2017 Journey: Part II

Akhirnya kembali nulis. Post ini sebenernya sudah cukup lama dibuat di word laptop, tapi baru di post sekarang. Meski part III nya belum selesai. Ohya long story short, ini adalah tulisan part II dari 2017 journey, perjalanan selama 2017 yang cukup dinamis. Part I nya bisa dilihat disini.

https://afifizzatullah.wordpress.com/2018/02/05/2017-journey-part-i/

I really beg you to read part I first, if you want to read this part II. If you haven’t read part I please don’t read part II lol *maksa. I mean biar ga langsung judging since some of the content is controversial. Not really sih, but yah, you know Netizen right.

For some Recap in part I, after a year in 2016 I worked as consultant in NTT Data and reached my peak of comfort zone, I finally decided to jump ship to work at early stage startup. Beberapa aplikasi dan tawaran saya coba. Dan akhirnya yang paling serius berasal dari startup bernama FinAccel (beberapa bulan kemarin baru raising $30million series B). I met its CEO once, name Akshay, in the beginning of 2017. Then he directly offered me to join. Ini juga pertama kali saya kenal “makhluk” yang bernama fintech. Jadi saya bener-bener baru belajar ketika masuk. Dan memang ranah financial industry ini ranah yang abu-abu, its a mud field that need to jump. Karena di era kapitalisme global ini, the real war saya rasa adalah di ranah ekonomi & politik.

Finance adalah salah satu industry that control the world, that I need to understand this to give impact to the world & islam itself. Melalui teman saya sempet konsultasi dengan Ustad Setiawan Budi Utomo, alumnus terbaik Fakultas Syariah Madinah Islamic University, Arab Saudi yang saat ini juga aktif sebagai Anggota Dewan Syariah Nasional dan Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI). Beliau membolehkan saya untuk pindah asalkan tidak untuk jangka panjang. Dengan jawaban beliau, yes I am bold & dare to jump into this mud-field, absorb everything, learn as much as possible about financial industry. Then here we are the story of part II, my life working in fintech. Enjoy the read.

Accenture-Shared-Services-Financial-Service-Industry-MarqueeV1

—-

PINDAH KE FINACCEL

Pagi di hari senin, sekitar awal Februari 2017, saya menggunakan Gojek untuk berangkat ke kantor FinAccel yang ada di ruko permata senayan. Saya sudah bertanya ke HR nya untuk bolehkah pakai baju casual, alias jaket dan kaos, dan dia sangat oke. Di depan ruko before I entered, I took my breadth deeply, and said bismillah, this would be my first step to marathon in the new line of new company. Saya masuk dan saya Whatsapp HRnya, yang dia juga baru join sekitar 1 bulanan, dan eks-Traveloka sebelum gabung ke sini. Kita masuk ke meeting room, dan dia memberi banyak lembar kertas tentang kontrak kerja dll.

Sebelumnya dia sudah menghubungi saya by phone untuk negosiasi salary, dll around a week ago. Jadinya salary saya turun dikit katanya dari yang pertama saya minta, hiks, karena emang experience saya baru setahun, yah make sense sih. But meski turun, tapi sebenernya tetap naik juga dari salary sebelumnya wkwk. Tapi dia offer me stock option, first time juga I heard about it. Intinya ada peluang employee dapat stakes stock di suatu perusahaan tempat dia bekerja, biasanya dalam jangka waktu 4 tahun, dengan cliff minimal 1 tahun. Not bad, meski I don’t really care haha. Padahal sebenarnya angka stock option itu lumayan, jika di valuasikan (ini kalo ga salah ya, lupa-lupa inget), kira-kira saya mendapat 50jt IDR stock di FinAccel, dan sesuai dengan financial projectionnya, dalam 4 tahun valuasi akan multiplied 100x, jadi nilai stock yang saya punya bisa mencapai 5M. In four years, if I stay, and FinAccel valuation is straight according what project to, I’d get 5M value stock in the company. BUT, balik lagi I don’t really care, karena saya memang berniat hanya jangka pendek disini. Semua itu dunia, saya mengejar akhirat. Hehe. Sama satu lagi karena bargaining power saya cukup tinggi sebelum masuk, saya seenaknya request Macbook for my laptop. Dan dia meng-oke-kan. Then deal. Resmilah saya menjadi karyawan FinAccel.

Kontrak kerja saya tanda tangani, terus dia membawa saya keliling ruangan untuk dikenalkan ke setiap orang di setiap divisi. Kantornya 3 lantai. Masih terhitung sedikit karena memang early stage startup. Lantai bawah itu semua operation division. Terus lantai 2 itu engineering dan data tim. Kemudian lantai 3 product, sales dan marketing. Dan dia menunjukan meja tempat saya duduk di meja sebelah kolega cewek yang ternyata she’s also another new recruit, baru kerja 2 hari, dan senior saya di ITB, IF 07. Dia baru selesai S2 di TU Delft Belanda, kemudian join FinAccel sepulang dari Belanda. She’s so nicee, I reckon her as my older sister, tapi aku manggil nama aja langsung ga pake kak, jadi akrab banget even until now. She had already got married anyway yang ternyata dengan senior saya juga EL07 dan kemarin juga mereka kuliahnya bareng berdua di TU Delft, such an ideal couple. And she is soo smart! I always admire smart girl, and she taught me a lot about everything.

Akshay waktu itu belum di ruangan, dan MacBook saya juga belum datang, jadi sementara pakai laptop personal dulu. I spent half first day untuk mengetahui financial industry dan business model dari FinAccel sendiri. Sebelum siangnya akhirnya Akshay datang dan warmth welcoming some of us yang baru join. Akhsay said he will get me through his deck after lunch, dan kami di hari pertama langsung makan siang berdua. I remember in lunch he told me about his past experience and his big dream in this fintech industry.

After lunch he got me through his deck about this company. Visi, misi, purpose, long term goal, organization structure, business model, dll. I asked him a lot, and even in its first talk I directly learned so much about this industry and from him. Then he emailed me the details about my initial responsibilities, and he said I directly reported to him. Salah satu requiremnent yang dia pengen saya pelajari adalah Data Analysis, karena FinAccel ini bener-bener one of the best data-driven companies I ever known. Dan saya akan banyak bermain dengan SQL dkk. Which is since my background Electrical Engineering I really have little idea about this language.

Terus saya kenalan juga dengan another Product Manager tapi sudah setahunan di FinAccel. Saya juga report ke dia. Jadi partial ke Akshay dan dia. He’s type cold blood guy haha. But so smart and deep analytical thinking. I learned so much from him. Kemudian selain product team, di lantai 3 juga diisi dengan anak-anak Sales dan Marketing yang punya beragam pengalaman. Salah satu contoh, head of sales nya punya experience yang banyak dan sempat kerja di BCA juga. He got me through his deck tentang flow sales yang ada di FInAccel, cara bicara anak Sales itu emang keliatan. So clear and simple to understand. Terus ada juga head of marketing, yang dia ternyata senior di ITB juga, FSRD angkatan 2008. Dan intinya tim di FinAccel ini sangat lean dan ramping. TAPI first impression saya ngomong dengan orang-orangnya, mereka all A+ individuals. All smart, bold and highly experience.

Karena memang prinsip Akshay, he prefers to build small lean team but full of A+ individuals. Instead of big teams but full of mediocres. Jleb. Pressure langsung terasa. Bagaimana expekstasi disini sangatlah tinggi. And if I can’t keep it up, I’ll be far left behind.

SCOLD AND PRESSURE

Day 3 di FinAccel. I directly got scolded one by one by Akshay. Kronologi nya saya diminta dikerjakan satu task, mengolah data dari salah satu klien terbesar, Bukalapak. Tahu sendiri kan, hari ketiga, which was I still in adapting mode, even secara whole industry saya juga belum terlalu familiar, apalagi data-data details company. Alhasil karena belum terlalu paham data structure nya, I created mistakes in the report. Salahnya Akshay memang minta diberesinnya hari itu juga, saya iyain aja dan overall tasknya ga begitu sulit, statistic data dan diolah pake excel. Tapi ada beberapa poin yang saya sotoy ngerjainnya without asking question. That’s how he directly called me.

Saya inget banget kalo ga salah waktu itu, sekitar jam 7an malem, I sat besides him and talked one by one. Ngomong nya dingin banget dan nada emosi.

“What is it fucking report you are creating!”

Jeng jeng. Pompa darah di Jantung tiba-tiba langsung meledak. Di pundak serasa tiba-tiba ditaruh batu 10 ton, pressure came. Rasa cemas dan takut mulai merasuk tubuh. Saya tidak tahu whats wrong, tapi perkiraan I made mistake in that report. Ngomong Bahasa inggris tiba-tiba ga lancar. Saya ga bisa mengemukakan pendapat secara jelas.

“You know Afif! We recruited you because we believe you f*cking smart. This mistake is intolerable. You know how bad if we delivered this to Bukalapak. You underestimate it! If you don’t know, ask f*cking question to me”

Kira-kira gitu lah. Bener-bener full of f*cking words intinya LOL. Terus gitu, dan saya hanya bisa terdiam. Simpelnya memang saya salah menarik data, akibat kesotoyan memahami database. Dan itu cukup fatal. Tapi kalian tahu sendiri kan, ini hari ketiga loh, dan saya juga belum paham struktur database perusahaan, dan dia expect everything’s perfect. Tapi itu pelajarannya.

Managing expection. Akshay expected me to be the best of everything I delivered, and I underestimated it. Dia berharap excellent mutlak. Gaada opsi lain. Sedang saya masih yah yang penting bagus dan oke lah, ga perlu excellent banget. Then I learned this thing, about how people manage expectation to us.

Ini menarik sih. Ini berlaku untuk semua. Ketika kita jadi karyawan bagaimana bos kita expect ke kerjaan kita. Ketika build business, bagaimana customer expect terhadap pelayanan terbaik kita, bagaimana juga investor yang sudah invest ke kita, they expect we do the best to build up the company from their money.

Second learning: Asking question. Jangan merasa sok pintar dan sotoy. If you don’t know, ask f*cking questions! Jangan diam saja, dan mengasumsikan sesuatu tanpa dasar, and you’ll create mistake yang merugikan company.

That day is my turning point sih. Pace startup, terutama di FinAccel bener-bener agile dan Higly excellence expectation. Alie CTO waktu ngobrol dengan saya pernah bilang. The real startup itu justru harus yang kayak gini. Terutama early stage. Dibanding yang santai-santai. Banyak pencitraan di media. Buat mural di tembok, meja pingpong, ditambah gaming room dll. That’s not startup. At least that’s mediocre one. Ini kata CTO saya ya. But jika direnungkan, emang itu faktanya.

SQL QUERY AND DATA DRIVEN

Paska kejadian tersebut, I became more initiative in everything. Saya kenalan ke banyak orang dari berbagai divisi. Saya bertanya tentang how the business works. Dan bagaimana workflow day to day basis pekerjaan masing-masing divisi. Dan saya juga mencoba put my standard high terhadap expektasi dari berbagai pihak. Salah satunya waktu itu Akshay expected me to understand SQL and how to query database.

Dengan memanage expectation tadi, I’ll start initiatively learning by my own unforcefully. Hampir di setiap jam kosong, malam hari, even on the weekend, I open W3school secara otodidak untuk memahami how SQL works. Dan karena di kuliah sempet belajar basic programming, terutama Algoritma Struktur Data -which is ini course foundation banget untuk membentuk framework seorang coder- dan ternyata SQL ketika dipelajari jauh jauh lebih sederhana dari programming language yg pernah saya pakai, contohnya Pascal, C, Java dll. SQL basically dasarnya hanya SELECT, WHERE, FROM, JOIN dan sisanya modif-modif dari keempat hal tersebut. Alhamdulillah saya juga diberkahi kemampuan berpikir spatial yang cukup (ga jenius banget tapi cukuplah), jadi bisa membayangkan di kepala table-table yang dipakai seperti puzzle, dan membayangkan table apa yang harus di SELECT, kemudian harus di JOIN dengan table yang mana, supaya mendapatkan data dari business case yang dibutuhkan.

Asiknya bekerja sebagai Product Manager yang paham SQL, kita bisa mengerti helicopter view dari business case nya, sehingga ketika kita membutuhkan suatu data untuk menganalisis bisnis, kita bisa membayangkan lebih mudah dari sisi teknikal nya, yaitu table mana saja yang digunakan, dan bagaimana untuk mendapatkan data sesuai yang diharapkan dari business case atau business problem yang ada.

Another valuable lesson yang saya dapat dari company ini, adalah how data driven this company while making a decision. Terutama dari Akshay, karena saya langsung direct report ke dia, jadi tidak jarang saya duduk one on one, talking about work dan saya mencoba menelusuri alur berpikir dia. He’s really one of the best analytical thinking leader I’ve ever met. Orangnya dalam mengambil keputusan harus berdasarkan data yang ada. Ketika mau membuat product roadmap, dia juga tidak mengambil keputusan based on just intuition, it must be supported by data. Contohnya ketika membuat suatu fitur, harus dilihat dulu historical data dari suatu permasalahan sehingga apakah valid problemnya untuk membuat fitur tersebut atau tidak. Kemudian harus dibuat juga hipotesa apakah dengan effort yang tinggi membuat fitur itu dapat memberikan impact terhadap product, dan harus ditentukan KPI apa yang harus di measure setelah post-launching dari fitur tersebut.

I could say, learning curve yang saya dapatkan ketika bekerja di FinAccel ini sungguh exponensial intead of linear. Sederhananya mungkin 3 bulan disini, seakan-akan 1 tahun pembelajaran di tempat lain. Jadi ternyata memang akhirnya saya bekerja disini hanya 6 bulan sebelum memutuskan untuk resign. Which is jika dikalkulasikan setara 2 tahun experience. I am not exaggerating. It’s a fact, though subjectively. Such a holistic learning, sebelum akhirnya keputusan itu keluar, keputusan untuk leaving for good sake from this company.

KEY LEARNING POINTS

Jika di pointifikasikan (?) beberapa learning yang saya dapat selama saya bekerja 6 bulan di FinAccel,

  1. Understanding how Financial and banking industry in general works. Meskipun memang tidak terlalu deeper, at least blue print secara garis besar, business model, cost structure, revenue stream, operation dll I got the big picture of all those things
  2. Understanding Fintech Industry, which memang ternyata Fintech itu salah satu derivative buisness dari financial industry atau perbankan. Bedanya memang cukup ngedisrupt karena daya jangkau yang massive. Menariknya karena memang core business FinAccel itu di Fintech, dan saya in charge as product manager which melting point dari berbagai divisi, saya bisa cukup paham tidak dari sisi business nya, tapi juga detail teknologinya. Since I talked a lot with the engineers dan data team, mereka banyak menjelaskan cara kerjanya. Well implementasi tech dalam business case nya sih lebih, misal dari sisi pengolahan unstructured data, infrastruktur code nya, data nya, requirements dll, but not too deep in details misal metode regression, deep learning dll. Hal-hal itu saya pernah diceritain anak data scientist, pinter banget anaknya, terus dia jelasin, fix angkat tangan. At least saya cukup tau how to use this in business case, that’s more than enough. For deeper I think I can hire people smarter than me later.
  3. Understanding ecommerce Industry. Kredivo simplenya adalah digital credit card untuk berbelanja di Ecommerce. Saat saya join waktu itu ada 70an ecommerce yang sudah join, termasuk salah satunya yang sudah besar like Sepulsa, Bukalapak dll. Terus terakhir pas saya keluar udah lebih dari 100an dan ada juga big player sejenis Lazada, Shopee, JD.ID, tokopedia dll. Luar biasa emang sales team nya, hanya dalam jangka waktu 6 bulan. Karena client kita ecommerce, jadi secara tidak langsung saya juga mengolah data-data ecommerce, sehingga cukup dapat memahami how ecommerce industry works. Dari data structurenya, how to integratenya, teknologinya, disbursement payment-nya dll. Dan yang paling oke, karyawan FinAccel juga banyak yang eks ecommerce sehingga bisa banyak nanya ke mereka, misal terkait sales, GMV dll hehe.
  4. Product Development. Ini bisa dibilang the most learning point yang saya dapat selama di FinAccel. Karena report langsung ke CEO, meskipun secara title saya masih associate product manager, tapi secara scope of work bisa dibilang senior product manager. Karena tim nya yang ramping banyak hal Akshay melibatkan saya di decision making, sehingga saya bisa melihat secara runtun alur berfikir terkait product development. Saya juga menggunakan banyak product management tools, misal untuk funnel analysis dengan mixpanel, data visualization dengan periscope, A/B testing dengan amplitude, user engangement dengan moengage, marketing dengan appsflyer dll. Ohya bahkan saya juga sempat dilibatkan di product marketing scope of work dan cukup memahami betapa Akshay begitu detail tracking and measuring marketing expenses in weekly basis nya.
  5. Data mining & data analysis. Yap, saya secara confidence bisa dibilang cukup memahami advance SQL query. Meskipun mungkin dibanding para anak data engineer yang lebih jenius, at least saya bisa melakukan basic to advance query by myself. Saya justru sangat tertolong dengan banyaknya anak data engineer yang senior dan jenius, sehingga once there’s problem saya menanyakan langsung ke mereka, and in matter of seconds mereka langsung menemukan solusinya. SQL memang matter of time sih, semakin banyak kita query bisa semakin terbiasa dengan metode-metodenya. Kerennya disini Akshay memang suka minta banyak yang aneh-aneh dan super complex query. Ditambah data strucuturenya masih tambal sulam. Jadi kadang join sana sini, union, join lagi, baru dapet hasilnya yang Cuma satu baris. Lol. But that’s really exciting. So far I could say my technical skill yang paling mumpuni adalah SQL query
  6. Running startup company. Then here it is, the superb big thing I learned along 6 months in this company, is how to run startup company. Dengan hujaman pressure yang saya rasakan setiap harinya karena interaksi day to day dengan Akshay, saya bisa mencoba menempatkan diri saya in his shoes as CEO. That how he sets big & long term vision, how he manages team, bagaimana dia tetap mengikuti scrum meeting di tengah berbagai meeting dengan partner dan investor, how he manages priority, bagaimana dia secara dictator dan otoriter memimpin company, bagaimana dia juga mencoba mingle with employee (meskipun tetep serem lol), dan bagaimana FinAccel ini tumbuhnya sangat massive dengan meticulous planning dan data-driven details oriented. All noted in my mind. Take all, filter the positives and I believe I can use this experience one day if I lead my own company.

Alhamdulillah, saya sangat bersyukur kepada Allah, sudah memberikan kesempatan saya untuk bekerja dan mencuri ilmu disini. Dan bersyukur juga Allah tidak mencabut nyawa saya ditengah-tengah saya bekerja disini. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk leave for the good sake out of this company.

HEART AND LEAVING

Bekerja di FinAccel, benar-benar seperti sprint plus marathon. Everything’s happened so fast. Itu mengapa dalam hanya waktu satu bulan pertama saya sudah belajar banyak hal, termasuk how this business works. Setelah mengerti cara bekerjanya, alurnya, cost structure dan segala hal yang berkaitan dengan core business Kredivo, hati mulai merasa gelisah. Memang banyak ranah abu-abu di bisnis ini. But I tried to be bold to keep professionally working and learning as much as possible.

Bulan pertama, kedua, ketiga, pembelajaran yang didapat semakin banyak. I’d made many friends as well dan kebanyakan mereka adalah para ex-banker, sehingga bisa mengulik lebih dalam rincian detail bagaimana bank bekerja dan apa perbedaanya dengan bekerja di FinAccel. I also made mistakes, got scold, then learnt. Begitu terus siklusnya, Made mistake, scold, learnt. Tapi justru hal tersebut yang semakin memantapkan mental dalam bekerja. My mentality was revolutionized. I could say in here I am growing to become stronger dan more resilient.

Dan memasuki bulan ke empat, hati mulai terus merasa gelisah. Saya tahu bisnis ini salah, dan mulai untuk terpikir pindah kerja sesegera mungkin. Beberapa teman menyarankan minimal satu tahun saja biar komprehensif ilmu yang didapat, but I can’t hold it anymore. Saya juga sebenarnya sempat clash dengan Akshay, dan kepikiran menjadikan hal tersebut sebagai alasan. Semoga temen-temen saya yang kerja bareng ga baca tulisan ini ya, jikapun iya, ga masalah sih mereka tau alasan sebenarnya saya keluar haha.

Pertama memang karena alasan yang saya sampaikan yaitu iklim kerjanya sangat ga friendly, which is ini alasan kamuflase hehe. Karena to be honest itu sebenarnya ga terlalu masalah bagi saya, di kampus dulu saya juga pernah ikut organisasi yang full of pressure kayak gini and I could bear it and still could survive. Alasan kedua, alasan kamuflase lainnya yang saya sampaikan adalah saya merasa scope of work saya rada nanggung, karena sebagai associate PM, not as PM. Jadi saya ngerasa kurang bisa berkembang. Ini setengah salah setengah benar. Di satu  sisi saya ngerasa sangat belajar banyak, di sisi lain saya merasa saya bisa belajar lebih dari ini. Agak songong tapi itu fakta.

Dan yang ketiga, which is ini sebenarnya yang menjadi alasan utama adalah I can’t bear my heart anymore to keep working in this kind of business. Hati merasa berat, I just can’t.

Makanya waktu itu, ketika moment nya sedang pas, ketika saya dengan Akshay sedang clash, I deliver my resignation request di bulan keempat di FinAccel. Alasan yang saya sampaikan adalah alasan pertama dan kedua tadi, padahal sebenernya karena alasan yang ketiga. Akshay hanya bilang

“just think about it once more. I’ll give you time”, He said coldly

Ingin membantah bahwa saya sudah bener-bener firmed, tapi nanti saja waktunya belum baik, jadi saya iyakan saja dulu. Kemudian besoknya Alie, the good guy in the company, as CTO, langsung meminta saya untuk one on one meeting. Intinya dia sangat mempertanyakan dan menyesalkan keputusan saya. You can grow much better by staying in here. Intinya gitu. Dia terus menyampaikan jarang-jarang ada startup yang lingkungan kerjanya high pace kayak gini, sehingga karyawan-karyawannya bisa learning secara massive. You’re not gonna find it out there, serius! Itu kata Alie untuk membujuk saya supaya tidak jadi resign. Tapi saya sudah bold dan sudah firmed, jadi nothing’s he can do. Akhirnya resignation letter saya buat, dan mendapatkan 2 months notice dari Akshay which is ini sebenernya too long, but that’s the rule especially for product dan engineering guys.

UNCLEAR NEXT MOVEMENT

Jujur, ketika saya mengajukan surat resign tersebut, saya memang sedang on progress daftar di 2 atau 3 startup, BUT all of them belum ada yang kasih offering wkwk. Jadi what’s my next movement is totally still unclear. Tapi karena saya sudah istikharah dan firmed, hati saya tidak bisa bear it anymore, saya bismillah saja untuk mengajukan resign, though still has many uncertainties what’s next. Toh saya juga masih jomblo dan belum banyak tanggungan jadi lebih santai. Lagi-lagi salah satu hikmah dari Allah dengan status jomblo ini hehe. Dan yang paling penting I believe on this:

Anyone leaves something for the sake of Allah, Allah shall compensate him a better one (HR. Ahmad 5: 363)

So I honestly worried nothing. I fully trust on Him. How beautiful Islam is, isn’t it?

Karena two months notice, jadi saya ga banyak cerita dengan anak-anak kantor. Saya cuma cerita ke 2 orang temen deket waktu itu, yang mereka berdua senior saya di ITB, dan memaklumi keputusan saya. Btw seperti biasa alasan yang saya ungkapkan ke mereka adalah alasan 1 dan 2 yang saya tulis di atas, bukan alasan yang sebenarnya hehe. Ohya, head of HR nya pasti tau, karena ke dia saya mengajukan official resignation letter nya. Sedangkan sisanya masih belum ada yang tau sama sekali, jadi saya bekerja as normal as possible.

Dan dalam 2 bulan ini saya juga masih banyak mendapat task baik dari Akshay, Alie atau another PM, and I did that with still with my best performance as possible. Karena saya masih tetap ingin leaving in a good way. PM yang saya direct report adalah orang ketiga yang saya kasih tau, karena dia senior PM yang saya report langsung juga. Dan dia juga aga menyesalkan itu. Tapi karena dia tau di FinAccel sebenernya turn over nya juga lumayan tinggi jadi dia rada memakluminya haha.

Di dua bulan ini juga saya sambil curi-curi waktu daftar dan ikut proses apply ke startup lain. Yang paling besar peluangnya adalah 99.co karena saya sudah langsung face to face ketemu CEOnya, Darius Cheung.[]

To be continued….

Advertisements

Recap: Last 6 Months

I just had continuous meetings yesterday. Tiring yet exciting, since some of them are strategic persons. Means I can’t think of the opportunities to meet them in my “previous” life. Yes! before this roller coaster life.

Kemarin juga baru gajian, in this case nge gaji karyawan. Terharu pisan. Jujur saya punya banyak mimpi-mimpi kecil yang mungkin sepeleh bagi sebagian orang. Contoh: nulis “we are hiring!” di status. Itu bahagia pisan beberapa minggu kebelakang akhirnya tercapai. Karena Alhamdulillah startup yang saya dengan co-founder buat literally lagi hiring orang. Terus, mimpi juga bisa ngegaji lulusan-lulusan kampus ternama. UI, ITB, UGM, bahkan luar negeri. Yang Alhamdulillah terwujud juga tepatnya kemarin, karena beberapa karyawan awal kita alumni beberapa kampus ternama tersebut.

Sesederhana itu sih. Tapi these small milestones & dreams bener-bener memantik sedikit kebahagiaan dalam hati. Dreams could come true through hard work. Itu baru beberapa doang. Masih banyak mimpi-mimpi kecil lainnya yang menjadi bucket list dalam hidup yang belum tercapai. Yang terus juga menjadi pemandu untuk terus berjalan dan bermimpi satu tingkat lebih tinggi kedepannya.

think-big-start-small

Anyway. Lagi ada mood nulis lagi setelah sekian lama vakum. Around 6 months exactly. Yes karena 6 bulan belakang countless things happen. Mungkin bisa jadi satu buku. lol. Lebai. But it’s true.

Mood nulis ini juga bukan buat nulis panjang (meski gatau juga kadang ga kerasa kalo sudah nulis). But, I just want to recap in short what happen in the last 6 months of my life. My 6 months of the result of my life changing decision.

ROLLER COASTER

Long story short, mulai awal tahun ini saya dengan teman saya akhirnya mulai memutuskan untuk fulltime to build our own startup company. Named Provesty. And you know, startup life is really extremely which is literally Roller Coaster. Lol *anak jaksel mode on*. But it’s true. I felt it by myself. Morning I was so excited with what we were going to do. But in the afternoon, something happened, then I felt like “man, it’s not gonna happen”

And it will always (and perpetually) happens along side the journey. Weekday up, weekend down. At 8am full of spirit, 8.03am God I’m gonna quit. It’s really happening. Sebelum-belumnya cuma bisa baca dari buku, atau dari youtube. Startup life itu roller coaster bla bla bla. Tapi kadang mikir “emang iya segitunya.” Dan ternyata emang segitunya. Lol

Then you always (forced) to think every seconds of your life. Dulu waktu jadi karyawan, mau gimanapun perusahaannya I don’t really care, toh saya masih digaji. Yang penting gaji dateng tiap akhir bulan. Sekarang literally setiap bangun pagi langsung mikir, what to do today, what to do next. How to solve last week problems. Belum beres dengan itu, datang lagi, another problem kemarin. It’s sleepless & non-stop. Belum lagi kalo udah nge-gaji karyawan. We race against time. Seconds delayed cost us dearly. Saya selalu ngingetin one-on-one maybe ke karyawan. In this early stage we need to move fast. Ketika ada kerjaan jangan sampai bola nya lama di kita. Make it done, lempar ke yang lain. Dan kalo stuck nya di orang lain/partner, wajib di teror setiap waktu. Since we are literally racing against time!

BOOTSTRAPPING

Yes. In the last 6 months we still did bootstrapping. No gaji. No office. No kejelasan kedepannya gimana. Kita dulu literally pindah-pindah kantornya, dimana ada internet, disitu kita ngantor haha. Kalo di Bandung kita biasanya ngantor di wifi corner telkomsel, cuma bayar 5000, pake wifi.id dan super kenceng. Atau kalo di jakarta bisa di kosan, di McD, cafe (beli kopi doang) atau bayar per hari di co working space. Sungguh terlantar. Tapi begitulah bootstraping.

Cold calling dan cold emailing, ga dibales-bales. Nge whatsapp calon-calon angel & mentor, berkali-kali. Ibarat berpuluh-puluh baris di whatsapp, terus dibales sebaris “please contact my secretary”. Umm alritee. Ya gitu lah haha. But that experience kita belajar banyak banget, it’s how building company like. Man Jadda Wa Jadda. Akhirnya sempat ada satu VC yang bales, terus ketemu lah kita dengan managing partner nya. Karena kita belum ada apa-apa sama sekali, mereka pengen ngeliat traction kita. Akhirnya instead of giving money, he gave us free office, 3 months di Spacemob Gama Tower (beberapa minggu langsung kemudian diakuisisi WeWork).

Lumayan banget. Di sana harga per desk nya sekitar 2jt per orang. Berarti kita 3 bulan sudah hemat 12 juta. Akses wifi gratis, free cereal dan coffee, meeting room kalo ketemu client, mewah banget pokoknya. Kalo kalian tau Gama Tower itu gedung tertinggi di Indonesia sekarang (dulunya wisma46, mantan gedung kantor). Yang di atasnya ada Hensin (Resto tertinggi di jakarta) dan satu gedung dengan Westin. Belum lagi lokasinya di Rasuna Said. Jadi di website & kartu nama kita jadi credible banget dengan kantor disini. Ketika pitching atau ketemu orang, mereka ga memandang sebelah mata at least. Meski padahal kita cuma 2 meja doang, bukan satu lantai. Lol. That’s the art of bootstrapping.

DUBAI

Yes. Di sekitar bulan april, Alhamdulillah saya dikasih kesempatan mengunjungi Dubai. Ikut FIABCI world congress di bayarin full oleh advisor kita. Plus kita ngasih share juga sih. Dulu rada nyesel asal-asal ngasih share gitu, tapi ya gimana, dulu mah totally no idea mw gimana, jadi kasih we lah. Ke Dubai ini saya banyak ketemu orang baru, some strategic persons dan lebih dekat dengan advisor kita juga jadinya. Advisor kita ini salah satu real estate tycoon, yah crazy rich asian lah lol. Jadi saya di bawa-bawa ke 4 season, armani hotel, termasuk burj khalifa, yang kalo nabung ga kesampean dah. Dalam jangka pendek, mungkin belum terlalu terlihat hasil dari Dubai, but in long run, saya yakin in syaa Allah bisa memanfaatkan jaringan ini. Semoga nanti bisa buat satu post sendiri tentang perjalanan & pembeljaran selama di Dubai ini. Aamiin.

32469098_10208526876209827_3532209034402725888_n

FUNDING & INVESTMENT

Another Alhamdulillah. Setelah berbulan-bulan (hampir) sekarat. Kita finally bisa secured funding! Yeay. Yap beberapa angel investors akhirnya chip in ke kita. Masih kecil. Kita nyebutnya ini Angel round. Dan lebih bahagianya lagi angels ini not only put money on the table, kita dikenalin ke lawyer, konsultan, networknya beliau, strategic persons dll.

Semua legal things kita juga dibenerin. Kita dibantu buat PT oleh tim legal investor kita. PT yang biasanya kita keluar uang at least 15juta jadi gratis karena dibuatin oleh beliau. Modal tersetor 50jt dipinjemin dulu untuk syarat PT. Karena angel investor kita ini kalo masuk dia mau masuknya ke PT yang udah jadi. Bahkan dulu kita sempet ada akta pembaharuan gara-gara salah beberapa kata doang: “modal tersetor lebih dari 50jt”, sedang yang ditransfer 50jt pas, seharusnya 50jt 100 rupiah itu udah cukup. Akhirnya diganti lagi, yang kalo kita bayar sendiri itu sudah kayak buat PT baru 2x15jt. Haha.

Setelah bolak-balik notaris, tanda tangan sana-sini, alhasil Alhamdulillah jadilah PT kita dengan nama PT Provesty Global Nusantara. My truly first legal PT. Di balik nama itu melambangkan mimpi besar sederhana, we aim global market but we start with Nusantara at the beginning. As simple as that. I don’t know and don’t really care how we reach that global market. I just want to dream. It’s free right. PT jadi, tinggal kita masuk ke termsheet. Ada cerita seru juga, dulu duit baru turun literally di hari pas tanggal gajian. Lol. Udah cemas harus nombokin dulu, tapi Alhamdulillah turun juga. Seru banget intinya. Mungkin terkait funding & investment ini nanti bisa jadi satu post sendiri. But sekali lagi Alhamdulillah. It’s all Allah’s blessing.

HIRING!

Yes dengan adanya funding kita jadinya bisa hiring. Akhirnya seperti yang ditulis di atas, bisa juga nulis “we are hiring!” di status lol. Pas saya lagi nulis ini, karyawan yang sudah join ke kita ada 4 orang, termasuk kita berdua jadi berenam. Dan fun fact semuanya cumlaude dan dari kampus ternama. Jadi di tim kita berlima cumlaude semua kecuali saya haha. Kita ga mensyaratkan harus cumlaude sebenernya, saya juga baru sadar ketika mereka udah pada join terus nanya IPK ternyata >3.5 semua. De best. Tapi IPK emang tetep kita pertimbankan. Karena itu membuktikan tidak hanya intelektual tapi juga kemauan untuk belajar. Tapi kalo IPK biasa selama dia mau belajar we are more than welcome. Ohya sama ada 1 lagi, software engineer, tapi doi 1 month notice jadi in syaa Allah join bulan depan. Nyari engineer sekarang susah. Pada songong-songong dan jual mahal. Hidup alumni STEI. Lol

BUILDING COMPANY & UNCOUNTABLE LEARNING 

Building company and building business. It’s two different things. Dan dua-duanya susah minta ampun. Saya dengan co-founder jujur sering banget hampir berantem. Selisih pendapat. Debat. Karena thats how to build great company. Kita harus set aside feeling, dan work on this professionally.

Tapi kita akui, kita berdua banyakk banget belajar. Mungkin accumulated beberapa bulan kebelakang, pembelajarannya melebihi beberapa tahun saya dulu pas kerja jadi karyawan. Bayangin aja sekarang kita belajar legal, bisnis, coding dari nol, selling, belum lagi cara hitung gaji, ngitung pajak, BPJS, dasar akunting, dll. Tapi asiknya membangun perusahaan sendiri, itu bener-bener ga kerasa. Time flies so exciting

DREAM

“Access to capital” is really important. Saya lagi random baca buku “Ciputra, Entrepreneur the passion of my life.” Biografi Pak Ciputra mulai dari perjuangan sulitnya beliau dari kecil, SD, SMP, SMA, terus masuk ITB, dan menjadi salah satu developer besar di Indonesia. Such a journey, jadi gaada alasan lagi buat ngeluh. Ohya saya mulai penasaran dengan Pak Ciputra ini pas waktu di Dubai, beliau sering banget disebut-sebut, karena beliau orang Indonesia pertama yang pernah menjadi ketua World Real Estate Federation, FIABCI. What a person!

Back to capital. Pak Ciputra ini banyak sekali mimpinya, mulai dari proyek pertama beliau merekapitalisasi pasar senen, membuat disneyland di Indonesia (yang akhirnya sekarang jadi Taman Impian Jaya Ancol), dan proyek besar beliau lainnya yang belum saya baca. I really felt him, ketika Indonesia di awal pembangunan paska merdeka, sangat sulit untuk mendapatkan akses ke kapital. Padahal jika ada, beliau bisa banyak men-develop proyek spektakuler untuk akselerasi pembangunan.

What makes country poor or rich, juga karena access to capital. Negara yang punya banyak natural resources tapi gaada akses ke kapital, bisa menjadi miskin. Meski ada faktor besar lainnya juga, misal policy & political institutions yang membuat capital juga bisa menjadi useless. But it’s another thing. One of my dream through building Provesty, is providing a new alternative access of capital in real estate & infrastructure industry. And through technology I believe we could not only aim domestic market, but trillion dollars of global real estate market. Dream big, start small. Semoga tercapai. Aamiin

LUCKS

Yes. Poin penutup. Saya bener-bener ngerasa, banyakk banget keberuntungan selama bangun startup ini. Luck ketemu Co-Founder yang jago & satu visi. Mau susah bareng lagi (dulunya doi kerja di Amerika cuy, tau sendiri gaji per bulannya berapa). Luck ketemu advisor, mentor, bahkan investor. Luck dapet proyek bagus. Luck dapet orang-orang yang di hire talented. Dan luck-luck lainnya.

Saya barusan rapat btw, terus ngerasa bersyukuur banget Head of Business & Risk yang saya hire, doi 8 tahun di BNI, mau join ke perusahaan kecil gini. Dan karena eks-banker dia jadi tahu bener produk-produk perbankan. Jadi kita tinggal buat versi syariah nya. Banyak banget intinya kalo dihitung, mungkin saya bisa sampai ditahap ini karena keberuntungan. Tapi sebagai muslim, it’s not a luck. It’s Allah’s help. Semakin banyak istighfar dan doa, pertolongan Allah bisa datang dari arah yang tak di sangka. This life is full of uncertainties. That’s why I need unknown special power from Allah to help to do it.

Frost.jpg

Done! Panjang juga ya. Sekian recap selama 6 bulan kebelakang. It’s long way to go. And It’s still unclear what will happen in the future. Jadi final muse, building a business is really really hard. Serius. Banyak ketidak pastian dan totally blurry what will happen along the journey. Apalagi di bisnis saya yang sekarang. Contoh: handling legal itu superr lieur. Ditambah lagi handling shariah compliance nya. Stressed. But, itulah seru nya berjuang di jalan islam. Kita tidak mengejar dunia aja, tapi juga keberkahannya di Akhirat. Dan dengan legally & shariah compliance kita bener-bener pengen kontribusi terhadap ekonomi dan dakwah islam kedepannya. Berat bahasanya tapi semoga bisa.

As closing, this road that less traveled is so lonely & wasted if we do it for Dunya matters only. It’s temporary. The eternal life is later in hereafter. So always make Allah’s Ridha as the final purpose for every decision and step we choose along side of our journey.[]

2017 Journey: Part I

Learning in life is as indispensable as breathing in running. As my wordpress title, I realized Life is truly series of learning. Dan Islam mengokohkan itu dalam Hadits Rosulullah SAW, yaitu bagi siapapun yang menuntut ilmu, akan dipermudah jalannya oleh Allah menuju surga. Pergantian tahun menjadi salah satu titik refleksi dalam koordinat kartesius hidup, untuk melihat sejauh apa kita belajar dan berkembang dari tahun sebelumnya. Apakah kurva perjalanan kita linear sesuai dengan garis asymptot ideal yang dituju, atau justru berbelok tanda ada yang harus dievaluasi. Salah satu metode refleksi yang biasa saya gunakan, adalah dengan menuliskan milestone perjanalan dalam satu tahun belakang dalam bentuk tulisan.

I really want to make it routine in annual basis to be honest, but to make such commitment is not that easy, yet at least writing in some years is much better than writing nothing at all. Kebetulan sedang ada mood nulis, and here it is, my 2017 Journey. Sebenarnya ada sebagian cerita di tahun 2016 sebagai pembukaan, but mostly core nya di 2017. Saya coba iseng nulis targetnya tidak terlalu Panjang, but once I have mood to write its hard to stop, alhasil sekarang jadi berhalaman-halaman lol. Hence, I will try to parse this story into some parts in order not to make this boring for the readers (if any) and skip some important parts.

Lol, so long opening. So let’s just begin to surf in my 2017 Journey.

hand-playing-with-toy-plane_1252-549

A DYNAMIC YEAR

Tahun 2017 merupakan tahun yang sangat dinamis, terutama dalam historis per-karir-an saya. Total 3 perusahaan saya pindah hanya dalam jangka waktu 1 tahun, yang secara per-HR-an itu sangat buruk dan menurunkan kredibilitas. Namun secara per-Milenial-an, itu dianggap sesuatu yang lumrah, toh teman-teman saya juga banyak melakukan hal yang sama.

Teringat dulu ketika matahari pagi pertama terbit dari Horizon, menandakan pergantian tahun, 1 Januari 2017. Saya masih bekerja sebagai Bisnis Analis Konsultan di NTT Data Indonesia. Jika tidak salah, saat itu saya baru menyelesaikan satu proyek Bersama dengan tim Everis, Spanyol dan Meksiko, dan menyisakan beberapa laporan yang harus dibuat di awal tahun. Proyek officially berakhir di Desember 2017, dan di Januari 2017 selayaknya perusahaan konsultan, terjadi masa transisi, saya harus menyelesaikan laporan-laporan akhir proyek, sembari transisi untuk ditransfer ke proyek lain.

Jujur saat itu, bekerja di NTT Data sungguh sangat berada di zona nyaman saya. Mulai dari gaji yang lebih dari cukup plus bonus ketika lembur. Tempat kosan saya di setiabudi, yang ke kantor hanya berjalan kaki sekitar 20 menit ke Wisma 46 BNI di Sudirman, which is tidak harus merasakan “neraka”-nya kemacetan Jakarta. Tempat makan dekat dan murah untuk ukuran Jakarta. Masjid dekat kosan tinggal jalan dan masjid di dekat kantor juga besar dan tinggal menyeberang, yang terkadang saya sempat tidur siang disana bada dzuhur. Lingkungan kerja juga sangat kondusif, and I made many friends there. Mulai dari yang seumuran sesama milenial, senior, hingga bapak Ibu yang sudah punya anak seumuran saya.

Dunia entertainment, aka hiburan dikala stress di kantor juga tidak terlalu jauh, mall Grand Indonesia tinggal jalan kaki dari kantor yang biasanya saya dengan teman hedon paska gajian ke café atau restoran mevvah, ala jomblo yang belum banyak memiliki tanggungan dan tuntutan tabungan. Atau biasanya ketika ada diskon-diskon musiman, kami bergegas mengagendakan untuk pulang lebih cepat agar tidak terlewat barang-barang bagus yang sekali lagi- diskonan. Nonton bioskop juga hampir setiap minggu tinggal jalan sekitar 5 menit dari kosan ke setiabudi one, yang dulu harganya masih sangat murah Cuma Rp 25,000. Ditambah lagi, ada fasilitas kolam renang, jaccuzi dan spa di tempat apartemen teman, jadi biasanya kami mengagendakan setiap kamis untuk renang disana sepulangnya dari kantor. Semuanya begitu indah dan nyaman, apalagi dengan carreer path yang jelas, terukur, dan poin-poin yang harus dicapai jelas sangat memungkinkan saya menghabiskan karir seumur hidup disana, apalagi ketika sudah berkeluarga, dengan work-life balance yang sangat seimbang disini sangat memungkinkan untuk hidup tenang, bahagia dan Sentosa, forever after.

BUT I have my own dream. Saya sempat menuliskannya di Dream Plan saya, salah satunya I want to build my own company.

Dan disaat yang bersamaan era startup teknologi mulai masuk di titik awal asimptot pendakian linear kurva e pangkat x, yang pertumbuhannya sangat eksponensial. Beberapa teman bahkan langsung menjadikan startup sebagai batu pijakan karir pertamanya. Ketika di pertengahan tahun 2016 pun saya tidak jarang browsing dan research tentang beberapa startup di internet, dan mulai muncul godaan-godaan awal untuk resign dan mencoba belajar dari perusahaan kecil menengah bernama startup.

SOME PROJECTS I WAS INVOLVED

Rencana untuk pindah perusahaan sebenarnya masih kecil, tapi sudah ada sejak pertengahan 2016. Karena saat itu saya masih terlibat di proyek seru, Hospital Market Research, sehingga rasa tersebut tidak lebih hanya sebatas pemantik kecil tanpa followup yang serius. Baru di akhir tahun 2016, setelah saya mendapat kabar paska proyek terakhir saya akan kembali di relokasikan ke proyek sebelumnya, rasa tersebut kembali membuncah dan bergebu-gebu.

For short info, saya ingin coba sharing disini juga, some big projecst I was involved in when I worked in NTT Data. And FYI di bulan-bulan awal saya sempat di rotasi ke beberapa business branches, mulai dari microfinance, HRMS, POS payment division, dll. Alhamdulillah, dari rotasi tersebut saya bisa belajar banyak secara helicopter view business model yang digunakan hingga technical surface dari masing-masing projects. Hingga akhirnya di pertengahan ke akhir bulan I ended up taking many big projects from Healthcare division. Salah satunya saya sempat terlibat di proyek Smart Cabinet Development, yang cukup menarik yaitu menggunakan Internet of Things (IoT) untuk rumah sakit, which is salah satu background mengapa saya di approach ke NTT Data adalah karena akan adanya proyek ini.

Di proyek smart cabinet ini saya terlibat end to end, mulai dari project initiation, veteran review boards (VRB), sedikit dilbatkan di financial planning, kemudian in charge utama di fully research and product development both its hardware and software. If I’m not mistaken, I worked in this project di sekitar bulan Juni – September 2016, which the responsibilities include but not limited to clients engagements, business requirements, system design, business process design, product development hingga implementation and operation di Pilot Project salah satu top referral Rumah Sakit di Jakarta. Serunya disini, saya bekerja sebagai business analyst, sehingga mentransformasikan business needs ke dalam bentuk technical solution. Dan karena IoT, disini sistem yang digunakan dan dibuat oleh teman-teman engineer menggunakan Raspberry Pi 3 sebagai core embedded system di Smart Cabinet nya, which is nostalgia, balikan lagi dengan mantan-mantan lama saat di Elektro ITB lol, meskipun sekarang I was not in charge details code that loving machine haha; dan juga web-based system for backend and frontend solution untuk company client dan juga rumah sakit.

This first phase of the project bisa dikatakan sukses dan saya belajar banyak hal dari sana. Setelah September karena operation team yang jalan, dan NTT Data on progress negotiation dengan client terkait project contract for expansion dsb, saya dialokasikan di proyek lain, yaitu market research di sekitar bulan Oktober – Desember 2016.

Untuk proyek market research ini juga cukup menarik. Jadi salah satu anak perusahaan NTT Data di Spanyol, ingin mencoba masuk ke market di Indonesia untuk Hospital Information System (HIS) software. Dan sebelum masuk tentunya harus dilakukan market research terlebih dahulu, untuk mengetahui iklim pasar di Indonesia, seberapa tinggi entry barrier nya, seberapa cost yang diperlukan untuk masuk, bagaimana flow di Rumah Sakit, apakah banyak custom atau tidak, bagaiamana regulasi dan tipe rumah sakit di Indonesia, dengan tujuan investment yang mungkin mencapai Triliunan dapat mendapatkan Return yang positif dan bisa mengambil pie market yang besar dari total market yang ada di Indonesia. I could say I helped Multinational Company Capitalist to grab domestic market in Indonesia, but well it was business as usual and I aimed to just professionally learn out of it. Dan saya juga baru tahu alokasi budget untuk konsultan pre-market entry research itu sangat besar, mereka berani menggolontorkan uang yang cukup gede, karena memang cukup krusial, lebih baik costly di awal, daripada membuat bad investment dan bakal loss besar di akhir.

Jadi disimplifikasi, market research ini secara garis besar terbagi atas ada dua hal, pertama data gathering di lapangan (which is rumah sakit yang kita sudah kerja sama) dan kedua research and creating report di office Wisma BNI 46, HQ dari NTT Data Indonesia. Jadi di akhir tahun 2016 saya banyak bolak-balik rumah sakit Jakarta untuk data gathering, dan menariknya saya belajar banyak terkait business flow di rumah sakit, interview dengan key persons, ketemu dengan banyak dokter (dokter tua tapi, sayangnya bukan dokter muda haha), research terkait teknologi yang digunakan di rumah sakit, dll. Well in general, Hospital is one type of Healthcare business, which is to make money, isn’t it? Saya saat itu bekerja sama dengan senior konsultan namanya Pak Faried, alumni UI, sudah punya anak. Dan kami berdua ditandemkan dengan konsultan asal Spanyol dan Meksiko, namanya Dierk dan Cyntia. Mereka bertiga meskipun umurnya jauh di atas saya, tapi sangat friendly, and we often spent times together exploring Jakarta, outside of work.

Setelah selesai core project di Desember 2016, saya masuk tahap idle, yaitu menyelesaikan seluruh sisa report proyek market research, dan tahap transisi ke proyek selanjutnya. Sebenarnya di Desember 2016, saya sudah mendapat kabar-kabar bahwa saya akan direlokasikan kembali ke proyek Smart Cabinet, untuk expansion tidak hanya di Jakarta, tapi ke berbagai kota di Indonesia, bahkan berbagai pulau di Indonesia. Saat ini sebenernya cukup dilemma, di satu sisi saya bisa belajar banyak hal lagi terkait operational expansion, di sisi lain, saya dengan tipe ENTP ada rasa bosan kembali ke proyek yang sama. Sehingga benih-benih untuk resign dan pindah ke startup yang sempat tersemai, mulai kembali tumbuh dan cukup membesar.

PLANNING FOR LEAP OF FAITH TO JUMP TO STARTUP SHIP

Timing transisi dan akhir tahun ini adalah timing yang cukup tepat jika saya ingin resign dan pindah pekerjaan, karena saya belum officially di assign di satu proyek sehingga akan lebih mudah jika ingin mengajukan resign ke perusahaan. CV kerja mulai saya perbaharui kembali dan update dengan data-data terbaru, sebagai senjata tempur untuk masuk ke medan perang pencarian tempat kerja baru dan waktu itu salah satu parameternya, wajib perusahaan startup!

Sempat ada beberapa pilihan apakah saya sebaiknya pindah ke perusahaan startup yang sudah cukup besar, seperti Bukalapak, Tokopedia atau Traveloka. Atau saya pindah ke perusahaan startup yang masih early to medium stage yang tim nya masih kecil dan lean, namun belum banyak dikenal di khalayak umum.

Ada beberapa pertimbangan & parameter. Pertama yang paling penting adalah dari sisi Learning. Jika saya pindah ke startup yang sudah besar sejenis bukalapak/traveloka, ada kemungkinan startup tersebut sudah semi-korporat which is saya akan responsible terhadap satu hal spesifik dan report ke manager, akan sulit untuk eksplorasi variasi ilmu karena memang by nature kultur perusahaan yang sudah banyak karyawannya, limitasi untuk melakukan banyak hal menjadi sangat kecil. Jadi bisa dibilang, tidak akan jauh berbeda dengan learning yang saya dapat di NTT Data.

Sedangkan jika pindah ke startup kecil to medium. Karena timnya masih kecil dan lean, learning opportunity-nya akan sangat besar. Karena kesempatan untuk explorasi banyak hal sangat terbuka. Ditambah lagi saya juga akan belajar terkait how to build startup company yang tidak akan mungkin saya dapatkan ketika bekerja di startup besar. Kultur nya juga sangat dipastikan sangat agile dan fleksible, dengan kata lain tidak korporat aka tidak saklek. Sehingga bisa mengkomplemen pengalaman saya bekerja di NTT Data yang so korporat style.

Akhirnya ketok palu, saya putuskan untuk memprioritaskan pindah ke early to medium stage startup dibanding ke startup yang sudah besar

STARTUP PARAMETER

Resiko pindah ke startup kecil adalah You will learn a lot of things or you will learn nothing at all. Jadi cukup beresiko. Berdasarkan ilmu risk management, di kasus ini saya akan keluar dari zona nyaman jadi harus dilihat dari sisi cost opportunity yang bakal hilang, apakah worth atau tidak saya pindah haluan. How to parameterize it? First and foremost parameter utama yang akan saya gunakan adalah pertama THE FOUNDERS.

Jika pindah ke startup kecil, akan cukup percuma jika saya pindah ke startup yang foundernya bisa dibilang mediocre, atau tidak exceptional. Jadi saya prefer pindah ke startup kecil tapi dengan Founders yang saya bisa banyak serap ilmu nya, apalagi bisa langsung direct report ke Foundersnya langsung dan dilibatin dalam decision making di startup tersebut.

Yang kedua SALARY. I don’t expect much dari sisi salary sebenernya. Tapi at least kalo bisa tidak turun atau bahkan naik why not. Dikarenakan belum bubble, banyak startup-startup yang ready to burn money to hire talent. Jadi related to salary, parameter yang berhubungan adalah its INVESTMENTMONEY dan BACKED INVESTORS. Beda kan ketika kita join di startup yang masih bootsrap atau yang sudah Seed Investment million dollars apalagi yang sudah raising series A. Dari kemampuan untuk menggaji talent juga berbeda ketika startup ini sudah mendapatkan investment jutaan dollar dari investors. Jadi saya coba juga research-research who backed-investors yang mengbackup startup tersebut.

Yang ketiga BUSINESS TYPE AND ROLE. Saya mencoba mencari startup yang memungkinkan saya belajar sesuatu yang baru dan ada kemungkinan untuk booming in the future. Baik dari sisi jenis bisnisnya maupun bisnis modelnya. Selain business as a whole nya, saya juga coba mempertimbangkan role saya di startup tersebut, apakah memungkinkan untuk berada di melting point untuk strategic decision dan mempelajari core nucleus dari startup tersebut, atau hanya sekedar routine activities yang monoton dan circle exploration nya rendah. After do some research, akhirnya saya memutuskan I prefer startup yang related dengan ecommerce, karena startup ini yang sedang booming dan saya yakin one of the future of industry is digital industry and the power of big data. Sedangkan untuk rolenya saya prefer yang related dengan business analysis ataupun product developement, which is center circle between business and technology.

BEBERAPA APLIKASI DAN TAWARAN

Layaknya algoritma job seeker yang biasa saya gunakan, brute-force, saya menyiapkan CV dan mengirimkan ke sebanyak mungkin open vacancy yang ada, still brute-force nya yang sekarang beda dengan pas saat saya baru lulus aka freshgraduate, sekarang dipakai juga algoritma filter. So before applying to certain startup companies, I still did the due diligence berdasarkan parameter-paramater di atas. Jika tidak salah ada sekitar 4 startup yang saya sempet daftar saat itu. Ada startup yang sudah besar, tapi memang kebanyakan saya daftarnya di startup yang cukup early to medium stage. Saya prefer ga menyebutin nama startup yang saya apply hehe, kalo mau tau detail boleh ngobrol langsung saja.

Ada beberapa respond panggilan interview waktu itu, dan tipikal startup biasanya langsung ketemu petingginya bahkan saya sempet ketemu sekelas VP dan bahkan CEO or CTO dari startupnya langsung. But emang belum jodoh, ada beberapa memang saya kurang cocok, dalam sisi role, business model startupnya (learning kedepannya kemungkinan kurang) dan salary hehe. Bahkan sampai di satu sisi, saya memutuskan lebih baik untuk stay setahun lagi di NTT Data. Toh proyek yang saya akan kerjakan juga sebenernya menarik, karena at least saya akan belajar dari sisi operational expansion.

Sampai satu hari random di bulan Januari, ada satu anak baru yang baru join di NTT Data, dia sebelumnya kerja di Halodoc, nawarin ke saya, katanya startup di tempat temennya kerja lagi nyari product management role. Nama startupnya FinAccel. I really had no idea and that was the first time I heard that name. Dan setelah exploring internet ternyata startup ini bergerak di bidang fintech. Dan sebenernya saya juga saat itu masih awam di dunia perfintechan, tapi dari hasil research, ada kemungkinan bisnis fintech ini akan memegang ranah penting di dunia per startup an or technology company in the future. Then I directly submit my CV there, and if I’m not mistaken, selang satu hari setelah submit, saya langsung diminta ketemu one on one interview dengan CEOnya, Akshay Garg

FINTECH WORLD

Siang teriknya Matahari Jakarta menjadi saksi perjalanan saya ke kantor FinAccel di Rukan permata senayan. Saat itu karena di NTT Data sedang fase idle -tidak terlalu banyak kerjaan- jadi memungkinkan saya bisa izin pas makan siang. As soon as after finishing lunch, saya langsung segera pesen Gojek dan berangkatlah saya ke Rukan Senayan tanpa membawa apapun, karena Akshay CEO nya juga hanya meminta ketemu saja in person.

Sampai di depan rukonya saya langsung menekan tombol bel. Kala itu bener-bener seperti ruko biasa, sama sekali tidak ada ciri kantor startupnya sama sekali, seperti di youtube yang banyak cat, mural, meja pingpong, gaming room dll. Tidak beberapa lama saya menunggu di lobinya, yang hanya ada satu buah sofa, datanglah sesosok orang berkontur wajah India, berkepala botak, sudah cukup berumur, berkemeja dan langsung menyalamin saya.

“You are Afif? Lets go talk outside in the café, our meeting rooms are full for today”

Bahasa Inggrisnya beraksen normal, yah setidaknya I know Indian Aksen from Big Bang theory Rajesh, dan Akshay gaya bicaranya tidak seperti Raj di Big Bang Theory, which was almost like states accent. Dan ternyata benar, setelah kenal lama, Akshay memang lahir di India, tapi dia besar di US, bahkan dia mengakui aksen Bahasa India dia aneh.

Duduklah kami berdua di café, one on one and face to face. Kami berdua memesan minum dan hampir tidak seperti interview kerja pada umumnya, melainkan lebih seperti ngobrol biasa. Dia bertanya tentang my background, dimana saya kuliah, experience selama di kampus dll. Kemudia dia meminta saya cerita kerjaan saya selama setahun kebelakang di NTT Data. Waktu itu cukup beruntung, NTT Data di Amerika, sekitar bulan November 2016, baru mengakuisisi salah satu part of services DELL, dan dimedia diberitakan cukup besar, sehingga image perusahaan sedang baik-baiknya, dan dia sangat impress dengan perusahaan tersebut. Saya normal menceritakan apa adanya, semua proyek yang pernah saya kerjakan, key learning points, dan betapa passion saya bekerja di bidang teknologi. Dia semakin impress dan secara langsung menawarkan saya untuk bergabung ke FinAccel, immediately and as soon as possible. Lol.

Saya agak shock aja, dan jujur saya bilang I have such no idea at all aka totally blind di bidang fintech. Bener-bener baru baca-baca dikit, dan memang tidak ada background finance sama sekali. But he makes sure, yang penting ada keinginan untuk belajar, that’s more than enough. Kemudian dia meyakinkan lagi, ala-ala Steve Jobs sedang merekrut John Sculley #lol, FinAccel akan mejadi fintech player terbesar di Asia, and our first move is we’re gonna disrupt financing industry in Indonesia.

Dia bilang juga FinAccel sekarang sangat Lean team, dia lebih prefer timnya kecil tapi diisi A+ team, dibanding gemuk tapi banyak yang mediocre. Dia juga menceritakan, baru beberapa hari yang lalu senior saya di IF ITB baru join setelah dia selesai master di Belanda. Engineer-engineernya juga para eks-traveloka, gojek, dll yang sudah super experience. Dia menceritakan juga FinAccel ini founded by 3 orang, yang semuanya memiliki pengalaman di bidangnya masing-masing.

Dia cerita sedikit tentang dia, sempat bekerja di Deloite sebelum membuat his own company name Comly Media, dan berhasil exit dengan diakuisisi Axiata Malaysia. Umang Rustagi, as COO FinAccel, dia eks-McKinsey yang memang spesialis di financial industry. Alie Tan, the CTO, belasan tahun experience dan sempet founded company juga waktu itu dengan teknologi Black Berry. Dan FinAccel sekarang punya CDO juga, atau Chief Data Officer, dari Swiss, bernama Andreas Granstorm, Chalmer University eks-data scientist di Skyscanner. WOW!

That’s my first thought after hearing his team. Really an A+ team. Kemudian dia juga menjelaskan role saat ini yang sedang dia butuhkan di product management role, which is so match with my goal. Bahkan dia menelpon CTO nya langsung, Alie, diminta datang ke café to join us. Beberapa menit kemudian, Alie turun dan duduklah bertiga kami di café tersebut, I was in the middle of two amazing C-level of the company. Alie menjelaskan sedikit culture di tim teknologinya, dan dia membutuhkan product manager yang bisa melihat dari sisi bisnis dan teknologi. Dia menjelaskan how his tech team currently works, dan gambaran pekerjaan saya kedepannya. I don’t talk that much actually, dan saya sebenernya belum bilang Iya, tapi mereka sungguh serius rekruting seakan-akan besok saya sudah harus join.

Terakhir Akshay bertanya proposed salary, dan saya menyebutkan random X% lebih tinggi dari current salary, random banget itu karena saya juga ga mempersiapkan langsung membahas salary, dan angka yang saya sebutkan cukup threshold atas untuk saya yang baru pengalaman setahun, dan gamblang dia langsung merespon. Yeah, I think that’s still okay, we’ll talk more detail later! And also I can give you stock option as well. Dan ditutup dengan

“So when you can join??”

FINTECH AND THE FUTURE

Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya benar-benar cukup blind dari sisi financial industry. My background is engineering, dan selama bekerja di NTT Data, saya sempet terlibat di minor project perbankan & microfinance, tapi tidak masuk terlalu deeper mempelajari bisnis modelnya. Alhasil, sepulangnya dari interview dengan Akshay, saya langsung semalaman fully research terhadap financial industry, khususnya di financial technology atau fintech.

Fintech di awal tahun 2017 mulai booming-boomingnya, terutama dari sisi payment, Peer to Peer lending, investment, dll. Terutama gojek yang mulai masuk dengan Go Pay nya, begitu juga Grab dengan Grab pay, atau pemain yang sudah cukup lama seperti Doku. Kemudian ada juga yang bergerak dari sisi P2P seperti Investree, Modalku, Pinjam, dsb. Bahkan startup-startup ecommerce besar mulai mengembangkan fintech nya sendiri seperti Tokopedia dengan Tokocash nya, Bukalapak dengan Bukadompet dan Bukareksa, begitu juga Traveloka yang mulai masuk ke ranah credit financing untuk pembayaran tiket pesawat.

Setelah semalaman dan beberapa hari research, saya menyimpulkan, Financial Technology atau Fintech akan memegang peranan penting dalam perkembangan teknologi di masa depan. Every payment would shift to digital, and the world will aware with cashless society. Sistem keuangan konvensional akan sedikit demi sedikit ditinggalkan. Dengan tingkat akses ke internet dan smartphone yang sangat massive pertumbuhannya, pembayaran sekarang bisa dengan hanya mengklik beberap tombol dalam genggaman tangan.

Fintech will significantly shape the future

Bahkan bisa dibilang fintech akan menjadi foundation untuk bisnis apapun. Sistem pembayaran merupakan tonggak utama penyokong bisnis, untuk bisnis model apapun. Ecommerce, real sector, manufacture, B2B business, bahkan bisnis konvesional seperti Kuliner, Fashion, dll harus memiliki sistem pembayaran yang kokoh untuk mencapai tahap sustainability dan scalability yang massive. Financial literacy juga harus dimiliki untuk setiap entrepreneur, bahkan bisa dibilang setiap individu terutama dalam negara berkembang agar bisa tumbuh secara exponensial. Financial inclusion harus segera disebarluaskan. Akses to capital juga harus bisa menyebar tidak hanya untuk segelintir orang di kalangan atas which is the nature of capitalism.

Finally after such a long research and browsing, I decided it’s gonna be worth so much to join fintech startup and learn about financial industry, especially as self-investment to support my long term goal to build company in the future. Bismillah.

KONTROVERSIAL DAN RANAH ABU-ABU

Secara opportunity, industrial learning, even salary, FinAccel benar-benar sesuai dengan parameter tempat saya target pindah dan merupakan tempat yang sangat tepat untuk mempelajari financial industry. Dimulai dari Foundersnya yang highly experience, backed investors yang firm dan stage startup yang masih early sehingga range of exploration masih sangat luas.

BUT -always there’s a but in such big opportunity- Fintech is actually a grey area, dan FinAccel secara bisnis model cukup kontroversial dan bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam. FinAccel is multiproduct startup, dan product pertama dan utama nya bernama Kredivo, atau digital credit card. Sederhananya, Kredivo ini adalah sistem pembayaran sama persis dengan kartu kredit namun spesialisasi digunakan untuk pembayaran di ecommerce. I could say dengan saya bekerja di FinAccel sama dengan saya bekerja di bank.

Intermezzo, saya salah satu orang yang memegang prinsip bahwa orang-orang Islam yang sholeh dan paham muamalah harus terjun di dunia perbankan, karena itu yang mengendalikan sistem ekonomi di dunia. Bahkan sebisa mungkin beberapa orang Islam harus bermain di Worldbank, wallstreet, central bank dll dengan tujuan untuk sedikit demi sedikit mempelajari sistemnya dan jika memungkinkan mengubahnya. Makanya saya sangat menyayangkan jika justru orang-orang islam sendiri yang mendiskreditkan orang-orang yang berjuang menegakkan perbankan Syariah. Orang-orang yang dengan gampang nya mencemooh “sistem syariah hanyalah kedok”, padahal mereka tidak tahu betapa sulitnya memperjuangkan sistem islam ini ditengah derasnya sistem kapitalisme yang pernuh riba dan menjadi sistem ekonomi dunia saat ini. Ekonomi juga harus diperjuangkan dan my opnion itu salah satu jihad di era sekarang. Allahualam

Back to FinAccel, bedanya FinAccel dengan bank adalah disini digunakan sistem credit scoring yang innovational dengan memanfaatkan teknologi digital, big data dan machine learning algorithm. Simplifkasi, jika ada seseorang yang HPnya merupakan Samsung Galaxy S8, dari GPS terdeteksi dia sedang berada di Pacific Place, kemudian didalam HPnya terinstall berbagai macam aplikasi ecommerce, secara sederhana dapat kita katakan orang tersebut credit worthy, tanpa harus survey rumahnya, kantornya, interview dll. That’s how machine learning credit scoring algorithm works.

That’s the simple concept, tapi jika In detail conceptnya kita akan menggunakan million data of users to do credit scoring. Personal data, digital data, ecommerce transaction history, banking history, SMS, email, and billions binaries data that users have as digital footprints. Itu mengapa FinAccel menjadi salah satu startup di Indonesia yang memiliki storage terbesar di Amazon Web Service, padahal ukuran perusahaannya masih sangat kecil. Ditambah lagi FinAcceli ini memang spesialisasi untuk pembayaran ecommerce, sehingga secara tidak langsung saya juga bisa mempelajari ecommerce industry.

Jika disimpulkan learning opportunity dengan saya join di FinAccel, secara business view saya dapat mempelajari including but not limited to: Financial Industry, sistem perbankan, credit scoring, ecommerce industry dan juga financial payment system. Dan secara technical view saya dapat mempelajari: big data, data infrastructure, data query, machine learning application dan product development. Such a big fish to catch.

KONSULTASI DENGAN USTADZ

Secara hati, saya sebenernya sangat tidak ingin masuk ke ranah abu-abu tersebut. Bahkan di satu sisi ingin rasanya diri ini hanya menjadi karyawan di perusahaan biasa, mendapat gaji halal, hidup bahagia dengan keluarga dan bisa beribadah dengan leluasa. Namun di sisi yang lain ingin juga mencoba mencari ranah kontribusi terhadap islam terutama di ranah strategis yang mencakup hidup orang banyak.

Karena, bagi sebagian orang, termasuk saya, mungkin cukup mudah untuk menghindari riba. Misal jika asuransi bahkan BPJS di claim riba. Well okay, saya ada penghasilan tetap setiap bulan dan ada tabungan, jadi tidak begitu memerlukan asuransi. Tapi bagaimana dengan orang-orang kebanyakan disana yang penghasilannya jauh di bawah UMR. Mereka punya anak dan sakit membutuhkan biaya besar. Bagaimana solusinya untuk mereka? Ranah-ranah strategis ini bagi individu yang beruntung, punya orang tua berkecukupan, penghasilan stabil, tidak ada masalah menghindari demi tidak terkena riba. Tapi apakah banyak orang seberuntung itu?

Atau yang lebih general, kita tidak ingin memiliki kartu kredit karena sama saja dengan sepakat dengan ribanya. Disisi lain, karena sistem pembayaran global dikuasai oleh VISA, mastercard dan sejenisnya, kemudian kita membutuhkan kartu kredit untuk pembayaran internasional, dan karena enggan memiliki kartu kredit, kita meminjam dengan teman, yang mungkin sesama muslim, untuk memakai kartu kredit. What do you think? Itu subjectively, my humble opinion, seakan-akan kita menggunakan teman tersebut, saudara sendiri sesama muslim, hanya sebagai media, terserah toh dia yang menyetujui agreement dengan kartu kredit, dan dia yang punya, saya hanya memakai, yang penting saya terhindar dari riba. That’s not cool right? Allahualam. Ilmu agama saya juga masih rendah. Tolong diambil yang baiknya saja.

Back to topic, akhirnya berkonsultasilah saya dengan beberapa teman dan meminta pendapat mereka terkait tawaran dan kesempatan untuk bekerja di FinAccel. Mayoritas mereka semuanya kontra dengan saya pindah ke sana. Tapi ada beberapa minoritas teman yang justru mendukung. Waktu itu saya ingat, saya sempat meng-email sebanyak mungkin ustad yang alamat email/kontaknya ada di internet. Tapi nihil tidak ada satupun balasan dan jawaban. Kemudian sempat juga menghubungi Muzammil, waktu itu karena dia adik kelas, jadi dibalas japrian saya untuk minta nomor Ustad Hanan Ataqi. Setelah dapat nomor Ustad Hanan, dan mengirim pertanyaan dan butuh saran beliau, tapi hanya terkirim saja, tidak di read. Karena waktu itu Ustad Hanan juga sedang menunaikan Umrah jika tidak salah, sehingga mungkin tidak memiliki waktu untuk membalas pesan saya. Hampir putus asa, dan karena banyak yang kontra, akhirnya memutuskan untuk melepas kesempatan tersebut dan tetap stay di NTT Data.

Namun, setitik cahaya datang dari salah satu teman saya yang menanyakan masalah ini ke Ustad Setiawan Budi Utomo, Dewan Penasihat OJK, yang kebetulan dia ada koneksi disana. Berikut profile nya saya copy dari dakwatuna.com

Dr. Setiawan Budi Utomo adalah Alumnus terbaik Fakultas Syariah Madinah Islamic University, Arab Saudi. Saat ini aktif sebagai Anggota Dewan Syariah Nasional dan Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), Dewan Syuro Ikatan Dai Indonesia (IKADI), Dewan Penguji Ujian Sertifikasi Akuntansi Syariah, Ketua Tim Akuntansi Zakat, anggota Komite Akuntansi Syariah Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), Dewan Penguji Ujian Sertifikasi Akuntansi Syariah, Anggota Tim Koordinasi Penerbitan Surat Berharga Syariah Negara dalam Valas, Anggota Tetap Tim Ahli Syariah Emisi Sukuk (Obligasi Syariah), Dewan Pakar Ikatan Ahli Ekonomi Syariah (IAEI), Dewan Pakar Shariah Economic and Banking Institute (SEBI), Anggota Tim Kajian Tafsir Tematik Lajnah Pentashih Al-Quran Depag, Dosen Pasca Sarjana dan Pengasuh Tetap Fikih Aktual Jaringan Trijaya FM, Pegiat Ekonomi Syariah dan Referensi Fikih Kontemporer Indonesia. Penulis juga merupakan salah satu peneliti di Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia (BI).

Jadi at least saya sudah berusaha untuk menghubungi banyak ustad. Karena setidaknya jika nanti di akhirat ditanyakan pertanggung jawaban, saya memiliki backup pendapat dari ustad, bukan hanya keputusan pribadi.

Jawaban Ustadz SBU ini cukup mengejutkan. Saya lupa membackup chat secara harafiah nya, tapi kurang lebih seperti ini. Semoga sesuai dengan apa yang di chat dulu:

“Ambil saja kesempatan itu. Belajar yang banyak dari sana, terlepas apakah Ilmu tersebut dapat diimplementasikan atau tidak kedepannya. Tapi niatkan saja untuk belajar. Jangankan bekerja di startup, bekerja di bank konvensional saja dibolehkan. TAPI tidak untuk berniat menjadikan itu profesi karir dan sumber utama penghasilan jangka panjang. Berikan batas waktu bekerja disana dan pelajari banyak hal dari sana. Apalagi startup, yang dana utama-nya masih full dari Investor, belum dari keuntungan bisnisnya, termasuk untuk gaji karyawan. Jadi dibolehkan dan ambil saja.”  

Entah mengapa dengan chat tersebut, langsung memutarbalikan keraguan saya, dan membulatkan tekad untuk pindah. Istikharah tentunya terus saya lakukan sebelum mengambil keputusan dan setelah memutuskan, supaya bisa lebih dikuatkan dan diberikan jalan terbaik.

Yang saya tau juga dari teman, jika di Turki, jika ada sepuluh ulama, 9 mengatakan tidak boleh dan 1 boleh, maka orang-orang mengikuti dan menghargai yang 1. Berbeda dengan Indonesia, 9 ulama mengatakan boleh, 1 ulama mengatakan tidak, langsung seakan-akan, semua orang mencomooh yang tidak boleh.

Sebenarnya masih rada takut bagaimana jika saya meninggal ketika bekerja di sana? Kemudian apakah saya termasuk orang yang di dalam Al-Quran yang membantu dalam hal keburukan? Apakah saya juga menjadi salah satu pelaku Riba? Banyak kekhawatiran sebenarnya, tapi Bismillah, Allah pasti Mengetahui niat dan kondisi hambaNya. Selama yakin Allah masih Bersama saya, I more than believe to move forward.

Dan terbukti Alhamdulillah, Allah mempermudah jalannya, yaitu saya yang awalnya berniat stay maksimal di sana 1 tahun, dan dalam 6 bulan saya sudah mengajukan resign dan ada rezeki untuk ke startup lain, dengan kondisi lebih dari cukup pembelajaran yang saya dapat. Kemudian, saya juga niatkan untuk belajar dan menyerap sebanyak mungkin ilmu terkait industry keuangan dari perusahaan, jadi bukan untuk menolong dalam keburukan. Dan Alhamdulillah, ilmu tersebut ternyata bisa saya terapkan untuk membantu startup teman membuat Fintech berbasis Syariah di 2018. Detailnya akan saya jelaskan di chapter selanjutnya. Dan terkait kerjaan Alhamdulillah, saya lebih in charge di product development dan juga data analysis, jadi seharusnya tidak termasuk yang memberi, menerima ataupun mencatat transaksi. Dan gaji in syaa Allah masih full dari uang investor VC yang membacked FinAccel bukan dari keuntungan riba, karena burning money nya juga masih gila-gilaan. Terkesan pembenaran, tapi semoga Allah bisa menerima itu Aamiin. Karena saya benar-benar tidak ingin menukar dunia yang sementara ini dengan akhirat yang abadi.

Intinya hidup itu adalah pilihan dan setiap pilihan memiliki konsekuensinya.

Saya tidak tahu apakah jalan yang saya ambil ini benar atau tidak. Namun selama yakin Allah akan Bersama hamba-hambaNya yang berjuang dan diniatkan untuk berkontribusi terhadap islam, in syaa Allah, saya akan tetap mencoba maju dan berjuang, dengan senantiasa selalu beristighfar dan meminta selalu bimbinganNya. Karena, sekali lagi, adalah fakta bahwa dunia ini hanyalah sementara, sehingga tiada guna jika kita memperjuangkan sesuatu yang fana dan sementara untuk sesuatu yang abadi dan jelas kekelannya. Allahualam.

LAST DAY

Sekitar Februari awal 2017, akhirnya saya resmi resign dari NTT Data, dan tanpa jeda sedikitpun, jika tidak salah, waktu itu last day saya hari jumat, kemudian first day di FinAccel hari senin, jadi benar-benar tidak ada waktu kosong di masa transisi perusahaan tersebut.

Flashback sedikit di hari terakhir saya, I bought many boxes of Pizza for all NTT Data employees. This company had built my business foundation, and I made many friends here. Even Minggu-minggu awal setelah resign, saya masih ikut main futsal Bersama mereka. My last days full of smile & prayers from all of my colleagues in NTT Data, mereka mendoakan semoga bisa sukses di karir saya selanjutnya. Aamiin, thanks guys. Bos besar saya, sebelum resign, mengajak one on one meeting in person, untuk menyayangkan keputusan saya. He prefered me to stay a bit longer, but I’d been firmed with my decision, dan akhirnya dia merestui kepergian saya and wish me the best for next journey. He said, He’ll be so opened to talk even after I leave company, and yes I’d be delight to. Lastly I emailed to all id@nttdata.com, to say thanks for every learnings I got and mistakes I made, I wish them the best, and I hope to still keep contact with my personal numbers. Dan selesai semuanya, I packed my stuffs, dan saya pulang ke kosan dengan happy ending. Alhamdulillah.[]

To be continued….

Conspectus of Annual Journey

pexels-photo-269923

Year 2010,

lets deem as zero state, titik awal pola pikir. Masih sangat dangkal, paska lulus SMA. Bahagia bisa diterima di STEI ITB. Belum ada plan. Belum ada goal. Just want to live happily ever after as a student.

Year 2011,

baru masuk jurusan, milih elektro karena himpunannya keren (petir ganesha), terus biar belajarnya juga ga monoton ngoding-ngoding aja kayak di IF, at least ada solder-solderan. Sama katanya gaji lulusan elektro tinggi. So dangkal. Tapi di tahun ini juga mulai ikut mentoring dan halaqah. Bertemu banyak temen sholeh, anak masjid. Di sisi lain juga bertemu dengan banyak temen gaul, anak himpunan dan anak kabinet. Alhamdulillah fondasinya dibangun di halaqah masjid, tapi pergaulan tetap liberal di kampus. Pola pikir terkait agama mulai shifting, yaitu wajib di bangun. Titik start saya mulai mendalami lebih dalam tentang islam, tidak hanya yang dasar dan fundamental saja, tapi juga cabang-cabangnya.

Year 2012,

puncak dari memegang amanah terbesar selama di Kampus, menjadi ketua Pemira ITB 2013, memimpin 200an orang panitia, dengan 6 orang hebat sebagai core kepala bidang dan sekjen di ring 1 di samping saya, untuk memimpin sekitar 15an divisi di ring 2. Membuat rekor 8953 voters dari ~12000 mahasiswa ITB, atau ~75% suara masuk. Tapi membuat rekor juga mendiskualifikasi kedua calon presiden karena kasus black campaign lol. Puncak pembelajaran politik selama di kampus. Benar-benar katanya ITB miniatur Indonesia. Banyak ranah abu-abu di politik, banyak kepentingan dan belajar untuk tetap bold dalam mengambil keputusan. Selalu istikharah, karena kita tidak tau apakah itu baik atau tidak di sisi Allah. Pola pikir politik mulai terbangun dan mulai sedikit mengerti peran penguasa (power) terhadap keberjalanan kampus 1 tahun kedepan. Pemikiran dan pola pikir masih idealis. Saya mahasiswa. Dan saya ingin berkontribusi untuk perubahan.

Di tahun ini juga pertama kali cap visa saya tertempel di passport, pertama kali menginjakan kaki di negara di luar Indonesia, yaitu Jepang. Saat ini pola pikir masih sangat dangkal, intinya ingin ke luar negeri dengan beasiswa. Selama 2 minggu Alhamdulillah saya mengikuti summer program, bertemu dengan mahasiswa Todai, venture capitalist (dulu saya belum tahu apa-apa terkait ini), company visit, hingga global forum dengan mahasiswa berbagai negara. Event ini sangat disayangkan, karena ilmu saya masih rendah, tapi sudah lebih dari cukup untuk membuka mata saya, bahwa seperti ini dunia di luar kampung halaman saya di Indonesia.

Year 2013,

Pembentukan pola pikir mulai masuk ke ranah realita, yaitu mencoba memasuki dunia kerja dengan kerja Praktek/internship. Di tahun ini saya berkesempatan untuk internship sebagai instrument engineer di salah satu perusahaan BUMN, PT Pusri Palembang, sekalian pulang kampung waktu itu. Kerjaannya sangat santai dan sederhana. Saya ditempatkan dengan teman sebagai maintenance engineer, jadi ke lapangan ketika ada trouble.

Tapi di luar ekspektasi, ketika di lapangan, cuma ngelilit lakban di kabel yang terbuka. Mencatat paramater instrumen dan valve. Naik ke atas pabrik yang penuh dengan bau amonia, kemudian memantau dan mencatat DCS yang semuanya sudah terautomasi. Kemudian memantau pekerja yang mengarungi pupuk. Disini pola pikir masih dangkal, dan tahap awal mengenal dunia kerja. Teringat salah satu mimpi saya dulu, ingin jadi engineer di perusahaan minyak, karena gaji bisa mencapai double digit untuk fresh graduate. Tapi untuk bekerja seperti ini? Should I?

Year 2014,

second time I step to country outside of Indonesia, yaitu saya sempat melakukan riset exchange di Bangkok, Thailand. Kemudian setelah selesai sempat backpack di ASEAN. Rutenya dulu dari Bangkok, Kamboja, Vietnam, Laos ke Bangkok lagi. Terus dari Bangkok terbang ke Malaysia, dan naik bus ke Singapore. Baru setelah itu pulang ke Indonesia. Melihat dunia di luar Indonesia, pola pikir semakin meluas. Komparasi realitas negara berkembang di ASEAN dan maju seperti di Singapore. Bertemu dengan senior dan teman-teman mahasiswa yang sekolah dan bekerja di sana.

Kemudian berselang bebrapa bulan dari sana, Alhamdulillah saya diumumkan mendapatkan full scholarship dari NIIED untuk mengikuti pertukaran pelajar selama 1 semester di Korea Selatan. Tinggal di Korea selama kurang lebih 5 bulan, semakin membuka pikiran saya. Korea ini beberapa tahun yang lalu masih seperti Indonesia saat ini. Tapi dengan pemimpin yang hebat, bisnis berjalan dan ekonomi maju dengan beberapa perusahaan seperti Samsung dan Hyundai masuk ke market global. Pola pikir optimis bahwa Indonesia kedepannya bisa seperti ini mulai terbangun, kemudian keinginan untuk someday sekolah lagi semakin firmed dengan melihat realitas di negara ini.

Year 2015, 

ITB graduation year. Tapi Alhamdulillah, sebelum lulus, saya diberi Allah kesempatan untuk menjadi research-electrical engineer intern di salah satu perusahaan riset di Hamburg, Jerman. Pola pikir yang terbentuk, semakin mengokohkan pertanyaan yang sempat saya tanyakan 2 tahun lalu ketika saya menjadi instrument engineer intern di BUMN tahun 2013. Bahwa dengan menjadi engineer ternyata sulit untuk melihat helicopter view dari suatu big picture permasalahan.

So, I created things, but I didn’t fully understand the reason I made it or how to monetize it. It’s hard for me to see a product and business as a whole interconnected thing. Sehingga saya bertekad setelah lulus nanti, memutuskan untuk mencari karir yang memungkinkan saya mengerti helicopter view dari suatu bisnis atau gambaran besar permasalahan. And my mindset was shifting, that being an engineer at that time was the least option.

Year 2016,

adalah pijakan karir pertama saya, tahun paska lulus memasuki hutan rimba dunia kerja. Alhamdulillah saya diterima menjadi Business Analyst di NTT Data Indonesia. Awalnya perusahaan meminta saya menjadi programmer, karena BA saat itu requirement-nya membutuhkan orang yang cukup senior. Tapi saya ngotot menjelaskan bahwa I eager to learn. Akhirnya saya menjadi BA termuda di perusahaan tersebut. Disini saya belajar banyak tidak hanya technical, tapi juga dari sisi business problems and business needs. Pola pikir zoom out lagi melihat dari sudut pandang yang lebih luas. Dan saya bisa mulai melihat secara menyeluruh how the business works as a whole thing.

Di sini era startup mulai berkembang, saya mulai belajar bagaimana teknologi akan sangat berpengaruh terhadap masa depan. Mulai dari software development, ecommerce, fintech, big data, robotics, machine learning, hingga artificial intelligence. Dan teknologi ini akan menyentuh dan juga mendisrupt ke semua ranah bisnis mulai dari financial industry, healthcare, manufacture, infrastructure etc. Oleh karena itu, mimpi saya untuk tetap berada di track “technology-related” semakin firmed. Salah satu mimpi saya yang sempat saya tulis disini, adalah bagaimana in the future, saya bisa membangun perusahaan teknologi, terutama di healthtech company dan juga toys company.

Year 2017,

I worked in 3 companies within a year. Dan Allah masih tetap mengarahkan saya berkecimpung banyak di tech industry, dengan core businessnya di financial and real estate industry. Selama setahun ini, saya juga dipertemukan dengan banyak orang, teman, kolega, tokoh dll dengan berbagai sudut pandang, pengetahuan dan pemikiran yang lebih luas. Ada yang teknolog, engineer, founder, business owner hingga senior dan tokoh yang berkecimpung di ranah politik. Saya juga mulai merutinkan untuk membaca banyak buku dengan berbagai tema.

Pola pikir mulai terbentuk lagi, dan saya melihat how this world works in the bigger perspective. Pertama the power of big data. Saya di 2017 sempat bekerja di salah satu perusahaan fintech yg pertumbuhannya sangat massive. Dan as product manager saya memiliki akses ke database user dan saya juga bekerja bersama banyak engineer dan data science untuk mengolah data menjadi informasi sehingga bisa digunakan dalam decision making in business. Or we know as data driven decision making. Data ini kedepannya akan sangat powerful and the one who owns data I believe could control the world.

Kedua, pola pikir yang terbentuk di tahun ini, bahwa Financial Industry is one of the most influential business who rules the world. Di era kapitalisme ini dikenal game of rich, jadi hanya segelintir orang, atau bisa dibilang 2% owns 98% capital, and that 2% rules 98% society. Di tahun ini makanya saya tertarik untuk mulai sedikit belajar terkait finance & pasar modal. Sederhananya game of rich atau leverage di capital market, misal ada perusahaan PT X tbk, mengalami penurunan sales y% Y.o.Y, tapi harga sahamnya tidak sesuai dengan kinerja nya, which justru mengalami kenaikan dan akhirnya tersuspend. Ketika di suspend PT X tbk mengubah sektor bisnisnya dengan mengakuisisi PT Z tbk, padahal majority owner PT X tbk dan PT Z tbk ini adalah orang yang sama. Jadi keluar kantong kiri, masuk kantong kanan. How to raise money, dengan cara right issue lets say sekian Miliar, dan membeli dengan dana share holder sendiri. Jadi secara tidak langsung “tidak ada” perpindahan dana secara riil, melainkan hanya di atas kertas saja. That’s the power of capital market. I’m still continuously learning about it, still partially understand it dan makanya salah satu target jika harus sekolah tertarik banget ambil di bidang finance/economic. Btw itu juga yg menyebabkan mengapa gojek shift business nya akan ke gopay, karena who owns the capital could manipulate the business and win.

Kemudian saya melihat VC sekarang juga menyuntik dana yang besar ke banyak startup teknologi. How VC get its fund? Yap VC itu adalah one of the types of investment industry dan merupakan salah satu alternatif kecil hedge fund. Dan bahkan jika di total dari pie investment banking, mungkin VC hanya mengucurkan dana 5% dari total mutal fund yang dikelola di Wall Street yang berjumlah Trillion Dollars. Terdengar a bit conspiratorial, but that’s a fact. Saya juga belajar bagaimana politics (power) itu memiliki peranan penting dalam business. Contoh fiksinya jelas seperti di series House of Cards season 2 tentang money vs power. Dan contoh nyatanya di Indonesia adalah kasus Pak Dasep Ahmadi. Seperti yang ditulis di buku Why Nations Fail, bagaimana economic and political institution adalah penyebab utama negara maju atau gagal.

Year 2018,

it’s just still the beginning. Saya mencoba untuk fulltime build my own business. To stand on my own feet to build my own venture. It’s extremely high risk. I could totally fail. But if I’m not trying, I won’t be able to contribute much to society and Islam. Terdengar ambitious, but kembalikan lagi ke tujuan hidup sebagai Khalifah. At least niatkan menuju kesana. Toh dunia ini juga sementara. Ambisi tersebut, diredam dengan tujuan utama untuk mendapat Ridha-Nya. Allahul musta’an. Yakinlah bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba Nya yang berjuang. And I also look forward to keep growing my mindset. Menumbuhkan pola pikir baru, membaca lebih banyak buku, bertemu dengan banyak orang dengan berbagai pemikiran dan pengetahuan yang luas, and self reminder juga untuk tetap firm dengan Agama sebagai pondasi utama. Bismillah! Can’t wait for the journey :)

Year 2019,

jika Allah masih memberikan saya umur hingga tahun ini, in syaa Allah akan di update lagi setiap tahunnya. Lets say like annual diary, but more about conspectus of important milestones in life and the development of mindset each years!

…. to be continued.[]

His Plans

Sudah lama banget ga nulis, these past months banyak banget cabang-cabang pilihan hidup & pembelajaran, yang sebenernya kalo gojek ada go-ghostwriter pengen banget order buat bisa ditulisin jadi tulisan. Lol. Kedepannya semoga bisa nulis lebih details terkait what happened in these past month.

Skip. Intinya sekarang random cuma pengen cerita, triggernya exactly yesterday, Jumat 1 Desember 2017, I just lost my wallet. Singkatnya waktu itu abis belanja di Ind*maret, pake sepeda, 3 plastik full, terus dompet saya taruh di dalam plastik, di atas barang-barang belanjaan. Jam 3 shopping, baru sadar hilang dompet jam 5an, dicek ternyata gaada di plastik. Langsung dicari-cari, dan ditelusuri jalur sepeda, beneran gaada. Kesimpulannya kemungkinan jatuh dan diambil orang.

Lumayan, baru banget narik cash 300k, ini biasa, bahkan kalo ada orang baik yang balikin dompet, udah janji mau saya kasih semua itu duit. Ada E-Money & Sbucks card juga yang masih mayan banyak isi nya. Well itu juga santai. Yang paling riweuh itu di dalam nya juga ada KTP, SIM A/C, ATM dan NPWP, dan padahal e-KTP baru banget jadi karena telat ngurus & termasuk korban korupsi :(

Gegara hilang berbagai kartu penting tadi, dan baca-baca di Internet, ngurusnya ribet banget. Apalagi KTP nya Jogja. Pagi-pagi banget langsung ke Polsek Mampang ngurus surat hilang. Harus ke camat jogja, ke bank buat cetak baru ATM, NPWP di kantor pajak, dan ngurus SIM di satlantas bahkan worst case harus buat baru lagi.

Tapi disini indahnya Islam, banyak hikmah yang bisa diambil. Yang paling utama mungkin kurang sedekah, dan beberapa waktu itu ini cukup too much focus untuk dunia. Such a reminder.

Terus musibah begini, banyak positivenya juga. Pertama LEARNING. Ini pertama kali saya kehilangan dompet yang berisi banyak kartu berharga. Jadi ada pengalaman ngurus-ngurus, in case kedepannya mungkin bakal terjadi lagi (semoga engga) atau kedepannya membantu orang yang mungkin mengalamin nasib yang sama. Bakal bisa lebih prepared lagi juga untuk sebaiknya scan semua dokumen/kartu dan taruh di cloud.

Kedua TIMING, masih bersyukur banget hilang nya pas saya lagi santai, maksudnya ga butuh-butuh banget kartu-kartu itu. Kebayangkan misal hilang beberapa jam sebelum flight, dan flight itu super important meeting which affect your career or business. Atau sesaat sebelum test GRE or CFA maybe (pas nulis ada senior yg ambil CFA & menarik haha), yang butuh KTP untuk validasi. Kan bisa jadi failed. Jadi justru kata-kata Alhamdulillah yang selalu diucap.

Beberapa bulan yang lalu sebenernya saya juga sempat kehilangan HP. Lengkap banget kayaknya sekarang, pas zaman kuliah pernah hilang laptop, terus HP, sekarang dompet haha. Learning nya udah cumlaude masalah hilang-hilangan. Tapi justru beberapa hari setelah hilang HP itu langsung dikontak eks-bos kantor lama, dia baik banget ngundang ke rumahnya di Pondok Indah buat kasih iPhone lama dia, FREE guys a.k.a secara cuma-cuma. Boss besar sih, jadi emang sangat berkecukupan hehe. Awalnya mau pinjem dulu sampe beli HP baru (basa basi), eh malah dikasih, Alhamdulillah banget kan.

iPhone ini lumayan banget buat needs, karena di kantor sekarang sempet business meeting dengan beberapa petinggi perusahaan lain bahkan sekelas C-Level, dan dengan iPhone bisa improve confidence level ketika meeting. Brand image of Apple. Meskipun sekarang less innovative banget product-product Apple, even sampe launch iPhone X kemarin. New product terakhir paling apple watch, SIRI nya juga biasa, kalah jauh untuk masuk new market sejenis AI, cloud dll. Tim Cook as CEO, bener-bener conservative. Dan baru sadar makanya google buat Alphabet biar jadi lebih fleksible dan broad business modelnya, terutama untuk masuk di new market salah satunya cloud buat geser AWS. Baru baca artikel menarik terkait ini, check it out: https://qz.com/819739/why-tim-cook-is-steve-ballmer-and-why-he-still-has-his-job-at-apple/

Jadi kemana-mana. Untuk penutup, pengen cerita dikit juga terkait hikmah yang juga didapat baru-baru ini. Terkait marriage. Saya sebetulnya ingin segera, pake banget haha, tapi ga terburu-buru juga, maksudnya ga mau asal bruteforce, well life partner is one of the most important lifetime choice, isn’t it? Beda dengan kerja yang bisa seenaknya resign-pindah (ala millenial jaman now). Sempet beberapa proses, tapi masih belum cocok & emang bukan jodoh aja. Jadi bakal cukup tertunda. Tetep pengen segera juga sih, tapi ada kemungkinan adik saya dulu jadinya haha, ga tau juga sih.

But all of these are His Plans. Baru dapet salah satu hikmah terbesarnya, dalam waktu dekat in syaa Allah saya dengan teman pengen coba full time build our own startup. Which is saya harus resign kan, dan salary bisa terjun bebas, bahkan kemungkinan ga di gaji sama sekali karena bootsraping. Well karena masih single jadi tanpa pikir panjang, saya bilang ke temen in syaa Allah siap. Beda cerita kalo misal sekarang saya sudah ada tanggungan (e.g wife or child), pasti bakal banyak pertimbangan. Allahualam. Rada pembenaran, tapi saya nangkepnya justru ini hikmah dan Jalan yang sudah Allah tulis.

And another thing. Marriage is beyond our narrow limitation of thinking. Cuma hanya sekedar suka, physically attracted, dating, conversation click and other types whats so called falling in love; tidak menjamin akan menjadi kebaikan di masa depan. It’s totally beyond that. Long journey, full of uncertainties, changes of personalities, adapting, debating, and other unknown things we can’t just easily predict in this falling-in-love-temporary-state. And for the latter, who should we trust this? His plan. Allah is the only knows what’s best and what’s not. Bukan shortterm beberapa waktu ke depan tapi beyond in the future even after. Luar biasa kan Islam.

bestpath.jpg

Bener-bener Islam ini bisa dibilang unfair religion. Karena true happiness itu ga adil cuma bisa dirasakan umat muslim, karena di Islam we trust everything has been written by Allah, and His Plan is indeed the best plan for us. So no matter how hard the difficulties, trials, failures we got in life, it’s all His plan. Trust Him it will bring the good for us in this world and the most important in syaa Allah in hereafter.[]

An-Nazi’at, Pharaoh and A Call

Terkadang semakin banyak kita mencoba mencari ilmu: membaca, diskusi, menonton video, mendengarkan ceramah; semakin terlihat segala sesuatu memiliki benang merahnya. Titik temu dari benang merah tersebut adalah Al-Qur’an. Semoga kita semua bisa diberikan kesempatan untuk terus mempelajari Al-Qur’an. Aamiin

Anyway, saya sekarang sedang mencoba ngikutin serial tafseer dari ustad Nouman Ali Khan. Inception nya pas Ramadhan kemarin, sangat terinspirasi dari tafsir surah Al-Qadr yang dijelaskan oleh beliau (I shed tears even, due to the incredible meaning). Then wanna try to start listening to the others Surah as well. Recommended buat subscribe www.bayyinah.tv ($11 monthly or $112 yearly), in syaa Allah worth it. Di dalemnya ada banyak penjelasan tentang Al Quran, dan yang paling baru ada tafseer series beberapa surah Juz Amma. Ada juga Arabic with Husna, video series ustad NAK ngajarin anaknya (Husna) bahasa Arab. Simple & in syaa Allah mudah dipahami, karena beliau memang ngajarinnya buat anak SD hehe :)

Quran-guide.jpg

The reason to post this, sebenernya karena baru terinspirasi lagi dari tafseer Surah An Nazi’at. Terutama mulai ayat 15:

هَلْ أتَاكَ حَدِيثُ مُوسَى

Have you received the news of Musa (15)

To be honest this surah is started with beginning complicated verses. But ustad Nouman simply explained it. Masih berhubungan dengan surah sebelumnya An Naba, disini juga diceritakan tentang judgement day. Terus mulai ayat 15, Allah flashback, menceritakan tentang kisah Pharaoh (Fira’un) dan Musa. Saya mencoba menjelaskan beberapa bagian, karena kalo keseluruhan ga bakal cukup 1 post hehe. Mending subscribe dan nonton sendiri aja. Atau kalo mau trial bisa pakai user & password saya dulu juga boleh (komen di bawah).

Nah jadi di penjelasan ayat ke 17 nya

اذْهَبْ إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى

Go to Pharaoh for he has indeed transgressed all bounds (17)

Disini ustad Nouman menghubungkan kisah Musa as dengan kehidupan Rosulullah SAW dengan kaum Quraisy. Short sentence nya:

Some rulers can’t accept religion due to Economic & Political reason. Money and Power.

Contohnya di ayat ini, Musa was asked to come to Pharaoh who had rebelled or transgressed. Pharaoh rebelled bukan karena arogant atau mengaku-ngaku dirinya Tuhan, powerful man, etc. Even in fact (I just knew it too anyway), Pharaoh was a weak old man who couldn’t barely stand with a stick. But you know, instead, Pharaoh called himself a God because its all about economic and political reason. Money and Power. Those could affect religion. For common people it’s about religion. But for people who controlled them, it’s money and power. And it’s always be there even until now. Perppu no 2 tahun 2017, mungkin juga salah satunya diterbitkan karena economic & political reason instead of religion.

economy-and-politics.jpeg

And when we become rulers, these two cancers (money and power) could destroy ourselves, even affect our faith. It’s hard to say because we haven’t experience it by ourselves but it’s happened.

Therefore Quran and its careful studies keeps us from falling into those cancers (money and power), or recognize those cancers when we have it.

Saya juga sekarang sedang membaca buku “Why Nations Fail” yang menerangkan salah satu yang membedakan bangsa kaya dan miskin adalah economic and political institutions.

“…while economic institutions are critical for determining whether a country is poor or prosperous. it is politics and political institutions that determine what economic institutions a country has.”

Atau ketika zaman Rosul SAW, yaitu dengan kaum Quraisy, they have idols in each tribes. Dan ketika Rosul SAW menyampaikan konsep One God, yaitu Allah SWT. They rejected not because they thought it didn’t make sense, instead it was because not good for business. The simple explanation is because the idols were the mark of wealthy, and people would respect the tribes (politics), and it could affect their business (economics). For more details, it’s better you watch it by yourself.

BUT, yang keren nya dari Islam, ONLY Allah the one who can judge. The only who has the right to judge is Allah. Kita sebagai slave… btw FYI, ustad Nouman biasanya menggunakan istilah slave (kita) dan master (Allah), karena basically kita di dunia ini sebenarnya slave to something, slave to money, slave to throne, slave to desire, etc. You choose your own master, and indeed Allah is the one and only the best master.

power.jpeg

Dan back to topic, kita sebagai slave hanya bertugas untuk menyampaikan, deliver and let Allah do the rest. Seperti di ayat selanjutnya 18

فَقُلْ هَلْ لَكَ إِلَى أَنْ تَزَكَّى

“And say to him Have you any liking to purify yourself? (18)”

Even kepada Pharaoh who have rebelled and commited many crimes to people. Allah still asked Musa to say “Hallaka ilaa antazakka”. Hallaka here means a polite way of doing something like in english “would you please consider”. Dan disini juga ada kata “Ilaa”. Jadi bukan langsung “Hallaka antazakka” yang lebih artinya kayak langsung nyuruh, contohnya sejenis “you should become a good person”.

Karena dengan adanya “illa” means Musa was not asking Pharaoh “directly” transform. Sejenis: “could you change your course, just turn this way and pay attention”

Tapi justru dengan adanya “Hallaka” dan “Illa” jadi artinya benar-benar lembut dan sopan, kira-kira english lengkapnya

“would you PLEASE to consider, the POSSIBILITY, of heading towards the direction, that MIGHT eventually make you a better person”

Subhanallah. Keren ya :’)

Padahal sebenernya Allah knew whats happened with Pharaoh, he will reject it (in the next verses). Musa wondering, why Allah still wanted him to come to Pharaoh. Disini justru pelajaran utamanya:

“Our job is not gonna decide what’s gonna happen with the people. Our job is to do what Allah told us. Our job is to deliver. And deliver with love. With sincere care. Allah wants to give him (pharaoh) a choice through the messenger. Like us to them. But when they disobey, making fun of you, they won’t know who they are messing with. It’s the warning from Allah.”

Another lesson from this surah, in verse 17 “Go to Pharaoh for he has indeed transgressed all bounds”. Ustad Nouman explained, Allah asked Musa to go to Pharaoh. Come to him. It’s also lesson for us. People like Pharaoh, Quraisy, won’t come to Masjid. You should come to them. Kalo kata Ustad Nouman di video (karena di US):

“…you gotta go to DC. You gotta go to the Wallstreet. You’ve gotta go to them. Messengers had to go to bad environments. They had to. Some of you work in bad environment. Some of you have business in bad environment. Some of you go to universities who have bad environment.”

Congratulation!

You’ve supposed to be there. If you’re not gonna bring light then who will. Allah bring this ummah as carrier of light. Don’t try to expect “I wanna stay in islamic environment, I wanna stay away from fitnah”. Well what’s the point of you being ummah, if you don’t want to be around fitnah. You are chose to be this ummah because you are the only hope of humanity to bring out of from fitnah.”

Kira-kira seperti itu. Itu kutipan langsung dari speech nya Ustad Nouman. Karena bener sih, we can’t run from this society. We are fated to be there. This is our call. Jadi seharusnya sangat dibutuhkanlah muslim yang taat untuk masuk di sektor politik, pemerintahan, ekonomi, swasta, non-profit dan semua sektor yang menjadi pusat pertumbuhan peradaban.

Allahualam. Hanya mencoba menyampaikan, dan ternyata tulisan di atas itu saya baru menjelaskan ayat 17 dan 18. Dan itu pun sudah disingkat-singkat. Masya Allah. Al Qur’an ini benar-benar mukjizat terbesar dan pedoman manusia hingga hari akhir. Sekali lagi saya berdoa, semoga kita semua bisa terus istiqomah untuk diberikan hidayah untuk mempelajarinya. Aamiin.[]

Tafsir Al Qadr, Lauhul Mahfuzh dan Turun nya Quran

Baru nonton tafsir Al Qadr dari Nouman Ali Khan. Makin terharu, salah satu nya di ayat pertama yang menjelaskan tentang Inna Anzalna, sesungguhnya kami menurunkan Al-Quran, hu fi lailatil Qadr, di malam lailatul Qadr.

Penjelasan ustad Nouman, yang diambil dari predominant tafsir, dari Ibnu Abbaz ra, “Anzalna” disini artinya “turun entire Quran at once”.

Ini menarik.

Jadi di Arabic itu ada anzalna ada nazalna, di common English ditranslasi artinya sama yaitu “We sent it down”, tapi sebenernya artinya entirely different. Anzalna itu sent it down at once. Tapi kalo nazalna, something takes place over time. Jadi kaya guru yang mengajarkan muridnya ilmu, itu over time. Beda dengan orang menyampaikan informasi keberangkatan pesawat, itu cukup sekali.

Nah menariknya di surat ini dipakai kata Anzalna, which is We sent it down at once. Ada beberapa tafsir, tapi Ustadz Nouman menjelaskan yang predominantnya. Jadi sent it down at once ini, artinya turun entire Quran, dari Lauhul Mahfuz – seventh heaven ke first heaven/surga tingkat pertama, dan itu ditekankan sekali lagi entire Quran at once. Baru dari sana malaikat Jibril menurunkan ke Rosul SAW bertahap / on occasion selama 23 tahun (umur 40-63) kerosulan beliau.

Jadi kalo digambarin via flowchart kira-kira gini

Untitled Diagram2 (1).jpg

Itu keren banget ga sih??

Saya salah satu nangkep hikmahnya gini. Jadi, di dalam Al Quran itu ada beberapa ayat yang diturunkan berdasarkan suatu kejadian kan. Berarti memang Allah sudah tau semua yang bakal terjadi di dunia. Jadi alurnya bukan -> ada suatu kejadian -> terus Allah tulis -> terus disampaikan ke Rosul SAW. Bukan. Melainkan, Allah menulis semua ENTIRE Quran sampai selesai, SEBELUM kejadian-kejadian itu terjadi -> dan ketika terjadi -> Jibril menyampaikannya ke Rosul SAW.

MasyaAllah. Keren banget ya.

Menambah keyakinan bahwa semua yang ada di dunia itu sudah tertulis semuanya di Lauhul Mahfuz. Jadi kita ga perlu khawatir. Toh ups and downs semua manusia itu (termasuk kita) udah ditentukan. Masalah rezeki, jodoh, jalan hidup, kegagalan, keberhasilan, semuanya sudah tertulis. Bahkan daun yang jatuh pun semuanya sudah tertulis.

Sempet diskusi singkat dengan temen pagi ini. Tau film interstellar kan, yang ada salah satu orang yang masuk ke dimensi keempat, waktu. Yang dia bisa modify & alter waktu sesukanya. Itu fiksi. Tapi scientifically theory nya make sense. Jadi -ini theory juga- Allah itu (jelas) berada di dimensi yang jauh lebih tinggi dari manusia, hypothetically let’s say x-dimension world (x is uncountable and could be unlimited/undefined/ghaib), which is subset dari x dimensions nya, salah satu nya adalah waktu, sehingga bisa meng-alter waktu sesukanya. Salah satu contohnya ada di Surat Al-Kahfi, kisah pemuda yang berada di gua yaitu waktu bisa dimodify relatively different dengan waktu di tempat lain.[1]

Jadi ibarat kita yang tinggal di 3-dimension world yang bisa meng-alter jarak/ruang, kita jalan maju/mundur, sesukanya. Jadi dengan berada di dimensi waktu, jelas Allah bisa melihat entire timeline, kapan perang dunia I, perang dunia II, bom Hiroshima Nagasaki, Indonesia merdeka, Zuckerberg founding facebook, Yahoo akhirnya diakusisi Verizon, dst. Allahualam. Itu hanya hipotesa, pemikiran secara singkat, tapi kesimpulannya alam ghaib itu pasti ada dan yang jelas Allah itu pasti ada.

—-

Luar biasanya Islam ya. Alhamdulillah. Bersyukurlah kalian yang masih diberi nikmat iman sampai sekarang. Karena itu adalah nikmat terbesar yang Allah berikan dari nikmat apapun lainnya yang ada di dunia. Sehat, harta, jabatan, semuanya gaada apa-apa nya dibanding nikmat Iman.

Itu baru tafsir satu kata loh ya. Haha. Sudah lumayan panjang. Jadi internalisasi Quran itu memang tidak ada batasnya. Untuk lengkapnya mending langsung ke TKP aja gan, di youtube, sekalian mempersiapkan juga untuk 10 malam terakhir di Ramadhan ini. Semoga kita bisa dipertemukan dengan malam Lailatul Qadr. Allahumma Aamiin.[]

Book Reading: Aversion to Predilection

Reading is used to be my aversion and the most avoidable thing to do for circumventing my unavailing leisure time; at least till I reached my campus life. When at a particular time, I ever was involved in a circle fierce discussion and felt just utterly speechless and refrained to talk. Being completely mute and inanimate to respond, was not because I didn’t want to, but because to be honest I didn’t have any questions to ask, any answers to talk and even any opinions to fuel the blaze of discussion.

I did understand the topic but my understanding was just in fact too banal and hackneyed. Almost everybody perhaps knew what I knew, it was too superficial and even if I said it, it would be unable to create frictions in the collision of discussion’s arguments. One self-conclusion that I could grasp: I was lacking of reading books.

Subsequent to it, I begun to force my inner will to read that so-boring-thing called books. Opening the cover then reading first to second page always ended myself to sleep. But doing that over and over again, day to day, while my desire was still high, I just realized that I caught many new informations that I didn’t know before from that book. It started to enlighten my mind and evolved to be my incipient addiction to fill my leisure time. Getting used to read the book, I was no longer see the world in the same way.

Book is an enormous window of the world, thereby It helps us witnessing world’s occurrence to discover new things and knowledge we don’t even know or hear before. It derives the value from the past of human history, delineates complex quotidian events of the present and even foresees the future of the mankind. From book we could also learn from other people past and experience, to absorb and apply those lessons in our current situation. We are also able to understand many prodigy writers’ way of thinking and scarcely fathom the result of dozen intricate researches which perhaps took decades to finish it.

d2684aeb9b47927fb36469e4252ec552.jpg

One of my resolutions this year is to finish 48 books BUT with deep and comprehensive understanding. Reading fast but without capturing the core value of the books is worse than not reading at all. The indulgence of reading is precisely supposed to lie on the digesting process of information that we are curious to know about. When the questioning moment occurs and we are eagerly belligerent to find the answers whatever it takes, that is the highest satisfaction of reading itself. So, that 48 number is not absolute. I won’t force myself for it. I prefer to read maybe only 12 books in the end of the year but with such deep understanding of the grasped information rather than brutally rapid read the contents.

Furthermore, Reading books are also able to improve our problem solving skill by broadening our point of view while looking at the problem. I just realized this morning when there was my friend asking about something related to the world’s problems that we are facing right now. His question was somehow related to the book that I just finished reading “Gun, Germs and Steel by Jared Diamonds”, the book I am currently reading “Muqaddimah by Ibnu Khaldun”, and some other historical books that I read in the past “History of the Caliphs by Al-Suyuthi” and “Imperium III by Eko Laksono.” Those books are telling us the history of the world and how the rise and fall of human civilization. With some NEW knowledge about what happened in the past of human history, I could perceive the problems from different and new perspectives, linked the past to the present, thus hypothetically answered my friend’s question. It was not exactly 100% correct but at least I could penetrate the problems from various of approaches.

In order to intensify the excitement, I have four suggestions to increase the jubilance of reading. First, always rise the questions before you decide to read a book. You must have high curiosity to find the final goal about what new information you want to know after you finish the book. Therefore in the recent years, instead of going to the discounted side in the bookstore/event and randomly buying some “mediocre” books, I prefer to save some money to buy “most curious” ones despite of expensive.

Second -I just got this from Coursera “Learning how to learn”- try to understand the big picture of the book first before chunking the details of it. So, it’s better for us to skim what chapter I title, chapter II headline, and so on or try to understand the table of contents to hawk-see the big picture of the book. It helps us to prevent getting bogged down by petty details before knowing the whole concept of the book contents.

Third -it’s same, still from the Coursera- do recall and concept mapping when you are in the midst of reading. Recall means that you conceive the understanding of new information that you got from the book in your brain. I usually use “Instagram Story” feature to help highlighting core information from the book and rephrase it with my own words with additional self-thinking as well as sharing it to my IG followers. Or you can also use concept mapping in the paper to draw the connection between the points if it is too arduous to understand.

Recalling “Guns, Germs & Steel” book in IG Story :p

Fourth, try to combine some “form” of the books. Nowadays, personally I differentiate books in 4 types: paper book, digital book, audio book and short book. I use them according to the needs. Paper book I usually read it for Bahasa Indonesia and digital book for import English books. I use and truly recommend kindle paperwhite, the most affordable and cool e-reader. It’s light weight; using e-ink which not damages eyes so it’s exactly similar to reading paperbook; has LED light; less distractions; and weeks durable battery. Audio book is for uncomplicated content books with not so many pages. The latest I listen audiobook is “Art of War by Sun Tzu.” Last but not least is short book, for some second tier ones. I have many books to read but don’t have much time, so I prefer to read the resume or watch the conclusion on youtube. One of the channels I recommend is “fightmediocrity”, just search it in youtube and you’ll be able to read hundred pages book in some minutes. It also could be used to recall what we have already grasp from three other forms of the book.

There are actually many other methods to make efficient ways of reading, such as using Pomodoro technique, highlighting, flowcharting, or even just whatever, I ONLY want to read and enjoy my brain diving deep into the new world of writers, it also works. Somehow you will then paradoxically realize you learn new information out of it. Trust me. :)

In the end, reading books is one of the methods of learning. Proudly I can say, it’s used to be my aversion then converting to be my predilection right now. But, same way like learning, the more we learn the more we feel so small of God existence, that His universe of knowledge is so immensely tremendous. Therefore we need to set our intention to become closer to Him.

Then don’t forget to keep humble and down to the earth. Like what paddy rice metaphor taught us, as they mature, and the grains and the spikelets get heavier, the panicles seem to nod or bow down. The more we get better educated, the more we know new things and become more well-off, the more we are supposed to be humble and be magnanimous to the others.[]

Prague Solo Backpack – One Day Journey

It was so exciting. Prague was tremendously beautiful. I love the city, the architecture, the landscape, and particularly the view from the top of its castle and the hills.

DSC_0153

It’d been ‘oke oce’ since 2 years ago lol

This journey was a bit audacious one to be honest, due to lack of remaining days after the internship I had, that made me race against time in one day. I had the itinerary, but I must be strict with the time. If in case I’d ran out of time while backpacking I might have missed the bus to Berlin. And If I’d missed the bus to Berlin I would have missed the plane to Indonesia in the day after. Ran out of cash. No ticket to back. The visa expired. Deported.

Alhamdulillah it never happened.

Anyway, the incipience of this post was because I just found simple and cool video editor in Mac and randomly edited my (let’s say) vlog while doing solo backpack Journey in Prague, Czech Republic 2 years ago. Well vlogging was not really popular at that time. It is today, attested by abundant vlogging-type videos by so called Millennials. So I just combined some short random ‘shakky’ videos from my DSLR gallery, and created these three parts of the Journey. So most the stories would be told by these three clips

Prague was my final city of this solo backpacking journey in the end of intern, after Vienna and Budapest. Despite of one day, and having the tight time so I didn’t have the chance to enjoy Prague in the night, it was such an unforgettably amazing journey to experience this city.

That’s why I truly wish I could be able to come back here again to more enjoy the city without time boundary someday. And indeed not alone. Lol. Allahumma amiin.[]