An-Nazi’at, Pharaoh and A Call

Terkadang semakin banyak kita mencoba mencari ilmu: membaca, diskusi, menonton video, mendengarkan ceramah; semakin terlihat segala sesuatu memiliki benang merahnya. Titik temu dari benang merah tersebut adalah Al-Qur’an. Semoga kita semua bisa diberikan kesempatan untuk terus mempelajari Al-Qur’an. Aamiin

Anyway, saya sekarang sedang mencoba ngikutin serial tafseer dari ustad Nouman Ali Khan. Inception nya pas Ramadhan kemarin, sangat terinspirasi dari tafsir surah Al-Qadr yang dijelaskan oleh beliau (I shed tears even, due to the incredible meaning). Then wanna try to start listening to the others Surah as well. Recommended buat subscribe www.bayyinah.tv ($11 monthly or $112 yearly), in syaa Allah worth it. Di dalemnya ada banyak penjelasan tentang Al Quran, dan yang paling baru ada tafseer series beberapa surah Juz Amma. Ada juga Arabic with Husna, video series ustad NAK ngajarin anaknya (Husna) bahasa Arab. Simple & in syaa Allah mudah dipahami, karena beliau memang ngajarinnya buat anak SD hehe :)

Quran-guide.jpg

The reason to post this, sebenernya karena baru terinspirasi lagi dari tafseer Surah An Nazi’at. Terutama mulai ayat 15:

هَلْ أتَاكَ حَدِيثُ مُوسَى

Have you received the news of Musa (15)

To be honest this surah is started with beginning complicated verses. But ustad Nouman simply explained it. Masih berhubungan dengan surah sebelumnya An Naba, disini juga diceritakan tentang judgement day. Terus mulai ayat 15, Allah flashback, menceritakan tentang kisah Pharaoh (Fira’un) dan Musa. Saya mencoba menjelaskan beberapa bagian, karena kalo keseluruhan ga bakal cukup 1 post hehe. Mending subscribe dan nonton sendiri aja. Atau kalo mau trial bisa pakai user & password saya dulu juga boleh (komen di bawah).

Nah jadi di penjelasan ayat ke 17 nya

اذْهَبْ إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى

Go to Pharaoh for he has indeed transgressed all bounds (17)

Disini ustad Nouman menghubungkan kisah Musa as dengan kehidupan Rosulullah SAW dengan kaum Quraisy. Short sentence nya:

Some rulers can’t accept religion due to Economic & Political reason. Money and Power.

Contohnya di ayat ini, Musa was asked to come to Pharaoh who had rebelled or transgressed. Pharaoh rebelled bukan karena arogant atau mengaku-ngaku dirinya Tuhan, powerful man, etc. Even in fact (I just knew it too anyway), Pharaoh was a weak old man who couldn’t barely stand with a stick. But you know, instead, Pharaoh called himself a God because its all about economic and political reason. Money and Power. Those could affect religion. For common people it’s about religion. But for people who controlled them, it’s money and power. And it’s always be there even until now. Perppu no 2 tahun 2017, mungkin juga salah satunya diterbitkan karena economic & political reason instead of religion.

economy-and-politics.jpeg

And when we become rulers, these two cancers (money and power) could destroy ourselves, even affect our faith. It’s hard to say because we haven’t experience it by ourselves but it’s happened.

Therefore Quran and its careful studies keeps us from falling into those cancers (money and power), or recognize those cancers when we have it.

Saya juga sekarang sedang membaca buku “Why Nations Fail” yang menerangkan salah satu yang membedakan bangsa kaya dan miskin adalah economic and political institutions.

“…while economic institutions are critical for determining whether a country is poor or prosperous. it is politics and political institutions that determine what economic institutions a country has.”

Atau ketika zaman Rosul SAW, yaitu dengan kaum Quraisy, they have idols in each tribes. Dan ketika Rosul SAW menyampaikan konsep One God, yaitu Allah SWT. They rejected not because they thought it didn’t make sense, instead it was because not good for business. The simple explanation is because the idols were the mark of wealthy, and people would respect the tribes (politics), and it could affect their business (economics). For more details, it’s better you watch it by yourself.

BUT, yang keren nya dari Islam, ONLY Allah the one who can judge. The only who has the right to judge is Allah. Kita sebagai slave… btw FYI, ustad Nouman biasanya menggunakan istilah slave (kita) dan master (Allah), karena basically kita di dunia ini sebenarnya slave to something, slave to money, slave to throne, slave to desire, etc. You choose your own master, and indeed Allah is the one and only the best master.

power.jpeg

Dan back to topic, kita sebagai slave hanya bertugas untuk menyampaikan, deliver and let Allah do the rest. Seperti di ayat selanjutnya 18

فَقُلْ هَلْ لَكَ إِلَى أَنْ تَزَكَّى

“And say to him Have you any liking to purify yourself? (18)”

Even kepada Pharaoh who have rebelled and commited many crimes to people. Allah still asked Musa to say “Hallaka ilaa antazakka”. Hallaka here means a polite way of doing something like in english “would you please consider”. Dan disini juga ada kata “Ilaa”. Jadi bukan langsung “Hallaka antazakka” yang lebih artinya kayak langsung nyuruh, contohnya sejenis “you should become a good person”.

Karena dengan adanya “illa” means Musa was not asking Pharaoh “directly” transform. Sejenis: “could you change your course, just turn this way and pay attention”

Tapi justru dengan adanya “Hallaka” dan “Illa” jadi artinya benar-benar lembut dan sopan, kira-kira english lengkapnya

“would you PLEASE to consider, the POSSIBILITY, of heading towards the direction, that MIGHT eventually make you a better person”

Subhanallah. Keren ya :’)

Padahal sebenernya Allah knew whats happened with Pharaoh, he will reject it (in the next verses). Musa wondering, why Allah still wanted him to come to Pharaoh. Disini justru pelajaran utamanya:

“Our job is not gonna decide what’s gonna happen with the people. Our job is to do what Allah told us. Our job is to deliver. And deliver with love. With sincere care. Allah wants to give him (pharaoh) a choice through the messenger. Like us to them. But when they disobey, making fun of you, they won’t know who they are messing with. It’s the warning from Allah.”

Another lesson from this surah, in verse 17 “Go to Pharaoh for he has indeed transgressed all bounds”. Ustad Nouman explained, Allah asked Musa to go to Pharaoh. Come to him. It’s also lesson for us. People like Pharaoh, Quraisy, won’t come to Masjid. You should come to them. Kalo kata Ustad Nouman di video (karena di US):

“…you gotta go to DC. You gotta go to the Wallstreet. You’ve gotta go to them. Messengers had to go to bad environments. They had to. Some of you work in bad environment. Some of you have business in bad environment. Some of you go to universities who have bad environment.”

Congratulation!

You’ve supposed to be there. If you’re not gonna bring light then who will. Allah bring this ummah as carrier of light. Don’t try to expect “I wanna stay in islamic environment, I wanna stay away from fitnah”. Well what’s the point of you being ummah, if you don’t want to be around fitnah. You are chose to be this ummah because you are the only hope of humanity to bring out of from fitnah.”

Kira-kira seperti itu. Itu kutipan langsung dari speech nya Ustad Nouman. Karena bener sih, we can’t run from this society. We are fated to be there. This is our call. Jadi seharusnya sangat dibutuhkanlah muslim yang taat untuk masuk di sektor politik, pemerintahan, ekonomi, swasta, non-profit dan semua sektor yang menjadi pusat pertumbuhan peradaban.

Allahualam. Hanya mencoba menyampaikan, dan ternyata tulisan di atas itu saya baru menjelaskan ayat 17 dan 18. Dan itu pun sudah disingkat-singkat. Masya Allah. Al Qur’an ini benar-benar mukjizat terbesar dan pedoman manusia hingga hari akhir. Sekali lagi saya berdoa, semoga kita semua bisa terus istiqomah untuk diberikan hidayah untuk mempelajarinya. Aamiin.[]

Tafsir Al Qadr, Lauhul Mahfuzh dan Turun nya Quran

Baru nonton tafsir Al Qadr dari Nouman Ali Khan. Makin terharu, salah satu nya di ayat pertama yang menjelaskan tentang Inna Anzalna, sesungguhnya kami menurunkan Al-Quran, hu fi lailatil Qadr, di malam lailatul Qadr.

Penjelasan ustad Nouman, yang diambil dari predominant tafsir, dari Ibnu Abbaz ra, “Anzalna” disini artinya “turun entire Quran at once”.

Ini menarik.

Jadi di Arabic itu ada anzalna ada nazalna, di common English ditranslasi artinya sama yaitu “We sent it down”, tapi sebenernya artinya entirely different. Anzalna itu sent it down at once. Tapi kalo nazalna, something takes place over time. Jadi kaya guru yang mengajarkan muridnya ilmu, itu over time. Beda dengan orang menyampaikan informasi keberangkatan pesawat, itu cukup sekali.

Nah menariknya di surat ini dipakai kata Anzalna, which is We sent it down at once. Ada beberapa tafsir, tapi Ustadz Nouman menjelaskan yang predominantnya. Jadi sent it down at once ini, artinya turun entire Quran, dari Lauhul Mahfuz – seventh heaven ke first heaven/surga tingkat pertama, dan itu ditekankan sekali lagi entire Quran at once. Baru dari sana malaikat Jibril menurunkan ke Rosul SAW bertahap / on occasion selama 23 tahun (umur 40-63) kerosulan beliau.

Jadi kalo digambarin via flowchart kira-kira gini

Untitled Diagram2 (1).jpg

Itu keren banget ga sih??

Saya salah satu nangkep hikmahnya gini. Jadi, di dalam Al Quran itu ada beberapa ayat yang diturunkan berdasarkan suatu kejadian kan. Berarti memang Allah sudah tau semua yang bakal terjadi di dunia. Jadi alurnya bukan -> ada suatu kejadian -> terus Allah tulis -> terus disampaikan ke Rosul SAW. Bukan. Melainkan, Allah menulis semua ENTIRE Quran sampai selesai, SEBELUM kejadian-kejadian itu terjadi -> dan ketika terjadi -> Jibril menyampaikannya ke Rosul SAW.

MasyaAllah. Keren banget ya.

Menambah keyakinan bahwa semua yang ada di dunia itu sudah tertulis semuanya di Lauhul Mahfuz. Jadi kita ga perlu khawatir. Toh ups and downs semua manusia itu (termasuk kita) udah ditentukan. Masalah rezeki, jodoh, jalan hidup, kegagalan, keberhasilan, semuanya sudah tertulis. Bahkan daun yang jatuh pun semuanya sudah tertulis.

Sempet diskusi singkat dengan temen pagi ini. Tau film interstellar kan, yang ada salah satu orang yang masuk ke dimensi keempat, waktu. Yang dia bisa modify & alter waktu sesukanya. Itu fiksi. Tapi scientifically theory nya make sense. Jadi -ini theory juga- Allah itu (jelas) berada di dimensi yang jauh lebih tinggi dari manusia, hypothetically let’s say x-dimension world (x is uncountable and could be unlimited/undefined/ghaib), which is subset dari x dimensions nya, salah satu nya adalah waktu, sehingga bisa meng-alter waktu sesukanya. Salah satu contohnya ada di Surat Al-Kahfi, kisah pemuda yang berada di gua yaitu waktu bisa dimodify relatively different dengan waktu di tempat lain.[1]

Jadi ibarat kita yang tinggal di 3-dimension world yang bisa meng-alter jarak/ruang, kita jalan maju/mundur, sesukanya. Jadi dengan berada di dimensi waktu, jelas Allah bisa melihat entire timeline, kapan perang dunia I, perang dunia II, bom Hiroshima Nagasaki, Indonesia merdeka, Zuckerberg founding facebook, Yahoo akhirnya diakusisi Verizon, dst. Allahualam. Itu hanya hipotesa, pemikiran secara singkat, tapi kesimpulannya alam ghaib itu pasti ada dan yang jelas Allah itu pasti ada.

—-

Luar biasanya Islam ya. Alhamdulillah. Bersyukurlah kalian yang masih diberi nikmat iman sampai sekarang. Karena itu adalah nikmat terbesar yang Allah berikan dari nikmat apapun lainnya yang ada di dunia. Sehat, harta, jabatan, semuanya gaada apa-apa nya dibanding nikmat Iman.

Itu baru tafsir satu kata loh ya. Haha. Sudah lumayan panjang. Jadi internalisasi Quran itu memang tidak ada batasnya. Untuk lengkapnya mending langsung ke TKP aja gan, di youtube, sekalian mempersiapkan juga untuk 10 malam terakhir di Ramadhan ini. Semoga kita bisa dipertemukan dengan malam Lailatul Qadr. Allahumma Aamiin.[]

Revolusi Doa, Rezeki dan Memberi

Ya Allah. Ya Razzaq. Ya Fattah. Berikanlah aku rezeki yg bermanfaat. Yang halal. Yang Engkau berkahi.

Itu salah satu doa yg hampir tidak pernah tinggal di setiap akhir sholat di fase hidup saya sekarang. Kecuali emang lagi buru-buru biasanya doa singkat aja hehe (but to be honest it is so seldom, seburu-burunya tetap wajib menyempatkan).

Seperti biasa, doa-doa default saya yang menggunakan Bahasa Indonesia, biasanya berubah-ubah bergantung fase-hidup dimana saya berada. Ketika dulu SMA, terus berdoa bisa belajar di kampus di Jawa. Sama bisa juga belajar di luar negeri. Waktu awal-awal kuliah, minta diberikan kemudahan dalam menjalaninya, mudah beradaptasi & mendapat ilmu bermanfaat.

Terkadang ada juga waktu-waktu khusus yang doa default-nya dibuat untuk jangka pendek, misal ketika lagi pegang amanah di kampus minta supaya bisa tanggung jawab, amanah sebagai pemimpin dan dikuatkan pundak dalam memikulnya. Kemudian waktu sedang menjalani exchange minta dimudahkan dan dilancarkan hingga pulang. Dan tidak memalukan nama baik kampus. Yang doa-doa itu hanya dibacakan di jangka waktu pendek tersebut, bilamana sudah selesai urusan-urusannya, doa tersebut dihapus dan diganti dengan doa default yang baru.

Nah di fase mulai bekerja ini -fase ketika mulai benar-benar total lepas dari orang tua; fase permulaan bertanggung jawab dalam mencari rezeki sendiri- Doa yg saya tulis di paling atas tadilah yg menjadi salah satu doa “default” saya setelah sholat. Saya coba ulangi yaitu:

Ya Allah. Ya Razzaq. Ya Fattah. Berikanlah aku rezeki yg bermanfaat. Yang halal. Yang Engkau berkahi

Sebenernya doa tersebut sempat berevolusi. Mulai saat awal-awal mintanya rezeki yg melimpah. Terus mikir dibanding melimpah kayaknya yang lebih penting terjamin kehalalannya. Kalo melimpah tapi ga halal kan ga oke juga. Berubahlah doanya menjadi rezeki yang halal. Terus mikir lagi tapi penting juga keberkahannya. Bisa saja halal tapi Allah ga ridha & ga diberkahi kan sia juga. Jadi kembali direvisilah doa tersebut menjadi rezeki yang halal & berkah. Terus mikir lagi kalo bisa juga rezeki ini bisa bermanfaat baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Pengen rasanya berbagi sekecil apapun ketika diberi rezeki. Akhirnya jadilah doa-nya seperti sekarang. Meminta rezeki yg halal. Berkah. Dan bermanfaat.

Image result for memberi

Semakin kesini, diri ini juga semakin sadar doa benar-benar senjata utama manusia dalam menjalani hidup. Jadi jangan main-main dengan doa yg kalian ucapkan. Kalo abis sholat cuma berdoa seadanya. Ya maksimum dapet nya juga seadanya. Maksimum loh ya. Titik tertinggi. Kan semua doa juga belum tentu dikabulkan. You know what I mean. Allah always has reason intinya.

Nah dari perenungan tersebut -yang saya lakukan ketika dalam perjalanan pulang ke Jakarta dari Yogyakarta- jadi terbesit pengen cerita dikit di blog. Dikit aja sih. Semoga tidak dinilai pamer atau riya oleh malaikat, aamiiin. Toh rezeki yang saya dapat juga mungkin belum seberapa dibanding banyak temen saya lainnya yg satu angkatan. Atau bahkan sudah sangat seberapa. Tidak ada yang tahu.

Rezeki setiap orang kan semuanya juga sudah diatur. Korelasi satu sama lain nilainya nol, jadi gaada hubungan sama sekali. Jadi seharusnya gaada tuh istilah rumput tetangga lebih hijau. Karena soal rezeki ibarat kita dengan tetangga tinggal di apartemen. Kan gada rumputnya. Ya ga (?) Sama klo di apartemen kan ada HGB tuh, atau Hak Guna Bangunan. Cuma 25 atau 50 tahun apa ya. Abis itu dirubuhin deh. Nah seperti itu juga rezeki di dunia. Ntar bakal dirubuhin oleh Allah juga kan. Kapan? Yg ketika kita meninggal. Jadi kita-kita ini ada yg tinggal di “apartemen dunia” selama 60 tahun. 70 tahun. Ada juga yang HGB nya di dunia cuma 30 tahun, atau 20 tahun. Atau bahkan satuan tahun. Nah kita tinggal di apartemen mana nih? Cuma Allah yg tahu.

Rumput tetangga yang lebih hijau tadi ada nya nanti ketika di akhirat. Di rumah Allah di surga kelak. Sekarang selagi masih tinggal di apartemen sementara ini gimana cara nya kita menabung & berinvestasi untuk membeli rumah dengan rumput sehijau-hijau nya dengan cara beramal sebanyak banyak nya.

Nyambung kan (?). Mau aga sok filosofis gitu tapi pusing sendiri haha.

Intermezzo. Balik lagi tadi niat awalnya pengen cerita. Pas dari Jogja minggu kemarin. Baru balik dari sana kebetulan. Liburan sekaligus pulang, karena rumah orang tua sekarang disana.

Singkat cerita saya, ayah, ibu & dua adik saya jalan-jalan di Jogja City Mall atau JCM. Mall lumayan elit gitu di jogja. Mungkin klo di Jakarta sekelas Sency atau GI. Karena banyak store-store branded di dalem nya.

Tiba-tiba adik minta dibeliin sepatu. Butuh kata-nya. Sejak kecil kami-kami juga sering beli sepatu jarang di mall. Apalagi dulu di Palembang juga gaada mall-mall gede kayak Jakarta. Jadi mentok-mentok nya ya di Ramayana. Matahari. Atau Bata.

Saya juga baru tau brand-brand oke sejenis Nike, NB, Reebok, Vans, Crocs; kayak nya baru pas awal-awal kuliah di bandung. Juga sejenis Clarks, Hush Puppies, Skechers, Wakai; ya pas awal hijrah di Jakarta ini. Karena kantor deket banget GI dan temen-temen kantor sering belanja di sana, jadi baru tau. Haha. Biasanya dulu mah bodo amat dengan merk. Yg penting bagus dan murah.

Seiring dengan terus berkembang nya zaman. Saya juga hidup 5 tahun di bandung. Sekarang di jakarta. Jadi mulai lah berkenalan lebih intim dengan brand-brand kelas atas. Karena efek teman & gaya hidup perkotaan sih memang sepertinya. Terutama ibukota. Tapi jujur saya bukan tipe yang buy everything gitu (padahal emg gada duit haha). Ga lah. Emang prinsip saya mah kebutuhan.

Needs not wants.

Prinsip ini tumbuh pas exchange dulu. Saat dapet beasiswa dari negara sana yang lumayan gede untuk ukuran mahasiswa, jadi lebih legowo dalam spending. Dan dulu hidup di perantauan luar negeri membuat saya berpikir untuk kebutuhan-kebutuhan utama ngapain hemat-hemat, kaya cari makanan yang halal, alat mandi yang bagus, nge-gym supaya sehat dll. Those are needs. Baru ketika keinginan kaya ganti HP baru, padahal HP lama masih bagus dan masih setara zaman. Shopping baju atau jam mahal yang karena dibanding dengan harga di Indo lebih murah di luar, tapi sebenernya ga butuh-butuh amat. Dst. Those are wants. Panjang klo diceritain. Haha

Tapi intinya I shop according to needs. Misal karena sekarang sering pake kemeja ke kantor dan butuh juga buat meeting dengan client. Tapi di lemari dikit kemeja nya. Dan hampir sama sekali gaada yang mahal, maksudnya yang memang bahannya bagus dan agak sedikit berwibawa kalo dipake gitu. Jadinya kan itu termasuk needs. Jadi dibelilah kemeja yang lumayan mahal. Yah minimal satu atau dua yang mahalan. Atau misal jeans lama udah sobek nih. Berarti needs. Kaos kaya nya juga sudah pada kecil. Needs. Jadi klo misal ada poloshirt keren. Diskon lagi. 50% akhir tahun. Tapi di lemari masih ada poloshirt yang masih bagus. Itu berarti lebih ke wants. Coret.

Balik lagi ke adik saya. Dia awalnya saya tanya dulu itu needs ga. Iya kata nya. Memang butuh sepatu buat olahraga gitu. Yaudah langsung aja saya suggest sekalian yg bagus & branded. Kalo untuk ukuran sepatu, harga memang sesuai kenyamanan. Jadi langsung aja beli yang mahal, saya nyaranin Nike, Adidas atau NB. Tinggal gesek nih pake debit.

Disini mulai menariknya.

Jujur ketika awal ke Jogja gaada niat sama sekali buat traktir adik. Tapi random aja gitu, langsung kepikiran buat beliin adik yang bagusan dikit. Padahal juga pengeluaran udah di stop tuh di bulan itu, biaya untuk shopping udah habis. Tapi random aja tetep mau beliin.

Akhirnya saya tersadar, itu kaya nya efek dari doa yang saya panjatkan. Yaitu rezeki yang bermanfaat.

Allah yang menggerakan hati ini. Sehingga doa dikabulkan. Tapi setelah ngebeliin -jadinya Adidas- satu buat adik. Rasa bahagia nya itu priceless banget euy. Mungkin adidas itu bukan yang paling baru atau paling mahal juga. Tapi bisa ngebeliin orang lain, apalagi adik sendiri, pakai gaji sendiri itu, tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata lah bahagianya.

Unspeakable true happiness.

Terus adik yang satunya butuh juga, buat koas katanya. Random lagi, padahal gaada rencana sama sekali, tergerak aja bilang “yaudah jangan tanggung-tanggung lah, yang bagus dan branded sekalian”. Akhirnya saya ngajak adik dan orang tua ke Skechers. Emang lumayan mahal dan bagus, tapi setelah adik yang kedua ini pake nya, emang bener-bener nyaman. Skechers sih, US branded. “Beli aja langsung, nih pake debit”. Lagi-lagi random keluar dari mulut.

Image result for skechers

Disclaimer: tulisan ini tidak dipersembahkan oleh Skechers (yakali)

Terus tiba-tiba ibu juga ngeliat sepatu yang bagus di Skechers. Dan kata ibu emang enak banget dipake. “Yaudah beli aja satu, itumah standar di Jakarta. Tinggal gesek doang”. Aga sok-sokan dikit padahal belum pernah juga beli Skechers. Tapi sekali lagi, bener-bener ga kepikiran sama sekali itu sepatu harga nya berapa, saldo berkurang berapa. Bener-bener lepas aja karena tadi udah bahagia beliin adik. Jadi pengen tambahin rasa bahagia itu lagi aja, dengan beliin ibu & adik yang satunya.

Tiba-tiba random lagi.

“Bapak lah sekalian, itu sepatu, plis, udah jelek banget”. Nunjuk sepatu yang bapak pake sekarang.

Langsung saya ambil contoh sepatu Skechers untuk middle age gitu, terus suruh Bapak pake. Langsung kerasa. Enak banget emang Bapak pake nya. Bener-bener nyaman dan ergonomis. Yah namanya branded dan mahal. Pasti risetnya oke.

Gampang nih tinggal gesek aja gabungin.

Udah gitu aja. Gada petunjuk atau omen apa-apa. Habislah lumayan banyak berapa gitu karena pake debit saya. Padahal biasanya, kalo mau belanja itu mikir-mikir, masih masuk budget ga ya. Beli ga ya. Bener-bener butuh ga ya. Tapi kasus sekarang, woles we beliin mereka berempat. Ibu malah beli dua. Hehe.

Tapi memang balik lagi, Allah mengabulkan doa saya. Saya memang minta nya rezeki ga cuma halal & berkah saja. Tapi bisa bermanfaat. Random aja pas emang langsung bisa beliin sekeluarga semua sepatu baru. Pakai hasil dari gaji sendiri. Alhamdulillah.

WhatsApp Image 2017-01-07 at 20.09.15.jpeg

Muda & bergaya 8)

Kesimpulannya memang rezeki terutama harta, tidak akan kita bawa mati ketika meninggal, kecuali apa-apa yang kita belanjakan untuk kebaikan. Sisanya akan ditinggalkan,  bahkan diperebutkan. Itu salah satu pelajaran yang saya dapatkan -yang kebetulan baru beres baca- dari novelnya Tere Liye, Tentang Kamu. Recommended bagus banget!

Seperti juga dikutip dari buku Tuesday with Morrie oleh Mitch Albom, yang baru beres baca juga. Justru kekuatan memberilah yang membuat Morrie merasa lebih hidup. Bukan mobil dan rumahnya, ataupun apa yang dilihat dicermin. Ketika dia memberikan waktunya untuk orang lain. Kepeduliannya. Kesediaan bercerita. Ketika dia bisa membuat seseorang tersenyum setelah sebelumnya merasa sedih, justru itu yang membuat nya merasa sehat meski fakta akan penyakit yang dideritanya, yang terus mendekatkannya dengan kematian.

Last but not least, semoga kita semua diberikan keistiqomahan untuk terus berdoa, dan berusaha mencari rezeki yang halal. Yang diberkahiNya. Dan bisa memberikan manfaat untuk diri sendiri dan orang lain. Aamiin.[]

Catatan Aksi 212

Ingin segera keluar air mata, ditengah teriakan salawat dan takbir beriringan, saya berjalan melangkah dalam barisan. Beberapa diiringi nasyid dan lagu perjuangan. “Bingkai kehidupan” adalah favorit saya, yang entah mengapa ketika ribuan orang melantukannya bersama dalam satu barisan, haru langsung mendera. Merambat pelan dari telapak kaki, badan, bahu hingga keluar dalam bentuk tangisan.

Allahu Ghayatuna
Ar-Rasul Qudwatuna
Al-Quran Dusturuna
Al-Jihadu Sabiiluna
Al-Mautu fii Sabilillah Asma ama  nina

Allah adalah tujuan kami
Rasulullah teladan kami
Al-Quran pedoman hidup kami
Jihad adalah jalan juang kami
Mati di jalan Allah adalah Cita-cita kami tertinggi

Ketika mulai memasuki bunderan HI, terlihat masa aksi sudah memadati sepanjang jalan Thamrin. Langkah diri masih terus berjalan dengan tujuan tempat terdepan. Berkali-kali banyak yang menawarkan nasi bungkus, minuman dan juga makanan ringan. Begitu dekat dan ikhlas terasa dari senyuman ketika mereka menyodorkan ke orang-orang.

Setelah sekian kalinya, akhirnya saya luluh juga, mengambil satu botol air mineral, dan peci putih. Hitung-hitung untuk wudhu sebelum sholat jumat nanti, dan peci agar semakin seragam dengan barisan aksi.

Maklum kaum milenial, tetap rasa ada ingin meminta foto dengan latar belakang keramaian, meng-upload satu ke facebook dan instagram, hanya sekedar untuk menunjukan rasa syukur karena saya diberikan kesempatan untuk berdiri disini. Kesempatan mahal yang mungkin banyak orang inginkan, namun masih memiliki beberapa halangan dan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Foto ini juga sebagai bentuk ajakan, agar teman-teman yang lain juga bisa ikut mendukung gerakan, setidaknya dalam untaian doa yang mereka ucapkan.

Rintik air turun dari langit. Kecil dan gerimis. Saya yang memang tidak membawa payung, membiarkan diri ini sedikit basah. Gerimis itu hanya sebentar. Seakan-akan pemberian Allah untuk membersihkan jalan, agar debu-debu yang berterbangan tersapu bersih oleh air hujan. Betapa indah skenario yang sudah Allah rancang.

Gerimis reda, matahari kembali bersinar, tapi juga masih lumayan mendung. Sedikit aneh memang cuaca hari itu. Seperti sudah di orkestra langsung oleh Sang Pemilik Semesta. Diri ini terus berjalan. Mendekati gedung Bank Indonesia, orang-orang sudah pada duduk membentuk Shaf rapi, persiapan sholat Jumat. Saya dan teman melipir ke pinggir jalan, masih ngotot ingin mencapai barisan terdepan yang bisa dijangkau.

Beberapa kali kami harus melompati orang yang sudah duduk. Tapi kembali terharu. Mereka sangat baik membuka jalan. Sempat saya tidak sengaja menendang orang yang duduk ketika melangkah, saking penuhnya. Tapi tidak ada emosi satu sama lain. Saya minta maaf, dia minta maaf. Malah mempersilahkan saya lewat. Saudara. Itulah ikatan saudara. Saya tidak kenal dia, dan sebaliknya. Tapi kami terikat dalam satu tujuan sehingga menghargai satu sama lain.

Sedikit terburu-buru, saya dan teman mencoba memotong jalan. Kami melawati pagar rendah trotoar di samping gedung BI. Tanpa sengaja kaki kami menginjak tanaman. Langsung ibu-ibu disebelah kami yang sedang duduk mengingatkan, awas jangan sampai menginjak tanaman. Langsung diri ini bergegas mengangkat kaki, melompat kembali ke trotoar. Saya meminta maaf dan bilang terima kasih. Ah indahnya saling mengingatkan. Seberapapun besar aksi kita, tetap harus taat peraturan dan tidak merusak sarana yang ada.

Saya dan teman terus berjalan dipinggir menggunakan trotoar. Jalan di tengah sudah penuh dengan shaf jamaah. Hingga akhirnya sampai juga kami di kolam patung kuda.

Monas sudah terlihat. Tapi masa aksi semakin penuh. Mentok. Kami tidak bisa maju lagi. Kami terhenti di tengah jalan, masih berdiri di aspalnya. Tidak bisa duduk karena sudah sangat penuh. Waktu masih menunjukan pukul setengah sebelas. Masih satu jam lebih menuju jumatan. Karena sudah mentok dan tidak bisa maju lagi, saya dan teman memutuskan untuk berhenti di tempat kami berdiri sekarang. Yap kami memutuskan tetap berdiri, tidak duduk, hingga adzan datang. Bukan tidak mau duduk, tapi memang tidak bisa duduk, karena tidak ada space sama sekali saking banyaknya masa aksi di area tersebut.

Untungnya mobil speaker tepat di samping kanan dan samping kiri kami, jadi tausiyah yang bergantian disampaikan oleh ulama di Monas terdengar jelas di tempat kami berdiri. Pegal kaki tidak ada apa-apanya dibanding siraman rohani ditengah-tengah (mungkin) jutaan umat islam disini. Apresiasi untuk panitia aksi yang sigap menyiapkan sound system di berbagai penjuru jalan.

Sebentar lagi masuk waktu zuhur atau dalam hal ini sholat jumat. Awan yang daritadi memang mulai mendung, akhirnya tidak kuasa lagi menahan air yang dia tampung. Langsung rintik cukup deras segera menyirami semua tempat di Monas dan sekitarnya. Basah kuyup dirasakan semua masa aksi. Tapi tidak ada kekacauan sedikitpun yang terjadi. Malah semua orang dengan ikhlas menerima air hujan, dan justru bahagia karena dengan ini terkabulnya doa akan semakin terwujud. Allahumma shoyyiban nafi’an.

Hujan semakin deras, baju yang saya pakai sudah kuyup menyerap air hujan. Saya sebenarnya sudah wudhu sebelumnya, tapi lupa apakah sudah batal atau belum. Dengan hujan yang makin deras, langsung saya kembali wudhu, menadahkan tangan, mengambil air hujan dengan tangan, dan berwudhu dengan air itu. Diikuti dengan banyak masa aksi yang juga melakukan hal yang sama.

Adzan dua kali berkumandang. Ditengah hujan, saya tidak bisa membedakan air yang ada dimuka saya, apakah air hujan atau air mata. Karena begitu terharu dengan kejadian hari itu. Kaki pegal karena berdiri, hujan mengguyur, dibersamai jutaan umat muslim, bacaan Quran yang terus berkumandang, dan adzan yang sangat menggetarkan telinga. Siapa yang kuasa menahan tangis dari hal itu.

Khotbah berapi-api dimulai. Begitu membakar tubuh dari dinginnya air hujan. Sebelumnya sempat terdengar desah-desuh suara, namun sekarang hening, tidak ada frekuensi suara sedikitpun yang keluar dari bibir para masa aksi. Yap, ketika khatib sudah naik mimbar, jamaah tidak diperkenankan berbicara, meski hanya sekedar menyuruh orang lain diam. Itu yang diajarkan dalam Islam. Begitu indah bukan.

Setelah khotbah berakhir, Iqomah langsung dikumandangkan. Hujan masih cukup deras. Kembali merasakan pengalaman sholat jumat yang tak terlupakan. Bacaan imamnya sangat menyentuh hati. Yang paling terasa ketika doa Qunud-nya yang panjang. Hampir setengah jam sepertinya. Isak-isak tangis terdengar dari kiri dan kanan saya. Saya pun begitu. Benar-benar menyentuh hati. Jujur kaki sangat pegal. Tapi ketika Qunud, seakan-akan saya tidak berdiri menggunakan kaki, tapi saya berdiri menggunakan hati. Sungguh khidmat dan syahdu.

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, density orang disana sangatlah padat. Saya tidak memilik space sama sekali untuk sujud. Alhasil saya sholat semampunya, rukuk 15 derajat, duduk sedikit jongkok, dan kepala tidak bisa menyentuh tanah. Maafkan ketidaksempurnaan gerak sholat ini Ya Allah. Saya yakin Engkau pasti Maha Mengetahui. Semoga sholat ini tetap Engkau terima. Aamiin.

Setelah selesai sholat Jumat. Massa aksi langsung tertib membubarkan diri, menuju ke berbagai arah, tapi tetap teratur. Beberapa orang segera menggenggam kantong plastik hitam besar, memungut sampah apapun di jalan. Sungguh indah. Saya dan teman memutuskan untuk kembali ke kantor menyusuri jalan Thamrin menuju Sudirman. Ada orang yang ingin melompati pembatas jalan tengah Thamrin dan menginjak rumput. Kemudian diteriaki oleh panitia aksi. Tanda tidak boleh. Betapa tertib, tidak hanya sebelum dan saat aksi berlangsung, tapi sesudahnya juga masa aksi benar-benar menjaga etika dan taat pada peraturan.

Ketika dijalan, mata ini menyaksikan seorang nenek, sudah sangat tua, menggunakan kursi roda yang didorong oleh entah anaknya atau cucunya. Masya Allah. Semoga Allah memberkahi umur nenek ya. Sempat juga melihat ibu-ibu menggunakan tongkat berjalan. Beliau terjatuh, dan orang-orang sekelilingnya langsung menolongnya. Senyuman tanda tidak apa-apa langsung terukir di wajahnya. Semoga Allah juga memberikan kekuatan kepada semua masa aksi yang sudah turun di tanggal dua kemarin.

Sungguh indah pengalaman hari itu. In syaa Allah akan menjadi sejarah tersendiri di garis kehidupan saya. Jika Allah memberikan kesempatan, ingin sekali saya ceritakan kepada generasi di bawah saya, terutama kepada anak dan cucu saya (aamiin). Bahwa pada tanggal 2 desember 2016, adalah satu hari, yang menjadi salah satu bukti bersatunya umat Islam dari berbagai penjuru Nusantara. Mereka berdiri dalam satu barisan kokoh, untuk bersama-sama memperjuangkan agama kebanggaanya.[]

whatsapp-image-2016-12-05-at-20-34-09

Foto basah kuyup pasca sholat jumat

Kriteria Pekerjaan Terbaik

Hanya mencoba merefleksikan (hampir) genap satu tahun saya memasuki dunia kerja. Dunia delapan ke lima. Dunia dimana kopi menjadi minuman rutin yang diminum setiap harinya. Baik hanya untuk memantik adrenalin dengan kafein, ataupun sekedar media bercengkrama sesama kolega.

Tulisan ini saya coba buat untuk para adik-adik tingkat yang baru saja atau akan segera lulus dari masa “indah” perkuliahan. Pun bagi teman-teman sebaya yang sudah berkecimpung baru dan lama di dunia yang sama. Bahkan para kakak tingkat, yang sudah lama merasakan asam garamnya mencari nafkah, membiayai keluarga, memulai untuk menabung juga berinvestasi. Termasuk mereka yang sudah di masa emasnya ataupun di penghujung usia kerja.

Tentang pekerjaan terbaik. The best job in the world. Pekerjaan yang selalu kita impikan dan kita panjatkan dalam setiap untaian doa kepadaNya.

best-job-in-the-world

Sebuah Kriteria

Yah, mungkin bisa dibilang ini sedikit subjektif dan personal. Karena apalah saya yang pengalaman satu tahun saja belum selesai. Tapi sesuai dengan header blog ini, yaitu hanya mencoba mencurahkan nilai dan pembelajaran yang saya dapat ke dalam rangkaian kata. Semoga bisa diambil hikmah & hal positif di dalamnya.

Tentunya banyak parameter yang kita inginkan tentang apa yang kita sebut pekerjaan terbaik. Lingkungan kerja yang nyaman & kondusif. Gaji yang mencapai dua digit. Tunjangan melimpah. Bonus rutin. Bisa menjadi tempat belajar. Lokasi kantor yang strategis. Visi perusahaan yang besar. Proyek yang dikerjakan. Bidang yang sesuai dengan passion yang kita minati. Latar belakang kuliah yang linear dengan pekerjaan. Work life balance yang seimbang. Dan berbagai kriteria lain yang orang-orang biasa menyebutnya “bekerja serasa bermain” karena kita bahagia ketika melakukannya.

Tapi teman, menurut saya, refleksi dari 11 bulan kebelakang, pekerjaan terbaik hanya memiliki satu kriteria. Satu saja. Tidak banyak. Yaitu

Kriteria pekerjaan terbaik, adalah pekerjaan yang tidak membuat kita jauh dari Sang Pencipta

Disclaimer terlebih dahulu, layaknya berbagai kriteria lain yang saya sebut sebelumnya, kriteria satu ini belum tentu bisa kita didapatkan di kantor kita sekarang ataupun yang akan datang. Tapi selalu lah minta kriteria ini dalam setiap doa-doa kita.

Mencari pekerjaan layaknya mencari jodoh. Cocok-cocokan dan keberuntungan. Meski yakin semua sudah ditentukan tapi tetap ada variable usaha juga kan. Ada kalanya resume kita sangat baik, memiliki IPK tinggi, pengalaman berbagai organisasi, mempunyai penghargaan nasional hingga internasional; namun ternyata perusahaan yang kita inginkan sedang tidak butuh karyawan sesuai latar belakang kita; atau ketika tes FGD entah mengapa kita sedang tidak fokus sehingga terbata-bata dalam menyampaikan gagasan; atau ketika tes kesehatan tidak tahu bagaimana tiba-tiba kolesterol kita yang awalnya normal bisa menjadi di atas angka rata-rata. That’s life.

Oleh karenanya, variable doa sangat besar dalam hal ini.

Kesempatan ibadah

Hal yang paling bisa dilihat apakah pekerjaan kita sesuai dengan kriteria pekerjaan terbaik tadi atau tidak adalah dengan melihat kesempatan untuk beribadah karyawannya. Alhamdulillah. Company tempat saya bekerja sekarang in syaa Allah masih memiliki satu kriteria tersebut. Setidaknya saya masih memiliki kesempatan untuk beribadah.

Waktu masuk yang fleksible, bisa pukul 8 atau 9 -yang tentunya pulang menyesuaikan- bisa memberikan kesempatan karyawannya untuk shalat dhuha. Saya awalnya tidak rutin dhuha, naik turun, sering turunnya malahan, bahkan hampir putus hehe. Namun sadar, rezeki semua datang dariNya. Saya juga mempunyai mimpi yang cukup besar. Dan sadar, tanpa bantuan dari Allah, mustahil untuk tercapai. Ibadah yang paling bisa membantu untuk mendatangkan rezeki dan juga mencapai mimpi-mimpi tersebut salah satunya adalah shalat dhuha.

Alhamdulillah juga kosan tempat tinggal saya dekat dengan kantor, tinggal jalan. Jadi biasanya saya bisa melakukan dhuha sekitar jam 7.30 atau jam 8.00 sebelum berangkat ke kantor. Kalopun tidak sempat, di kantor juga punya musholla kecil yang bisa dipakai. Saya sering melihat beberapa kolega bahkan atasan melaksanakan sholat dhuha sekitar pukul 9 atau 10an. Terharu :’)

Atau, tidak usah jauh-jauh sholat sunnah. Sholat fardhu saja, yang paling penting, semoga kantor kita mempermudah kita untuk melaksanakannya. Alhamdulillah, di kantor saya sekarang tidak terlalu ketat juga masalah waktu ketika jam istirahat makan siang, ataupun jam shalat Ashar.

To be honest, bulan lalu kalo ga salah. Saya iseng submit CV di karir ITB, ke salah satu perusahaan Jepang juga, tapi bedanya kerja nya di Jepang langsung, tepatnya di Osaka. Jangan ditiru ya, hehe. Tapi saya bilang di cover letter juga saya baru siap masuknya satu tahun setelah beres di kantor sekarang kok. Semoga bos kantor ga baca ini :p

Tapi ada satu hal yang mengganjal di detail of the jobs di websitenya. Saya kopas langsung:

Praying You are not allowed to pray except during the lunchtime.

Terus ashar gimana dong? Ga bisa dhuha juga kan kalo gitu?? Tapi karena udah terlanjur submit bahkan dipanggil wawancara online kala itu, saya cuma meminta terbaik aja dari Allah. Alhasil saya ga dipanggil lagi setelah wawancara onlinenya. Haha.

Kaya nya sih karena saya masih ragu pas jawab komitmen kerja lama disana. Tipikal perusahaan Jepang. Padahal bisa saja saya ngeles atau “bermain kata” pas interview. Tapi ntah mengapa seakan-akan dipersulit pas interview itu. Allah pasti tau yang terbaik. Berarti emang belum jodoh. Padahal mah emang ga qualified ya meureun, wkwk. Huznudzan saja, berarti memang mungkin pekerjaan itu kedepannya tidak memenuhi kriteria yang satu tadi. Yah mungkin bisa malah membuat jauh dariNya. Allahualam.

Teman dan Kolega

Yap selain kesempatan ibadah, tentunya teman dan kolega kantor juga turut memberikan sumbangsih apakah kita bisa tetap dekat dengan-Nya, atau bahkan menjauh dari-Nya.

Ini sebenarnya lebih terasa ketika saya intern 2 bulan di Hamburg, Jerman. Itu benar-benar salah satu masa paling down iman. Shubuh hampir selalu telat. Hampir ga pernah jamaah. Ngaji bisa dibilang ga pernah sama sekali selama 2 bulan itu. Untung cuma internship.

Alhamdulillah di kantor saya sekarang, saya memiliki teman dalam lingkaran yang sholeh-sholeh. Dzuhur bahkan Ashar, in syaa Allah kita selalu mengusahakan sholat di masjid putih gede di luar kantor. Karena deket banget, dan deket juga dengan tempat makan. Kecuali kalo hujan atau lagi banyak kerjaan, kita biasanya sholat di mushola basement B1 kantor Wisma46 Sudirman.

Hasil gambar untuk masjid al i'tisham

Masjid Putih Deket Kantor

Yang asiknya lagi kita ada geng namanya “Kersen Time Geng” bahkan dengan senior-senior yang udah bapak-bapak juga, buat sholat ashar di Masjid. Tipikalnya gini kalo sudah masuk Ashar, ada saja yang ngingetin

“Ayo pak Kersen time dulu!”

Haha. Kersen time karena di deket masjid satunya (ada satu mesjid lagi deket kantor, yang biasanya tempat kita sholat Ashar, masjid arthaloka namanya) punya banyak pohon kersen. Jadi biasanya sembari jalan ke sana, kita ngambilin & makan buah kersen yang banyak warna merahnya :9

Sebenernya saya nulis ini sebaiknya jika sudah merasakan setidaknya kerja di lebih dari satu kantor. Tapi yah, mood menulis terkadang tidak gampang hadir di setiap waktu. Kebetulan daily report yang harus dibuat di project sekarang sudah selesai. Persiapan untuk assessment hari berikutnya juga sudah selesai, jadi ada sedikit waktu untuk menulis. Dan topik yang paling kepikiran dan paling ingin dibagi dengan yang lain adalah topik ini.

Ohya, ini juga termasuk buat teman-teman yang mau berwirausaha atau startup ya. Bagaimana startup yang akan kita bangun jangan sampai menjauhkan kita dari-Nya. Lebih bagus bahkan malah membuat diri dekat dengan-Nya apalagi bisa sampai membuat kultur di perusahaan untuk sholat dhuha rutin, atau jamaah rutin untuk sholat fardhu. How ideal. Semoga someday kita bisa mewujudkannya Aamiin.

Kemudian satu kriteria yang saya sebutkan di atas tadi juga biasanya kita tahu setelah menjalani pekerjaan di kantor. Jadi kesimpulannya selalu berdoa terkait pekerjaan dan karir kita kedepannya. Semoga jalan apapun yang kita ambil selalu dalam limpahan keberkahan Allah. Dan pun jika kita masuk dalam kondisi yang menjauhkan kita dari-Nya, kita bisa tetap bertekad untuk melawannya, dan berusaha semaksimal mungkin untuk tetap dekat dengan-Nya. Allahumma Aamiin.[]

Heart theory: stone, cotton and time-discrete

You know a stone? It’s totally hard and firm. That’s what our heart is. And cotton? So soft, fluffy and white. That’s what our heart is as well. In certain discrete time-frame.

I learned new thing again yesterday. My friend randomly invited me to join Islamic Study (Kajian Islam) yesterday at Masjid Al Azhar, not too far from my office in fact. But due to my heart is still in firm condition, I refused his invitation. “C’mon I was so tired after office and it was so lazy to burden my mind again with such thing”, that was my thought at that time.

Flashback in past, there were some moments that I was truly enthusiast to join islamic study, mentoring, or kind like those things, even the place were so far from mine, even my mind was still full of stressful stuffs and even the weather is in super hot and rain condition. “I need to recover my tiring mind out of these perishable things and I’d love to join it”, that was my thought at that time.

See my point?

Well that our heart is. Unstable and full of uncertainties. Therefore

“In term of asking someone to do something, if the time is not right, it’s improbable”

We cannot force someone to do something we want arbitrarily. Well I use a word “Improbable” which means almost never happen (let’s say 90%), not “Impossible” which 100% never happen. In certain condition we could, but it’s extremely rare.

Because heart is something we are not able to touch. Heart is the business between only the creature and its Creator. We cannot interfere with that.

The changes in our heart is likely framed at the discrete-time coordinate. It’s digital and be able to change drastically between one signal to another.

So we cannot guess the heart of someone by looking at the signs, omens or indication in the every time like continuous one has (left graph), but only in some sampling times. Let me try to explain as simple as possible.

  1. Heart of someone x(t) changes through time (t) in the continuous left-graph. Only s/he knows what happen to his/her heart through time, and indeed with his/her Creator.
  2. We see someone’s heart x[n] just in sampling time [n], not in continuous one (t), because we cannot follow his/her activities everyday like a squire. Therefore if we see someone at x[1] = in the morning, then we see him/her again at x[2] = in the night, and he/she changes drastically, it’s normal, because its just sampling time at n=1 and n=2. Those in between x[1] and x[2] which is in the afternoon, we aren’t able to know.

Okay, I wish you got my point, lol. And anyway it’s just what so-called match-ology, don’t take it so serious. The simple conclusion of that above complicated theory is

“Heart is a business between people and the Creator, and it is possible to change unpredictably through time, like sometimes it could be hard like a stone or soft like a cotton”

But what are the applications of this random heart-hypothetical-theory? Let’s see:

Relationship within family

All family members must understand this theory so that each of them will understand one to another.

For example a husband who found his wife changes suddenly after he came back from the office, then it’s normal. Don’t be so shock. Because heart is able to change even for no reason.Therefore the husband has to realize he has to be more patient than before and wait for the right time to talk. And it’s vice versa for the wife too.

The parents also have to realize the children’s heart are able to change unpredictably as well. Therefore it needs more understanding and patient to face them. Sometimes strict action is needed, otherwise smooth action might be the best one. Well there is no formula and exact theory related to this, you have to learn directly and with the hindsight.

Time spending within family

Discrete time signal is able to become similar to continuous one by using as many as samples [n] possible or if the sampling time is near to infinite.

Therefore in order to know someone’s heart more accurately, we have to spend as much time as possible with him/her, or in this case with our family. Especially for the parents to their children, time is the most precious thing they can give more than anything at all.

Da’wah

Like things I mentioned before in the second and third paragraph, heart or in this case iman is up and down through time. We as a d’ai (someone who do da’wah, or someone who ask people for good things) must also know this theory that the heart is always changing.

For example today we ask our friend to do prayer at Masjid and he refused, that means at that time his heart is still in stone phase. What we have to do is don’t get bored to ask them, but also not in rapid repetition. Wait for the time, and ask him again slowly. There should be a time his heart becomes like a cotton and he will join us to go to the mosque. Those are also valid for such asking to join ta’lim, fasting, mentoring, etc.

Soulmate Hunting

And last but not least, maybe the foremost one, this theory is also applicable for soulmate hunting. Lol.

The heart of a man or woman is able to change. Therefore there was a proverb that never give up before get rejected 21 times. Okay it’s a bit exaggerated. The point is according to the theory, the heart of someone is able to change through time and we’re not able to guess it.

Always count the variables change. In this case the variable heart and time is not our authority to control. We need an exact right time and an exact right heart in the corresponding exact moment, and He is the only one who knows it.

Therefore the main thing in soulmate hunting, is we always ask for the Owner of the Heart to give us the best soulmate in the future.

—-

Heart is complex. Never ever try to play with it. It’s also totally fragile. We have to be careful with our heart and other people’s. Hidayah is also the only authority of Allah, we impossibly interfere with that. But we have a chance to be a bridge to give it to the other people.

Be patient and always think from the other people’s shoes. Never presume that they are in the same condition with us. Because by respecting one to another is the only way we could live in harmony.[]

Percikan Inspirasi

Pagi ini untuk kesekian kalinya terinspirasi, merinding membaca seorang muslim yang humble, low profile namun berhasil membuktikan dirinya dalam percikan kontribusi untuk Indonesia.

postcard-61

Ya dia lah sosok menteri ESDM baru Dr. Arcandra Tahar. Benar-benar terharu membaca profile nya dari tulisan ini:

Menteri ESDM, Arcandra Tahar, Guru Ngaji yang Pakar Offshore

Seorang alumni mesin ITB ’89 yang melanjutkan studinya ke negeri Paman Sam, menjadi peneliti hingga professional yang mengaplikasikan ilmunya untuk banyak orang. Well saya ga begitu mengerti in detail what he has done terkait offshore but I’m totally sure it’s something big and has a great impact.

Yang paling membuat rasa inspirasi ini membuncah adalah kutipan-kutipan kalimat berikut:

“Keseharian selama kami mengenal beliau di Houston, beliau sosok Islam yang taat, family man,kata Ira

Ayah 2 anak ini adalah pendiri Indonesian Family Academy, lembaga yang setiap hari Sabtu mengajarkan anak-anak secara sukarela membaca Alquran dan kajian tentang Islam.

“Ia turun tangan langsung bersama istrinya memberikan pelajaran Alquran dan Agama Islam,” ujar teman dekat Arcanda pada GATRAnews.

MasyaAllah. Such a total inspiration this morning. Dunia dan akhirat.

Benar-benar menjadi suntikan motivasi untuk bagaimana menjadi seorang muslim yang tidak hanya mengejar akhirat tapi juga dunia. Wait? Sebenarnya kata-kata itu rada tricky, semoga tidak salah menangkap. Mengapa akhirat disebut dahulu? Terkesan seperti dunia lebih utama dari akhirat?

Karena niche market yang saya maksud untuk tulisan ini adalah mereka yang sudah mematok akhirat dititik tertinggi. Tidak akan bisa bergeser oleh apapun yang berbau dunia. TAPI, tetap harus memiliki tujuan dunia di bawahnya, dan linear dengan dengan titik tertinggi akhirat tadi.

Pak  Arcandra, tetap menjujung tinggi islam, prinsip tertinggi dalam hidupnya, namun juga bisa berbuat sesuatu di dunia. Menginspirasi dunia dengan what he has done bukan who he is. Meskipun pada akhirnya dunia juga akan terkena percikan inspirasi, mengenal dari siapa dirinya yaitu seorang muslim.

Teringat dulu kata-kata seorang mentor dulu saat mentoring di salman. Sebagai alumni ITB kita tidak dituntut untuk menjadi seorang ustad dalam ilmu islam, I mean ustad-ustad yang literally biasa kita kenal. Meskipun ilmu islam wajib juga dipelajari. Tapi justru kita dituntut untuk menjadi engineer ataupun perekayasa dalam ilmu jurusan yang kita pelajari, dan mencari ranah kontribusi di sana, dengan tetap mutlak jati diri muslim melekat kuat di dalam hati. 

Ustad dalam ilmu islam ibaratnya menjadi “side-job” dari alumni ITB. Seperti yang dilakukan oleh Pak Arcandra ini. Beliau job utamanya sebagai engineer perminyakan, namun di sela-sela waktunya tetap mengajarkan Al-Quran dan juga ilmu-ilmu islam pada orang-orang disekitarnya.

Sebagai penutup saya hanya ingin berdoa. Ya Allah, mampukanlah saya dan juga pemuda muslim lainnya untuk bisa mengikuti jejak beliau. Aamiin.[]

A Dream of meeting prophet

Umm.. before I write this, for disclaimer while reading, I just want to make sure, never extrapolate anything from this post. Never conclude or draw a conclusion. Never self-interpret moreover in exaggeration way anything even just a single word. Never deem as something special.

Today I was awaken from a sleep. In the morning like usual day. There was no something special happened yesterday. There was no any omen which galvanized me to do a good deed. But I dreamed something adequately indescribable in my sleep last night.

Yap. I dreamed of meeting my prophet, Rosul SAW.

I don’t know either it is right or not, but when I woke up I still remembered a bit of my dream scene. I wrote this just want to perpetuate what I saw in that dream and maybe someday I could ask someone to interpret what is the real meaning of this dream.

And yah, one more, what I will write in here, maybe not exactly same with what I dreamed of last night. Since you know dream is truly same with what is described in Inception movie, or like what you occasionally dream in your sleep, something illogically happened and naturally moves from scene to scenes. Here I try to assemble those puzzle scenes and describes it with the words as thoroughly as possible.

So in my dream last night, there were two -let’s say- factions. Both of them clashed of each others. I was a member of one faction which was against the prophet’s faction. There were kind of war at that time and I was truly confuse why should I fight my prophet?

I asked my leader’s faction about that. I mean he is prophet, Rosul SAW, why should I fight against him. I didn’t exactly remember what was his answer. But what I captured from my faction’s leader answer is just follow his order because indeed I was his faction’s.

I doubted a moment. I knew he was truly my prophet. Then I decided to trail my prophet silently. I still remember -if I’m not mistaken- at that time, the physical shape of his body when I trailed him from behind.

This is actually the crucial one. I just googled about a dream of meeting Rosul, and the hadits said syaitan are not able to imitate him. BUT… he is able to be someone and confess that he is him. Therefore I need to make sure that the characteristic of his physical is without discrepancy between what Hadits say and what I saw in the dream.

From what I remember in my dream, he was like an Arab people. I mean physically like an Arab people as we know: wearing a long Gamis, a turban around his head, and the color of everything he was wearing was grey. He was tall and had a very long beard. I think he was old enough maybe around 40s. But because I trailed him from behind I didn’t see his face.

Then in that dream, he entered a house and there was another person in that house as well. I was still behind him while he opened the door and went inside it. My memory of the dream scene is a bit blur till here.

If I’m not mistaken, I also entered that house and seeing his face opened the door for me while perhaps smiling (not sure). I came inside the house and looked at another person with him in that house though I didn’t remember the face. I sat beside my Rosul and he said something to me, but again I didn’t remember his words. There was kind like conversation between me and Rosul, but I’m not really sure about this since the memory was so blur and I could not memorize the detail of what we were talking about. However I felt conveniently comfortable beside him. I could present his wise, his calm, and his broad of knowledge. I felt in peace.

I don’t know whether this scene that I describe through words right now is precisely same with what I dreamed last night but that is what I really felt till now. I hope it’s right. Aamiin.

And after the conversation was finished, magically without any question anymore I just trusted him. I did believed in him. And I was totally sure that his faction was right. I still felt it until know the feeling. Therefore I coalesced and became a member of his faction. And I fought for him.

Then the dream is over.

I have no memory anymore after that one. I remembered I woke up some minutes before adzan shubuh but I didn’t directly realize what I dreamed just after I woke up. I went to bathroom, did an ablution and looked at the phone the there was still time to do Tahajud. Again I still didn’t realize about what I dreamed last night till this time. After the adzan was sounded I did 2 rakaats Qobliah before going to the mosque to pray Shubuh near my kost.

And finally a moment after the last Salam of shubuh prayer, I just realized that I dreamed about my prophet last night. Then it ends up with this post I am writing right now.

Again, don’t extrapolate anything from this. I am also still not really sure about my dream last night whether it’s right or not. But I hope it’s right that I really met Rosul SAW in dream. Aamiin.

Even though I am totally aware that I am still full of sins right now, still far away from a stable Iman. I still waste many of my time, still miss many of sunnah, even many times I am not khusyu in prayer. Therefore I always hope that Allah never feel bored of me. With many sins of mine I hope he never gives up on me and far away from me. Aamiin. Allahumma Aamiin.[]

Dhuha!!

Yesterday Sunday, I was asked by my friend to join an event held by TV One at the biggest mosque in Indonesia, Istiqlal. Praise be to Allah, here in such never ending busy city I am still given a best friend who still reminds me of Islam :’)

The speakers were personally inspiring for me. Aa Gym, Sandiaga Uno and Ippho Santosa. I was a bit late to go there because I just knew there was a CFD in Sudirman near my kost (c’mon fif where were you lol), that made me to take a look for a glance before going to Istiqlal. Second one, I also got lost in busway. Ow man, honestly it was still hard to understand transJakarta’s “complicated track” for a new guy like me. And I also wonder how tourists could survive in such this city lol.

Back to topic. I came exactly when Mr. Uno was speaking in the masjid mimbar. What I truly remembered at that time was, when someone asked a question in QA session “how routines does Mr. Uno do Dhuha?”

I didn’t know specifically his precise answers but the point, he always does Dhuha at least 8 rakaats a day before going to work. Well, this mind automatically did a self-reflection for a moment, that I did wanted to get abundant Rizq, a work, a project, or a business. But what I did was only 2 rakaats a day, and even I didn’t know how routine it was like cosine curve which consisted a variable of “mood” up and down over there.

2000px-Cosine.svg.png

So a point from this post is I also want to ask myself and the readers to start creating a dhuha habit. As a beginning, maybe it’s hard to directly do 8 rakaats a day. So let’s start with single step first, which is 2 rakaats, BUT routinely. Like what Yusuf Al-Qaradawi writes in his book “Fiqh priority”,

a small but continuous prayer is more prior than a big one but just once in a time

But still, let’s try to aim the goal of 8 rakaats a day. We do smoothly step by step, 2 rakaats but everyday for a month first. Then next month try to make it counted 4 rakaats till next one year. And so on and so on. Until we reach 8 rakaats a day for the rest of our entire life (aamiin).

Trust me it really works! For you who is hardly struggling to get Rizq right now, do this dhuha routinely. In syaa Allah you will get Rizq from an unexpected way beyond your mind[]

Be a Muslim with Vision

Random pingin nulis setelah baca note barunya Mark Zuckerberg yang bisa diliat di link ini.

Memang ga mudah untuk mencapai di titik seperti Mark, tapi bisa. Saya menulis ini sebenernya ingin mengingatkan diri dan juga mungkin beberapa pembaca bahwa visi dunia bagi seorang muslim itu mutlak harus ada. Jadi tidak melulu akhirat.

Okay akhirat tetap harus utama tapi dunia juga bukan berarti ditinggalkan. Ga mau ngomongin masalah kewajiban dakwah deh, berat dan terlalu klise. Saya juga masih minim ilmu. Tapi lebih baik ngomongin cita-cita besar dan keinginan untuk berbagi ketika hidup di dunia.

Islam itu agama paling seimbang. Adakan tuh ungkapan dulu saat perang pendeta mengutus pengintai untuk melihat kaum muslim, terus didapati bahwa “Mereka (kaum Muslim) beribadah di malam hari seakan-akan seorang rahib dan berjuang di siang hari layaknya penunggang kuda”. Jadi memang dunia dan akhirat tuh harus seimbang. Sepakat pisan dengan kalimat “beribadahlah sebaik-baiknya seakan kamu akan mati besok, dan bekerjalah secara visioner seakan kamu hidup 1000 tahun lagi.

http://externalresources.net/wp-content/uploads/2011/02/vision.jpg

Aduh saya teh suka kepanjangan kalo nulis. Jadi mau to the point aja, intinya, visi dunia itu penting dan sebisa mungkin besar dan mencakup ranah global. Keren aja kan ada seorang CEO dan founder perusahaan global baru melahirkan anak terus nulis,

Alhamdulillah we just welcome our first child (misal), Harun Al-Fatih into this world. We hope his generation would be better from us and he will become a Muslim that will give much contribution to the world 

Plok. plok. plok. Keren pisan yah. Pengen nangis dah kalo beneran ada. Terus tulisannya di like jutaan orang. Million people get inspired. Dan mereka semua tau dia Muslim. MasyaAllah :’) Aamiin.

Titik point dari tulisan saya sebenarnya, ingin mengajak kalian para pemuda-pemudi masjid untuk melihat dunia dan bermimpi besar. Ini sudah spesifik ya ajakannya, yaitu ke mereka-mereka yang sudah sangat dekat dengan islam. Bukan mereka yang masih ngomongin masalah fardhu nya saja tapi sudah terkait tahajudnya, puasa sunnahnya, bahkan hafalan Qurannya. Yaelah kalo fardhu aja masih jarang ke masjid apalagi bolong-bolong, urusin dulu sono ibadah individual lo, jangan mikir-mikir dunia dulu deh. Hehe.

Jadi sekali lagi kalian yang hatinya sudah terpaut sangat dekat dengan masjid, Islam dan Quran, segeralah bertebaran di muka bumi. Bermimpilah. Jadi Sekjen PBB. Presiden RI. Jadi Dirut Pertamina, PLN, atau CEO Schlumberger boleh deh. Atau ingin mendirikan perusahaan global sekelas facebook, google. Atau setidaknya CEO dari perusahaan-perusahaan itu, kayak Sundar Pichai dari India kan keren tuh. Terjun di dunia perbankan juga boleh deh, tapi tujuan untuk, misal, masuk World Bank dan sedikit demi sedikit memperbaiki sistem ekonomi “kacrut” dunia sekarang untuk kepentingan umat. Tau sih riba, tapi menurut saya balikin lagi ke niat. Kalo gaada muslim yang masuk ke dunia perbankan global yaudah kapitalis mulu, ga akan berubah (Allahu’alam ya silahkan tanya ke ustad detail terkait ini, ampuni saya ya Allah jika salah, masih kurang ilmu). Tapi poinnya:

Bermimpilah untuk menjadi salah satu orang yang mempunyai pengaruh besar, bervisi besar dan global dengan tetap tidak lepas dari identitas awal sebagai muslim.

Jadi kalo bisa sih jangan main di masjid mulu. Eits hati-hati ini saya ngomongnya dengan mereka-mereka yang sudah (insyaAllah) sholeh ya. Ngertilah. Jangan di salah interpretasikan. Ga mau juga mendikotomisasikan ibadah dan bekerja. Dalam islam mah semuanya satu, untuk mencari Ridha Allah. Jadi ke mesjid mah tetep we kalo lagi ada deket kita (mun di luar negeri kan rada susah tuh), tapi tetap berkeliaran di mana-mana wajib iya.

Ohya saya bukan berarti mendiskreditkan orang-orang yang sering di mesjid yah. Maksudnya kalo memang mereka disana ngajar bahasa Arab, ngajar tahsin, tahfidz, dan menjadi ustadz. Why not? kita juga sangat butuh orang seperti itu. Nah tapi kalo bisa jangan semuanya. Beberapa orang main-main lah ke luar. Masuk ke ranah “gersang”. Zona tidak nyaman. Dan bervisilah besar untuk menjadi orang yang berpengaruh di sana.

Be a Muslim with Vision. Kalo kalian sudah baca note nya Mark Zuckerberg, itu keren pisan euy. Power dan wisdom. Apalagi misal kalo beberapa tahun lagi ada orang sholeh yang punya power kaya gitu juga. Ah betapa indahya dunia. Karena orang sholeh pasti tau Islam Rahmatan lil Alamin. Dan yakin pasti akan membawa perubahan besar di dunia ke arah yang lebih baik. Bukan untuk muslim saja tapi untuk semua orang.

I will invest, in syaa Allah, 99% of my company share to make a world a better place. 

MasyaAllah. Urang mah bakal nangis pisan pasti kalo beneran aya nu kaya gitu mah *keluar sunda KWnya. Semoga beneran ada yah. Dan saya yakin insyaAllah pasti ada. Karena kebangkitan Islam itu pasti. Tinggal kita aja mau menjadi salah satu yang terlibat atau tidak. Allahu’alam[]