An-Nazi’at, Pharaoh and A Call

Terkadang semakin banyak kita mencoba mencari ilmu: membaca, diskusi, menonton video, mendengarkan ceramah; semakin terlihat segala sesuatu memiliki benang merahnya. Titik temu dari benang merah tersebut adalah Al-Qur’an. Semoga kita semua bisa diberikan kesempatan untuk terus mempelajari Al-Qur’an. Aamiin

Anyway, saya sekarang sedang mencoba ngikutin serial tafseer dari ustad Nouman Ali Khan. Inception nya pas Ramadhan kemarin, sangat terinspirasi dari tafsir surah Al-Qadr yang dijelaskan oleh beliau (I shed tears even, due to the incredible meaning). Then wanna try to start listening to the others Surah as well. Recommended buat subscribe www.bayyinah.tv ($11 monthly or $112 yearly), in syaa Allah worth it. Di dalemnya ada banyak penjelasan tentang Al Quran, dan yang paling baru ada tafseer series beberapa surah Juz Amma. Ada juga Arabic with Husna, video series ustad NAK ngajarin anaknya (Husna) bahasa Arab. Simple & in syaa Allah mudah dipahami, karena beliau memang ngajarinnya buat anak SD hehe :)

Quran-guide.jpg

The reason to post this, sebenernya karena baru terinspirasi lagi dari tafseer Surah An Nazi’at. Terutama mulai ayat 15:

هَلْ أتَاكَ حَدِيثُ مُوسَى

Have you received the news of Musa (15)

To be honest this surah is started with beginning complicated verses. But ustad Nouman simply explained it. Masih berhubungan dengan surah sebelumnya An Naba, disini juga diceritakan tentang judgement day. Terus mulai ayat 15, Allah flashback, menceritakan tentang kisah Pharaoh (Fira’un) dan Musa. Saya mencoba menjelaskan beberapa bagian, karena kalo keseluruhan ga bakal cukup 1 post hehe. Mending subscribe dan nonton sendiri aja. Atau kalo mau trial bisa pakai user & password saya dulu juga boleh (komen di bawah).

Nah jadi di penjelasan ayat ke 17 nya

اذْهَبْ إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى

Go to Pharaoh for he has indeed transgressed all bounds (17)

Disini ustad Nouman menghubungkan kisah Musa as dengan kehidupan Rosulullah SAW dengan kaum Quraisy. Short sentence nya:

Some rulers can’t accept religion due to Economic & Political reason. Money and Power.

Contohnya di ayat ini, Musa was asked to come to Pharaoh who had rebelled or transgressed. Pharaoh rebelled bukan karena arogant atau mengaku-ngaku dirinya Tuhan, powerful man, etc. Even in fact (I just knew it too anyway), Pharaoh was a weak old man who couldn’t barely stand with a stick. But you know, instead, Pharaoh called himself a God because its all about economic and political reason. Money and Power. Those could affect religion. For common people it’s about religion. But for people who controlled them, it’s money and power. And it’s always be there even until now. Perppu no 2 tahun 2017, mungkin juga salah satunya diterbitkan karena economic & political reason instead of religion.

economy-and-politics.jpeg

And when we become rulers, these two cancers (money and power) could destroy ourselves, even affect our faith. It’s hard to say because we haven’t experience it by ourselves but it’s happened.

Therefore Quran and its careful studies keeps us from falling into those cancers (money and power), or recognize those cancers when we have it.

Saya juga sekarang sedang membaca buku “Why Nations Fail” yang menerangkan salah satu yang membedakan bangsa kaya dan miskin adalah economic and political institutions.

“…while economic institutions are critical for determining whether a country is poor or prosperous. it is politics and political institutions that determine what economic institutions a country has.”

Atau ketika zaman Rosul SAW, yaitu dengan kaum Quraisy, they have idols in each tribes. Dan ketika Rosul SAW menyampaikan konsep One God, yaitu Allah SWT. They rejected not because they thought it didn’t make sense, instead it was because not good for business. The simple explanation is because the idols were the mark of wealthy, and people would respect the tribes (politics), and it could affect their business (economics). For more details, it’s better you watch it by yourself.

BUT, yang keren nya dari Islam, ONLY Allah the one who can judge. The only who has the right to judge is Allah. Kita sebagai slave… btw FYI, ustad Nouman biasanya menggunakan istilah slave (kita) dan master (Allah), karena basically kita di dunia ini sebenarnya slave to something, slave to money, slave to throne, slave to desire, etc. You choose your own master, and indeed Allah is the one and only the best master.

power.jpeg

Dan back to topic, kita sebagai slave hanya bertugas untuk menyampaikan, deliver and let Allah do the rest. Seperti di ayat selanjutnya 18

فَقُلْ هَلْ لَكَ إِلَى أَنْ تَزَكَّى

“And say to him Have you any liking to purify yourself? (18)”

Even kepada Pharaoh who have rebelled and commited many crimes to people. Allah still asked Musa to say “Hallaka ilaa antazakka”. Hallaka here means a polite way of doing something like in english “would you please consider”. Dan disini juga ada kata “Ilaa”. Jadi bukan langsung “Hallaka antazakka” yang lebih artinya kayak langsung nyuruh, contohnya sejenis “you should become a good person”.

Karena dengan adanya “illa” means Musa was not asking Pharaoh “directly” transform. Sejenis: “could you change your course, just turn this way and pay attention”

Tapi justru dengan adanya “Hallaka” dan “Illa” jadi artinya benar-benar lembut dan sopan, kira-kira english lengkapnya

“would you PLEASE to consider, the POSSIBILITY, of heading towards the direction, that MIGHT eventually make you a better person”

Subhanallah. Keren ya :’)

Padahal sebenernya Allah knew whats happened with Pharaoh, he will reject it (in the next verses). Musa wondering, why Allah still wanted him to come to Pharaoh. Disini justru pelajaran utamanya:

“Our job is not gonna decide what’s gonna happen with the people. Our job is to do what Allah told us. Our job is to deliver. And deliver with love. With sincere care. Allah wants to give him (pharaoh) a choice through the messenger. Like us to them. But when they disobey, making fun of you, they won’t know who they are messing with. It’s the warning from Allah.”

Another lesson from this surah, in verse 17 “Go to Pharaoh for he has indeed transgressed all bounds”. Ustad Nouman explained, Allah asked Musa to go to Pharaoh. Come to him. It’s also lesson for us. People like Pharaoh, Quraisy, won’t come to Masjid. You should come to them. Kalo kata Ustad Nouman di video (karena di US):

“…you gotta go to DC. You gotta go to the Wallstreet. You’ve gotta go to them. Messengers had to go to bad environments. They had to. Some of you work in bad environment. Some of you have business in bad environment. Some of you go to universities who have bad environment.”

Congratulation!

You’ve supposed to be there. If you’re not gonna bring light then who will. Allah bring this ummah as carrier of light. Don’t try to expect “I wanna stay in islamic environment, I wanna stay away from fitnah”. Well what’s the point of you being ummah, if you don’t want to be around fitnah. You are chose to be this ummah because you are the only hope of humanity to bring out of from fitnah.”

Kira-kira seperti itu. Itu kutipan langsung dari speech nya Ustad Nouman. Karena bener sih, we can’t run from this society. We are fated to be there. This is our call. Jadi seharusnya sangat dibutuhkanlah muslim yang taat untuk masuk di sektor politik, pemerintahan, ekonomi, swasta, non-profit dan semua sektor yang menjadi pusat pertumbuhan peradaban.

Allahualam. Hanya mencoba menyampaikan, dan ternyata tulisan di atas itu saya baru menjelaskan ayat 17 dan 18. Dan itu pun sudah disingkat-singkat. Masya Allah. Al Qur’an ini benar-benar mukjizat terbesar dan pedoman manusia hingga hari akhir. Sekali lagi saya berdoa, semoga kita semua bisa terus istiqomah untuk diberikan hidayah untuk mempelajarinya. Aamiin.[]

Advertisements

Tafsir Al Qadr, Lauhul Mahfuzh dan Turun nya Quran

Baru nonton tafsir Al Qadr dari Nouman Ali Khan. Makin terharu, salah satu nya di ayat pertama yang menjelaskan tentang Inna Anzalna, sesungguhnya kami menurunkan Al-Quran, hu fi lailatil Qadr, di malam lailatul Qadr.

Penjelasan ustad Nouman, yang diambil dari predominant tafsir, dari Ibnu Abbaz ra, “Anzalna” disini artinya “turun entire Quran at once”.

Ini menarik.

Jadi di Arabic itu ada anzalna ada nazalna, di common English ditranslasi artinya sama yaitu “We sent it down”, tapi sebenernya artinya entirely different. Anzalna itu sent it down at once. Tapi kalo nazalna, something takes place over time. Jadi kaya guru yang mengajarkan muridnya ilmu, itu over time. Beda dengan orang menyampaikan informasi keberangkatan pesawat, itu cukup sekali.

Nah menariknya di surat ini dipakai kata Anzalna, which is We sent it down at once. Ada beberapa tafsir, tapi Ustadz Nouman menjelaskan yang predominantnya. Jadi sent it down at once ini, artinya turun entire Quran, dari Lauhul Mahfuz – seventh heaven ke first heaven/surga tingkat pertama, dan itu ditekankan sekali lagi entire Quran at once. Baru dari sana malaikat Jibril menurunkan ke Rosul SAW bertahap / on occasion selama 23 tahun (umur 40-63) kerosulan beliau.

Jadi kalo digambarin via flowchart kira-kira gini

Untitled Diagram2 (1).jpg

Itu keren banget ga sih??

Saya salah satu nangkep hikmahnya gini. Jadi, di dalam Al Quran itu ada beberapa ayat yang diturunkan berdasarkan suatu kejadian kan. Berarti memang Allah sudah tau semua yang bakal terjadi di dunia. Jadi alurnya bukan -> ada suatu kejadian -> terus Allah tulis -> terus disampaikan ke Rosul SAW. Bukan. Melainkan, Allah menulis semua ENTIRE Quran sampai selesai, SEBELUM kejadian-kejadian itu terjadi -> dan ketika terjadi -> Jibril menyampaikannya ke Rosul SAW.

MasyaAllah. Keren banget ya.

Menambah keyakinan bahwa semua yang ada di dunia itu sudah tertulis semuanya di Lauhul Mahfuz. Jadi kita ga perlu khawatir. Toh ups and downs semua manusia itu (termasuk kita) udah ditentukan. Masalah rezeki, jodoh, jalan hidup, kegagalan, keberhasilan, semuanya sudah tertulis. Bahkan daun yang jatuh pun semuanya sudah tertulis.

Sempet diskusi singkat dengan temen pagi ini. Tau film interstellar kan, yang ada salah satu orang yang masuk ke dimensi keempat, waktu. Yang dia bisa modify & alter waktu sesukanya. Itu fiksi. Tapi scientifically theory nya make sense. Jadi -ini theory juga- Allah itu (jelas) berada di dimensi yang jauh lebih tinggi dari manusia, hypothetically let’s say x-dimension world (x is uncountable and could be unlimited/undefined/ghaib), which is subset dari x dimensions nya, salah satu nya adalah waktu, sehingga bisa meng-alter waktu sesukanya. Salah satu contohnya ada di Surat Al-Kahfi, kisah pemuda yang berada di gua yaitu waktu bisa dimodify relatively different dengan waktu di tempat lain.[1]

Jadi ibarat kita yang tinggal di 3-dimension world yang bisa meng-alter jarak/ruang, kita jalan maju/mundur, sesukanya. Jadi dengan berada di dimensi waktu, jelas Allah bisa melihat entire timeline, kapan perang dunia I, perang dunia II, bom Hiroshima Nagasaki, Indonesia merdeka, Zuckerberg founding facebook, Yahoo akhirnya diakusisi Verizon, dst. Allahualam. Itu hanya hipotesa, pemikiran secara singkat, tapi kesimpulannya alam ghaib itu pasti ada dan yang jelas Allah itu pasti ada.

—-

Luar biasanya Islam ya. Alhamdulillah. Bersyukurlah kalian yang masih diberi nikmat iman sampai sekarang. Karena itu adalah nikmat terbesar yang Allah berikan dari nikmat apapun lainnya yang ada di dunia. Sehat, harta, jabatan, semuanya gaada apa-apa nya dibanding nikmat Iman.

Itu baru tafsir satu kata loh ya. Haha. Sudah lumayan panjang. Jadi internalisasi Quran itu memang tidak ada batasnya. Untuk lengkapnya mending langsung ke TKP aja gan, di youtube, sekalian mempersiapkan juga untuk 10 malam terakhir di Ramadhan ini. Semoga kita bisa dipertemukan dengan malam Lailatul Qadr. Allahumma Aamiin.[]

Book Reading: Aversion to Predilection

Reading is used to be my aversion and the most avoidable thing to do for circumventing my unavailing leisure time; at least till I reached my campus life. When at a particular time, I ever was involved in a circle fierce discussion and felt just utterly speechless and refrained to talk. Being completely mute and inanimate to respond, was not because I didn’t want to, but because to be honest I didn’t have any questions to ask, any answers to talk and even any opinions to fuel the blaze of discussion.

I did understand the topic but my understanding was just in fact too banal and hackneyed. Almost everybody perhaps knew what I knew, it was too superficial and even if I said it, it would be unable to create frictions in the collision of discussion’s arguments. One self-conclusion that I could grasp: I was lacking of reading books.

Subsequent to it, I begun to force my inner will to read that so-boring-thing called books. Opening the cover then reading first to second page always ended myself to sleep. But doing that over and over again, day to day, while my desire was still high, I just realized that I caught many new informations that I didn’t know before from that book. It started to enlighten my mind and evolved to be my incipient addiction to fill my leisure time. Getting used to read the book, I was no longer see the world in the same way.

Book is an enormous window of the world, thereby It helps us witnessing world’s occurrence to discover new things and knowledge we don’t even know or hear before. It derives the value from the past of human history, delineates complex quotidian events of the present and even foresees the future of the mankind. From book we could also learn from other people past and experience, to absorb and apply those lessons in our current situation. We are also able to understand many prodigy writers’ way of thinking and scarcely fathom the result of dozen intricate researches which perhaps took decades to finish it.

d2684aeb9b47927fb36469e4252ec552.jpg

One of my resolutions this year is to finish 48 books BUT with deep and comprehensive understanding. Reading fast but without capturing the core value of the books is worse than not reading at all. The indulgence of reading is precisely supposed to lie on the digesting process of information that we are curious to know about. When the questioning moment occurs and we are eagerly belligerent to find the answers whatever it takes, that is the highest satisfaction of reading itself. So, that 48 number is not absolute. I won’t force myself for it. I prefer to read maybe only 12 books in the end of the year but with such deep understanding of the grasped information rather than brutally rapid read the contents.

Furthermore, Reading books are also able to improve our problem solving skill by broadening our point of view while looking at the problem. I just realized this morning when there was my friend asking about something related to the world’s problems that we are facing right now. His question was somehow related to the book that I just finished reading “Gun, Germs and Steel by Jared Diamonds”, the book I am currently reading “Muqaddimah by Ibnu Khaldun”, and some other historical books that I read in the past “History of the Caliphs by Al-Suyuthi” and “Imperium III by Eko Laksono.” Those books are telling us the history of the world and how the rise and fall of human civilization. With some NEW knowledge about what happened in the past of human history, I could perceive the problems from different and new perspectives, linked the past to the present, thus hypothetically answered my friend’s question. It was not exactly 100% correct but at least I could penetrate the problems from various of approaches.

In order to intensify the excitement, I have four suggestions to increase the jubilance of reading. First, always rise the questions before you decide to read a book. You must have high curiosity to find the final goal about what new information you want to know after you finish the book. Therefore in the recent years, instead of going to the discounted side in the bookstore/event and randomly buying some “mediocre” books, I prefer to save some money to buy “most curious” ones despite of expensive.

Second -I just got this from Coursera “Learning how to learn”- try to understand the big picture of the book first before chunking the details of it. So, it’s better for us to skim what chapter I title, chapter II headline, and so on or try to understand the table of contents to hawk-see the big picture of the book. It helps us to prevent getting bogged down by petty details before knowing the whole concept of the book contents.

Third -it’s same, still from the Coursera- do recall and concept mapping when you are in the midst of reading. Recall means that you conceive the understanding of new information that you got from the book in your brain. I usually use “Instagram Story” feature to help highlighting core information from the book and rephrase it with my own words with additional self-thinking as well as sharing it to my IG followers. Or you can also use concept mapping in the paper to draw the connection between the points if it is too arduous to understand.

Recalling “Guns, Germs & Steel” book in IG Story :p

Fourth, try to combine some “form” of the books. Nowadays, personally I differentiate books in 4 types: paper book, digital book, audio book and short book. I use them according to the needs. Paper book I usually read it for Bahasa Indonesia and digital book for import English books. I use and truly recommend kindle paperwhite, the most affordable and cool e-reader. It’s light weight; using e-ink which not damages eyes so it’s exactly similar to reading paperbook; has LED light; less distractions; and weeks durable battery. Audio book is for uncomplicated content books with not so many pages. The latest I listen audiobook is “Art of War by Sun Tzu.” Last but not least is short book, for some second tier ones. I have many books to read but don’t have much time, so I prefer to read the resume or watch the conclusion on youtube. One of the channels I recommend is “fightmediocrity”, just search it in youtube and you’ll be able to read hundred pages book in some minutes. It also could be used to recall what we have already grasp from three other forms of the book.

There are actually many other methods to make efficient ways of reading, such as using Pomodoro technique, highlighting, flowcharting, or even just whatever, I ONLY want to read and enjoy my brain diving deep into the new world of writers, it also works. Somehow you will then paradoxically realize you learn new information out of it. Trust me. :)

In the end, reading books is one of the methods of learning. Proudly I can say, it’s used to be my aversion then converting to be my predilection right now. But, same way like learning, the more we learn the more we feel so small of God existence, that His universe of knowledge is so immensely tremendous. Therefore we need to set our intention to become closer to Him.

Then don’t forget to keep humble and down to the earth. Like what paddy rice metaphor taught us, as they mature, and the grains and the spikelets get heavier, the panicles seem to nod or bow down. The more we get better educated, the more we know new things and become more well-off, the more we are supposed to be humble and be magnanimous to the others.[]

Prague Solo Backpack – One Day Journey

It was so exciting. Prague was tremendously beautiful. I love the city, the architecture, the landscape, and particularly the view from the top of its castle and the hills.

DSC_0153

It’d been ‘oke oce’ since 2 years ago lol

This journey was a bit audacious one to be honest, due to lack of remaining days after the internship I had, that made me race against time in one day. I had the itinerary, but I must be strict with the time. If in case I’d ran out of time while backpacking I might have missed the bus to Berlin. And If I’d missed the bus to Berlin I would have missed the plane to Indonesia in the day after. Ran out of cash. No ticket to back. The visa expired. Deported.

Alhamdulillah it never happened.

Anyway, the incipience of this post was because I just found simple and cool video editor in Mac and randomly edited my (let’s say) vlog while doing solo backpack Journey in Prague, Czech Republic 2 years ago. Well vlogging was not really popular at that time. It is today, attested by abundant vlogging-type videos by so called Millennials. So I just combined some short random ‘shakky’ videos from my DSLR gallery, and created these three parts of the Journey. So most the stories would be told by these three clips

Prague was my final city of this solo backpacking journey in the end of intern, after Vienna and Budapest. Despite of one day, and having the tight time so I didn’t have the chance to enjoy Prague in the night, it was such an unforgettably amazing journey to experience this city.

That’s why I truly wish I could be able to come back here again to more enjoy the city without time boundary someday. And indeed not alone. Lol. Allahumma amiin.[]

W & P Variable

Experience does matters, doesn’t it. Terkadang untuk mengambil ilmu & pembelajaran dari sebuah pengalaman akan lebih mudah dan bertahan lebih lama dalam memori ketika kita sendiri yang melakukan pengalaman tersebut.

Well we can be inspired and learned from other people experience. But the effect is totally different. Mendengarkan cerita orang lain, pengalaman mereka, kesalahan yang mereka buat, dapat menjadi suatu pembelajaran bagi diri untuk menirunya jika baik ataupun menghindari nya jika buruk. But sometimes it will be just vanished the moment we get distracted by our own life, which must not be same with life of the ones we learned to.

Agree?

I do. I just experienced it by myself. About W variable (which is work) and P variable (which is prayer) in life.

Adalah suatu idiom umum, usaha dapat mengalahkan bakat. Man jadda wa jadda, siapa yang bersungguh-sungguh maka berhasil. Tidak ada yang sia-sia dalam berusaha. Dan seterusnya. Dan sejenisnya.

Well it’s true man! Saya merasakannya sendiri, dalam konteks ini yaitu dalam hal lari. Yap running. I started to routinely run recently. First because I have friends to run with. Second because there are many things now that make running is cool exercise. Cool means it’s easy to do it and it’s definitely affordable. Lol. True, we just need foot right. A bit will indeed.

640-Run-brother-l.jpg

First time running event I joined was 10K run in Jakarta. I finished it around 1 hour 11 minutes. But I felt brutally exhausted at that time. It’s been long time to have no routine exercise, then suddenly have to run 10K. Knocked Out! You know one day after race day, I took a leave. Lol

Subsequent to that event I started to use NRC apps, stands for Nike+ Run Club. It’s able to measure distance, time & pace of our running. And the cool thing is it also has coach feature, for example the one that I am currently using right now, the coach for preparing Half Marathon. I follow that schedule week by week. It usually consists of 2-3 runs per week. And it combination of interval run, speed, long run, recovery run, and others -depend on our condition and our goal. Early day, a bit inconsistent, but right now, well quite better.

I have friends as well to accompany me running both in weekday and weekend. And in some weekends we usually joined NRC event. Run together with the other NRC users. It was exciting to be honest. Another one reason that makes running is so cool.

You know, setelah beberapa bulan ke belakang, I did it routinely, yaitu sesuai dengan jadwal yang ada di NRC apps. Saya merasakan sesuatu yang beda ketika melakukan olahraga lain. Contohnya badminton. I started to play with friends routinely in every sunday. Dan entah mengapa I am not easily to get tired now. Terutama dari sisi nafas. Bisa lebih stabil dan not really easy to out of breath. Buktinya ketika main, double, single, terus double lagi, terus single lagi. I felt still good. Dan menang lagi :p

The point is work works. Usaha itu tidak akan pernah sia-sia. Dibanding dengan jauh berbulan-bulan lalu saya juga lari 5K, 10K sangat super ngos-ngosan. But now, masih aga ngos-ngosan sih, but not really hehe. Bahkan ketika lari dengan pace rendah, bener-bener ga kerasa capek, malah kayak jalan. While the others were tired instead. Others maksudnya yang baru-baru mulai lari gitu. Kalo dibanding pacer-pacer NRC mah kalah jauh. Well mereka juga lebih rutin & lebih lama lagi latihan lari tentu nya. Conclusion, work matters man!

Second thing about variable P, which is Prayer. Seperti di post sebelumnya, saya sekarang bekerja di early stage startup sebagai Associate Product Manager. As an APM I have to report directly to senior PM as well as CEO of the company. FYI, ini salah satu kelebihan bekerja di startup yaitu kita bisa langsung satu ruangan dan berdiskusi dengan executive dan team leaders, karena indeed team di early stage startup masih kecil dan struktur organisasinya tentunya juga masih ramping. Jadi interaksi antara even junior dengan executive sering terjadi.

Terkadang bahkan saya terjebak dalam satu diskusi langsung bersama dengan CEO, CTO dan COO this startup, -baru banget beberapa hari yang lalu- yang ketiganya sudah sangat experience. Another FYI, in startup I am working for right now, the founders are so experience. Eks Mc Kinsey, Deloitte, and some of them had founded successful acquired-startup in their past. Makanya ketika ngbrol terkadang saya agak sulit buat ngikutin, bahkan saya pernah berada sendiri, silent, dan berusaha mencerna in between their debates. Penasaran startup apa? Ntar deh saya cerita di post lainnya hehe. Semoga sempet.

Ohya. Karena founders nya super experience, terutama CEO nya, jadi sesekali (hmm ga ding) sangat sering bahkan, saya melakukan kesahalan. Mulai dari yang sepele sampai yang fatal. Jadi ga jarang juga saya kena semprot langsung oleh CEOnya, sampe ngerasa sudah kayak mau dipecat gitu haha. Semoga ga.

Jadi lumayan berbeda dengan kerjaan sebelumnya, di corporate, lumayan stabil, banyak duit, payung nya gede. Jadi pace nya santai. Kalo di startup yang bagus (banyak startup yang abal-abal emang), dan founders nya oke, kita dipaksa untuk marathon. Ga cuma marathon, tapi sambil sprint. Jadi pace nya cepet banget. If I was slow, then I would get scold! Sempet trauma bahkan, dulu pasca dimarahin, malem nya langsung ke bawa mimpi haha. But Alhamdulillah saya merasa bersyukur, accelerated learning nya bener-bener kerasa.

Ohya, kembali ke topic variable P. Disini karena sering dimarahin, jadinya saya sekarang sebelum berangkat kerja selalu doa keluar rumah. Every day, ketika saya ngelangkahin kaki keluar kontrakan, sambil di gojek, dan sebelum masuk kantor.

Bismillahi tawakkaltu’alallah, walaa haula wala quwwata illa billah

Dan kata-kata terakhir dari doa tersebut, “laa haula wala quwwata illa billah”, selalu saya ucapin di ruangan, ketika kerja, ketika data mining, coding, ngelakuin analisis, apalagi sebelum report atau meeting dengan CEO nya. Wajib itu haha. Selain itu juga saya biasanya banyak-banyak istighfar. Karena mistakes itu terkadang kita buat tanpa sepengetahuan kita, mau seteliti apapun kita. Sepandai-pandai tupai melompat pasti jatuh juga kan. Yang paling penting apakah timing kesalahan itu fatal atau ga. Effectnya gimana. Nah itu kan out of control. That’s what prayer for.

And it’s proven!

Ketika dulu, jarang dzikir, doa keluar rumah kalo inget aja, jarang istighfar. Kesalahan yang dibuat bener-bener fatal, dan sering dimarahin bos. But when I dit that dzikir, istigfar, doa, entah kenapa, I sometimes still created the mistakes but the timing was okay, I mean I still was be able to fix it. Dan entah kenapa juga terkadang pak Bos CEO, lagi slow, jadi malah memaklumi dan malah nasehatin buat improve. Prayers works man!

Experience matters. Self-experience more matters! Saya merasakan keduanya, bahwa varibale usaha dan doa itu benar-benar ada. And we have to combine both of them in our life. Tidak ada usaha yang sia-sia, nothing is wasted if we do something toward our goals. Doa itu sangat, sangat berdampak terhadap hasil nya. Which is out of our control. So let’s user these two variables! Allahualam.[]

To be Open Minded

It’s cool try to be open minded to everyone. You know literally every person we know. Hidup di ibukota lebih dari 1 tahun, cukup merefleksikan berbagai karakter & keunikan setiap orang yang aku temui. Sahabat, teman dekat, kolega; kenal di kantor, teman kampus, ketemu di mall, pas running, pengajian, dan cukup banyak new persons in my entire new life in this super busy city. And indeed they are all differents.

Well FYI I just resigned from a multinational company and moved into early stage startup. From a corporate-stable-job style to major-millenial-but-unclear-future style startup. Pengen nulis tentang ini tapi ga jadi-jadi. Semoga sempet ntar, in syaa Allah. I also moved into a new rent. Awalnya kost di setiabudhi, kamar berdua dengan teman, sekarang pindah ke kontrakan (rumah) di daerah Mampang, diajakin teman kuliah dulu. Tentunya lebih rame karena kontrak rumah.

Dari 2 perpindahan tersebut, I’ve got many new friends, or at least new people I know. The thing that triggered me to write this was yesterday after long time finally I joined again pengajian weekend, bareng temen kontrakan baru. Some of them are sholeh, they listened many speeches in youtube & TV channel. Cool. Bahagia bisa deket dengan mereka yang mau mengajak kebaikan. I always thank God for giving me this kinda environment in my new stay.

In the other hand I also try to reflect to people I know from old & new offices. Di kantor lama I had friends that like to drink, billiard & club. It’s exciting to have them as friends. I want to be opened, since I know many people in Jakarta or in the world, similar to them. Just a matter of time I will meet & become close to them. So let’s just hang out now. I ever got invited by them to go to bar, to smoke & drink, after we played billiard together. Cool right. I haven’t done it before. Well I had done it once when I was abroad, but in Indonesia it was my first time to go to bar.

Here’s the interesting point from this post

“I try to be open minded to everything, except the fundamental one”

Apa itu fundamental? Indeed yang mutlak dilarang agama. Which is in my case drink alcohol. I said to them, I will join, but I don’t drink. Well at least drink orange or ice cream. Besides that, I’m cool. They were okay with it. Then let’s go.

I did istighfar along the way. Serem cuy haha. But my intention purely just wanted to get in touch with them & ingin tau how the bar looks like. I won’t do it for routine, even just this once and done. Dan sekalian diniatkan untuk latihan maybe someday I will “trapped” in this kinda situation. So let’s exercise from now and with friends I’ve already known.

Bahkan dengan orang yang berbeda di kantor lama juga, waktu itu ada partner bisnis dari negara lain, and I had been invited to a hot club. Literally. Jadi sejenis club tapi yang lebih parah. Many girls there. Darkside of Jakarta. Pokoknya ini lebih serem dari bar yang aku kunjungin sebelumnya. Lantai atas nya ada hotel lagi. Serem. Untung banget, one of my business partner was girl, and she felt uncomfortable in that club. So we just came in to that, sat, and not more than 5 minutes we went out. Truly relieved. I said much istighfar pisan di dalam sana. I won’t do it again. Serius. Semoga Allah mengampuni. Aamiin. But at least I know how it looks like inside. And it’s totally a place I will avoid the most.

Well those are some extreme examples. In many simple things I also try to be open minded to everyone. Yang pacaran & tiap malem telponan, my old roomate :p Haha. I try to be opened as well, and understand his position. I had ever been in that condition. Well used to, long time ago. Sisi positif nya at least dia ga pernah tinggal sholat. Bahkan dia tiap hari ngaji even just one or two verses. That’s cool man. Jadi bantu doain aja biar segera nikah. Katanya sih on the way. Aamiin. Semoga dipermudah.

Yang ga sholat juga ada. Bahkan banyak kalo yang ini. Padahal mereka muslim. Sedih. Some of them menyepelehkan, jadi kaya ya sholat mah kalo sempet aja. Kalo lagi ada urusan, di skip aja. Please. Itu masih mending. Banyak juga teman-teman yang aku kenal bahkan ga pernah lihat mereka sholat sama sekali. Huznuzan emang ga pernah papasan. Tapi masa sholat Jumat pun engga.

But again, I try to be opened with them. Mungkin aku juga masih lemah & cupu ga bisa peringatin langsung. Jadi at least I don’t want to judge. Even I try to  be close friends to them. Close colleagues at least. In syaa Allah. Hidayah Allah yang kasih.

parachute-mind
Sama terkait pilkada Jakarta kemarin. C’mon it’s up to you, what you want to choose. Aku sih tetep oke oce. Haha. Pendukung Ahok bukan berarti you guys are my enemy. No. Not at all. Be open minded. Memang jelas dari Al-Quran mutlak kita (yang muslim) harus pilih pemimpin muslim. Tapi apa kita-kita, yang mungkin sedikit lebih paham, are in the same page dengan mereka yang belum? That you should ask yourself. Not them. Kita yang menyesuaikan. Bukan mereka. Many things could influence how they think. Dari linkungan sekitar, orang tua, pendidikan, dan kita yang belum lama kenal mereka mau langsung berharap mereka ngerti. Put that hope away.

Instead of debating with them, dan malah semakin jauh dengan mereka. It’s better not discussing about that, well, not really important thing. It’s up to you c’mon. Mending bahas hal general lainnya. And keep inside in friend circle with them. Sambil cari the right moment & right time. Meski jujur susah sih, bisa ga ketemu-ketemu waktunya kalo mereka gitu terus. Haha. At least we respect them & learn positive things from them

The reasonable man adapts himself to the world; the unreasonable one persists in trying to adapt the world to himself. Therefore all progress depends on the unreasonable man.” -George Bernard Shaw

Excerpt From: Grant, Adam. “Originals: How Non-Conformists Move the World.” iBooks.

Widih panjang juga. Padahal mau curhat bentar aja. lol

Kesimpulannya. Try to be open minded to everyone. Except the fundamental ones. Kalo dia ngajak ga sholat. Udah ngaco itu baru. Ngajak loh ya. Kalo dia ga mau sholat mah, ya kita jangan ikut-ikutan dong. Kita tetep sholat. Atau mereka belum ke masjid, ya jangan malah kita yang terpengaruh mager juga. Kita tetep aja ke masjid. Terus ngajak minum-minum. Maksa tepatnya. Nah kalo yang ceum-ceum gitu, it’s time to be closed. Tutup rapat-rapat pintu pertemanan. Avoid them as much as you can. Intinya begitu. Hanya sekedar random ingin mengungkapkan curahan kata. Masih banyak yg salah. Allahualam.[]

Revolusi Doa, Rezeki dan Memberi

Ya Allah. Ya Razzaq. Ya Fattah. Berikanlah aku rezeki yg bermanfaat. Yang halal. Yang Engkau berkahi.

Itu salah satu doa yg hampir tidak pernah tinggal di setiap akhir sholat di fase hidup saya sekarang. Kecuali emang lagi buru-buru biasanya doa singkat aja hehe (but to be honest it is so seldom, seburu-burunya tetap wajib menyempatkan).

Seperti biasa, doa-doa default saya yang menggunakan Bahasa Indonesia, biasanya berubah-ubah bergantung fase-hidup dimana saya berada. Ketika dulu SMA, terus berdoa bisa belajar di kampus di Jawa. Sama bisa juga belajar di luar negeri. Waktu awal-awal kuliah, minta diberikan kemudahan dalam menjalaninya, mudah beradaptasi & mendapat ilmu bermanfaat.

Terkadang ada juga waktu-waktu khusus yang doa default-nya dibuat untuk jangka pendek, misal ketika lagi pegang amanah di kampus minta supaya bisa tanggung jawab, amanah sebagai pemimpin dan dikuatkan pundak dalam memikulnya. Kemudian waktu sedang menjalani exchange minta dimudahkan dan dilancarkan hingga pulang. Dan tidak memalukan nama baik kampus. Yang doa-doa itu hanya dibacakan di jangka waktu pendek tersebut, bilamana sudah selesai urusan-urusannya, doa tersebut dihapus dan diganti dengan doa default yang baru.

Nah di fase mulai bekerja ini -fase ketika mulai benar-benar total lepas dari orang tua; fase permulaan bertanggung jawab dalam mencari rezeki sendiri- Doa yg saya tulis di paling atas tadilah yg menjadi salah satu doa “default” saya setelah sholat. Saya coba ulangi yaitu:

Ya Allah. Ya Razzaq. Ya Fattah. Berikanlah aku rezeki yg bermanfaat. Yang halal. Yang Engkau berkahi

Sebenernya doa tersebut sempat berevolusi. Mulai saat awal-awal mintanya rezeki yg melimpah. Terus mikir dibanding melimpah kayaknya yang lebih penting terjamin kehalalannya. Kalo melimpah tapi ga halal kan ga oke juga. Berubahlah doanya menjadi rezeki yang halal. Terus mikir lagi tapi penting juga keberkahannya. Bisa saja halal tapi Allah ga ridha & ga diberkahi kan sia juga. Jadi kembali direvisilah doa tersebut menjadi rezeki yang halal & berkah. Terus mikir lagi kalo bisa juga rezeki ini bisa bermanfaat baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Pengen rasanya berbagi sekecil apapun ketika diberi rezeki. Akhirnya jadilah doa-nya seperti sekarang. Meminta rezeki yg halal. Berkah. Dan bermanfaat.

Image result for memberi

Semakin kesini, diri ini juga semakin sadar doa benar-benar senjata utama manusia dalam menjalani hidup. Jadi jangan main-main dengan doa yg kalian ucapkan. Kalo abis sholat cuma berdoa seadanya. Ya maksimum dapet nya juga seadanya. Maksimum loh ya. Titik tertinggi. Kan semua doa juga belum tentu dikabulkan. You know what I mean. Allah always has reason intinya.

Nah dari perenungan tersebut -yang saya lakukan ketika dalam perjalanan pulang ke Jakarta dari Yogyakarta- jadi terbesit pengen cerita dikit di blog. Dikit aja sih. Semoga tidak dinilai pamer atau riya oleh malaikat, aamiiin. Toh rezeki yang saya dapat juga mungkin belum seberapa dibanding banyak temen saya lainnya yg satu angkatan. Atau bahkan sudah sangat seberapa. Tidak ada yang tahu.

Rezeki setiap orang kan semuanya juga sudah diatur. Korelasi satu sama lain nilainya nol, jadi gaada hubungan sama sekali. Jadi seharusnya gaada tuh istilah rumput tetangga lebih hijau. Karena soal rezeki ibarat kita dengan tetangga tinggal di apartemen. Kan gada rumputnya. Ya ga (?) Sama klo di apartemen kan ada HGB tuh, atau Hak Guna Bangunan. Cuma 25 atau 50 tahun apa ya. Abis itu dirubuhin deh. Nah seperti itu juga rezeki di dunia. Ntar bakal dirubuhin oleh Allah juga kan. Kapan? Yg ketika kita meninggal. Jadi kita-kita ini ada yg tinggal di “apartemen dunia” selama 60 tahun. 70 tahun. Ada juga yang HGB nya di dunia cuma 30 tahun, atau 20 tahun. Atau bahkan satuan tahun. Nah kita tinggal di apartemen mana nih? Cuma Allah yg tahu.

Rumput tetangga yang lebih hijau tadi ada nya nanti ketika di akhirat. Di rumah Allah di surga kelak. Sekarang selagi masih tinggal di apartemen sementara ini gimana cara nya kita menabung & berinvestasi untuk membeli rumah dengan rumput sehijau-hijau nya dengan cara beramal sebanyak banyak nya.

Nyambung kan (?). Mau aga sok filosofis gitu tapi pusing sendiri haha.

Intermezzo. Balik lagi tadi niat awalnya pengen cerita. Pas dari Jogja minggu kemarin. Baru balik dari sana kebetulan. Liburan sekaligus pulang, karena rumah orang tua sekarang disana.

Singkat cerita saya, ayah, ibu & dua adik saya jalan-jalan di Jogja City Mall atau JCM. Mall lumayan elit gitu di jogja. Mungkin klo di Jakarta sekelas Sency atau GI. Karena banyak store-store branded di dalem nya.

Tiba-tiba adik minta dibeliin sepatu. Butuh kata-nya. Sejak kecil kami-kami juga sering beli sepatu jarang di mall. Apalagi dulu di Palembang juga gaada mall-mall gede kayak Jakarta. Jadi mentok-mentok nya ya di Ramayana. Matahari. Atau Bata.

Saya juga baru tau brand-brand oke sejenis Nike, NB, Reebok, Vans, Crocs; kayak nya baru pas awal-awal kuliah di bandung. Juga sejenis Clarks, Hush Puppies, Skechers, Wakai; ya pas awal hijrah di Jakarta ini. Karena kantor deket banget GI dan temen-temen kantor sering belanja di sana, jadi baru tau. Haha. Biasanya dulu mah bodo amat dengan merk. Yg penting bagus dan murah.

Seiring dengan terus berkembang nya zaman. Saya juga hidup 5 tahun di bandung. Sekarang di jakarta. Jadi mulai lah berkenalan lebih intim dengan brand-brand kelas atas. Karena efek teman & gaya hidup perkotaan sih memang sepertinya. Terutama ibukota. Tapi jujur saya bukan tipe yang buy everything gitu (padahal emg gada duit haha). Ga lah. Emang prinsip saya mah kebutuhan.

Needs not wants.

Prinsip ini tumbuh pas exchange dulu. Saat dapet beasiswa dari negara sana yang lumayan gede untuk ukuran mahasiswa, jadi lebih legowo dalam spending. Dan dulu hidup di perantauan luar negeri membuat saya berpikir untuk kebutuhan-kebutuhan utama ngapain hemat-hemat, kaya cari makanan yang halal, alat mandi yang bagus, nge-gym supaya sehat dll. Those are needs. Baru ketika keinginan kaya ganti HP baru, padahal HP lama masih bagus dan masih setara zaman. Shopping baju atau jam mahal yang karena dibanding dengan harga di Indo lebih murah di luar, tapi sebenernya ga butuh-butuh amat. Dst. Those are wants. Panjang klo diceritain. Haha

Tapi intinya I shop according to needs. Misal karena sekarang sering pake kemeja ke kantor dan butuh juga buat meeting dengan client. Tapi di lemari dikit kemeja nya. Dan hampir sama sekali gaada yang mahal, maksudnya yang memang bahannya bagus dan agak sedikit berwibawa kalo dipake gitu. Jadinya kan itu termasuk needs. Jadi dibelilah kemeja yang lumayan mahal. Yah minimal satu atau dua yang mahalan. Atau misal jeans lama udah sobek nih. Berarti needs. Kaos kaya nya juga sudah pada kecil. Needs. Jadi klo misal ada poloshirt keren. Diskon lagi. 50% akhir tahun. Tapi di lemari masih ada poloshirt yang masih bagus. Itu berarti lebih ke wants. Coret.

Balik lagi ke adik saya. Dia awalnya saya tanya dulu itu needs ga. Iya kata nya. Memang butuh sepatu buat olahraga gitu. Yaudah langsung aja saya suggest sekalian yg bagus & branded. Kalo untuk ukuran sepatu, harga memang sesuai kenyamanan. Jadi langsung aja beli yang mahal, saya nyaranin Nike, Adidas atau NB. Tinggal gesek nih pake debit.

Disini mulai menariknya.

Jujur ketika awal ke Jogja gaada niat sama sekali buat traktir adik. Tapi random aja gitu, langsung kepikiran buat beliin adik yang bagusan dikit. Padahal juga pengeluaran udah di stop tuh di bulan itu, biaya untuk shopping udah habis. Tapi random aja tetep mau beliin.

Akhirnya saya tersadar, itu kaya nya efek dari doa yang saya panjatkan. Yaitu rezeki yang bermanfaat.

Allah yang menggerakan hati ini. Sehingga doa dikabulkan. Tapi setelah ngebeliin -jadinya Adidas- satu buat adik. Rasa bahagia nya itu priceless banget euy. Mungkin adidas itu bukan yang paling baru atau paling mahal juga. Tapi bisa ngebeliin orang lain, apalagi adik sendiri, pakai gaji sendiri itu, tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata lah bahagianya.

Unspeakable true happiness.

Terus adik yang satunya butuh juga, buat koas katanya. Random lagi, padahal gaada rencana sama sekali, tergerak aja bilang “yaudah jangan tanggung-tanggung lah, yang bagus dan branded sekalian”. Akhirnya saya ngajak adik dan orang tua ke Skechers. Emang lumayan mahal dan bagus, tapi setelah adik yang kedua ini pake nya, emang bener-bener nyaman. Skechers sih, US branded. “Beli aja langsung, nih pake debit”. Lagi-lagi random keluar dari mulut.

Image result for skechers

Disclaimer: tulisan ini tidak dipersembahkan oleh Skechers (yakali)

Terus tiba-tiba ibu juga ngeliat sepatu yang bagus di Skechers. Dan kata ibu emang enak banget dipake. “Yaudah beli aja satu, itumah standar di Jakarta. Tinggal gesek doang”. Aga sok-sokan dikit padahal belum pernah juga beli Skechers. Tapi sekali lagi, bener-bener ga kepikiran sama sekali itu sepatu harga nya berapa, saldo berkurang berapa. Bener-bener lepas aja karena tadi udah bahagia beliin adik. Jadi pengen tambahin rasa bahagia itu lagi aja, dengan beliin ibu & adik yang satunya.

Tiba-tiba random lagi.

“Bapak lah sekalian, itu sepatu, plis, udah jelek banget”. Nunjuk sepatu yang bapak pake sekarang.

Langsung saya ambil contoh sepatu Skechers untuk middle age gitu, terus suruh Bapak pake. Langsung kerasa. Enak banget emang Bapak pake nya. Bener-bener nyaman dan ergonomis. Yah namanya branded dan mahal. Pasti risetnya oke.

Gampang nih tinggal gesek aja gabungin.

Udah gitu aja. Gada petunjuk atau omen apa-apa. Habislah lumayan banyak berapa gitu karena pake debit saya. Padahal biasanya, kalo mau belanja itu mikir-mikir, masih masuk budget ga ya. Beli ga ya. Bener-bener butuh ga ya. Tapi kasus sekarang, woles we beliin mereka berempat. Ibu malah beli dua. Hehe.

Tapi memang balik lagi, Allah mengabulkan doa saya. Saya memang minta nya rezeki ga cuma halal & berkah saja. Tapi bisa bermanfaat. Random aja pas emang langsung bisa beliin sekeluarga semua sepatu baru. Pakai hasil dari gaji sendiri. Alhamdulillah.

WhatsApp Image 2017-01-07 at 20.09.15.jpeg

Muda & bergaya 8)

Kesimpulannya memang rezeki terutama harta, tidak akan kita bawa mati ketika meninggal, kecuali apa-apa yang kita belanjakan untuk kebaikan. Sisanya akan ditinggalkan,  bahkan diperebutkan. Itu salah satu pelajaran yang saya dapatkan -yang kebetulan baru beres baca- dari novelnya Tere Liye, Tentang Kamu. Recommended bagus banget!

Seperti juga dikutip dari buku Tuesday with Morrie oleh Mitch Albom, yang baru beres baca juga. Justru kekuatan memberilah yang membuat Morrie merasa lebih hidup. Bukan mobil dan rumahnya, ataupun apa yang dilihat dicermin. Ketika dia memberikan waktunya untuk orang lain. Kepeduliannya. Kesediaan bercerita. Ketika dia bisa membuat seseorang tersenyum setelah sebelumnya merasa sedih, justru itu yang membuat nya merasa sehat meski fakta akan penyakit yang dideritanya, yang terus mendekatkannya dengan kematian.

Last but not least, semoga kita semua diberikan keistiqomahan untuk terus berdoa, dan berusaha mencari rezeki yang halal. Yang diberkahiNya. Dan bisa memberikan manfaat untuk diri sendiri dan orang lain. Aamiin.[]

Catatan Aksi 212

Ingin segera keluar air mata, ditengah teriakan salawat dan takbir beriringan, saya berjalan melangkah dalam barisan. Beberapa diiringi nasyid dan lagu perjuangan. “Bingkai kehidupan” adalah favorit saya, yang entah mengapa ketika ribuan orang melantukannya bersama dalam satu barisan, haru langsung mendera. Merambat pelan dari telapak kaki, badan, bahu hingga keluar dalam bentuk tangisan.

Allahu Ghayatuna
Ar-Rasul Qudwatuna
Al-Quran Dusturuna
Al-Jihadu Sabiiluna
Al-Mautu fii Sabilillah Asma ama  nina

Allah adalah tujuan kami
Rasulullah teladan kami
Al-Quran pedoman hidup kami
Jihad adalah jalan juang kami
Mati di jalan Allah adalah Cita-cita kami tertinggi

Ketika mulai memasuki bunderan HI, terlihat masa aksi sudah memadati sepanjang jalan Thamrin. Langkah diri masih terus berjalan dengan tujuan tempat terdepan. Berkali-kali banyak yang menawarkan nasi bungkus, minuman dan juga makanan ringan. Begitu dekat dan ikhlas terasa dari senyuman ketika mereka menyodorkan ke orang-orang.

Setelah sekian kalinya, akhirnya saya luluh juga, mengambil satu botol air mineral, dan peci putih. Hitung-hitung untuk wudhu sebelum sholat jumat nanti, dan peci agar semakin seragam dengan barisan aksi.

Maklum kaum milenial, tetap rasa ada ingin meminta foto dengan latar belakang keramaian, meng-upload satu ke facebook dan instagram, hanya sekedar untuk menunjukan rasa syukur karena saya diberikan kesempatan untuk berdiri disini. Kesempatan mahal yang mungkin banyak orang inginkan, namun masih memiliki beberapa halangan dan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Foto ini juga sebagai bentuk ajakan, agar teman-teman yang lain juga bisa ikut mendukung gerakan, setidaknya dalam untaian doa yang mereka ucapkan.

Rintik air turun dari langit. Kecil dan gerimis. Saya yang memang tidak membawa payung, membiarkan diri ini sedikit basah. Gerimis itu hanya sebentar. Seakan-akan pemberian Allah untuk membersihkan jalan, agar debu-debu yang berterbangan tersapu bersih oleh air hujan. Betapa indah skenario yang sudah Allah rancang.

Gerimis reda, matahari kembali bersinar, tapi juga masih lumayan mendung. Sedikit aneh memang cuaca hari itu. Seperti sudah di orkestra langsung oleh Sang Pemilik Semesta. Diri ini terus berjalan. Mendekati gedung Bank Indonesia, orang-orang sudah pada duduk membentuk Shaf rapi, persiapan sholat Jumat. Saya dan teman melipir ke pinggir jalan, masih ngotot ingin mencapai barisan terdepan yang bisa dijangkau.

Beberapa kali kami harus melompati orang yang sudah duduk. Tapi kembali terharu. Mereka sangat baik membuka jalan. Sempat saya tidak sengaja menendang orang yang duduk ketika melangkah, saking penuhnya. Tapi tidak ada emosi satu sama lain. Saya minta maaf, dia minta maaf. Malah mempersilahkan saya lewat. Saudara. Itulah ikatan saudara. Saya tidak kenal dia, dan sebaliknya. Tapi kami terikat dalam satu tujuan sehingga menghargai satu sama lain.

Sedikit terburu-buru, saya dan teman mencoba memotong jalan. Kami melawati pagar rendah trotoar di samping gedung BI. Tanpa sengaja kaki kami menginjak tanaman. Langsung ibu-ibu disebelah kami yang sedang duduk mengingatkan, awas jangan sampai menginjak tanaman. Langsung diri ini bergegas mengangkat kaki, melompat kembali ke trotoar. Saya meminta maaf dan bilang terima kasih. Ah indahnya saling mengingatkan. Seberapapun besar aksi kita, tetap harus taat peraturan dan tidak merusak sarana yang ada.

Saya dan teman terus berjalan dipinggir menggunakan trotoar. Jalan di tengah sudah penuh dengan shaf jamaah. Hingga akhirnya sampai juga kami di kolam patung kuda.

Monas sudah terlihat. Tapi masa aksi semakin penuh. Mentok. Kami tidak bisa maju lagi. Kami terhenti di tengah jalan, masih berdiri di aspalnya. Tidak bisa duduk karena sudah sangat penuh. Waktu masih menunjukan pukul setengah sebelas. Masih satu jam lebih menuju jumatan. Karena sudah mentok dan tidak bisa maju lagi, saya dan teman memutuskan untuk berhenti di tempat kami berdiri sekarang. Yap kami memutuskan tetap berdiri, tidak duduk, hingga adzan datang. Bukan tidak mau duduk, tapi memang tidak bisa duduk, karena tidak ada space sama sekali saking banyaknya masa aksi di area tersebut.

Untungnya mobil speaker tepat di samping kanan dan samping kiri kami, jadi tausiyah yang bergantian disampaikan oleh ulama di Monas terdengar jelas di tempat kami berdiri. Pegal kaki tidak ada apa-apanya dibanding siraman rohani ditengah-tengah (mungkin) jutaan umat islam disini. Apresiasi untuk panitia aksi yang sigap menyiapkan sound system di berbagai penjuru jalan.

Sebentar lagi masuk waktu zuhur atau dalam hal ini sholat jumat. Awan yang daritadi memang mulai mendung, akhirnya tidak kuasa lagi menahan air yang dia tampung. Langsung rintik cukup deras segera menyirami semua tempat di Monas dan sekitarnya. Basah kuyup dirasakan semua masa aksi. Tapi tidak ada kekacauan sedikitpun yang terjadi. Malah semua orang dengan ikhlas menerima air hujan, dan justru bahagia karena dengan ini terkabulnya doa akan semakin terwujud. Allahumma shoyyiban nafi’an.

Hujan semakin deras, baju yang saya pakai sudah kuyup menyerap air hujan. Saya sebenarnya sudah wudhu sebelumnya, tapi lupa apakah sudah batal atau belum. Dengan hujan yang makin deras, langsung saya kembali wudhu, menadahkan tangan, mengambil air hujan dengan tangan, dan berwudhu dengan air itu. Diikuti dengan banyak masa aksi yang juga melakukan hal yang sama.

Adzan dua kali berkumandang. Ditengah hujan, saya tidak bisa membedakan air yang ada dimuka saya, apakah air hujan atau air mata. Karena begitu terharu dengan kejadian hari itu. Kaki pegal karena berdiri, hujan mengguyur, dibersamai jutaan umat muslim, bacaan Quran yang terus berkumandang, dan adzan yang sangat menggetarkan telinga. Siapa yang kuasa menahan tangis dari hal itu.

Khotbah berapi-api dimulai. Begitu membakar tubuh dari dinginnya air hujan. Sebelumnya sempat terdengar desah-desuh suara, namun sekarang hening, tidak ada frekuensi suara sedikitpun yang keluar dari bibir para masa aksi. Yap, ketika khatib sudah naik mimbar, jamaah tidak diperkenankan berbicara, meski hanya sekedar menyuruh orang lain diam. Itu yang diajarkan dalam Islam. Begitu indah bukan.

Setelah khotbah berakhir, Iqomah langsung dikumandangkan. Hujan masih cukup deras. Kembali merasakan pengalaman sholat jumat yang tak terlupakan. Bacaan imamnya sangat menyentuh hati. Yang paling terasa ketika doa Qunud-nya yang panjang. Hampir setengah jam sepertinya. Isak-isak tangis terdengar dari kiri dan kanan saya. Saya pun begitu. Benar-benar menyentuh hati. Jujur kaki sangat pegal. Tapi ketika Qunud, seakan-akan saya tidak berdiri menggunakan kaki, tapi saya berdiri menggunakan hati. Sungguh khidmat dan syahdu.

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, density orang disana sangatlah padat. Saya tidak memilik space sama sekali untuk sujud. Alhasil saya sholat semampunya, rukuk 15 derajat, duduk sedikit jongkok, dan kepala tidak bisa menyentuh tanah. Maafkan ketidaksempurnaan gerak sholat ini Ya Allah. Saya yakin Engkau pasti Maha Mengetahui. Semoga sholat ini tetap Engkau terima. Aamiin.

Setelah selesai sholat Jumat. Massa aksi langsung tertib membubarkan diri, menuju ke berbagai arah, tapi tetap teratur. Beberapa orang segera menggenggam kantong plastik hitam besar, memungut sampah apapun di jalan. Sungguh indah. Saya dan teman memutuskan untuk kembali ke kantor menyusuri jalan Thamrin menuju Sudirman. Ada orang yang ingin melompati pembatas jalan tengah Thamrin dan menginjak rumput. Kemudian diteriaki oleh panitia aksi. Tanda tidak boleh. Betapa tertib, tidak hanya sebelum dan saat aksi berlangsung, tapi sesudahnya juga masa aksi benar-benar menjaga etika dan taat pada peraturan.

Ketika dijalan, mata ini menyaksikan seorang nenek, sudah sangat tua, menggunakan kursi roda yang didorong oleh entah anaknya atau cucunya. Masya Allah. Semoga Allah memberkahi umur nenek ya. Sempat juga melihat ibu-ibu menggunakan tongkat berjalan. Beliau terjatuh, dan orang-orang sekelilingnya langsung menolongnya. Senyuman tanda tidak apa-apa langsung terukir di wajahnya. Semoga Allah juga memberikan kekuatan kepada semua masa aksi yang sudah turun di tanggal dua kemarin.

Sungguh indah pengalaman hari itu. In syaa Allah akan menjadi sejarah tersendiri di garis kehidupan saya. Jika Allah memberikan kesempatan, ingin sekali saya ceritakan kepada generasi di bawah saya, terutama kepada anak dan cucu saya (aamiin). Bahwa pada tanggal 2 desember 2016, adalah satu hari, yang menjadi salah satu bukti bersatunya umat Islam dari berbagai penjuru Nusantara. Mereka berdiri dalam satu barisan kokoh, untuk bersama-sama memperjuangkan agama kebanggaanya.[]

whatsapp-image-2016-12-05-at-20-34-09

Foto basah kuyup pasca sholat jumat

Kriteria Pekerjaan Terbaik

Hanya mencoba merefleksikan (hampir) genap satu tahun saya memasuki dunia kerja. Dunia delapan ke lima. Dunia dimana kopi menjadi minuman rutin yang diminum setiap harinya. Baik hanya untuk memantik adrenalin dengan kafein, ataupun sekedar media bercengkrama sesama kolega.

Tulisan ini saya coba buat untuk para adik-adik tingkat yang baru saja atau akan segera lulus dari masa “indah” perkuliahan. Pun bagi teman-teman sebaya yang sudah berkecimpung baru dan lama di dunia yang sama. Bahkan para kakak tingkat, yang sudah lama merasakan asam garamnya mencari nafkah, membiayai keluarga, memulai untuk menabung juga berinvestasi. Termasuk mereka yang sudah di masa emasnya ataupun di penghujung usia kerja.

Tentang pekerjaan terbaik. The best job in the world. Pekerjaan yang selalu kita impikan dan kita panjatkan dalam setiap untaian doa kepadaNya.

best-job-in-the-world

Sebuah Kriteria

Yah, mungkin bisa dibilang ini sedikit subjektif dan personal. Karena apalah saya yang pengalaman satu tahun saja belum selesai. Tapi sesuai dengan header blog ini, yaitu hanya mencoba mencurahkan nilai dan pembelajaran yang saya dapat ke dalam rangkaian kata. Semoga bisa diambil hikmah & hal positif di dalamnya.

Tentunya banyak parameter yang kita inginkan tentang apa yang kita sebut pekerjaan terbaik. Lingkungan kerja yang nyaman & kondusif. Gaji yang mencapai dua digit. Tunjangan melimpah. Bonus rutin. Bisa menjadi tempat belajar. Lokasi kantor yang strategis. Visi perusahaan yang besar. Proyek yang dikerjakan. Bidang yang sesuai dengan passion yang kita minati. Latar belakang kuliah yang linear dengan pekerjaan. Work life balance yang seimbang. Dan berbagai kriteria lain yang orang-orang biasa menyebutnya “bekerja serasa bermain” karena kita bahagia ketika melakukannya.

Tapi teman, menurut saya, refleksi dari 11 bulan kebelakang, pekerjaan terbaik hanya memiliki satu kriteria. Satu saja. Tidak banyak. Yaitu

Kriteria pekerjaan terbaik, adalah pekerjaan yang tidak membuat kita jauh dari Sang Pencipta

Disclaimer terlebih dahulu, layaknya berbagai kriteria lain yang saya sebut sebelumnya, kriteria satu ini belum tentu bisa kita didapatkan di kantor kita sekarang ataupun yang akan datang. Tapi selalu lah minta kriteria ini dalam setiap doa-doa kita.

Mencari pekerjaan layaknya mencari jodoh. Cocok-cocokan dan keberuntungan. Meski yakin semua sudah ditentukan tapi tetap ada variable usaha juga kan. Ada kalanya resume kita sangat baik, memiliki IPK tinggi, pengalaman berbagai organisasi, mempunyai penghargaan nasional hingga internasional; namun ternyata perusahaan yang kita inginkan sedang tidak butuh karyawan sesuai latar belakang kita; atau ketika tes FGD entah mengapa kita sedang tidak fokus sehingga terbata-bata dalam menyampaikan gagasan; atau ketika tes kesehatan tidak tahu bagaimana tiba-tiba kolesterol kita yang awalnya normal bisa menjadi di atas angka rata-rata. That’s life.

Oleh karenanya, variable doa sangat besar dalam hal ini.

Kesempatan ibadah

Hal yang paling bisa dilihat apakah pekerjaan kita sesuai dengan kriteria pekerjaan terbaik tadi atau tidak adalah dengan melihat kesempatan untuk beribadah karyawannya. Alhamdulillah. Company tempat saya bekerja sekarang in syaa Allah masih memiliki satu kriteria tersebut. Setidaknya saya masih memiliki kesempatan untuk beribadah.

Waktu masuk yang fleksible, bisa pukul 8 atau 9 -yang tentunya pulang menyesuaikan- bisa memberikan kesempatan karyawannya untuk shalat dhuha. Saya awalnya tidak rutin dhuha, naik turun, sering turunnya malahan, bahkan hampir putus hehe. Namun sadar, rezeki semua datang dariNya. Saya juga mempunyai mimpi yang cukup besar. Dan sadar, tanpa bantuan dari Allah, mustahil untuk tercapai. Ibadah yang paling bisa membantu untuk mendatangkan rezeki dan juga mencapai mimpi-mimpi tersebut salah satunya adalah shalat dhuha.

Alhamdulillah juga kosan tempat tinggal saya dekat dengan kantor, tinggal jalan. Jadi biasanya saya bisa melakukan dhuha sekitar jam 7.30 atau jam 8.00 sebelum berangkat ke kantor. Kalopun tidak sempat, di kantor juga punya musholla kecil yang bisa dipakai. Saya sering melihat beberapa kolega bahkan atasan melaksanakan sholat dhuha sekitar pukul 9 atau 10an. Terharu :’)

Atau, tidak usah jauh-jauh sholat sunnah. Sholat fardhu saja, yang paling penting, semoga kantor kita mempermudah kita untuk melaksanakannya. Alhamdulillah, di kantor saya sekarang tidak terlalu ketat juga masalah waktu ketika jam istirahat makan siang, ataupun jam shalat Ashar.

To be honest, bulan lalu kalo ga salah. Saya iseng submit CV di karir ITB, ke salah satu perusahaan Jepang juga, tapi bedanya kerja nya di Jepang langsung, tepatnya di Osaka. Jangan ditiru ya, hehe. Tapi saya bilang di cover letter juga saya baru siap masuknya satu tahun setelah beres di kantor sekarang kok. Semoga bos kantor ga baca ini :p

Tapi ada satu hal yang mengganjal di detail of the jobs di websitenya. Saya kopas langsung:

Praying You are not allowed to pray except during the lunchtime.

Terus ashar gimana dong? Ga bisa dhuha juga kan kalo gitu?? Tapi karena udah terlanjur submit bahkan dipanggil wawancara online kala itu, saya cuma meminta terbaik aja dari Allah. Alhasil saya ga dipanggil lagi setelah wawancara onlinenya. Haha.

Kaya nya sih karena saya masih ragu pas jawab komitmen kerja lama disana. Tipikal perusahaan Jepang. Padahal bisa saja saya ngeles atau “bermain kata” pas interview. Tapi ntah mengapa seakan-akan dipersulit pas interview itu. Allah pasti tau yang terbaik. Berarti emang belum jodoh. Padahal mah emang ga qualified ya meureun, wkwk. Huznudzan saja, berarti memang mungkin pekerjaan itu kedepannya tidak memenuhi kriteria yang satu tadi. Yah mungkin bisa malah membuat jauh dariNya. Allahualam.

Teman dan Kolega

Yap selain kesempatan ibadah, tentunya teman dan kolega kantor juga turut memberikan sumbangsih apakah kita bisa tetap dekat dengan-Nya, atau bahkan menjauh dari-Nya.

Ini sebenarnya lebih terasa ketika saya intern 2 bulan di Hamburg, Jerman. Itu benar-benar salah satu masa paling down iman. Shubuh hampir selalu telat. Hampir ga pernah jamaah. Ngaji bisa dibilang ga pernah sama sekali selama 2 bulan itu. Untung cuma internship.

Alhamdulillah di kantor saya sekarang, saya memiliki teman dalam lingkaran yang sholeh-sholeh. Dzuhur bahkan Ashar, in syaa Allah kita selalu mengusahakan sholat di masjid putih gede di luar kantor. Karena deket banget, dan deket juga dengan tempat makan. Kecuali kalo hujan atau lagi banyak kerjaan, kita biasanya sholat di mushola basement B1 kantor Wisma46 Sudirman.

Hasil gambar untuk masjid al i'tisham

Masjid Putih Deket Kantor

Yang asiknya lagi kita ada geng namanya “Kersen Time Geng” bahkan dengan senior-senior yang udah bapak-bapak juga, buat sholat ashar di Masjid. Tipikalnya gini kalo sudah masuk Ashar, ada saja yang ngingetin

“Ayo pak Kersen time dulu!”

Haha. Kersen time karena di deket masjid satunya (ada satu mesjid lagi deket kantor, yang biasanya tempat kita sholat Ashar, masjid arthaloka namanya) punya banyak pohon kersen. Jadi biasanya sembari jalan ke sana, kita ngambilin & makan buah kersen yang banyak warna merahnya :9

Sebenernya saya nulis ini sebaiknya jika sudah merasakan setidaknya kerja di lebih dari satu kantor. Tapi yah, mood menulis terkadang tidak gampang hadir di setiap waktu. Kebetulan daily report yang harus dibuat di project sekarang sudah selesai. Persiapan untuk assessment hari berikutnya juga sudah selesai, jadi ada sedikit waktu untuk menulis. Dan topik yang paling kepikiran dan paling ingin dibagi dengan yang lain adalah topik ini.

Ohya, ini juga termasuk buat teman-teman yang mau berwirausaha atau startup ya. Bagaimana startup yang akan kita bangun jangan sampai menjauhkan kita dari-Nya. Lebih bagus bahkan malah membuat diri dekat dengan-Nya apalagi bisa sampai membuat kultur di perusahaan untuk sholat dhuha rutin, atau jamaah rutin untuk sholat fardhu. How ideal. Semoga someday kita bisa mewujudkannya Aamiin.

Kemudian satu kriteria yang saya sebutkan di atas tadi juga biasanya kita tahu setelah menjalani pekerjaan di kantor. Jadi kesimpulannya selalu berdoa terkait pekerjaan dan karir kita kedepannya. Semoga jalan apapun yang kita ambil selalu dalam limpahan keberkahan Allah. Dan pun jika kita masuk dalam kondisi yang menjauhkan kita dari-Nya, kita bisa tetap bertekad untuk melawannya, dan berusaha semaksimal mungkin untuk tetap dekat dengan-Nya. Allahumma Aamiin.[]

Tech of Health and Toys

Randomly sometimes at the office, I’m just wondering what actually my real passion is? What things I wanna achieve in the future? What is my truly BIG dream?

Thank God for these 23 years (+ 2 days) I’ve been wandering my life with various of events, experience and learning, makes me being like who I am right now.

If asking about dream, being near with technology is the one I really want. Five years study of Electrical Engineering is a particularly turning point of my life to realize how I truthfully fall in love with technology. But tech world is really wide and big.

5 years of college + (almost) 1 years of worklife, alhamdulillah I am still in the right track that I am still near with tech. Twice of interns, first in state own enterprise in Indonesia and second in hightech research based company in Germany, experience me to use tech both for industrial machine control and particle physics research needs. Also around three years sitting in the classroom studying about circuits, code, math and all things related to Fourier transformation, definitely wakes me up how complicated deep inside the technology is.

But then I realize in my last year of college when I did my bachelor thesis, that the application of technology could give many benefits for people even save life. Especially the use of technology in healthcare. My bachelor thesis is about Electrocardiogram. Well don’t expect too much, it’s just only the basic, the minimum specification to graduate from the campus, still long way to go to save people life. But that’s more than enough to ignite my spike of passion to use the technology for healthcare sector to help people and even save many life in the future.

Well dreams keep changing right. A doctor, police, teacher are the ones I had ever dreamed of when I was a kid. Being an accountant also ever came into my dream list while in high school I ever wrote Accounting UI in my first choice of major in the test. Even architecture and designer ever came in my mind because my hobby is drawing since elementary school.

But (at least until now) I really have a longterm dream to own a healthtech company in Indonesia. I don’t know what God has prepared about my life, maybe after this I move into an oil based company, or consumer goods company. Or maybe I will study grad school which totally not related to health. Or even maybe I will work for restaurant or culinary things. I don’t know.

But one thing for sure, I will work on my dream to work in healthtech industry and build mine as long as the light of this courage still sparks in my heart. I will struggle for this, and I will strive to achieve it. I hope it won’t change and I hope it will never be. In syaa Allah!

But wait! Did I forget to mention about toys?? Yeah. Another to-be-honest-thing, I also really have a BIG passion about toys which is related to technology. So this is particularly not a software based toys (or we call it games) such as in phone like COC, or PC based like DoTA, counter strike or others.

I prefer and fond of creating a physically thing ones that kids directly could touch, though not to mention it could be also connected with gadget, or we call it internet of things. So toys like Lego, puzzle, remote control, action figures, etc which kids could play it for fun as well as increasing their kinesthetic, STEM, or other type of intelligence or spatial ability. How fun if I could work in these things :’) I hope so. Allahumma Aamiin.

o-TOYS-facebook.jpg
Therefore someday if God really gives me chance and times and permission, I wish I could make these dreams come true, which work in health and/or toy tech industry.

Again I totally have no idea what the future is, what can I do is just keep dreaming and keep being in the right path. A path which is always blessed by Him. As long as I am still there, I don’t care whatever my future will be, since I do believe He is the only one who knows what the best for me.

Allahul musta’an.[]