Project RDM1.0: Pertemuan


Mataku terbuka, melihat megahnya pelabuhan terbesar kedua di Eropa setelah Rotterdam. Ribuan kilometer dari kampung halaman aku sekarang terdampar sendirian di Hamburg, kota tua utara Jerman tempat keluar masuknya kapal kontainer besar pusat ekspor dan impor negara. Kicauan burung camar menandakan senja semakin dekat, diiringin langit kemerahan tanda matahari akan segera terbenam, hilang dari pandangan.

Sendiri diri melangkah menyusuri dok pelabuhan, melihat turis berlalu-lalang meski hari sudah hampir gelap. Hampir semuanya pirang, dan aku tidak tahu dari negara mana mereka berasal. Yang aku tau mereka disebut bule di negaraku.

Tiba-tiba, ditengah keramaian orang dan berisiknya kapal yang berlabuh juga akan berlayar, mataku melihat sosok itu. Perempuan seumuranku menggunakan jilbab yang cukup lebar. Dia berjalan ke arahku dengan kontur muka yang aku yakin dia orang Jerman. Hampir satu minggu hidup disini aku cukup familiar dengan orang Jerman, dan mungkin aku sudah memiliki intuisi untuk membedakan mana muka orang lokal dan mana muka turis dari negara eropa lainnya.

Jujur, sangat jarang aku temukan perempuan Jerman menggunakan jilbab, bahkan hampir tidak pernah. Kejadian itu berjalan begitu cepat, karena dia sendiri berjalan sedikit terburu-buru sepertinya sedang mengejar sesuatu.

Bola mata kita sempat bertemu di satu titik dengan durasi yang sangat singkat. Alat pengukur waktu tidak akan mampu untuk mengukurnya. Ketika berpapasan, aku segera menundukan kepala. Dia pun begitu. Dia berjalan ke arah sebaliknya. Ada asa untuk menoleh melihatnya, tapi aku mengurungkannya. Istighfar langsung kuucap dan kembali melangkah memasuki wilayah pertokoan pelabuhan.[]

—-

Aku melangkahkan kaki keluar bandara, dan hembusan angin yang sangat dingin langsung menusuk hingga tulang punggungku. Akhirnya aku merasakan musim dingin pertamaku. Tanda minus muncul pada suhu kota Seoul yang sempat aku cek sebelum keluar bandara. Menandakan aku harus bersiap dengan menggigilnya badan meski sudah menggunakan jaket yang tebal.

Pepohonan tanpa dedaunan. Orang yang berlalu lalang sambil menggosok-gosok kedua telapak tangan. Dan sedikit butiran-butiran salju yang sudah mencair di pinggir jalan. Semakin mengokohkan diri bahwa aku sudah berada di salah satu musim yang tidak akan pernah aku temukan di kampung halamanku. Allah akhirnya memberikanku kesempatan menikmati salah satu musim ciptaanNya yang hanya ada di bagian tertentu bumi. Segala puji hanya milikNya.

Aku berjalan menyusuri trotoar dengan sangat berhati-hati agar tidak terspleset dan jatuh. Koper kutarik di belakang dengan sangat pelan agar menjaga kestabilan badan yang semakin lama semakin kaku seakan-akan berada di dalam freezer kulkas ukuran besar. Tiba-tiba, ditengah fokusnya mata melihat maps dan jalan tapak didepan, telingaku mendengar sautan dengan bahasa yang tidak asing lagi di telingaku, bahasa Indonesia.

“Mas, mas orang Indonesia?”

Aku langsung menoleh ke seberang jalan. Seorang perempuan melambai-lambaikan tangan, menggunakan kupluk dan syal tebal, berkulit sawo mateng, berambut hitam lebat, dengan muka khas yang sama dengan orang-orang yang ada dikampung halamanku. Dibelakangnya ada segerombolan orang juga dengan kontur muka khas orang Indonesia, membawa koper juga tas punggung dan salah satu dari mereka menggunakan sweater bertuliskan “Institut Teknologi Indonesia”

Perempuan yang pertama kali menyapa tadi langsung menyebrang menghiraukan tidak adanya zebra cross di jalan, menuju kearahku

“Hai mas halo. Aku juga dari Indonesia. Aku dan teman-temanku sedang kebingungan nih bagaimana cara menuju ke pusat kota. Kita rencana mau ke hotel di dekat Masjid Seoul di Itaewon. Tapi ini pertama kali kami ke luar negeri, cara pakai kereta atau bus disini juga bingung gimana caranya. Melihat orang indonesia lewat jadi seneng banget. Mungkin mas tau?”

Aku sedikit speechless. Karena kejadian random yang terjadi tiba-tiba tersebut. “Mengapa tidak tanya saja ke information center sih”, pikirku. Tapi ketika ingin berpikir lebih lama lagi perempuan tadi langsung menyapa kembali.

“Mas, mas kok melamun? Orang indo kan?”

“Ah iya, aku kebetulan juga pertama kali kesini. Tapi kayanya kita menuju ke arah yang sama. Kebetulan aku juga mau ke Itaewon naik Airport Bus.”

“Wah kebetulan sekali. Kita boleh ikut ya mas!!”

“Guys kesini, mas nya tau cara ke Itaewon”

Seenaknya saja dia berteriak ke arah teman-temannya. Menghiraukan dirinya menjadi pusat perhatian ditengah orang-orang yang lalu lalang.

“Namaku Zahra mas, salam kenal”

Tangannya yang tidak menggunakan sarung tangan menyodorkan untuk berjabat tangan. Aku yang kebetulan juga tidak menggunakan sarung tangan, hanya bisa merapatkan kedua telapak tanganku di depan muka tanpa membalas sodoran tangannya.

“Salam kenal juga. Aku ….

—–

PS: Lagi random aja, baru mulai mendapat load kerja dari kantor baru. Jadi pengen nulis novel dengan latar pengalaman ke beberapa negara pas kuliah. Haha. Novel-novel ceum Kang Abik gitu. Tapi ntar lah sebelum nulis novel kayanya harus ada satu “pre-requisite” dulu yang harus terpenuhi. Hihi.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s