Journey to Find Rizq (II): Opsi-opsi


Post ini kelanjutan dari post sebelumnya, bisa dibuka di link berikut:

Journey to Find Rizq (I): Short, Middle and Long term Plan

Untuk mencapai middle dan long term goal, didiferensiasikan lah menjadi milestones jangka pendek yaitu “what should I do after grad?” Untuk menjawab ini aku mencoba memetakan peluang dan keadaan. Sehingga terdapatlah 3 cabang opsi short term plan, yaitu:

Lanjut S2 di luar negeri dulu, langsung terjun di dunia bisnis, atau bekerja dulu di suatu perusahaan.

asd

Opsi 1: Lanjut S2 di luar negeri

Hmm. Sangat ingin sebenarnya. Dan memang sejak tingkat 1 ingin sekali melanjutkan studi di luar negeri. Apalagi di negeri Paman Sam, Amerika. Wah mimpi dari SMA kalo ini mah. Dan sekarang in syaa Allah menjjadi tujuan jangka menengah diri yang sudah ditulis di post sebelumnya.

Tapi ada beberapa konstrain utama.

Pertama, aku tidak ingin asal random mengambil jurusan paska lulus, yauda we, misal, daftar LPDP, kampus bebas lah dimana we yang penting US. Jurusan? Yah intinya rada elektro atau Informatics. Terus, habis lulus ga tau mau ngapain!? Karena memang jalur akademisi tidak menjadi mimpi jangka panjang. At least hingga saat ini. Meski sebenarnya asik pisan bisa menjadi amal jariah. Tapi yah mengajar juga ga harus di kelas kan.

Kedua, Alhamdulillah, aku sempat merasakan hidup lama di beberapa negara di luar negeri ketika masih kuliah. Tapi… sendiri! Dan di luar sana benar-benar gersang serius. Safar itu memang benar-benar salah satu cobaan bagi muslim karena tidak bisa ibadah layaknya di rumah. Iman benar-benar down. Pas di Hamburg, terutama kerasa pisan. Sendiri. Teman sekamar non-muslim. Gaada yang ingetin dan nasehatin. Jetlag waktu shubuh karena siang yang panjang. Akhirnya kacau.

Gaada yang ngingetin untuk tadarus. Gaada yang ngajak ke masjid. Gaada yang ngajak jamaah. Gaada yang ngingetin waktu sholat. Down pisan lah intinya. Sampai akhirnya merujuk ke satu kesimpulan, aku ingin melanjutkan studi ke luar negeri, tapi tidak sendiri. Ya jadi parameternya bukan waktu, tapi ketika sudah memiliki pasangan yang mahram.

Akhirnya opsi 1 untuk langsung lanjut studi di luar dicoret. Studi ditunda paska menggenapkan setengah agama. Aamiin. Minimal ada yg menemani dan mengingatkan di dunia gersang di luar sana. Untung-untung “temen” ini juga mau lanjut S2. Ga juga gpp sih haha. Allahu’alam. La Haula wala Quwwata Illa Billah…  La Haula wala Quwwata Illa Billah.

d064f54eacb6ef92c590422aa5286d78

Opsi 2: Langsung terjun di dunia bisnis

Sebenarnya opsi ini sudah aku coba jalanin sejak mahasiswa. Pertama saat tingkat 2, sempat buat CV penerbitan buku. Waktu itu bareng beberapa teman, anak ITB dan UI, kita punya kenalan Prof. Gunter Pauli, penulis buku blue economy, ketemu ketika conference di Jepang. Beliau ingin bukunya terbit dalam bahasa Indonesia. Akhirnya kita ambil proyek itu. Aku dan teman namanya Bisma (AS 10) ke notaris dan jadilah CV Akast Publishing. Berhasil tercetak sekian ribu buku untuk dikirim ke kementrian. Tapi balik lagi margin ga begitu besar, karena masih awal. Plus anak-anaknya yang ngurus masih kuliah, akhirnya pada mencar-mencar, ga dilanjutin. Collapse.

Lanjut coba-coba bisnis pas tingkat akhir. Aku sempat berjualan gift wisudaan. Hasil: effortnya gede pisan, ga sesuai dengan untung yang didapat. Akhirnya bisnis berhenti terakhir di wisuda oktober ITB, abis itu ga dilanjutin. Collapse.

maxresdefault.jpg

Sempat juga mencoba masuk ke ranah kuliner. Waktu itu ada modal didapat dari dana PMW. Akhirnya nekat sendiri membuka warung kecil di Dago pojok. Bayar sewa langsung 6 bulan. Memperkerjakan satu karyawan, namanya Pak Dadang, aseli Garut ketemu random ketika ngobrol-ngobrol di depan kontrakan. Awalnya coba buka Warkop. Sepi. Terus ganti batagor. Sepi juga, yang ga laku jadinya dimakanin anak-anak kontrakan. Hiks, sedih. Terakhir jualan minuman pas Ramadhan. Masih sepi juga. Akhirnya aku dulu dengan Pak Dadang mencoba berganti bisnis, pangkas rambut.

Ngeliat pangkas rambut beberapa blok dari tempat dagang rame terus. Langsung mikir: ‘Wah ieu prospek pisan pak Dadang!!’ Akhirnya kami memperkerjakan satu karyawan lagi, sodaranya Pak Dadang di Garut yang bisa pangkas rambut. Kami datangkan ke sini. Dengan sisa modal yang ada aku belikan satu set peralatan cukur. Kursi. Cermin. Poster Top model lol. Dll. Kemudian bulan Juli, aku harus berangkat ke Jerman. Ditinggalah bisnis ini dititip ke Pak Dadang. Sama minta tolong temen sesekali pantau aja ke tempat.

Tapi, beberapa minggu kemudian ketika aku masih di jerman, temen ngechat: “Kacau fif, ga keurus. Kacanya pecah. Terus kata pak RTnya, udah lama ga ada yang jaga.” Singkatnya: Collapse. Lol. Bisnis memang ga segampang yang ditulis di buku-buku. Haha

Lanjut ketika tingkat akhir, mulai sedikit lebih serius. Aku dan beberapa teman yang sudah lulus mencoba masuk ke dalam bisnis berbasis teknologi yaitu Aerial Photography dengan Drone. Ini sebenarnya aku lakukan paralel dengan usaha kuliner di atas. Disini juga sok-sokan aja dapet title perdana, Chief Marketing Officer. Ada websitenya bahkan http://www.ius-sinai.com/. Di bisnis ini sekali proyek bisa dapet gede. Tapi untuk dapetin kliennya, susah pisaan. Ya tadi emang harus sabar baru awal-awal. Kemudian di tengah-tengah aku harus berangkat ke Jerman dan akhirnya keluar dari team. Singkat cerita: Collapse. 

DSC_0317

DSC_0331

Yang terakhir adalah sempat mengajukan proposal untuk menjadi tenant di Kantin baru ITB. Aku dan tim waktu itu 4 orang, 1 orang anak unpad aseli gorontalo, mengajukan proposal tenant, namanya Warung Celebes. Yaitu makanan khas Sulawesi. Dari 190 proposal yang diajukan kami sempat masuk 29 besar dan masuk tahap display produk. Sayang sepertinya tenant lain lebih cocok dengan mahasiswa ITB dan lebih memiliki banyak trackrecord. Akhirnya: Collapse.

Sebenarnya ada beberapa bisnis lain, untold versionnya lah, sempet mau coba buat apps. Bisnis smart home. Tapi kalo di tulis semua bakal penuh. Haha. Tapi tetep hampir semua berakhir: Collapse.

“Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakannya?. (Tidak), maka hanya bagi Allah, kehidupan akhirat dan kehidupan dunia.” (QS 53: 24-25)

Dua pelajaran utama yang aku dapat dari pengalaman-pengalaman di atas adalah:

  1. Bisnis sebaiknya memang tidak sendiri. Harus cari partner atau co-founder. Ini kerasa pisan pas aku coba bisnis kuliner sendiri. Wah gaada yang backup.
  2. Jangan tanggung-tanggung. Baik dari dana dan waktu yang disisihkan. Sebelumnya karena memang modal masih sedikit, jadi tanggung buat spend banyak-banyak uang. Misal ngerenov warung biar lebih nyaman, ya karena memang belum ada banyak uang. Jadinya ga dilakuin. Padahal itu sangat ngaruh untuk promosi dan marketing awal. Kemudian terkait spending time. Kemarin-kemarin emang pecah fokus, sambil TA, harus ke Jerman dll. Yaudah jadinya ga keurus

Opsi bisnis ini sebenarnya masih dicoba terus paralel dengan opsi ke 3: cari kerja. Sebenernya opsi ini ideal banget kalo misal aku mendapat proyek gede dari dosen. Jadi sambil bisnis, juga ada pemasukan lain dari proyek. Karena bisnis butuh kesabaran, ga bisa langsung untung.

Akhirnya dijalanin lah paralel dengan Opsi ketiga. La Haula wala Quwwata Illa Billah…  La Haula wala Quwwata Illa Billah

Opsi 3: Bekerja dulu di suatu perusahaan

Nah khusus untuk opsi ini -yang kemungkinan bakal jadi pilihan akhir tujuan jangka pendek dan Allah also had shown me the way- akan ditulis di part 3 di link bawah ini (ditunggu aja muncul link nya ya):

Journey to Find Rizq (III): Kriteria & Pengalaman Daftar Kerja sebelum Lulus

3 thoughts on “Journey to Find Rizq (II): Opsi-opsi

  1. Pingback: Journey to Find Rizq (I): Short, Middle and Long term Plan | Curahan Kehidupan dalam Rangkaian Kata

  2. Pingback: Journey to Find Rizq (III): Kriteria & Pengalaman Daftar Kerja sebelum Lulus | Curahan Kehidupan dalam Rangkaian Kata

  3. Pingback: Journey to Find Rizq (IV): Brute Force Mencari Kerja | Curahan Kehidupan dalam Rangkaian Kata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s