Prague Solo Backpack – One Day Journey

It was so exciting. Prague was tremendously beautiful. I love the city, the architecture, the landscape, and particularly the view from the top of its castle and the hills.

DSC_0153

It’d been ‘oke oce’ since 2 years ago lol

This journey was a bit audacious one to be honest, due to lack of remaining days after the internship I had, that made me race against time in one day. I had the itinerary, but I must be strict with the time. If in case I’d ran out of time while backpacking I might have missed the bus to Berlin. And If I’d missed the bus to Berlin I would have missed the plane to Indonesia in the day after. Ran out of cash. No ticket to back. The visa expired. Deported.

Alhamdulillah it never happened.

Anyway, the incipience of this post was because I just found simple and cool video editor in Mac and randomly edited my (let’s say) vlog while doing solo backpack Journey in Prague, Czech Republic 2 years ago. Well vlogging was not really popular at that time. It is today, attested by abundant vlogging-type videos by so called Millennials. So I just combined some short random ‘shakky’ videos from my DSLR gallery, and created these three parts of the Journey. So most the stories would be told by these three clips

Prague was my final city of this solo backpacking journey in the end of intern, after Vienna and Budapest. Despite of one day, and having the tight time so I didn’t have the chance to enjoy Prague in the night, it was such an unforgettably amazing journey to experience this city.

That’s why I truly wish I could be able to come back here again to more enjoy the city without time boundary someday. And indeed not alone. Lol. Allahumma amiin.[]

Advertisements

Couch Surfing Experience (II): Random Conversation about God

Post ini sambungan dari part I sebelumnya. Tentang pengalaman couch surfing (CS) perdana di Budapest. Singkat cerita, ketika saya di Budapest saya menumpang di salah satu Host CS bernama Laszlo, dia orang Hungary asli.

Di hari terakhir saya di Budapest, tepatnya sebelum pulang saya iseng-iseng aja nanya ke Laszlo tentang agama dan bagaimana pandangannya. Cukup mengejutkan kata-kata pertama yang dia lontarkan

“Yes. I don’t believe in God. And I am happy with my life”

Sebenernya sudah biasa sih saya mendengarkan kata-kata itu. Tipikal orang Eropa. Jadi keep calm dan iseng aja ngajak ngobrol. Tapi tetap, saya coba untuk seterbuka mungkin. Benar-benar pilih kata ketika ngomong. Karena tidak ingin meninggalkan bekas buruk sebelum pulang. Saya bertanya:

“Why don’t you believe in God Laszlo?”

“I just don’t believe it. You see. There were many wars and many people died. If there was God, how could He let it happen”

Waktu itu saya tiba-tiba ingin menjawab sebisa mungkin dari sudut pandang Islam. Tapi mungkin karena efek kurang ilmu, dan kurang siap dalam menjawab, akhirnya malah saya menjawabnya terbata-bata. Ternyata ga segampang itu ya memberitahu orang asing tentang Islam. Di satu sisi ada rasa gugup dan goyah. Tapi saya coba sedertemine mungkin, dan semampu saya untuk menjelaskan ke dia.

Btw ini kisah nyata loh, hehe. Saya tidak membuat-buat pertanyaannya. Laszlo benar-benar menanyakan itu ke saya. Dan mendengar pertanyaan itu langsung saya teringat tulisan yang dulu pernah saya baca tentang mahasiswa Muslim dan Professor yang atheis. Kira-kira poin jawaban saya seperti ini ke Laszlo, tapi jangan dibayangkan saya lancar jawabnya. Semoga Laszlo bisa menangkap poin saya waktu itu.

“Do you know dark room Laszlo? That room is not in the state with much darkness. But instead it is in the state with the absence of light. Same with hot and cold. There is no state named “Cold”. But that state is called “Cold” because of the absence of Heat.”

Terus saya menambahkan penekanan

My point is, God didn’t create that evilness. Humans created it.

Balik lagi ya waktu itu saya benar-benar terbata-bata. Ga selancar seperti di tulisan. Jadi ga tau Laszlo nangkep poin saya atau ga waktu itu. Semoga nangkep. Terus saya lupa dia banyak cerita lagi. Yang menekankan dia tidak akan terpengaruh dengan apapun perkataan saya. I don’t believe in God. Titik. Dan saya bahagia. Katanya. Terus tiba-tiba dia nanya lagi ke saya.

“Then how did you explain this: There was a bus with many children inside. Suddenly it got accident, and many of them died. How could God let them die. They are all innocence”, said Laszlo

Saya benar-benar diam dalam waktu yang cukup lama. Tapi saya mencoba menerangkan apa yang saya tau dari sudut pandang Islam. Saya cukup ingat pas jawab ini. I answered:

“Because I am Moslem I will try to answer according to my religion. In Islam there are two kinds of fate. First, fate that we cannot change no matter how. Second, fate that we are possible to change.

The first one is absolute. No matter how hard we try we are not able to change it. For example, fate that we are a man or a woman. Fate about When and where were we born. Including fate about where and when we will die. And from my personal point of view it is absolutely fair. Back to those children, that means in that exact time is their fate to die.

The second one is fate that we are able to change. For example like wealth, healthiness, quality of life. Etc.

Saya lupa detail balasan dari dia. Tapi intinya dia tidak menerima jawaban seperti itu. Dan dia terus menekankan dia masih tidak percaya Tuhan. But the good thing, he really honors me as Moslem. Bahkan dia mendoakan saya:

“You are a good guy, still young and really determined. I hope you can find happy life in the future.”, katanya.

Aamiin. Yah saya hanya bisa mengaminkan saja. Sebelum pulang, saya sengaja memberi laszlo 4 selebaran tentang Islam yang saya dapatkan dari Islamic Center Vienna. Awalnya mau saya bawa sebagai kenang-kenangan, tapi setelah dipikir-pikir, sepertinya (mungkin) Laszlo lebih membutuhkan. Meski Allahualam di bacanya atau tidak. Hehe

“Those 4 papers I got from Vienna Islamic Center. It tells a bit about Islam and all are English. I hope you will have time to read it”, tutup saya

“Thanks Muhammad. I will save it”, jawab Laszlo

Satu yang saya lega. Laszlo orangnya baik dan pengertian. Sepertinya efek karena sudah sering meng-host orang dari berbagai latar belakang, sehingga dia jadi sangat terbuka tentang perbedaan. Jadinya at least I could have a happy farewell with him. Benar-benar bersyukur mendapat dia sebagai host pertama saya di couchsurfing.

DSC_0658

Satu pelajaran, ilmu saya masih sangat-sangat dangkal. Jawab seperti tadi aja masih terbata-bata. Semoga di sisa umur bisa terus belajar dan mencari ilmu sebanyak-banyaknya aamiin.[]

Couch Surfing Experience (I): Budapest and First Time CS

Sedang iseng saja, “Joy” dalam diri saya menemukan bola ingatan ini. Warnanya emas, tanda bahagia. Ya bola ingatan tentang sedikit pengalaman ketika saya melakukan solo-backpacking di 3 kota Eropa sebelum pulang ke Indonesia. *efek nonton inside out* lol Jadi benar, seberes … Continue reading

Counting Days

Eins, zwei, drei, vier, fünf, sechs. Tinggal 6 hari lagi sebelum saya meninggalkan benua biru ini. Yap Blue continent yang katanya ada 2 alasan mengapa disebut biru. Pertama karena mayoritas penduduk eropa memiliki iris biru cerah. Kedua karena dulu banyaknya kerajaan masyur sehingga munculah istilah darah biru (bangsawan).

IMG_20150808_124604_HDR

River in Luebeck, Germany. Beautiful small town north to Hamburg

***

Ingin rasanya memperpanjang jangka waktu untuk bisa tinggal lebih lama di benua ini. I still want to eat pasta, cheese, milk, chocolate and many others foods that I can rarely find in Indonesia. Setidaknya disini makanan tergolong murah dari salary yang didapat per bulannya. Susu 1 L harganya cuma 50 cent, it’s really cheap. I will be able to drink it almost everyday. Keju dan daging juga termasuk murah apalagi dengan adanya toko halal Turki yang cuma “berjarak” 5 menit jika menggunakan bus dari tempat kerja. I still also want to cook and eat more pasta. I don’t know. Di bandung pasta termasuk makanan “mewah” karena saya biasanya makannya di warpas atau pun di cafe & restoran. Well I don’t even know (and lazy to get knowing) if it was existed in department store or not.

Saya juga masih ingin minum dari tap water. Don’t need to think anymore about buying bunch of water gallons and lift the tons weight of it. Saya juga pasti akan sangat merindukan chocolate. Yap milka & ritter chocolate especially which are at least known to be halal. Harga satuannya sekitar 1 euro atau misal lagi diskon bisa hanya 70 cent. I remembered when it was known that there was discount of milka chocolate in the nearest store, I directly buy 7 bars at once with different flavors lol.

Saya juga ingin tetap merasakan big portion-nya every foods in here. Di indonesia saya biasanya membeli cemilan (ciki2an) dengan bungkus kecil. Tapi disini sangat sedikit bungkus kecil untuk makanan apapun (termasuk ciki2an :p). Harga snack biasanya berkisar 1 euro tapi dengan volume yang banyaak. Well I got no choice but that’s the only portion in the store. Termasuk minuman juice ataupun softdrink, untuk ukuran 1 L harganya sangat murah. That’s why it’s more than often for me to buy more than one nectar drinks in a week (banana nectar is still my favorite)

The most I am gonna miss is cooking!! Yap, seperti yang sudah saya tulis sebelumnya perbandingan hemat jika membeli makanan jadi dengan memasak sendiri sangat jauh. Eropa adalah benua yang benar2 “menghargai” apapun yang dibuat manusia, termasuk makanan. Karenanya makanan-jadi yang dijual di cafe atau canteen sangat mahal compared to the raw foods if we cook. Saya juga pasti bakal kangen menggunakan pisau, electric stove dan yang paling asik oven! Maklum anak kos bandung kere paling cuma pake kompor gas di kontrakan, itupun masak mie doang wkwk. I am gonna miss mixing random seasoning into pasta sauce and taste it. Sometimes maybe smiling, sometimes closing eyes, sometimes force to eat it ignoring the taste since it was so hambaar lol. Knifing things are also interesting. Dan luar biasanya saya baru sekali luka di jari tengah karena ga sengaja teriris (sedikit, dont imagine the worst).

Then yeah the public transportation too. I am gonna miss it so much. Di Jerman terutama, negara tempat saya tinggal selama 2 bulan. Its better than any other Europe countries. Di Hamburg especially, kita hanya perlu membeli tiket tanpa harus mentap, validasi ataupun hal riweuh lainnya sebelum menaiki kereta, metro atau bus. This country truly upholds the honesty. But yeah, law is still existing. Petugas akan memeriksa di waktu random dan jika kita tidak memiliki valid ticket, they will charge us 60 euro. I ever saw it with my eyes directly in the train some guys didnt have the valid ticket and the officer foreclosed their ID and needed to pay something to take it back. Hope be able to write it in another post. But yeah, meskipun begitu, frekuensinya sangat jarang. Selama saya di hamburg, dengan hampir setiap hari naik bus & kereta, saya baru kena pemeriksaan tiket 3 kali.

DSC_1045

In the top of S-Bahn station in Landungsbrücken, my favorite place in Hamburg

Umm what else? Anyway I don’t wanna say anything about travelling. Since it is one of my lifetime-dreams that Alhamdulillah Allah grants it to me: menjelajah bumiNya di tanah Eropa. Biarlah post tentang travelling ini terpecah menjadi post-post lainnya. About work? Yeah many people asked me about work. Well I learned much things here, academically and… non-academically. The second one is much more. Well my project is ordinary compared to the other summer students but I am proud of it. My main conclusion after doing that project is “I will always respect the researcher.” I hope I can share about it in another post too. Ahh, and then if you want to know about my project you can look at in my report too. It will be uploaded in DESY website later.

***

Yeah but in the other hand, I also miss Indonesia. I miss adzaan so muuchh!! I miss salman. I miss doing fardhu Jama’ah. I miss Khotbah jumat dengan bahasa Indonesia. I miss my friends that always remind me to Liqo, to read Quran, to memorize Quran, to come to Kajian and any other things that make me feel the warmth of Islam. I miss just sit alone in below roof of Salman, to just enjoy the silent, hearing the others’re reading Quran, and thinking about the deeds I did in one day. Disini sangat kering, saya merasa jauh dengan Islam. Benar katanya safar salah satu cobaan bagi kaum muslim karena kita tidak bisa beribadah selayaknya when we are home.

Still I learned many things here. I got many experiences. Many great views of Allah’s earth. Many lost. Many mistakes. Many new discoveries I never found before. And many other values I hope I can share to the other people.

Now I am still counting days to leave Europe. My intern program will end in this September 10th . But I have visa extension till September 14th which in syaa Allah I am gonna spend it to backpack to 3 cities of 3 countries: Vienna, Budapest and Prague. I got no Indonesia friends that I can stay in those 3 countries. But luckily I joined the couchsurfing, a website that allow us to stay in a stranger house. And someone accepted to host me in Budapest. Means I will get free  one night staying in Hungary (yeay). But it’s so risky anyway, I hope I wont miss any bus schedule again since I got my plane back to Indonesia on 15th September. Aamiin

I hope to see you guys back in Indonesia and pray for my next 5 days backpack. Bye!! :D

Muhammad Afif Izzatullah
Hamburg, Germany

Random Journey in Brussels – Part 1

A journey without planning. That’s a short clause which describes what I did in Brussels. Ditengah hening nya Gare Du Central saya duduk di depan starbucks sembari mengecas batere kamera & iPhone, menunggu jam departure bus saya untuk kembali ke hamburg.

What a day. Brussels was sooo amazing. It becomes the third rank in my favorite city in Europe after Paris and Hamburg (at least until now). Berangkat jam 10 pagi dari Paris menggunakan flixbus saya sampai di Gare du Nord (North Station) Brussels pukul 14.00.

The worst thing was I could not find any wifi!! So, really no idea what to do and how to contact my friend. Yap saya punya teman yg sedang mengambil master di Leuven. Kita janjian di Gare du Nord pukul 2. But you know right, Gare du Nord is one of the biggest stations in Brussels. It’s so big. Dan sebelum berangkat ke Paris saya & teman saya belum menentukan dimana lokasi detail untuk ketemu, karena saya mengira akan ada wifi at least di mcD atau starbucks, but no wifi at all. A bit panic, I wandered around the stations, to find the metro map. My only idea was to go out to the city and find wifi. Otherwise no idea to find him in such a big station.

But before going out, I was really hungry since I hadn’t eaten lunch at all. I got to save some euro since I lost it so much due to my bus miss-incident in Paris before. I went to Express store and bought an instant waffle (well it’s Belgium anyway), hazelnut snicker and 1 L box juice (for vitamin needs). It cost around 4 euro

After that I went back to in front of information office to find place for eating. Then the magical event happened. Someone suddenly came to me and shouted:

“Kok dengan lo janjian random banget sih. Gw telpon2 line ga masuk. Gw hampir mau ke Gare du Central”

Saya langsung menjerit (volume medium)

“Akbaarrr!!!!” I directly jumped to him and said “OMG, gimana ceritanya lo nemuin gw?? ThankGod. Emg random banget sih tadi. Gw ga jelas bgt harus ngapain dan gimana nemuin lo di stasiun seluas ini. Terus tiba2 lo muncul. Gilaa!! Alhamdulillah. Haha. Gimana ceritanya lo nemuin gw?”

“Mana gw tau. Tadi gw telpon2 line lo ga nyambung2, jadinya gw mutusin mau ke Gare du Central, tapi pas ke bawah keretanya gaada, jadinya ke atas lagi buat liat jadwal. Terus tiba2 ada lo disini.

“Serius laah!!! Haha Random pisan. Tapi Alhamdulillah gw seneng pisan ketemu maneh wkwk”

Well I didnt know what happened. But I believed it was God’s help. Akbar langsung bilang

“Lo ga jelas bgt sih tiba2 ke Brussels. Ko bisa?”

“Gw dari Paris dan miss bus ke Hamburg. Akhirnya random daripada naik bus direct Paris hamburg ntar malem. Mending gw transit ke brussels dulu, jalan2 sehari. Harganya beda 4 euro. Dan jam sampe nya sama. Haha”

In short I told him the story behind a bit miss-bus incident di paris yang sekaligus juga mengantarkan gw ke Brussels.[]

DSC_0557

In front of atomium with my friend Akbar

Itu tadi part I. Btw ini gw nulisnya realtime di iPhone ya, di starbucks, dan beneran lagi nganggur nunggu bus balik ke Hamburg lol. Dan gw sekarang mau keluar dari Gare du Central dulu buat ngeliat Grand Palace Brussels di malam hari yang katanya benar-benar indah dan megah. Waktu isya juga sudah masuk menandakan harus segera mencari tempat buat sholat. Dunno where it is. But maybe in somewhere in the corner, emergency stairs or something. Lets see. Well see you in the next writing from Brussels

22:10 August 25th 2015
Gare du central, Brussels, Belgium

God Morgon Sweden!!

Huruf-huruf ini muncul dari ketikan tombol keyboard laptop teman saya yg saya pinjam di apartemennya, tempat saya menumpang satu malam untuk terlelap di Lund, Sweden. Alhamdulillah akhirnya bisa menginjakan kaki, dan menghirup bumi Engkau di sisi lain yang lebih menjorok ke utara. Pagi disini dingin. Kota lembang dikurangi beberapa derajat, sedikit angin namun dengan gaya arsitektur yang lebih pekotaan dan… european-like. Well this is still europe anyway. Yap itulah Lund. Kota kecil namun asri dan modern, yang bisa dijangkau dari Denmark hanya dengan kereta sekitar 40 menitan.

Disini udara begitu segar. Sepeda bertaburan seperti Denmark. I don’t know the fact in Lund, but in Denmark 70% household don’t own a car. They are all biking. Lund sepertinya tidak jauh beda, melihat berhamburannya sepeda di depan gerbang ketika kita keluar pertama kali dari stasiun.

Pagi ini Alhamdulillah kita bisa makan agak “normal” lagi, Spageti dan dumpling China, yang dimasak oleh teman saya di dapur apartemennya. That’s more than enough karena sebelumnya di Malmo kita ngebolang tanpa memegang satu Krona pun (mata uang Sweden) karena money changer sudah tutup alhasil tidak bisa membeli apa2. Alasan kedua emang sulit mencari makanan yang aman dari pork saat di Denmark dan Malmo. Karena denmark sendiri makanan paling terkenal nya burger & hotdog, dan ketika saya bertanya di salah satu gerainya

“Is there any fish here? Fish burger or something?”

“Nope we have only pork” She answered

Deng haha. Dan alasan ketiga dan mungkin utama juga adalah harga makanan disini mahal2 lol. Yap Denmark dan Sweden salah satu most expensive country in the world. Dibanding di Jerman harga disini cukup lebih tinggi. Tapi dari tour kemarin saya baru tau meski expensive, tapi negara ini salah satu yang tingkat penganggurannya rendah dan happy cities di dunia. I will tell you a bit detail about this and the fact I got from joining the free walking tour in Coppenhage, in another post, in syaa Allah.

Poin utama post ini sebenarnya hanya ingin mengucapkan selamat pagi saja, atau god morgon dalam swedish. And you know how to spell it? It is “Gud Moron” without “g” lol. I bit laughed when the first time hear it in the weather broadcasting in the TV this morning. But yeah, God Morgon Sweden!! x)

11913227_10203098737509752_286033152_n

with my friend Hafidz, akhirnya bisa ketemu lagi di Eropa

August 30th 2015
Lund, Sweden
Muhammad Afif Izzatullah

Eiffel in Love

Rintikan hujan menimbulkan suara indah di atap apartemen teman saya, tempat saya tinggal selama di Paris. Yap paris hari ini mendung. Namun entah sengaja atau tidak siang nya dia memberikan kehangatan cahaya matahari kembali. Seakan-akan memberikan saya sapaan suara hujan untuk di dengar di pagi hari, kemudian membukakan jalur kehangatan untuk saya bisa berjalan menikmati kemegahannya di siang hari

Hari ini hari terakhir saya di Paris sebelum kembali ke Hamburg, guna kembali menunaikan amanah sesungguhnya bekerja dengan mesin dan coding dalam satu proyek kecil di DESY. Paris benar-benar indah. Semuanya memenuhi ekspektasi saya seblum berangkat kesini. Well its not good actually if we have high expectation on something, unless we can be disappointed. But for Paris I won’t follow that advise. I want to expect as high possible as I can. And you know Paris has answered all of them, he never disappoints me.

Keindahan eiffel tower dari segala sisi juga keragaman waktu. Baik itu dari dekat, sisi kanan, kiri, bawah ataupun dari kejauhan. Ketika pagi, siang, matahari terbenam hingga gelap malam. Semuanya indah. If she was a woman, I had fallen in love in the second of the first sight.

***

Saya ingat ketika pertama kali teman saya mengantar saya melihat eiffel. Sebelumnya sepintas diaroma tower tersebut sempat terlihat ketika saya naik Uber dari bus station ke apartemen teman saya yg sangat dekat dengan eiffel. Puncak menara itu, warna itu, kemegahan itu, semua sempat terlihat dalam hitungan detik dari jendela mobil Uber merci yang saya naiki. Saya pun sempat melihat dari kejauhan, dari jalan dekat apartemen teman saya. And you know what I felt at that time, I incredibly couldn’t wait to face it directly with my eyes.

Then the time had came. Teman SMA saya yg satu lagi, perempuan, yg kuliah S1 di paris akhirnya datang untuk mengantar saya berkeliling paris. Kita berjalan dari apartemen melangkah menuju metro. Adrenaline atau apapun nama enzim yg ada di tubuh saya memicu degup jantung tanda ingin segera melihat menara listrik tertinggi itu secara langsung. Tanda bahwa, yg sebelumnya saya hanya bisa melihat dia dalam gambar 2D ataupun film-film yg pernah saya tonton, sekarang saya visa menyentuhnya, juga menangkapnya dalam latar belakang dengan lensa kamera. Alhamdulillah

Detik2 itu berjalan sangat cepat. Kita berjalan menuju stasiun Metro Charles Michaels, stasiun terdekat apartemen teman saya. Saat weekend terdapat tiket murah seharga 3 euro untuk seharian melintasi zona 1-3 Paris. Saya pun memesannya dari mesin otomatis. Metro yg kita naiki melaju dengan suara gesekan rel yg cukup keras, menimbulkan desing bising bagi siapapun yang berdiri di samping kereta. Kita hanya transit satu kali untuk menuju eiffel. Setelah turun di stasiun terdekat bernama Trocadéro, kita berjalan menuju sortie /exit untuk keluar dari stasiun.

Teringat langkah kaki kami yg berjalan dengan ritme yg sedikit cepat. Tergabung indah dalam derap langkah turis lain yg juga tidak sabar ingin melihat eiffel dari dekat. Langkah kita percepat, sinar matahari masuk ke dalam pintu exit metro.

At first I didn’t see any tower. My friends said

“So where’s the tower fif?”
“I dont know. We are in right place arent we?”
“Haha” she was laughing “just keep walking”

Then we walked more steps ahead with a big building in the right side of me. And finally those seconds came, we passed the building dan saya menolehkan kepala saya ke arah kiri

“Thats Eiffel!!!” I scream

Menara megah itu berdiri di hadapan dua mata saya. Tinggi menjulang dengan araitektur besi indah yang sangat mendetail menjadikan dia satu-satu nya pusat perhatian dari kejauhan. Bentuk itu, kelokan sudut itu, semuanya sesuai dengan apa yang sebelumnya saya bayangkan dari gambar ataupun film.

Langkah pun saya percepat. Tutup depan lensa Nikon saya buka. Aparture, shutter speed, ISO diseauaikan dan telunjuk saya menekan pertama kali dalam gambar sosok eiffel yg sebenarnya. Ckrek. Ckrek. Disambung dengan runtutan jepretan lainnya dari berbagai zoom dan angle. Landscape dan juga potrait. Dengan foreground keramaian turis hingga air mancur yang ada di depannya. Semua saya ambil seakan-akan tidak memperdulilkan sisa memori yang ada di dalam kamera.

Teman saya yg sudah 4 tahun disini hanya diam dan memperhatikan tingkah aneh kegembiraan saya. How could? Its one of my life dreams to come to this city. Kamera pun saya berikan kepada dia tanda ingin menjadikan eiffel sebagai background foto saya.

Kita berjalan menuruni tangga menangkap gambar eiffel dan saya dari berbagai sudut. Air mancur yang menembakan air secara kuat di kolam depan eiffel pun tidak kalah megahnya. Turis-turis berlalu lalang dengan kamera nya masing2. Beberapa juga ada yg berjemur dintengah teriknya summer. Dan ada juga yang merendamkan kaki di kolam sambil duduk di pinggiran menikmati pemadangan menara dan kota Paris. Anak-anak juga tidak mau kalah. Mereka sengaja membawa baju renang untuk bermain di kolam dangkal yang ada di depan air mancur. Sungguh indah waktu itu.

***

Kita berjalan menuju bawah eiffel. Mulut saya masih terbuka, ternganga akan indahnya menara ini. Teksture besi yang rumit yg semakin jelas terlihat dengan jarak saya dan menara itu yg hanya 1 meter. Hingga betapa besar dan megahnya menjulang ke atas menjadi icon dari kota Paris. Disini peraturannya tidak boleh ada satupun gedung yang lebih tinggi dari eiffel. Thats how Paris honors this tower

Di sisi satunya, di belakang eiffel, rumput terbentang panjang untuk para turis dan warga lokal piknik atau sekedar duduk bercanda gurau. Beberapa rumput sudah gundul karena saking banyaknya turis yg datang dan menginjak mereka. Namun jika kita berjalan lebih ke belakang lagi rumput indah hijau masih terbentang luas. Spot terbaik untuk duduk, membuka buku dan mengikuti alur kata ditemani cold chocolate dan sepotong cheesecake di tengah panasnya summer sambil memandangi eiffel tower.

DSC_0988

Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah sudah memberikan kesempatan saya kesini. Ke bumi Mu di sisi yang lain. In fact Its all Yours. I incredibly thank You for all given chance for me till today.

One thing I missed. I dont have “you” here. Yes you whose the name had been written beside my name. If given chance I promise I will bring you here. Enjoy the moment of sitting peacefully, forgetting the time, ignoring the crowd, to just enjoy the time together, in front of the eiffel tower. InsyaAllah[]

Paris, 24 agustus 2015
Muhammad Afif Izzatullah

Tschüß Brother :’)

Hari ini saya melewatkan satu kesempatan penting. Mengantar kepulangan sahabat sekaligus saudara muslim saya asal Pakistan yang baru menyelesaikan penelitiannya di DESY, Hamburg. Namanya Askar. Sedih rasanya. Kita hanya bertemu beberapa hari tapi dia sudah saya anggap seperti kakak sendiri disini. Terkait pertemuan pernah saya ceritakan di tulisan saya sebelumnya. Sempat sedikit sedih ketika mengetahui bahwa dia tidak melaksanakan sholat 5 waktu lagi, dengan dalihnya kesibukan dalam mengejar PhD. Tapi dia masih berharap untuk bisa melakukannya lagi. Bahkan dia meminta untuk diajak sholat jumat. Kesimpulan: masih ada secercah iman di hatinya.

***

Flashback hari jumat, beberapa hari yang lalu, seperti biasa saya mematikan komputer kantor lebih cepat dikarenakan ingin mengejar bus menuju masjid yang jaraknya lumayan jauh dari DESY. Hari ini saya sudah menargetkan untuk sholat jumat di KJRI Hamburg, supaya bisa mendengarkan kembali khotbah dengan bahasa yg saya mengerti, bahasa Indonesia. Namun dalam perjalanan ke halte bus, tetiba notifikasi whatsapp dari Askar muncul

“Hi. Bro. Will u go to mosque?”

Dikarenakan sedikit terburu-buru, saya lupa kemarin saya baru berkenalan dengan Askar, dan lupa mengajak dia. But now he asked me. Tanpa pikir panjang langsung arah badan saya putar balik, berlari menuju hostel lagi untuk menemui dia. Berbekal ingatan sayup akan nomor kamarnya, secara gambling saya mengetok salah satu pintu di dekat tangga, yang saya cukup yakin itu kamarnya. Pintu dibuka dan benar itu Askar.

“Hi brother! Let’s go to mosque now. We’re a bit late, I am sorry I just read your whatsapp”
“Now?? Okay give me 5 minutes to change cloth and do wudhu”

Tahu dia dari Pakistan, niatan awal untuk ke masjid KJRI Hamburg saya urungkan, instead, saya akan membawa dia ke masjid Indonesia, Al-Ikhlas, di dekat Central Station Hauftbanhof, yang kebetulan juga masjid itu didirikan bersama orang2 Pakistan. Setelah dia berganti pakaian, segera kita berjalan cepat menuju halte terdekat. Masjid ini cukup jauh dari DESY, menempuh perjalanan sekitar 1 jam dengan bus dan disambung kereta S-Bahn.

***

Sholat jumat di masjid Al-Ikhlas ini cukup lama. Dari adzan pertama ke adzan kedua jeda waktunya sekitar setengah jam. Belum sempat bertanya mengapa, tapi mungkin karena menunggu para jamaah memenuhi masjid, yang tentunya mereka memiliki jam kerja berbeda-beda

Dari balik tiang saya melihat Askar mengambil Quran di masjid tersebut dan membacanya. Alhamdulillah. Saya pun tidak mau kalah. Lidah yang hampir gersang akan pengucapan ayat-ayat suci ini ingin segera saya gunakan. Quran super kecil hasil pinjaman teman kontrakan segera saya keluarkan. Lembaran saya balik menuju surat ke 18, surat yang Rosul anjurkan untuk dibaca pada hari jumat: Al-Kahfi

***

Setelah selesai sholat, gerombolan muslim keluar serentak dari 3 masjid berbeda. FYI di daerah ini terdapat 3 masjid yang letaknya bersebelahan. Bedanya adalah negara yang mengurusnya. Tapi dengan banyaknya orang yang bertebaran di jalan Kleiner Pulverteich ini, membuat saya ingin meneteskan air mata. Jujur. Bersyukur masih banyak sodara seperjuangan yang meramaikan masjid dan melaksanakan kewajiban sholat jumat di negeri minoritas muslim ini.

“Afif, let’s have a lunch” Askar suddenly talked to me “and after that we can go for a walk”

Saya yang sudah menyelesaikan tugas mingguan saya, sekaligus supervisor saya sudah tau kalo setiap jumat saya harus beribadah di luar, memiliki waktu yang fleksible, sehingga tidak mengharuskan saya untuk kembali ke kantor pasca solat jumat

“Sure. Los gehts!! Let’s find halal restaurant near here and after that I can accompany you to go around Hamburg”

Dan ternyata restoran halal berjejeran di daerah sini. Ada Turki, india, afganistan, bahkan burger halal. Askar asked me to go to Turkey restaurant, well why not. Di restoran Turki kita memesan Lahmacun mit Doner, yaitu Turkische Pizza yang disajikan dengan doner/daging khas Turki seharga 5 euro. Enaak pisaaann!! Dan porsinya itu loh, luar biasa bikin kenyang.

IMG_0836

Lahmacun mit Doner. Yummy

Setelah selesai makan, I accompaned him to go to Hamburg townhall yang terletak di jantung kota ini. Well even though I just have been in here for 1 month, but I came first so I know more about Hamburg than him. Askar juga memiliki hobi fotografi dengan kamera Canon nya yang lebih canggih (dan tentunya lebih mahal dari saya lol). Bahkan dia punya zoom lense. Mid professional. Alhasil kita hunting foto di sekitar townhall dan lake yang ada di depannya.

Matahari perlahan-lahan mulai setengah turun. Jam menunjukan pukul 5 dan saya baru ingat ada janji dengan teman, which is saya harus segera kembali ke DESY. Askar pun mengikuti

“Askar, let’s cook dinner together tonight. I really want to learn cooking from you. And I have already bought you beef from Turksiche Market too. Remember??”
“Sure!! I will show you the original pakistan food”

***

Malamnya kita janjian sekitar pukul 8 di dapur untuk cooking dinner together. Disini saya banyak belajar. Mulai dari takaran. Jumlah bawang. Knifing skill, cara memotong bawang, tomat, kunyit dan daging. Dan juga urutan dalam memasak daging itu sendiri. Dia membawa bumbu spesial dari Pakistan, bubuk campuran warna merah yang didalamnya sudar diracik dari berbagai bahan makanan. Cooking beef took a really long time, almost 1 hour. Tapi itu berhasil dibayar dengan luar biasa enaknya hasil masakan.

tumblr_nt3g7hkeLb1qbxx0no1_500

Here we are. Pakistan Karahi Beef

Penampilannya seperti rendang, tapi tidak terlalu pedas. Namanya Karahi Beef. Kita menggunakan tortilla untuk Karbohidrat dan beberapa salad (Cucumber, Zucchini and Cabbage) sebagai sumber vitamin. Super yummy!! :9

***

Setelah selesai makan kita membereskan dan mencuci peralatan dapur. Then after that, I invited Askar to do sholat together

“Askar let’s pray Magrib together. Jamaah. And after that we can exchange memory card from our cameras”
“Good idea. Let’s do it in my room” said Askar
“Okay I’ll bring sajadah and the memory card as well”
“Sure, I’ll wait in my room”

Yes akhirnya bisa sholat bareng. Well, I have principle that we cannot force people to be a good muslim and do every prayers as we want. I prefer to be friend first than try to ask them. I try to look at from their shoes first. What if I became him, what I will think about prayers, do I really want to do it. And so on. And so on. Because of what? Because I was ever being like them too. Saya pernah jahiliah, super jahiliah bahkan hehe. Dimana iman sangat turun dan hati merasa tidak terlalu sreg untuk mendekatkan diri dengan islam. Well Iman is going up and down isn’t it.

Jangan sekali-sekali menganggap orang lain seperti kita yang mungkin, Alhamdulillah, sedang dilumuri cahaya iman. Try to put their shoes and see what is the point of view. Well saya juga masih dalam tahap belajar menjadi muslim yang baik. Iman jangan ditanya dah, kebanyakan turun nya. But at least itu prinsip ideal yang saya pikirkan.

***

Kembali hari ini. Siang tadi tepatnya. Minggu ini adalah minggu pengambilan data test beam proyek saya, sehingga mengharuskan saya hampir seharian di lab. Alhasil saya tidak sempat mengucapkan selamat jalan ke Askar yang berangkat sekitar pukul 5 sore tadi. Whatsapp baru saya buka malam nya dan terlihat chat dari Askar, 17:13PM

“Hey man. I am leaving. Can shake hand with u?”

I didn’t see it, because I leaved my tablet in the bag. I just saw it at 21:04PM and directly replied him. This is our history chat anyway, I just copy paste it from the whatsapp-web with deleting the phone number of course lol

[8/18/2015, 21:04] Brotherr I am really sorry. I was full time in the lab this afternoon
[8/18/2015, 21:05] Have a safe flight bro. Keep in touch
[8/18/2015, 21:06] Anyway I still have a bit of ur money (4€). Is it okay?? :(

[8/18/2015, 21:08] It’s Ok. ….
[8/18/2015, 21:08] U can pay in mosque on Friday from my side
[8/18/2015, 21:08] I pay that euro in mosque. …

[8/18/2015, 21:12] Okayyyy

[8/18/2015, 21:12] JazakAllah
[8/18/2015, 21:12] Remember me in pray

[8/18/2015, 21:12] Sure. You have to try to do it again. A bit at least
[8/18/2015, 21:13] 5 times a day 😊
[8/18/2015, 21:13] It really brings peace in heart
[8/18/2015, 21:13] Since our final destination is akhirat :)

[8/18/2015, 21:13] InshAllah
[8/18/2015, 21:13] U r nice guy
[8/18/2015, 21:13] God bless u

[8/18/2015, 21:14] Aamiin
[8/18/2015, 21:14] Hope someday we meet again
[8/18/2015, 21:14] In USA maybe
[8/18/2015, 21:14] Haha
[8/18/2015, 21:14] Aamiin

[8/18/2015, 21:14] InshAllah
[8/18/2015, 21:15] I leaving
[8/18/2015, 21:15] C u inshAllah

[8/18/2015, 21:15] Tscuss

Well he ever told me that he wanted to continue his postdoc in US. And I also told him that I really wanted to pursue my master in US. But yeah, we have no idea about the future, only Allah knows. Let’s just see. :)

Anyway, It was really nice to know him as a brother of Muslim in this kind of country. He is nice guy, he even leaved many “Ghonimah” for me. Ada kentang, bawang, sayur, gula, telur, minyak matahari, detergen, dll. Alhamdulillah rezeki emang ga kemana haha. Well tschüß Brother!![]

IMG_1160

Hamburg, Germany
19th August, 2015