Ibu


Random pagi ini baca-baca kisah ibunda para ulama yang bisa dibuka di link ini

https://kisahmuslim.com/5227-ibunda-para-ulama.html

Atau misal mau visual yang lebih menarik bisa dilihat disini

https://www.facebook.com/media/Ibunda-ulama

Merinding bacanya serius :’) Ulama-ulama besar memang tidak dibesarkan oleh sembarang perempuan. Merekalah yang mendidik bahkan menemani calon-calon ulama besar tersebut, tidak hanya saat masih kecil, tapi juga semenjak masih di dalam kandungan. Mungkin 9 bulan itu bayi-bayi di dalam perut selalu dekat dengan lantunan ayat suci Al-Quran dari para Ibunya. Juga dengan dengan aktivitas-aktivitas ibadah dan bermanfaat yang dilakukan ibunya. Ah begitulah kebesaran Allah dalam menunjukan role model yang tidak akan bisa pernah sirna oleh masa.

Bermula dari membaca tulisan dari link di atas. Ingin sedikit mem-flashback diri. Tentang keluarga kecil yang selalu aku syukuri. Qada Allah yang telah tertulis bahwa aku terlahir di keluarga ini. Alhamdulillah. To be honest, aku bersyukur, aku dan adik-adikku diberikan kemampuan otak yang cukup tinggi. Bisa dibilang (kalo sesuai tes IQ) kami bertiga di atas rata-rata. Tenang, banyak kok yg IQ di atas rata-rata. Jadi bukan berarti kami spesial haha. Tapi cukup diberikan karunia lebih di ranah intelegensia.

Simpelnya memang kami bertiga sejak SD Alhamdulillah, yah setidaknya sering masuk 3 besar kelas. Meskipun di pelosok Palembang sana, biasa aja, emang. Tapi Alhamdulillah (untuk sekian kalinya), tetap konsisten hingga sekarang yaitu kami bertiga bisa masuk di 3 Universitas besar negeri, ITB, UGM dan Unpad. Dan aku yakin ini tidak lepas dari didikan orang tua, khususnya Ibu.

Family-father-and-mother-I-love-you.jpg

Sedikit mengutip, dari link di atas, kisah Ibunda Muhammad Al-Fatih, salah satu role model favorit, dan cerita tentang ibunya ternyata juga luar biasa

Setelah shalat subuh, Ibu Sultan Muhammad al-Fatih mengajarinya tentang geografi, garis batas wilayah Konstantinopel. Ia berkata, “Engkau –wahai Muhammad- akan membebaskan wilayah ini. Namamu adalah Muhammad sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ. Muhammad kecil pun bertanya, “Bagaimana aku bisa membebaskan wilayah sebesar itu wahai ibu?” “Dengan Alquran, kekuatan, persenjataan, dan mencintai manusia”, jawab sang ibu penuh hikmat.

Itulah ibu Muhammad al-Fatih, mendidik anaknya di waktu berkah pagi hari. Dia tidak membiarkan anaknya terbiasa dengan tidur di waktu pagi. Ia lakukan sesuatu yang menarik perhatian sang anak. Memotivasinya dengan sesuatu yang besar dengan dasar agama dan kasih sayang, bukan spirit penjajahan.

Merinding ga sih? Pengen nangis ga sih? Serius I’m shedding tears while reading this. Terharu pisan, memang didikan ibu sangat besar pengaruhnya terhadapa akan jadi apa anaknya di masa depan.

Mebaca kisah tersebut teringat kembali flash-back masa lalu. Dimana Ibu selalu membimbing kami bertiga. Sejak SD teringat dulu ketika belajar, terutama dekat-dekat mau ulangan atau exam, Ibu yang selalu membantu kami belajar. Teringat dulu ibu yang selalu membacakan soal dan aku menjawabnya. Biasanya ketika belum banyak bisa menjawab, ibu selalu memberikan kesempatan aku untuk membaca kembali buku pelajarannya. Kemudian setelah selesai, ibu kembali membacakan soal (dulu) pilihan ganda, dan aku menjawabnya hingga cukup lancar.

Bahkan saking seringnya Ibu membacakan soal, pagi sebelum berangkat sekolah ibu kembali mengulang menanyakan tanpa melihat buku. Misal

“Fif, apa nama bacteri nata de coco?”
“Umm.. Acetobacter xylinum”
“Kalo mentega?”
“Streptococcus lactis!!”

Kebetulan dulu emang aku paling parah dalam hal IPA terutama terkait biologi atau hafal-hafalan lol. Itupun data-data di atas di dapat barusan dari google bukan karena masih inget haha. Yah begitulah. Berbagai pelajaran terkait teori dan hafalan, selalu ibu yang menemani kami bertiga sebelum ujian. Nah kalo matematika dan logika emang bapak yang jago dan selalu belajar sama beliau. Ga jago-jago amat sih sebenernya wkwk. Tapi dibanding Ibu lebih jago bapak untuk urusan hitung-hitungan. Kecuali hitungan belanja bulanan mungkin lol.

Itu berlanjut hingga SMP. Ketika SMA aku di asrama dan mulai hidup sendiri. Tapi karena selalu dingatkan untuk belajar, jadi pengulangan tersebut tertanam dalam pikiran bawah sadar. Dan aku juga percaya IQ itu berasal dari otak yang selalu digunakan dan di asah. Mulai dari TK hingga SMP ibu selalu menemani belajar dan membuat otak kami bertiga selalu digunakan yang (mungkin) mempengaruhi angka IQ. Makanya adik aku yang bungsu bisa dapat IP sempurna di awal semesternya. Yah kalo aku sih (untuk ukuran ITB) mayan lah *pembenaran* *puk-puk diri sendiri* haha.

Ada satu lagi sebenarnya yang urgen yang diturunkan Ibu ke kami. Yaitu tentang habit dan ilmu agama. Semoga bisa nulis di post selanjutnya aamiin.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s