. Cukup mengejutkan kata-kata pertama yang dia lontarkan

“Yes. I don’t believe in God. And I am happy with my life”

Sebenernya sudah biasa sih saya mendengarkan kata-kata itu. Tipikal orang Eropa. Jadi keep calm dan iseng aja ngajak ngobrol. Tapi tetap, saya coba untuk seterbuka mungkin. Benar-benar pilih kata ketika ngomong. Karena tidak ingin meninggalkan bekas buruk sebelum pulang. Saya bertanya:

“Why don’t you believe in God Laszlo?”

“I just don’t believe it. You see. There were many wars and many people died. If there was God, how could He let it happen”

Waktu itu saya tiba-tiba ingin menjawab sebisa mungkin dari sudut pandang Islam. Tapi mungkin karena efek kurang ilmu, dan kurang siap dalam menjawab, akhirnya malah saya menjawabnya terbata-bata. Ternyata ga segampang itu ya memberitahu orang asing tentang Islam. Di satu sisi ada rasa gugup dan goyah. Tapi saya coba sedertemine mungkin, dan semampu saya untuk menjelaskan ke dia.

Btw ini kisah nyata loh, hehe. Saya tidak membuat-buat pertanyaannya. Laszlo benar-benar menanyakan itu ke saya. Dan mendengar pertanyaan itu langsung saya teringat tulisan yang dulu pernah saya baca tentang mahasiswa Muslim dan Professor yang atheis. Kira-kira poin jawaban saya seperti ini ke Laszlo, tapi jangan dibayangkan saya lancar jawabnya. Semoga Laszlo bisa menangkap poin saya waktu itu.

“Do you know dark room Laszlo? That room is not in the state with much darkness. But instead it is in the state with the absence of light. Same with hot and cold. There is no state named “Cold”. But that state is called “Cold” because of the absence of Heat.”

Terus saya menambahkan penekanan

My point is, God didn’t create that evilness. Humans created it.

Balik lagi ya waktu itu saya benar-benar terbata-bata. Ga selancar seperti di tulisan. Jadi ga tau Laszlo nangkep poin saya atau ga waktu itu. Semoga nangkep. Terus saya lupa dia banyak cerita lagi. Yang menekankan dia tidak akan terpengaruh dengan apapun perkataan saya. I don’t believe in God. Titik. Dan saya bahagia. Katanya. Terus tiba-tiba dia nanya lagi ke saya.

“Then how did you explain this: There was a bus with many children inside. Suddenly it got accident, and many of them died. How could God let them die. They are all innocence”, said Laszlo

Saya benar-benar diam dalam waktu yang cukup lama. Tapi saya mencoba menerangkan apa yang saya tau dari sudut pandang Islam. Saya cukup ingat pas jawab ini. I answered:

“Because I am Moslem I will try to answer according to my religion. In Islam there are two kinds of fate. First, fate that we cannot change no matter how. Second, fate that we are possible to change.

The first one is absolute. No matter how hard we try we are not able to change it. For example, fate that we are a man or a woman. Fate about When and where were we born. Including fate about where and when we will die. And from my personal point of view it is absolutely fair. Back to those children, that means in that exact time is their fate to die.

The second one is fate that we are able to change. For example like wealth, healthiness, quality of life. Etc.

Saya lupa detail balasan dari dia. Tapi intinya dia tidak menerima jawaban seperti itu. Dan dia terus menekankan dia masih tidak percaya Tuhan. But the good thing, he really honors me as Moslem. Bahkan dia mendoakan saya:

“You are a good guy, still young and really determined. I hope you can find happy life in the future.”, katanya.

Aamiin. Yah saya hanya bisa mengaminkan saja. Sebelum pulang, saya sengaja memberi laszlo 4 selebaran tentang Islam yang saya dapatkan dari Islamic Center Vienna. Awalnya mau saya bawa sebagai kenang-kenangan, tapi setelah dipikir-pikir, sepertinya (mungkin) Laszlo lebih membutuhkan. Meski Allahualam di bacanya atau tidak. Hehe

“Those 4 papers I got from Vienna Islamic Center. It tells a bit about Islam and all are English. I hope you will have time to read it”, tutup saya

“Thanks Muhammad. I will save it”, jawab Laszlo

Satu yang saya lega. Laszlo orangnya baik dan pengertian. Sepertinya efek karena sudah sering meng-host orang dari berbagai latar belakang, sehingga dia jadi sangat terbuka tentang perbedaan. Jadinya at least I could have a happy farewell with him. Benar-benar bersyukur mendapat dia sebagai host pertama saya di couchsurfing.

DSC_0658

Satu pelajaran, ilmu saya masih sangat-sangat dangkal. Jawab seperti tadi aja masih terbata-bata. Semoga di sisa umur bisa terus belajar dan mencari ilmu sebanyak-banyaknya aamiin.[]

Couch Surfing Experience (I): Budapest and First Time CS

Sedang iseng saja, “Joy” dalam diri saya menemukan bola ingatan ini. Warnanya emas, tanda bahagia. Ya bola ingatan tentang sedikit pengalaman ketika saya melakukan solo-backpacking di 3 kota Eropa sebelum pulang ke Indonesia. *efek nonton inside out* lol Jadi benar, seberes … Continue reading

The Flight Day, Good bye Europe

Alhamdulillah. Thank Allah SWT for everything. Live-changing experience I got in here: 2 months, 9 countries, 15 cities, thousand of memories, millions of learning. Hari ini, in syaa Allah hari kepulangan saya ke tanah air. Tepatnya pukul 11:00 dari Tegel international airport, Berlin.

original

In this post I want to say thanks for everyone that I can’t mention one by one, who had helped me in the past two months. Terkadang saya merasa banyak sekali yang sudah menolong saya dalam hal apapun, but I cannot return back in same level. Semoga kedepannya saya bisa memberikan manfaat ke banyak orang

In this post I also want to say goodbye to this blue continent, I do hope Allah will give me other opportunities to visit it again. Tidak terasa hari ini saya harus kembali ke tanah kelahiran. Beribu-ribu mil saya akan terbang, menghabiskan waktu lebih dari setengah hari hingga bisa kembali ke Indonesia.

Masih banyak mimpi-mimpi yang ingin saya capai. Masih banyak tangga-tangga selanjutnya yang harus saya daki, hingga titik akhir untuk kembali padaNya.

Pulang ini saya in syaa Allah (baru akan) diwisuda dari kampus tercinta. Kedepannya saya tidak tahu jalan apa yang akan saya lalui. But I do believe in Allah. Saya punya banyak rencana, tapi rencana Allah lah yang paling baik dan indah.

Ohya satu hal lagi. Saya ingiiiin sekali menulis buku. Wacana ini sudah mengalir sejak lama tapi belum terealisasi hingga hari ini. Tidak harus sampai tercetak, apalagi menjadi bestseller. Tapi cukup sebagai media untuk saya bisa berbagi apa yang bisa saya bagi ke orang lain. Ya Rabb, please help me to make this comes true.

***

Sepertinya itu saja, closing post yang saya tulis di Eropa. Sebentar lagi saya berangkat menuju Tegel, menaiki Air Berlin, transit di Abu Dhabi, hingga kembali ke Indonesia dengan Etihad airways. Bismillah. Goodbye Europe.[]

Berlin, Germany
Muhammad Afif Izzatullah

Reminiscence of Pemira ITB 2013

Ceritanya kemarin malam baru dateng opening pemira ITB 2015 karena beberapa adik mentor yg kahim orasi di sana.

And randomly remembering that nostalgic feeling when I was in their position and found this video in the documentation folder. The first meeting of all committees of Pemira ITB 2013. Hanya ingin mengabadikannya di Youtube “a moment when I met a new big family in ITB”.

Terima kasih teman-teman panitia semua yang sudah memberikan unforgotten reminiscence in my campus life.

Untuk Tuhan, Bangsa & Almamater :)

Tiga Kebahagiaan

Alhamdulillah. Segala puji bagi Mu Ya Allah. Sungguh Engkau masih memperhatikan hamba Mu yang tidak tahu diri ini, yang hina ini, yang tak hingga kelalaian yang telah dilakukannya, namun masih Engkau beri kebahagiaan.

Di awal tahun ini saya ingin sedikit berbagi kebahagiaan. Sebuah pemberian dari Yang Maha Kuasa. Sederhana, namun entah mengapa rasa ini sungguh benar-benar tak terbayar. Membuncah dari lubuk hati yang paling dalam.

1. Kebahagiaan pertama: TA

Alhamdulillah. Saya dan kedua teman saya di tim TA akhirnya menyelesaikan serangkaian panjang mata kuliah TA1. Meski akan masih ada tantangan yang lebih besar lagi di TA2 nantinya, tapi semoga kita bersama bisa menyelesaikannya dengan baik. Sehingga alat yang akan kita buat benar-benar tidak hanya terdokumentasikan bersama debu di perpustakaan. Tapi juga bisa memberikan kebaikan bagi banyak orang.

Itu video tentang sistem yang kita buat sebagai salah satu syarat kelulusan TA1. Kemarin salah satu anggota KP jadi diputuskan cuma saya sendiri yang bicara di video untuk menjelaskan TA yang kita rancang. Untuk lebih lengkapnya terkait apa yang kita kerjakan, bisa dilihat di blog dokumentasi TA kita disini: http://ta141501056.blog.lskk.ee.itb.ac.id/ 

2. Kebahagiaan kedua: ol.akademik

Anak ITB pasti sudah tidak asing lagi dengan ini. Sebuah web sakral yang mungkin paling sering di ‘refresh’ di setiap penghujung semester.

Jadi kebahagiaan kedua ini berkaitan dengan satu mata kuliah wajib yang saya ambil di semester ini, namanya “Sistem Komunikasi”. Saking susahnya dan jujur saya benar-benar tidak terlalu tertarik dengan pelajarannya, mendapat C saja sudah sebuah anugerah. Intinya truthfully I don’t really want to re-take it in the next semester. Saat UAS hampir tidak ada satupun soal yang saya bisa. I answered a few questions (1/6 maybe) but I was sure it was all wrong (x_x). I had learnt. But the problems are truly difficult. Therefore I truly thank God even I get C. At least I pass this course

But, unexpectedly.. you know, I got AB in here. Truly beyond expectation. Alhamdulillah! Much thanks I said to Allah. I remembered at that time after did UAS, nothing I could do but trusted the rest to Allah. Seratus persen pasrah, karena memang tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Ternyata memang setelah tanya ke teman yang lain, they felt the same like me, the questions were too difficult which made me feel a bit relieve. I think that was also the reason some of us still got good result, since none could answer much in UAS. Alhamdulillah.

3. Kebahagiaan ketiga: Murid 

Awal tahun saya mulai lagi ngajar privat. Beberapa hari yang lalu adalah hari pertama ngajar di semester ini. Rada deg-deg an. You know why? Since I need to hear how are my students’ report.

Saya tanya ke Azka, salah satu murid privat saya.
Bagaimana raport nya?
Lebih bagus kak dari semester kemarin.
Adit bagaimana?
Kalo ga salah lebih bagus juga *adit kemarin berhalangan hadir*

Percakapan sederhana itu sangat melegakan dan membahagiakan saya. Meski memang belum membuat mereka menjadi juara kelas tapi mendengar lebih baik dari semester kemarin sudah sangat menggembirakan. Though I know, my influence to those reports is not that much, but knowing they got better results from previous semester truly ignites a little happiness in my heart.

Selalu iringi mereka dengan cahaya Mu Ya Allah. Dan berkahilah juga ilmu yang mereka pelajari. Aamiin[]