Menangis


Saya biasanya jarang mengungkapkan perasaan di wordpress, karena biasanya Ibu, Bapak & adik-adik sering baca di blog ini. Dan malu saja, tipe saya memang cukup gengsi dan enggan terlihat lemah di dalam keluarga. Padahal aslinya rapuh parah.

Tapi khusus pagi ini, saya ingin menuliskannya. Ditengah ketidakpastian, beberapa kegagalan, dan ketidaktercapainya tujuan-tujuan jangka pendek. Ibu dan Bapak menelpon saya.

Telponnya luar biasa. Benar-benar menenangkan jiwa dan melenyapkan semua permasalahan.

Jujur saya nangis parah pagi ini. Saya mencoba menahan isak dan suara ketika di telpon, juga mengunci kamar supaya teman tidak ada yang masuk dan melihat saya menangis. Tangis ini bukan tangis sedih, tapi benar-benar tangis bahagia. Mungkin ini pertama kalinya saya benar-benar menangis berat ketika di telpon.

Ibu dan Bapak, benar-benar menasehati saya dari sudut pandang Islam. Tidak sampai pada ayat Quran atau Hadits, tapi hanya pesan sederhana agar mengembalikan semuanya pada Allah. Itu saja tidak lebih. Tapi dibahas dari berbagai masalah dan tantangan saya ke depan.

Mulai dari bersabar memilih pekerjaan, rencana S2, jodoh, pernikahan, rezeki, menuntut ilmu dan betapa mereka bersyukur anak-anaknya masih dekat dengan Islam. Ibu menceritakan adik-adik saya yang masih insyaAllah haus akan ilmu agama. Meskipun mereka mandiri berpencar satu di Jatinangor dan Jogja tapi dalam telpon, Ibu selalu bilang mereka tetap menjujung tinggi islam. Saya kembali menangis. Alhamdulillah

Ibu juga bercerita bahwa Ibu & Bapak, mulai dan masih terus konsisten ikut kajian dan belajar tahsin.Ditengah umurnya yg semakin menua, tapi ingin terus mencoba menghafal, meski cuma beberapa ayat dari Al-Quran tapi mereka akan terus mencoba. Saya kembali nangis.

Ibu juga bercerita tentang bagaimana Ibu dan bapak mulai mencoba memutus beberapa asuransi yang sekiranya tidak perlu. Dan mencoba melunasi hutang-hutang credit karena takut akan riba. Saya menangis kembali. Alhamdulillah.

Ibu juga berpesan akan selalu terus mengingatkan kami, anak-anaknya, menasehati kami, memberi masukan dan menelpon kami. Hampir setiap di sepertiga malam saya lihat whatsapp dari Ibu yang mengingatkan tahajud di grup WA kami dan grup keluarga besar sekaligus mengingatkan Paman dan Bibi kami. Tangis disertai rasa syukur terus saya panjatkan akan nikmat ini. Alhamduillah

Dan terakhir, jika ada rezeki, Ibu juga berdoa semoga kami sekeluarga bisa pergi Umroh bersama. Bahkan mengajak nenek jika memungkinkan. Aamiin ya Allah. Allahumma Aamiin. Saya lagi-lagi menangis lebih dalam. Mungkin jika saya tidak menjauh dari HP, isak tangis itu bisa terdengar oleh mereka secara jelas.

e8f6029ae45f14ecd89c52f1b7e7424b

Terima kasih Ibu, Bapak.

Ya Allah. Aku mohon ya Allah. Izinkan saya menjadi amal jariah mereka ya Allah, pun setelah mereka Engkau panggil agar mereka bisa selamanya kekal di SurgaMu nanti. Aamiin ya Rabbal Alamin.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s