W & P Variable


Experience does matters, doesn’t it. Terkadang untuk mengambil ilmu & pembelajaran dari sebuah pengalaman akan lebih mudah dan bertahan lebih lama dalam memori ketika kita sendiri yang melakukan pengalaman tersebut.

Well we can be inspired and learned from other people experience. But the effect is totally different. Mendengarkan cerita orang lain, pengalaman mereka, kesalahan yang mereka buat, dapat menjadi suatu pembelajaran bagi diri untuk menirunya jika baik ataupun menghindari nya jika buruk. But sometimes it will be just vanished the moment we get distracted by our own life, which must not be same with life of the ones we learned to.

Agree?

I do. I just experienced it by myself. About W variable (which is work) and P variable (which is prayer) in life.

Adalah suatu idiom umum, usaha dapat mengalahkan bakat. Man jadda wa jadda, siapa yang bersungguh-sungguh maka berhasil. Tidak ada yang sia-sia dalam berusaha. Dan seterusnya. Dan sejenisnya.

Well it’s true man! Saya merasakannya sendiri, dalam konteks ini yaitu dalam hal lari. Yap running. I started to routinely run recently. First because I have friends to run with. Second because there are many things now that make running is cool exercise. Cool means it’s easy to do it and it’s definitely affordable. Lol. True, we just need foot right. A bit will indeed.

640-Run-brother-l.jpg

First time running event I joined was 10K run in Jakarta. I finished it around 1 hour 11 minutes. But I felt brutally exhausted at that time. It’s been long time to have no routine exercise, then suddenly have to run 10K. Knocked Out! You know one day after race day, I took a leave. Lol

Subsequent to that event I started to use NRC apps, stands for Nike+ Run Club. It’s able to measure distance, time & pace of our running. And the cool thing is it also has coach feature, for example the one that I am currently using right now, the coach for preparing Half Marathon. I follow that schedule week by week. It usually consists of 2-3 runs per week. And it combination of interval run, speed, long run, recovery run, and others -depend on our condition and our goal. Early day, a bit inconsistent, but right now, well quite better.

I have friends as well to accompany me running both in weekday and weekend. And in some weekends we usually joined NRC event. Run together with the other NRC users. It was exciting to be honest. Another one reason that makes running is so cool.

You know, setelah beberapa bulan ke belakang, I did it routinely, yaitu sesuai dengan jadwal yang ada di NRC apps. Saya merasakan sesuatu yang beda ketika melakukan olahraga lain. Contohnya badminton. I started to play with friends routinely in every sunday. Dan entah mengapa I am not easily to get tired now. Terutama dari sisi nafas. Bisa lebih stabil dan not really easy to out of breath. Buktinya ketika main, double, single, terus double lagi, terus single lagi. I felt still good. Dan menang lagi :p

The point is work works. Usaha itu tidak akan pernah sia-sia. Dibanding dengan jauh berbulan-bulan lalu saya juga lari 5K, 10K sangat super ngos-ngosan. But now, masih aga ngos-ngosan sih, but not really hehe. Bahkan ketika lari dengan pace rendah, bener-bener ga kerasa capek, malah kayak jalan. While the others were tired instead. Others maksudnya yang baru-baru mulai lari gitu. Kalo dibanding pacer-pacer NRC mah kalah jauh. Well mereka juga lebih rutin & lebih lama lagi latihan lari tentu nya. Conclusion, work matters man!

Second thing about variable P, which is Prayer. Seperti di post sebelumnya, saya sekarang bekerja di early stage startup sebagai Associate Product Manager. As an APM I have to report directly to senior PM as well as CEO of the company. FYI, ini salah satu kelebihan bekerja di startup yaitu kita bisa langsung satu ruangan dan berdiskusi dengan executive dan team leaders, karena indeed team di early stage startup masih kecil dan struktur organisasinya tentunya juga masih ramping. Jadi interaksi antara even junior dengan executive sering terjadi.

Terkadang bahkan saya terjebak dalam satu diskusi langsung bersama dengan CEO, CTO dan COO this startup, -baru banget beberapa hari yang lalu- yang ketiganya sudah sangat experience. Another FYI, in startup I am working for right now, the founders are so experience. Eks Mc Kinsey, Deloitte, and some of them had founded successful acquired-startup in their past. Makanya ketika ngbrol terkadang saya agak sulit buat ngikutin, bahkan saya pernah berada sendiri, silent, dan berusaha mencerna in between their debates. Penasaran startup apa? Ntar deh saya cerita di post lainnya hehe. Semoga sempet.

Ohya. Karena founders nya super experience, terutama CEO nya, jadi sesekali (hmm ga ding) sangat sering bahkan, saya melakukan kesahalan. Mulai dari yang sepele sampai yang fatal. Jadi ga jarang juga saya kena semprot langsung oleh CEOnya, sampe ngerasa sudah kayak mau dipecat gitu haha. Semoga ga.

Jadi lumayan berbeda dengan kerjaan sebelumnya, di corporate, lumayan stabil, banyak duit, payung nya gede. Jadi pace nya santai. Kalo di startup yang bagus (banyak startup yang abal-abal emang), dan founders nya oke, kita dipaksa untuk marathon. Ga cuma marathon, tapi sambil sprint. Jadi pace nya cepet banget. If I was slow, then I would get scold! Sempet trauma bahkan, dulu pasca dimarahin, malem nya langsung ke bawa mimpi haha. But Alhamdulillah saya merasa bersyukur, accelerated learning nya bener-bener kerasa.

Ohya, kembali ke topic variable P. Disini karena sering dimarahin, jadinya saya sekarang sebelum berangkat kerja selalu doa keluar rumah. Every day, ketika saya ngelangkahin kaki keluar kontrakan, sambil di gojek, dan sebelum masuk kantor.

Bismillahi tawakkaltu’alallah, walaa haula wala quwwata illa billah

Dan kata-kata terakhir dari doa tersebut, “laa haula wala quwwata illa billah”, selalu saya ucapin di ruangan, ketika kerja, ketika data mining, coding, ngelakuin analisis, apalagi sebelum report atau meeting dengan CEO nya. Wajib itu haha. Selain itu juga saya biasanya banyak-banyak istighfar. Karena mistakes itu terkadang kita buat tanpa sepengetahuan kita, mau seteliti apapun kita. Sepandai-pandai tupai melompat pasti jatuh juga kan. Yang paling penting apakah timing kesalahan itu fatal atau ga. Effectnya gimana. Nah itu kan out of control. That’s what prayer for.

And it’s proven!

Ketika dulu, jarang dzikir, doa keluar rumah kalo inget aja, jarang istighfar. Kesalahan yang dibuat bener-bener fatal, dan sering dimarahin bos. But when I dit that dzikir, istigfar, doa, entah kenapa, I sometimes still created the mistakes but the timing was okay, I mean I still was be able to fix it. Dan entah kenapa juga terkadang pak Bos CEO, lagi slow, jadi malah memaklumi dan malah nasehatin buat improve. Prayers works man!

Experience matters. Self-experience more matters! Saya merasakan keduanya, bahwa varibale usaha dan doa itu benar-benar ada. And we have to combine both of them in our life. Tidak ada usaha yang sia-sia, nothing is wasted if we do something toward our goals. Doa itu sangat, sangat berdampak terhadap hasil nya. Which is out of our control. So let’s user these two variables! Allahualam.[]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s