Kriteria Pekerjaan Terbaik

Hanya mencoba merefleksikan (hampir) genap satu tahun saya memasuki dunia kerja. Dunia delapan ke lima. Dunia dimana kopi menjadi minuman rutin yang diminum setiap harinya. Baik hanya untuk memantik adrenalin dengan kafein, ataupun sekedar media bercengkrama sesama kolega.

Tulisan ini saya coba buat untuk para adik-adik tingkat yang baru saja atau akan segera lulus dari masa “indah” perkuliahan. Pun bagi teman-teman sebaya yang sudah berkecimpung baru dan lama di dunia yang sama. Bahkan para kakak tingkat, yang sudah lama merasakan asam garamnya mencari nafkah, membiayai keluarga, memulai untuk menabung juga berinvestasi. Termasuk mereka yang sudah di masa emasnya ataupun di penghujung usia kerja.

Tentang pekerjaan terbaik. The best job in the world. Pekerjaan yang selalu kita impikan dan kita panjatkan dalam setiap untaian doa kepadaNya.

best-job-in-the-world

Sebuah Kriteria

Yah, mungkin bisa dibilang ini sedikit subjektif dan personal. Karena apalah saya yang pengalaman satu tahun saja belum selesai. Tapi sesuai dengan header blog ini, yaitu hanya mencoba mencurahkan nilai dan pembelajaran yang saya dapat ke dalam rangkaian kata. Semoga bisa diambil hikmah & hal positif di dalamnya.

Tentunya banyak parameter yang kita inginkan tentang apa yang kita sebut pekerjaan terbaik. Lingkungan kerja yang nyaman & kondusif. Gaji yang mencapai dua digit. Tunjangan melimpah. Bonus rutin. Bisa menjadi tempat belajar. Lokasi kantor yang strategis. Visi perusahaan yang besar. Proyek yang dikerjakan. Bidang yang sesuai dengan passion yang kita minati. Latar belakang kuliah yang linear dengan pekerjaan. Work life balance yang seimbang. Dan berbagai kriteria lain yang orang-orang biasa menyebutnya “bekerja serasa bermain” karena kita bahagia ketika melakukannya.

Tapi teman, menurut saya, refleksi dari 11 bulan kebelakang, pekerjaan terbaik hanya memiliki satu kriteria. Satu saja. Tidak banyak. Yaitu

Kriteria pekerjaan terbaik, adalah pekerjaan yang tidak membuat kita jauh dari Sang Pencipta

Disclaimer terlebih dahulu, layaknya berbagai kriteria lain yang saya sebut sebelumnya, kriteria satu ini belum tentu bisa kita didapatkan di kantor kita sekarang ataupun yang akan datang. Tapi selalu lah minta kriteria ini dalam setiap doa-doa kita.

Mencari pekerjaan layaknya mencari jodoh. Cocok-cocokan dan keberuntungan. Meski yakin semua sudah ditentukan tapi tetap ada variable usaha juga kan. Ada kalanya resume kita sangat baik, memiliki IPK tinggi, pengalaman berbagai organisasi, mempunyai penghargaan nasional hingga internasional; namun ternyata perusahaan yang kita inginkan sedang tidak butuh karyawan sesuai latar belakang kita; atau ketika tes FGD entah mengapa kita sedang tidak fokus sehingga terbata-bata dalam menyampaikan gagasan; atau ketika tes kesehatan tidak tahu bagaimana tiba-tiba kolesterol kita yang awalnya normal bisa menjadi di atas angka rata-rata. That’s life.

Oleh karenanya, variable doa sangat besar dalam hal ini.

Kesempatan ibadah

Hal yang paling bisa dilihat apakah pekerjaan kita sesuai dengan kriteria pekerjaan terbaik tadi atau tidak adalah dengan melihat kesempatan untuk beribadah karyawannya. Alhamdulillah. Company tempat saya bekerja sekarang in syaa Allah masih memiliki satu kriteria tersebut. Setidaknya saya masih memiliki kesempatan untuk beribadah.

Waktu masuk yang fleksible, bisa pukul 8 atau 9 -yang tentunya pulang menyesuaikan- bisa memberikan kesempatan karyawannya untuk shalat dhuha. Saya awalnya tidak rutin dhuha, naik turun, sering turunnya malahan, bahkan hampir putus hehe. Namun sadar, rezeki semua datang dariNya. Saya juga mempunyai mimpi yang cukup besar. Dan sadar, tanpa bantuan dari Allah, mustahil untuk tercapai. Ibadah yang paling bisa membantu untuk mendatangkan rezeki dan juga mencapai mimpi-mimpi tersebut salah satunya adalah shalat dhuha.

Alhamdulillah juga kosan tempat tinggal saya dekat dengan kantor, tinggal jalan. Jadi biasanya saya bisa melakukan dhuha sekitar jam 7.30 atau jam 8.00 sebelum berangkat ke kantor. Kalopun tidak sempat, di kantor juga punya musholla kecil yang bisa dipakai. Saya sering melihat beberapa kolega bahkan atasan melaksanakan sholat dhuha sekitar pukul 9 atau 10an. Terharu :’)

Atau, tidak usah jauh-jauh sholat sunnah. Sholat fardhu saja, yang paling penting, semoga kantor kita mempermudah kita untuk melaksanakannya. Alhamdulillah, di kantor saya sekarang tidak terlalu ketat juga masalah waktu ketika jam istirahat makan siang, ataupun jam shalat Ashar.

To be honest, bulan lalu kalo ga salah. Saya iseng submit CV di karir ITB, ke salah satu perusahaan Jepang juga, tapi bedanya kerja nya di Jepang langsung, tepatnya di Osaka. Jangan ditiru ya, hehe. Tapi saya bilang di cover letter juga saya baru siap masuknya satu tahun setelah beres di kantor sekarang kok. Semoga bos kantor ga baca ini :p

Tapi ada satu hal yang mengganjal di detail of the jobs di websitenya. Saya kopas langsung:

Praying You are not allowed to pray except during the lunchtime.

Terus ashar gimana dong? Ga bisa dhuha juga kan kalo gitu?? Tapi karena udah terlanjur submit bahkan dipanggil wawancara online kala itu, saya cuma meminta terbaik aja dari Allah. Alhasil saya ga dipanggil lagi setelah wawancara onlinenya. Haha.

Kaya nya sih karena saya masih ragu pas jawab komitmen kerja lama disana. Tipikal perusahaan Jepang. Padahal bisa saja saya ngeles atau “bermain kata” pas interview. Tapi ntah mengapa seakan-akan dipersulit pas interview itu. Allah pasti tau yang terbaik. Berarti emang belum jodoh. Padahal mah emang ga qualified ya meureun, wkwk. Huznudzan saja, berarti memang mungkin pekerjaan itu kedepannya tidak memenuhi kriteria yang satu tadi. Yah mungkin bisa malah membuat jauh dariNya. Allahualam.

Teman dan Kolega

Yap selain kesempatan ibadah, tentunya teman dan kolega kantor juga turut memberikan sumbangsih apakah kita bisa tetap dekat dengan-Nya, atau bahkan menjauh dari-Nya.

Ini sebenarnya lebih terasa ketika saya intern 2 bulan di Hamburg, Jerman. Itu benar-benar salah satu masa paling down iman. Shubuh hampir selalu telat. Hampir ga pernah jamaah. Ngaji bisa dibilang ga pernah sama sekali selama 2 bulan itu. Untung cuma internship.

Alhamdulillah di kantor saya sekarang, saya memiliki teman dalam lingkaran yang sholeh-sholeh. Dzuhur bahkan Ashar, in syaa Allah kita selalu mengusahakan sholat di masjid putih gede di luar kantor. Karena deket banget, dan deket juga dengan tempat makan. Kecuali kalo hujan atau lagi banyak kerjaan, kita biasanya sholat di mushola basement B1 kantor Wisma46 Sudirman.

Hasil gambar untuk masjid al i'tisham

Masjid Putih Deket Kantor

Yang asiknya lagi kita ada geng namanya “Kersen Time Geng” bahkan dengan senior-senior yang udah bapak-bapak juga, buat sholat ashar di Masjid. Tipikalnya gini kalo sudah masuk Ashar, ada saja yang ngingetin

“Ayo pak Kersen time dulu!”

Haha. Kersen time karena di deket masjid satunya (ada satu mesjid lagi deket kantor, yang biasanya tempat kita sholat Ashar, masjid arthaloka namanya) punya banyak pohon kersen. Jadi biasanya sembari jalan ke sana, kita ngambilin & makan buah kersen yang banyak warna merahnya :9

Sebenernya saya nulis ini sebaiknya jika sudah merasakan setidaknya kerja di lebih dari satu kantor. Tapi yah, mood menulis terkadang tidak gampang hadir di setiap waktu. Kebetulan daily report yang harus dibuat di project sekarang sudah selesai. Persiapan untuk assessment hari berikutnya juga sudah selesai, jadi ada sedikit waktu untuk menulis. Dan topik yang paling kepikiran dan paling ingin dibagi dengan yang lain adalah topik ini.

Ohya, ini juga termasuk buat teman-teman yang mau berwirausaha atau startup ya. Bagaimana startup yang akan kita bangun jangan sampai menjauhkan kita dari-Nya. Lebih bagus bahkan malah membuat diri dekat dengan-Nya apalagi bisa sampai membuat kultur di perusahaan untuk sholat dhuha rutin, atau jamaah rutin untuk sholat fardhu. How ideal. Semoga someday kita bisa mewujudkannya Aamiin.

Kemudian satu kriteria yang saya sebutkan di atas tadi juga biasanya kita tahu setelah menjalani pekerjaan di kantor. Jadi kesimpulannya selalu berdoa terkait pekerjaan dan karir kita kedepannya. Semoga jalan apapun yang kita ambil selalu dalam limpahan keberkahan Allah. Dan pun jika kita masuk dalam kondisi yang menjauhkan kita dari-Nya, kita bisa tetap bertekad untuk melawannya, dan berusaha semaksimal mungkin untuk tetap dekat dengan-Nya. Allahumma Aamiin.[]

Tech of Health and Toys

Randomly sometimes at the office, I’m just wondering what actually my real passion is? What things I wanna achieve in the future? What is my truly BIG dream?

Thank God for these 23 years (+ 2 days) I’ve been wandering my life with various of events, experience and learning, makes me being like who I am right now.

If asking about dream, being near with technology is the one I really want. Five years study of Electrical Engineering is a particularly turning point of my life to realize how I truthfully fall in love with technology. But tech world is really wide and big.

5 years of college + (almost) 1 years of worklife, alhamdulillah I am still in the right track that I am still near with tech. Twice of interns, first in state own enterprise in Indonesia and second in hightech research based company in Germany, experience me to use tech both for industrial machine control and particle physics research needs. Also around three years sitting in the classroom studying about circuits, code, math and all things related to Fourier transformation, definitely wakes me up how complicated deep inside the technology is.

But then I realize in my last year of college when I did my bachelor thesis, that the application of technology could give many benefits for people even save life. Especially the use of technology in healthcare. My bachelor thesis is about Electrocardiogram. Well don’t expect too much, it’s just only the basic, the minimum specification to graduate from the campus, still long way to go to save people life. But that’s more than enough to ignite my spike of passion to use the technology for healthcare sector to help people and even save many life in the future.

Well dreams keep changing right. A doctor, police, teacher are the ones I had ever dreamed of when I was a kid. Being an accountant also ever came into my dream list while in high school I ever wrote Accounting UI in my first choice of major in the test. Even architecture and designer ever came in my mind because my hobby is drawing since elementary school.

But (at least until now) I really have a longterm dream to own a healthtech company in Indonesia. I don’t know what God has prepared about my life, maybe after this I move into an oil based company, or consumer goods company. Or maybe I will study grad school which totally not related to health. Or even maybe I will work for restaurant or culinary things. I don’t know.

But one thing for sure, I will work on my dream to work in healthtech industry and build mine as long as the light of this courage still sparks in my heart. I will struggle for this, and I will strive to achieve it. I hope it won’t change and I hope it will never be. In syaa Allah!

But wait! Did I forget to mention about toys?? Yeah. Another to-be-honest-thing, I also really have a BIG passion about toys which is related to technology. So this is particularly not a software based toys (or we call it games) such as in phone like COC, or PC based like DoTA, counter strike or others.

I prefer and fond of creating a physically thing ones that kids directly could touch, though not to mention it could be also connected with gadget, or we call it internet of things. So toys like Lego, puzzle, remote control, action figures, etc which kids could play it for fun as well as increasing their kinesthetic, STEM, or other type of intelligence or spatial ability. How fun if I could work in these things :’) I hope so. Allahumma Aamiin.

o-TOYS-facebook.jpg
Therefore someday if God really gives me chance and times and permission, I wish I could make these dreams come true, which work in health and/or toy tech industry.

Again I totally have no idea what the future is, what can I do is just keep dreaming and keep being in the right path. A path which is always blessed by Him. As long as I am still there, I don’t care whatever my future will be, since I do believe He is the only one who knows what the best for me.

Allahul musta’an.[]

Growth, Media and Startup Bias

Thanks to Eventbrite so that now I have many agenda after office to learn many new things besides work. Thanks to my office location too which makes me easily to reach many places in Jakarta. And indeed thanks so much to Allah who has given all of these things.

Kemarin malam kembali sempat belajar dari Willix Halim & Laode Hartanto di acara Lingkar Kemang, di kantor bukalapak. To be honest gw ga expect banyak pas mau datang ke sini, daripada balik ngeberesin Silicon Valley S3 atau House of cards S4 di kosan (meski ini berguna & keren jg sih), mending keluar cari ilmu baru. Bahkan gw hampir ga jadi dateng, gara-gara lama bgt dapet gojek.

But it’s all written. Pas udah desperate ga dapet-dapet gojek dan mutusin buat balik, eh ternyata dapet mamang gojek nya in the last minutes. Jadinya berangkat lah gw ke kantor bukalapak di Kemang, yang MasyaAllah macetnya meski pake motor jg luar biasa -_-

https-%2F%2Fcdn.evbuc.com%2Fimages%2F25212297%2F191447604509%2F1%2Foriginal.jpg

Tapi ternyata kantor bukalapak kereen haha. It’s my first time coming to startup office in Jakarta, sebelumnya sempet lihat-lihat via youtube daily social sih, startup office dengan pingpong table, Xbox, PS4, sleeping room dan segala “kemewahannya”. Iri dikit sih, tapi agak out of reach ke sana nya, masih kerenan kantor gw mayan tengah (self-sugesti + pembenaran) lol.

Like I said before, gw ga tau apa-apa & ga terlalu memperdulikan siapa pembicara di acara ini, cuma denger dari temen katanya keren. Jadi alhasil gw baru googling nama mereka pas duduk di venue. Dan ternyata keren parah.

Willix Halim doi 5 tahun jadi VP growth di freelancer.com sebelum baru Oktober kemarin memutuskan balik dan gabung jadi COO bukalapak. Doi juga alumni GSB Stanford. Laode Hartanto VP di Emtek. Yang gw baru tau juga (dari Wikipedia) second largest media group di Indonesia (after MNC kaya nya, atau CT?). Expert in media banget intinya

SESI WILLIX HALIM

Willix stunning parah present nya tentang Growth Hack, sayang gw ga dapet slide nya (katanya di slideshare ada, tapi ga ketemu).

Update, ternyata berhasil ditemukan teman, bisa dilihat langsung disini

Banyak ilmu baru bgt, karena gw di dunia corporate yg lebih B2B business jadi jarang ketemu dengan yang namanya CPA (cost per acquisition), LTV (life time value), CVR (Conversion Rate), A/B Testing, death spiral di paid marketing yang LTV < CPA, dll.

74f3aa79-7f7b-4c5c-b885-445e7e311b77.jpg

Terus baru tau juga nih info “how much these companies spend on marketing”? Jadi persentase dari revenue nya. Ternyata fakta nya

Box -> 104%

Wix -> 50%

Uber -> 400%

Gila ya haha. No idea that’s good or not, tapi tau sendiri kan growth 3 perusahaan itu gimana. At least C level nya seharusnya sudah calculate ROInya.

Willix juga mikir nya cepet banget pas ada yang nanya tentang statistic, untung gw aga-aga familiar karena sempet ambil Probstat (Probability statistic) di ITB. Lupa-lupa dikit sih, tapi tau lah ceum2 random sampling, distributed, dll. Kerjaanya anak-anak data science.

Banyak banget ilmu baru sebenernya, kaya funneling, data tracking, CVR flow, dsb tapi bingung juga gw mau nulis disini, dan tentunya itu masih seperskian persen dari ilmu utuhnya, 2 jam dapet apa sih, at least gw dapet beberapa ilmu baru meski hanya kulitnya. Kalo mau belajar lebih banyak, tanya dengan anak-anak data science atau kerja langsung di startup yang B2C, especially eCommerce.

source: http://www.smartondata.com/

Ohya satu hal yang cukup berguna dan noted ada yang bertanya

“What thing should we focus as a new startup in growth hacking??”

Di jawab Willix:

“Focus in acquisition (simple nya user comes to landing page), tapi hindari paid marketing sebisanya. 

Find channel that everyone not yet come, karena kalo channel yang sering dikunjungi bakal kalah sama yang punya budget gede. Misal find where our customer usually hangout, jump there. Atau community. Atau coffee shop. Dll.”

Kaya dulu paypal yang awalnya nebeng di eBay, dan malah jadi the best acquisition so far yang dari satuan billion jadi 40 billion valuation company bahkan lebih besar dari eBay sendiri.

SESI LAODE HARTANTO

Intinya gegara dia ngomong gw jadi penasaran sama Emtek sampe download 2015 financial reportnya

http://www.emtek.co.id/files/uploads/report/file/2016/May/25/5744a0fec5574/financial-report-as-per-31-desember-audited.pdf

You guys can find bukalapak there.

eef68959-a6c9-4c85-970b-efd751b17a1b

Emtek Assets

Om Tanto really opens my eyes about digital media dan advertising. Bahwa sebenarnya di Indonesia TV masih belum tergantikan, makanya Emtek tetap fokus di conventional TV compare to internet advertising. Bahkan internet masih kalah dibanding OOH (out of home) sejenis billboard di jalan untuk media penetration nya. Well the transition must be happening someday but it takes time.

Ada pertanyaan keren yg diajukan ke Om Tanto terkait Emtek

“What acquisition Emtek will do next?”

*everyone laughing* Sebenernya ini pertanyaan di wanti-wanti dari awal meski tergolong forbidden question haha. He answered then:

“If you ask me that question, my answer is I don’t know”

Bahkan katanya BBM diakuisisi oleh Emtek aja, dia baru taunya 15 menit sebelum di officially launch di yahoo finance, jadi memang terkait akusisi ini benar-benar confidential dan hanya lingkaran atas yang tau. But Om Tanto gave us the teaser:

“Emtek will touch every human being things. You could see by yourself Emtek asset, they are all unique and touch every aspects of humanity. Nothing is redundant. So if you want get acquired by Emtek, you should find what human being thing that Emtek has not touched yet”

Begitu. Meski seharusnya startup tidak selayaknya untuk menargetkan exit at acquisition. Karena itu fakta yang terjadi sekarang dan bisa menyebabkan bias.

“Everyone competes to build startup to get highest valuation and sell to big company”

Padahal seharusnya ruh startup itu adalah

“How startup could touch human being thing and specialize solution in specific scope which big company could not reach that”

Jadi bukan berfokus di peningkatan valuasi sebesar-besarnya untuk dijual, tapi justru bagaimana with startup kita bisa menyelesaikan masalah-masalah in humanity yang tidak bisa di reach oleh big company dan with side effect is the increase of valuation.[]

Three things I got from Supermentor 16

Last night, I just attended Supermentor 16 with my friends, an event initiated by Dino Patti Djalal, which is a platform for iconic figures to share and empower youths. Random tau dari temen tentang acara sebelumnya, jadi pengen ikut, moreover it only took minutes to the venue (Djakarta Theater XXI Thamrin), and the best it’s after office time. Terus takut keburu lupa jadi pengen langsung share di sini.

Hasil gambar untuk supermentor 16

Well 3 things actually I got by attending that event yesterday, those are tears, courage and hope.

TEARS

To be honest I shed tears last night, especially when watching many heartbreaking videos from worldbank. I got some of the videos from youtube, you could watch it by yourself

Especially the second one, video about Bu Murtianah, truly made me thank God about my life I got right now. At least I was born in a middle class family, got enough nutrition, have an opportunity to college, and  got many other rare things while most of the people didn’t.

Ditambah lagi presentasi dari Reza Rahardian, di Sumbawa orang-orang berjalan kaki 10 KM untuk mendapat air bersih (gw jalan ke kantor 2 KM aja udah keringetan), terus dari Bu Vivi, senior ekonom WB, di Kalimantan ada yang perkampungan puskesmas teredekat itu 20 KM, even the data if I’m not mistaken, only 35% babies in Indonesia have complete vaccination, and 40% ones have exclusive ASI.

A bit classic, maybe some of you have already known Indonesia indeed has bunch of problems, and it does!! But those numbers from last night at least emphasize us those are truths and real happening right now. Out of our comfort bed, delicious foods everyday, air conditioner in the office, millions of people struggling out there to just having a spoon of rice.

COURAGE

An opening speech from Pak Dino truly encouraged me, which is about 3 poverty terminators, those are education, technology and entrepreneurship. Education indeed is to make people more productive, dan untungnya kata Bu Sri Mulyani, karena fiscal policy dulu yang APBN pendidikan Indonesia cuma 10 T sekarang sudah menjadi 400T (kalo gw ga salah denger).

Menarik dari sini, dua hal lain dari poverty terminators adalah technology and entrepreneurship a.k.a startups. Maybe ini yang lagi booming sekarang dan related to my passion which is tech. Well some of you maybe have read a viral article from former Kaskus founders about the bubble in tech startups here. Well I realized that’s happening in Indonesia right now, but it doesn’t mean totally bad.

Orang-orang seperti Nadiem, Fery, William, and other tech startup founders, indeed contribute to this poverty terminators thing. They open many job fields and help improving economics which is to close up the gap of poverty. But one thing they have to make sure that their business must sustainable and the valuation of their companies must produce positive cashflow and equal to the impact to society.

Ga mau panjang-panjang ding, karena kapasitas juga masih minim, dan masih tahap belajar. But at least I got a courage from here. A small spark to keep in the right track, which is in line with what Islam has taught us. The best people are the ones who could give benefit to the others.

HOPE

Last but not least, I got from last night is a hope. To be honest it was my first time I watched directly the speech from Bu Sri Mulyani. And I could say it was totally inspiring, charismatic and stunning. The way she delivered her speech last night truly reflected millions of experience she had before. Twice becoming minister of finance, the first Indonesian to be managing director and COO of world bank, and 23 influence women according to Forbes.

She is also the founder of LPDP, which like Pak Dino said before, education is number one poverty terminator. And that’s where my hope comes from. Many of my friends right now are studying abroad because of LPDP, and I do believe they will become someone like Bu Sri Mulyani in the future. Someone who are smart and very well educated to drive this country. Mereka yang akan meneruskan tongkat estafet dari para generasi X saat ini.

And me? I don’t know. Thing I could do now is trying to be on the same right track with them. I don’t want to be someone who just watch from audience seats. Hanya menyaksikan perubahan. I want at least to try to be involved within. Semoga bisa. Allahumma Aamiin.[]

Sharing di FC10 dan Titik balik

Biar terabadikan di blog. Kemarin random diminta sharing oleh adik tingkat di FIM. Selagi ada sesuatu yg bisa saya bagi, in syaa Allah siap untuk dibagi. Semoga bisa bermanfaat dan diambil baik-baiknya, maklum masih manusia. Berikut copas notula nya :)

—-

Narasumber: Muhammad Afif Izzatullah, alumni FIM12
Moderator: Rudi S Nazar, alumni FIM18

Moderator: Galau Paska Kampus memang menjadi bahasan menarik untuk d diskusikan, terutama untuk para mahasiswa tingkat akhir. Seringkali kita d hadapkan banyak pilihan, dan hal tersebut beriringan dengan banyak pula pertimbangan, kecemasan bahkan ketakutan yang kita hadapi.
Dan untuk menjawab kebingungan kita semua, malam ini akan ada seorang pemateri yang akan berbagi pengalaman seputar menentukan pilihan paska Lulus kuliah.

Moderator: Beliau lulusan Teknik Elektro ITB angkatan 2010 dan merupakan Alumni Forum Indonesia Muda (FIM) angkatan 12. Sekarang beliau bekerja sebagai Business Analyst NTT Data Corporation dan Research Analyst Intern ATLAS Groups DESY Hamburg, Germany. Prestasi lainnya beliau merupakan Indonesia Delegate ESD Summer Program, Tokyo.

Moderator: Oke langsung saja yah kak afif 😊
Jadi gini, sering kali kita (termasuk momod) kebingungan/galau dalam menentukan pilihan paska lulus kuliah kelak. Ada banyak pertimbangan pun kecemasan dlam menentukan pilihan. Nah, boleh dong kaka berbagi pengalaman seputar dunia paska kampus yang kaka alami waktu itu? Terlebih dalam menentukan pilihan ! Hal apa saja yang harus d pertimbangkan supaya gak menyesal d kemudian hari?
Mangga d jawab kak 😊

————-SESI PEMAPARAN DARI KAK AFIF———–
Oke. Btw bismillah. Assalamualaikum. Salam kenal semuanya (bbrp ada yg gw tau ya haha). btw gw lagi di tempat cukup crowded jg. Jdi sory klo aga pending ya. Jadi gw mulai aja, ada 5 poin utama pemaparan gw. Smoga bisa ngikutin lebih mudah ya, jadi gw coba sampein step by step 5 POIN utama tdi :)

POIN 1: ALWAYS START WITH THE END IN MIND

Apapun & berapapun usia kita skrg, mau baru lulus, lagi kuliah, udah lama kerja, udah punya cucu. Selalu plan end objectif kita. Jadi untuk kasus pasca kampus WAJIB PUNYA MIMPI. Setinggi-tinggnya aja dan kalo yg masih bingung mungkin bisa sedikit open, tapi tetep detail, terukur dan realistik.

Misal: Gw pengen punya perusahaan teknologi di Indonesia yang bisa manufaktur hardware. Gw pengen jadi dokter yang mendirikan banyak rumah sakit mengalahkan Siloam.Gw pengen jadi menko perekonomian di 100 tahun indonesia 2045. DLL

POIN 2: WRITE YOUR GOALS

Ini gw dpt dari artikel.

So, Why Do 3% of Harvard MBAs Make Ten Times as Much as the Other 97% Combined ?

The answer is a simple question: “Have you set clear, written goals for your future and made plans to accomplish them?”

In 1979, interviewers asked new graduates from the Harvard’s MBA Program and found that :
• 84% had no specific goals at all
• 13% had goals but they were not committed to paper
• 3% had clear, written goals and plans to accomplish them

In 1989, the interviewers again interviewed the graduates of that class.

You can guess the results:
• The 13% of the class who had goals were earning, on average, twice as much as the 84 percent who had no goals at all.
• Even more staggering – the three percent who had clear, written goals were earning, on average, ten times as much as the other 97 percent put together.

Terus ada yang bilang: Gw punya banyak banget mimpi dan gw ga punya banyak waktu untuk menulisnya

If you don’t have time to write down your goals, where are you going to find the time to accomplish them?

POIN 3: DREAM CANVAS

Btw gw sebenernya kurang sepakat sebenernya dengan artikel menulis your goals di atas. Karena yang lebih baik KITA TULIS MIMPI KITA DAN BUAT VISUALISASI UNTUK LEBIH MUDAH MEMBAYANGKANNYA

Visualiasi ini bisa gambar, comot dari google, mindmap, flowchart, dll. Contoh dream canvas yang pernah gw buat https://drive.google.com/…/0Byk_jPSXa_rnU2hPeXZnT29rcUU/view . Berikut Screenshot-nya.

Gw buat itu sebenernya terinspirasi dari video TEDx nya Patti Dobrowolski tentang “Draw your future” disini
https://youtu.be/zESeeaFDVSw

Simplenya adalah menggambar “Current State” kita dan menghubungkan dengan gambar lagi menuju “Desired New Reality” yang kita inginkan. Detailnya tonton aja deh. Inspiring pokoknya!

Dengan membuat ini intinya biar bisa “Trick” our brain aja. Gw ga tau sih ini bakal berguna atau ga. Dan jelas pasti lebih ga tau bakal bisa tercapai atau ga. Tapi I just felt it anyway ketika udah buat ini, jadi merasa bisa memprioritaskan sesuatu atas sesuatu yang lain asal berhubungan dengan mimpi-mimpi di atas. Kebayang ga? Haha

Simpelnya gini deh. Ketika punya uang, dan mau membeli sesuatu, gw bisa mikir dulu, ini mensupport mimpi di atas ga. Misal gw mencoba mutusin mau beli headset di GI, dan itu berarti spending money dong? Tapi setelah di hubungkan dengan dreamboard di atas, gw ngerasa itu headset perlu untuk mensupport latihan listening untuk IBT atau IELTS ntar. Jadi pas di kantor pas lagi ngerjain sesuatu bisa sambil dengerin music bahasa inggris, atau video semacem TEDx, Nouman Ali Khan, dll yang bisa nge-improve listening. Got it?

Atau contoh lain misalnya ketika gw mencoba mengatur waktu. Gw juga ngerasa bisa memilih kegiatan berdasarkan dreamboard di atas. Contohnya beberapa bulan belakang gw mencoba balik tiap weekend ke Bandung (Gw sekarang domisili di Jakarta). Karena ada pelatihan mini MBA supaya bisa masuk ke komunitasnya. Spending cost sama waktu lagi dong? Tapi itu gw ngerasa dengan melakukan itu, bisa mensupport middle term goal untuk bisa (misal) ngebangun perusahaan nantinya

POIN 4. Short term – Middle Term – Long Term – Final Term

Kalo yang udah sekilas lihat dream canvas gw, ada 4 step disana Short – Middle – Long – Final.

Kalo penjelasannya gini:

Final term: Mimpi besar, dan biasanya kalo kita kasih tau ke orang, mereka bilang, ngaco lo, mustahil dah. Dll.
Misal gw mau jadi investor di wahana hiburan, Jadi buat AfifLand, nyaingin Disneyland

Long term: Tujuan di golden age kita sampe masa pensiun. Misal jadi Dirut PLN, punya perusahaan dll

Middle Term: Bagaimana menjembatani menuju long term goal kita tadi. Misal jadi Manager di usia sekian, sudah mulai invest dan punya perkebunan sekian hektar. dll

Shorterm: Plan terdekat kita, what to do next year, 2-5 years, so on

POIN 5. MAIN OPTIONS AFTER GRADS

Biasanya setelah lulus ada 3 opsi utama para freshgrads: Lanjut S2, Kerja di perusahaan or start business. Sebenarnya ga tertutup itu 3 aja sih, banyak cabang-cabang lain. Tapi gw mungkin Cuma bisa kasih saran terkait opsi2 di atas karena itu yang paling sering dilakukan freshgrad

OPSI I: Lanjut S2

Kalo memang tujuan kalian akademisi (dosen, researcher, PHD), ambil S2 SESEGERA MUNGKIN! As soon as possible. Jadi kalo bisa fast track (S1+S2 5 tahun), ambil fasttrack. Persiapkan S2 sejak tingkat 3 akhir, persiapkan TOEFL IELTS di tingkat 4 awal sambal TA. Mulai browse-browse kampus yang pengen di tuju dll.

Tapi kalo kalian bukan mau jadi akademisi saya SARANKAN (ini saran ya, ga saklek), kerja dahulu baru S2. Karena gw ngerasakan banget sekarang, dengan kerja gw tahu “HOW THE REAL BUSINESS WORKS”, how get money, alur nya, technical work nya, ngoding, supply chain, finance dll.

Dengan kerja dulu, ketika kalian S2 nanti kalian bisa langsung kebayang aplikasi dari ilmu yang kalian pelajari. Misal S2 ambil computer science, kalo kalian ada pengalaman kerja dulu, pas kalian duduk di kelas ngoding, kalian langsung kebayang, oh gw bisa aplikasiin ilmu ini untuk efisiensi di produk kantor gw dulu. Gw bisa pake ini untuk improve traction. Atau kalian ambil S2 management. Kalo kalian pernah kerja, oh gw bisa nerapin ini buat manage team gw. DLL

OPSI II: Kerja di perusahaan

Terkait kerja sebaiknya kalian punya beberapa parameter terkait perusahaan yang ingin dimasukin. Poin paling utama sih: dengen gw masuk sini gw bisa belajar. Intinya itu. Sisanya bolelah, terkait lokasi, gaji, dll.

Terkait ini banyak-banyak doa jg sih. Gw dulu udah buat parameter, tapi karena satu & lain hal susah cari yg pas bahkan di reject. Karena dulu gw pngen bgt tuh kerja di minyak, tapi gada yg buka. Terus BUMN bener2 gw coret dari list (ada personal reason). Tpi karena itu jdi malah ga kerja2. Bahkan sempet pasrah, yang penting kerja dulu deh. Tapi ujung-ujungnya sekarang Alhamdulillah dapet kerja sesuai parameter yang gw buat.

Let God do the rest after we do our best. Intinya gitu

OPSI III: Start a business

Ini sekarang yang lagi booming nih, buat startup. Saran simple gw, jangan terbawa Ilusi startup. Gw pengen kaya bill gates, mark Zuckerberg, atau local, Nadiem gojek, Fery traveloka dll. Tapi baca-baca juga startup2 yang fail.

Terus kalian jg harus siap duit buat makan gimana, kalo udah berkeluarga buat makan keluarga gimana.

Terus teman2 jangan lupakan juga, nadiem makarim sebelum di gojek dia kerja di mckinsey, fery dari traveloka juga dulunya di microsoft, andre darwis (kaskus) dulunya developer web di amerika, william tokopedia dulunya engineer di bolehnet, zaky bukalapak dia pernah gagal dulu di startup deft, arief agate dia memang DO tp dia punya koneksi, skill , market dan dia juga alumni TOKI. DLL

Bisa juga kok sambil kerja sambal nyiapin startup. Jangan bilang gw sibuk nih kerja juga jam 8-jam 5. Lah di luar itu kan kosong. Kurangi waktu tidur. Buat konsep bisnis yang mau kita bikin malemnya. Spend weekend untuk network, survey market dll.

Ntar kalo kalian udah ngerasa siap. Bisnis ini jelas marketnya, apalagi udah ada calon investor. Baru resign dari kantor.

Tapi kalo kalian udah yakin, start a business as soon as graduation juga oke kok. Senior2 gw juga banyak yang berhasil menyimpan ijazahnya tanpa pernah di over ke perusahaan buat melamar. Tapi memang mereka mulai usaha sejak kuliah dan mental nya sudah kuat. Dan yang paling penting Risk and challenge taker.

PENUTUP: bukan berarti gw sudah berhasil ya. Gw juga masih baru lulus kok tahun kemarin dan masih baru juga terjun in real life after campus. Jadi at least semoga bisa memberikan perpektif terkait what should I do after graduate.

Btw untuk experience gw sendiri paska lulus, sempet gw tulis mayan lengkap di blog. Sebenernya itu belum selesai tapi yah mangga kalo mau baca2. Semoga bisa bermanfaat :)

https://afifizzatullah.wordpress.com/…/journey-to-find-riz…/
https://afifizzatullah.wordpress.com/…/journey-to-find-riz…/
https://afifizzatullah.wordpress.com/…/journey-to-find-riz…/
https://afifizzatullah.wordpress.com/…/journey-to-find-riz…/
https://afifizzatullah.wordpress.com/…/journey-to-find-riz…/

———–AKHIR SESI BERSAMA KAK AFIF———-

————–SESI TANYA JAWAB————–

1. Penanya Pertama
Tanya: “Mau nanya kak, ingin sekali diri ini bisa menulis sedetail seperti yg kaka sarankan, detail sampai rencana taunan bisa dituangkan diatas kertas, namun hidup terlalu dinamis kak semua rencana berubah total, jadi masih kah kita perlu menuliskan target tahunan untuk mencapai mimpi kita?”

Jawab: Kalo di bahasa startup ada isitilah pivot. Atau banting stir. Itu ga masalah. Gw buat detail kaya gitu jg ga menjamin hidup gw bakal kaya gitu. Bisa aja (misal) gw diterima di perusahaan tambang abis ini, harus mengabdi 5 tahun di tengah laut. Gw ga bisa S2 dong. Tapi gw ngerefrence dream canvas gw tadi. Middle term gw kan bisnis, dgn kerja di tambang at least stelah dr sana gw aman kbutuhan sehari2 dan lebih leluasa bisnis. Jdi mending ga usah S2? Who knows? Revisi lagi dream canvas nya. Ga masalah. Buat dream canvas paling cuma 1-2 jam. Itu mah 1/12 waktu weeekend kalian

Yg paling penting ada quote:
We could write plans with our pencil, but let God have the eraser. To change something better beyond our horizon

Intinya tetap perlu. Menulis. Ga tahunan jg gpp. At least kita tulis. Sama kaya quote itu banyak doa :)

2. Penanya Kedua
Tanya: “Gimana ngeset mimpi, dan create our own goals kalo kita bahkan belum tau passion kita? Dan keadaannya sekarang kuliah di prodi yang ga terlalu disenangi?“

Jawab: Klo masa2 kampus maklum ko galau. Passion itu personally I think DICARI & DISUGESTI. Jdi selain dicari. Lo harus jg self sugesti. Serius. Dri awal bilang ga disenengi ya bakal selalu ga disenengi. Try self sugesti. Trus. I love this thing. I believe with this thing could give benefit.

Tpi misal emg mau banting stir. Liat opsi & keadaan. Dan again. Sblum banting stir bnyak2 doa. Pray to God. Help me make decision. Trust me lo bakal bersyukur atas apapun decision lo. Meski itu hrus pivot

Tanggapan: “I’ve tried, memberi sugesti terus, cari sisi positif then semangat sih, tapi selalu ketemu titik jenuh lagi. Then repeat. Ada cara lain kah?”

Jawaban: Banyak baca and go out of your home. Try something new. See more open & diperluas. Mumpung bagus kita diumur skrg udah sadar & galau. Jdi kita bisa jdi sedikit org yg bener2 plan about our future

Tanggapan: “Tapi ka, kita keluar rumah tanpa tujuan kan lebih bingung kak”

Jawaban: Gapapa. Kita keluar dgn tujuan mencari tujuan :)

3. Penanya ketiga
Tanya: “Bagaimana cara kak afif bangkit dari kegagalan dan cara menentukan tujuan yang spesifik dari range yg masih luas. Kalaulah kita sudah tahu passion kita apa ?”

Jawab: Bangkit dari kegagalan selalu inget2 aja masa depan. We still have a chance to decide our own future. Gw sering bgt gagal jujur serius. Dan kecewa depresi itu normal. Tapi jgn berlarut2. Dan segera ambil pelajarannya. Plus go back to Our Creator. Minta doa terbaik dr Nya

Dr luas ke spesifik di riset. Di analisis. Dan dipikirin. Ga bisa instan klo itu. Wajib luangin waktu utk itu :)

———–AKHIR SESI TANYA JAWAB———

Moderator: Kalo boleh menyimpulkan, meminjam petuah kang alexander sutherland neill : “if the emotions are free the intellect will look after it self”. Bagaimana cara memulai? Bukalah pikiran, selanjutnya coba lakukan dengan tindakan, cari kawan. Kemudian coba lagi, coba terus. Selebihnya serahkan kepada Tuhan. Baik menurut kita belum tentu baik menurut Dia. Dia Maha Tahu. Kita yang kadang sok tahu.

CLOSING STATEMENT DARI KAK AFIF:
Intinya jgn kira gw udah settle ya. Gw jg ini masih deg2an kok. Ini ntar masa depan gw gimana ya haha. Tpi at least gw mncoba menstrukturkan itu. Dan terus memperjuangkan itu. Jdi ga mau let it flow ngikut kemana arus pergi

Dan terus trust me. You ll never live forever here. Jadi siap2kan jg for hereafter :)
————————————————————————————————————

Forum Indonesia Muda (forumindonesiamuda.org)
https://www.instagram.com/fimnews/
https://www.facebook.com/ForumIndonesiaMuda/
https://twitter.com/fimnews

Titik Balik
http://line.me/ti/p/%40titikbalik
http://facebook.com/titikbalik.id
https://www.instagram.com/titikbalik.id

Work Lesson #2: In between

Setelah sekian lama akhirnya nulis lagi. Kebetulan beberapa minggu kemarin lagi peak pace project di kantor, bahkan hampir setiap weekend harus ke rumah sakit, gara-gara waktu deploy alat yg lagi kita design, supaya ga terlalu ganggu operasi di rumah sakitnya cuma pas weekend. But I don’t know why, I truly enjoyed it. Alhamdulillah.

Well in this post, saya mencoba mencurahkan beberapa pembelajaran yg didapat selama kerja, karena jujur, baru beberapa bulan di company sekarang saya merasa lebih banyak belajar in term of real case application dari apa yg dipelajari selama di bangku kuliah. Jadi let’s start the first lesson.

Well, as a business analyst (BA) I am really placed in between bunch of things. I found this picture through googling and I think it could explain more or less about the role of BA inside the company.

xbusiness-analyst-roles-png-pagespeed-ic-3_ve-64xlt

Role as BA (source: scnsoft.com)

Particularly in IT business like the company where I’m working for right now (NTT Data), BAs could be said as a bridge between two big divisions, Business and Technical, which both of them have each own interest and concerns respectively.

Gampangnya bisa lihat lagi gambar kedua yang saya dapat juga dari google:

mcom-ba-training-module-1-10-728

So far around 8 months I’ve been working in here, saya benar-benar merasakan role “in between” tersebut.

Untuk make it simple, let’s say ada dua tim yang masing-masing punya kepentingan. Tim pertama sebut saja Business team, dan kedua adalah Technical Team.

Business team ini concern utamanya adalah making money, they think fully about business, bagaimana kondisi market, bagaimana peluang disana, dan bagaimana supaya mereka bisa make a cash from them. Solusinya adalah dengan menjual produk ke market.

Nah produk ini, yang membuat adalah Technical team. Mereka berpikir dari sisi teknis. Apa saja teknologi yang digunakan, bahasa pemrograman yang digunakan, berapa lama waktu pengerjaan, dan feasible atau tidak dikerjakan dengan tim yang ada.

Sometimes, terjadi konflik between both of these teams. Dan biasanya yang paling sering disalahkan adalah a bridge between them, yaitu BA sendiri. Saya pernah merasakan sendiri dimarahin dari dua sisi ini. Ya begitulah memang kelemahan menjadi orang ketiga, lol.

But I could learn much things from here. Tentang bagaimana melihat point of views dari masing-masing tim. Business side, concern utamanya adalah customer. Bagaimana mereka bisa memberikan solusi terbaik untuk konsumen. Terkadang di tim ini butuh orang-orang yang risk taker. Mereka yes man dengan customer, padahal belum tau solusi ini oke atau ga jika diaplikasikan. Mereka siap mengambil resiko, karena kalo play safe, gimana customer bisa yakin dengan solusinya.

Teknikal tim lebih memikirkan bagaimana membuat produk sesempurna mungkin. Terkadang di tim ini butuh orang-orang yang safety player, supaya mereka concern in details. Bagaimana produk ini tidak ada cacat sedikitpun. Tidak ada bug sedikitpun. Makanya biasanya ada QA dan juga Tester untuk memastikan produk ini sempurna.

Sometimes, business people nge push technical supaya segera launch tanpa berfikir detailnya. Padahal dari sisi technical ga segampang ngebalikin telapak tangan menyelesaikannya. Tapi justru kalo tanpa push ini, technical tim cenderung kehilangan eksternal force dan terus berada di comfort pace. Both of them I think benar-benar saling melengkapi. Sebuah catatan pembelajaran untuk kedepannya supaya tau kapan harus jadi risk taker dan safe player. Yaitu bagaimana mencari the best solution dengan mempertimbangkan kepentingan kedua sisi to solve the problems.

Umm.. bingung mau nulis apa lagi, haha. Untuk post pertama semoga cukup. Semoga bisa melanjutkan di post work lesson # series berikutnya. Overall I really thank to Allah who has given me an opportunity to learn in here. La hawla wala quwwata illa billah []

Heart theory: stone, cotton and time-discrete

You know a stone? It’s totally hard and firm. That’s what our heart is. And cotton? So soft, fluffy and white. That’s what our heart is as well. In certain discrete time-frame.

I learned new thing again yesterday. My friend randomly invited me to join Islamic Study (Kajian Islam) yesterday at Masjid Al Azhar, not too far from my office in fact. But due to my heart is still in firm condition, I refused his invitation. “C’mon I was so tired after office and it was so lazy to burden my mind again with such thing”, that was my thought at that time.

Flashback in past, there were some moments that I was truly enthusiast to join islamic study, mentoring, or kind like those things, even the place were so far from mine, even my mind was still full of stressful stuffs and even the weather is in super hot and rain condition. “I need to recover my tiring mind out of these perishable things and I’d love to join it”, that was my thought at that time.

See my point?

Well that our heart is. Unstable and full of uncertainties. Therefore

“In term of asking someone to do something, if the time is not right, it’s improbable”

We cannot force someone to do something we want arbitrarily. Well I use a word “Improbable” which means almost never happen (let’s say 90%), not “Impossible” which 100% never happen. In certain condition we could, but it’s extremely rare.

Because heart is something we are not able to touch. Heart is the business between only the creature and its Creator. We cannot interfere with that.

The changes in our heart is likely framed at the discrete-time coordinate. It’s digital and be able to change drastically between one signal to another.

So we cannot guess the heart of someone by looking at the signs, omens or indication in the every time like continuous one has (left graph), but only in some sampling times. Let me try to explain as simple as possible.

  1. Heart of someone x(t) changes through time (t) in the continuous left-graph. Only s/he knows what happen to his/her heart through time, and indeed with his/her Creator.
  2. We see someone’s heart x[n] just in sampling time [n], not in continuous one (t), because we cannot follow his/her activities everyday like a squire. Therefore if we see someone at x[1] = in the morning, then we see him/her again at x[2] = in the night, and he/she changes drastically, it’s normal, because its just sampling time at n=1 and n=2. Those in between x[1] and x[2] which is in the afternoon, we aren’t able to know.

Okay, I wish you got my point, lol. And anyway it’s just what so-called match-ology, don’t take it so serious. The simple conclusion of that above complicated theory is

“Heart is a business between people and the Creator, and it is possible to change unpredictably through time, like sometimes it could be hard like a stone or soft like a cotton”

But what are the applications of this random heart-hypothetical-theory? Let’s see:

Relationship within family

All family members must understand this theory so that each of them will understand one to another.

For example a husband who found his wife changes suddenly after he came back from the office, then it’s normal. Don’t be so shock. Because heart is able to change even for no reason.Therefore the husband has to realize he has to be more patient than before and wait for the right time to talk. And it’s vice versa for the wife too.

The parents also have to realize the children’s heart are able to change unpredictably as well. Therefore it needs more understanding and patient to face them. Sometimes strict action is needed, otherwise smooth action might be the best one. Well there is no formula and exact theory related to this, you have to learn directly and with the hindsight.

Time spending within family

Discrete time signal is able to become similar to continuous one by using as many as samples [n] possible or if the sampling time is near to infinite.

Therefore in order to know someone’s heart more accurately, we have to spend as much time as possible with him/her, or in this case with our family. Especially for the parents to their children, time is the most precious thing they can give more than anything at all.

Da’wah

Like things I mentioned before in the second and third paragraph, heart or in this case iman is up and down through time. We as a d’ai (someone who do da’wah, or someone who ask people for good things) must also know this theory that the heart is always changing.

For example today we ask our friend to do prayer at Masjid and he refused, that means at that time his heart is still in stone phase. What we have to do is don’t get bored to ask them, but also not in rapid repetition. Wait for the time, and ask him again slowly. There should be a time his heart becomes like a cotton and he will join us to go to the mosque. Those are also valid for such asking to join ta’lim, fasting, mentoring, etc.

Soulmate Hunting

And last but not least, maybe the foremost one, this theory is also applicable for soulmate hunting. Lol.

The heart of a man or woman is able to change. Therefore there was a proverb that never give up before get rejected 21 times. Okay it’s a bit exaggerated. The point is according to the theory, the heart of someone is able to change through time and we’re not able to guess it.

Always count the variables change. In this case the variable heart and time is not our authority to control. We need an exact right time and an exact right heart in the corresponding exact moment, and He is the only one who knows it.

Therefore the main thing in soulmate hunting, is we always ask for the Owner of the Heart to give us the best soulmate in the future.

—-

Heart is complex. Never ever try to play with it. It’s also totally fragile. We have to be careful with our heart and other people’s. Hidayah is also the only authority of Allah, we impossibly interfere with that. But we have a chance to be a bridge to give it to the other people.

Be patient and always think from the other people’s shoes. Never presume that they are in the same condition with us. Because by respecting one to another is the only way we could live in harmony.[]

Ignition and Mindset

Exactly minggu kemarin, I spent my weekend to join the ignition of 1000startup digital di kampus Universitas Trisakti Jakarta. First time to come to this campus too anyway, dan it’s totally worth it.

Acara ini diinisiasi oleh Kibar, dan sebenarnya saya dulu ketika tingkat akhir di kampus, juga sempat mengikuti mata kuliah “Technology Based Business” di SBM ITB, which is also the initiation from Kibar as well and the first course opened about startup in campus in Indonesia. Cool isn’t it!

—-

To the point. Acara ignition ini diisi dengan dengan 5 panel discussions dengan topik berbeda-beda, dengan tujuan membentuk pola pikir tentang membangun sebuah startup itu sendiri.

Yap emphasize once more “membangun pola pikir” adalah hal utama yang perlu dikuatkan before we create a startup.

How should I begin? What to do? What do I need? What is the vision I should create?

Adalah pertanyaan utama kebanyakan orang ketika ingin membangun sebuah startup, and all of them are answered through these 5 panel discussions.

Find a Problem and Solve it!

I think that’s the first and foremost main point yang perlu ditanam di alam bawah sadar oleh para calon founder.

Creating a startup is not about starting a business and get the profit, but instead it’s all about how could we solve people problem and create a value out of this

Dan to be honest itu sejalan dengan salah satu visi hidup yang ingin saya capai which is bermanfaat untuk orang lain. I wish I could really be able to contribute something to people and according to my background, my present and my dreams I have a chance to choose this startup way to achieve that long term life-goal.

A Strong Reason and Persistent

That the second main point I got by hearing the panel discussions. Setiap pembicara memiliki their own story, dan jangan berharap startup story mereka seperti yang tertulis di cerita-cerita Disney which almost all of them has a happy life with a happy ending ever-after.

Alasan kita harus kuat sebelum membangun startup agar tercipta persistensi yang besar ketika menjalankannya

If it is just for money only, or so that we could have happy weekend in our every weekday, it’s better to stop dreaming to enter the startup life. You will directly get depressed and give up in a glance. We need to be persistent and ready to ‘gamble’ our life with hundreds of challenges and problems everyday waiting to be solved

Collaboration and Vision

Trust me (dari para pembicara), they won’t be able to create a big impact to society if they created those startups ALONE apalagi tanpa visi yang besar. That’s the third main point of this ignition phase.

You DO need to collaborate, therefore you need a co-founder

Saya pribadi dulu waktu di kampus pernah iseng nyobain buka bisnis sendiri, and I really felt how depressed I am to initiate and create a sustainable one. Because I didn’t have support from anyone, terutama ketika diri sudah merasakan putus asa dan enggan untuk terus maju. Persistensi tadi dapat dibangun dengan kolaborasi. Dan dengan kolaborasi we are also able to have a big vision in the future, so we always have a strong reason to keep moving forward since we have a big meaningful vision to achieve together.

Idea is Cheap but Execution is Expensive

Well, one for all, teori di atas hanyalah sebatas teori dan semuanya klise dan normatif jika tidak diikuti dengan AKSI yang nyata. Oke ini sebenernya juga rada JLEB ke saya sih.

Startup is not about idea, startup is about execution

Semua pembicara di atas, ga akan jadi seperti sekarang tanpa keberanian eksekusi. Mau sebagus apapun ide kita tanpa eksekusi yang nyata, ga akan jadi apa-apa. Ide yang biasa tapi diiringi dengan eksekusi yang kongkrit bisa terus melakukan recursive improvement dan in the end berdampak untuk banyak orang.

So let’s just do it!

Percikan Inspirasi

Pagi ini untuk kesekian kalinya terinspirasi, merinding membaca seorang muslim yang humble, low profile namun berhasil membuktikan dirinya dalam percikan kontribusi untuk Indonesia.

postcard-61

Ya dia lah sosok menteri ESDM baru Dr. Arcandra Tahar. Benar-benar terharu membaca profile nya dari tulisan ini:

Menteri ESDM, Arcandra Tahar, Guru Ngaji yang Pakar Offshore

Seorang alumni mesin ITB ’89 yang melanjutkan studinya ke negeri Paman Sam, menjadi peneliti hingga professional yang mengaplikasikan ilmunya untuk banyak orang. Well saya ga begitu mengerti in detail what he has done terkait offshore but I’m totally sure it’s something big and has a great impact.

Yang paling membuat rasa inspirasi ini membuncah adalah kutipan-kutipan kalimat berikut:

“Keseharian selama kami mengenal beliau di Houston, beliau sosok Islam yang taat, family man,kata Ira

Ayah 2 anak ini adalah pendiri Indonesian Family Academy, lembaga yang setiap hari Sabtu mengajarkan anak-anak secara sukarela membaca Alquran dan kajian tentang Islam.

“Ia turun tangan langsung bersama istrinya memberikan pelajaran Alquran dan Agama Islam,” ujar teman dekat Arcanda pada GATRAnews.

MasyaAllah. Such a total inspiration this morning. Dunia dan akhirat.

Benar-benar menjadi suntikan motivasi untuk bagaimana menjadi seorang muslim yang tidak hanya mengejar akhirat tapi juga dunia. Wait? Sebenarnya kata-kata itu rada tricky, semoga tidak salah menangkap. Mengapa akhirat disebut dahulu? Terkesan seperti dunia lebih utama dari akhirat?

Karena niche market yang saya maksud untuk tulisan ini adalah mereka yang sudah mematok akhirat dititik tertinggi. Tidak akan bisa bergeser oleh apapun yang berbau dunia. TAPI, tetap harus memiliki tujuan dunia di bawahnya, dan linear dengan dengan titik tertinggi akhirat tadi.

Pak  Arcandra, tetap menjujung tinggi islam, prinsip tertinggi dalam hidupnya, namun juga bisa berbuat sesuatu di dunia. Menginspirasi dunia dengan what he has done bukan who he is. Meskipun pada akhirnya dunia juga akan terkena percikan inspirasi, mengenal dari siapa dirinya yaitu seorang muslim.

Teringat dulu kata-kata seorang mentor dulu saat mentoring di salman. Sebagai alumni ITB kita tidak dituntut untuk menjadi seorang ustad dalam ilmu islam, I mean ustad-ustad yang literally biasa kita kenal. Meskipun ilmu islam wajib juga dipelajari. Tapi justru kita dituntut untuk menjadi engineer ataupun perekayasa dalam ilmu jurusan yang kita pelajari, dan mencari ranah kontribusi di sana, dengan tetap mutlak jati diri muslim melekat kuat di dalam hati. 

Ustad dalam ilmu islam ibaratnya menjadi “side-job” dari alumni ITB. Seperti yang dilakukan oleh Pak Arcandra ini. Beliau job utamanya sebagai engineer perminyakan, namun di sela-sela waktunya tetap mengajarkan Al-Quran dan juga ilmu-ilmu islam pada orang-orang disekitarnya.

Sebagai penutup saya hanya ingin berdoa. Ya Allah, mampukanlah saya dan juga pemuda muslim lainnya untuk bisa mengikuti jejak beliau. Aamiin.[]