Kamu


Aku hanya ingin berbicara pada udara, dan berharap Allah mendengarkan. Karena Dia Maha Mendengar curahan hambaNya. Ini tentang rasa, rindu dan janji. Ini tentang kamu. Ya, kamu yang akan membersamai dalam langkah menuju JannahNya.

Aku masih belum tau siapa kamu. Dan aku juga belum ingin tahu hingga saat itu tiba. Saat rindu tersulam dalam janji sakral yang mengikat kita berdua. Bingung alasannya apa, tapi mungkin bisa disimpulkan saja aku belum siap. Siap disini bukan hanya dipengaruhi satu variabel konstan. Tapi justru multi-variabel dengan berbagai kebergantungan. Ada orang tua, keluarga, waktu, ilmu, dan juga mungkin keluangan kamu. Aku tidak ingin hadir disaat yang tidak tepat sehingga justru malah merusak alur mimpi yang sedang kamu buat. Aku juga tidak ingin memberikan “bola pikiran” di dalam ruang berfikirmu yang terbentur dengan bola lainnya. Apalagi sampai masuk ke rongga hati dan membuatmu susah menjaga diri.

Janji suci ini bukan perkataan sepele yang hanya bisa dikatakan tanpa pikir panjang. Tidak seperti orang pacaran yang mendekat tanpa tahu dia semakin jauh dari TuhanNya dan terlena dalam lingkaran hal yang dilarang. Tidak hanya sebatas rasa ataupun cinta. Teringat salah satu pendapat teman, cinta itu hanya ada setelah pernikahan. Sebelum itu hanya ada kagum, nafsu dan ketertarikan. Dan aku setuju dengannya. Jujur aku mudah sekali kagum. Dari pandangan, cerita teman, bahkan tulisan-tulisan. Sekilas aku langsung jatuh cinta. Nope. Aku koreksi, aku hanya kagum, bahkan itu bisa saja dipengaruhi nafsu. Astaghfirullah.

Kamu masih misteri. Dan hanya di buku itulah -buku rahasia yang hanya Allah yang tau- tertulis namamu. Lengkap dengan waktu dan kejadian yang membuat kita bersatu. Aku sekarang mungkin belum mengenal kamu, atau mungkin justru sudah akrab denganmu. Bisa juga aku adalah temanmu sejak kecil, atau bahkan kita baru bertemu hanya saling tau nama dan sedikit rupa. Mungkin juga kita saling tau tapi belum pernah bertemu. Aku tidak tau. Tapi satu pesan untukku dan juga kamu, jangan sekali-kali berasumsi apalagi sampai berharap. Karena hati ini mudah sekali dibolak-balikan oleh Sang Maha Penguasa hati. Biarlah Dia yang mengindahkan pada waktunya.

Mungkin kamu sempat membaca tulisan ini, mungkin juga tidak. Karena sekali lagi aku tidak tau. Aku sekarang ingin menyelesaikan amanahku sebagai mahasiswa dulu. Sebelumnya sempat terbesit dipikiranku untuk segera bertemu kamu sebelum lulus. Tapi ternyata Allah belum mengizinkan, orang tuaku pun masih belum mau membukakan pintu. Sudah sempat aku berbicara, berkali-kali, tapi mereka tetap ingin aku menggunakan toga terlebih dahulu.

Aku tidak mau segera dan juga tidak mau berlama-lama. Izinkan aku mendatangimu di waktu itu, yang aku juga belum tau kapan dan siapa yang harus aku datangi.

Tapi percayalah Allah Maha Tahu yang terbaik untuk hambaNya. Percayalah kepada Dia, kita akan bertemu di satu waktu.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s