Ramadhan Pertama


Adzan magrib berkumandang menandakan masuknya tanggal 1 Ramadhan. Ditengah ramainya masjid, saya menghabiskan waktu di luar, bermotor dari dago ke DU, menuju baltos hingga akhirnya BEC untuk menemukan isi ulang catridge guna mengeprin buku TA yang harus di tanda tangani dosen besok. Out of expectation. Saya berharap Ramadhan pertama bisa duduk tenang di masjid, mendengar tausiyah dan mengikuti Tarawih berjamaah. Tapi ini kenyataanya, karena mengurus visa yang juga belum kelar, jadi harus segera menyelesaikan minimal per-TA-an paling lambat malam ini, sehingga besok bisa bergerak lagi melengkapi dokumen2 visa.

Tapi saya yakin di luar sana masih banyak yg aktivitasnya lebih riweuh dari saya. Sedikit berefleksi, murni refleksi diri. Ramadhan memang sebaiknya dihabiskan waktu untuk ibadah. Tidak hanya sebatas ibadah yg dilakukan di masjid atau rohani, misal membaca/menghafal Quran, mabit, tarawih, dll; tapi segala aktivitas lain yg mungkin terlihat ‘duniawi’ juga dapat dinilai ibadah. Bahkan tidur pun ibadah, jika diniatkan agar terhindar dari prilaku sia-sia dan berdampak negatif. Bekerja mencari nafkah untuk keluarga, juga mutlak ibadah. Mengikuti diklat panitia OSKM dengan niat membina adik-adik baru juga bernilai ibadah. Mengikuti kerja praktek yang merupakan salah satu amanah sebagai mahasiswa juga murni bernilai ibadah. Ber-itikaf di lab guna menyelesaikan tahapan penelitian juga bernilai ibadah. Dan nilai semua itu berkali-kali lipat jika memang diniatkan untuk Allah Taala, sebagai bentuk pengabdian selama bulan Ramadhan.

Tapi beruntung jua lah yg memiliki banyak waktu luang ketika Ramadhan, sehingga bisa mengikuti kajian-kajian. Belajar tahsin. Itikaf di Masjid sejak pagi hingga malam, guna bercumbu dengan ayat-ayat Quran dengan cara membaca, menghafal hingga mentadaburinya, baik secara langsung maupun dalam bacaan shalat sunnah. Ah indahnya.

Saya pribadi memiliki beberapa pengalaman berpuasa mulai dari terburuk yang seperti tidak ada beda dengan bulan lainnya, hingga cukup merasa luar biasa indahnya bulan Ramadhan. Mulai dari merasakan teriknya summer dengan siang yang sangat panjang ketika di Tokyo, dengan tanpa adanya sedikitpun terdengar adzan; hingga dinginnya bandung diiringi saut-menyaut dari masjid dekat rumah hingga ke Salman.

Mengingat masa-masa itu, sangat bersyukur tinggal di Indonesia, yang mayoritas islam dengan berbagai seruan kebaikan, baik dari teman hingga orang tak dikenal. Tapi yang paling penting, sangat bersyukur sekali masih dipertemukan dengan Ramadhan tahun ini. Banyak rekan atau orang-orang yang ruh nya dicabut, hari hingga detik sebelum masuknya 1 Ramadhan. Banyak juga yang terbaring kaku di kasur dan tidak bisa berbuat banyak meskipun merasakan malam 1 Ramadhan. Dan banyak juga di luar sana, yang mungkin masih berada di cafe-cafe, club, pesta malam, dengan tujuan bersenang-senang, seakan-akan 1 Ramadhan hanya seperti malam pada biasanya. Bahkan banyak juga yang ketika adzan magrib 1 Ramadhan berkumandang, masih terjebak di tempat-tempat maksiat, penuh kesiaan dan dosa dengan telinga hingga hatinya yang sudah hitam menolak segala macam hidayah dan cahaya islam.

Alhamdulillah. Syukurilah teman. Malam ini kita masih bisa dipertemukan dengan perasaan dan kemauan untuk menunaikan ibadah-ibadah dengan tujuan meraih keberkahan Ramadhan. Apapun bentuknya. Kalian yang memilih bada isya mendengar tausiyah dan melanjutkan tarawih berjamaah. Kalian yang memacu motor/mobilnya menembus dingin malam untuk mencapai masjid yang jauuh, guna mengejar bacaan indah imamnya. Kalian yang masih berdiam di kantor atau rumah karena menyelesaikan pekerjaan, dan memilih tarawih sendiri agar bisa lebih berdiri lama menghadap Sang Pencipta. Ataupun kalian yang memilih tidur lebih awal karena lelahnya kegiatan seharian sekaligus mempersiapkan amal ibadah dimulai saur di penghujung malam.

Ah Indahnya bulan ini. Semoga saya dan pembaca terus Engkau pertemukan dengan Ramadhan ya Allah, hingga kami benar-benar mencapai apa yang Engkau sebut sebagai Khusnul Khotimah. Aamiin []

Tertanda

Muhammad Afif Izzatullah
1 Ramadhan 1436 H

Masih ditemani suara gesekan kertas printer, mencetak dokumen akhir perjuangan panjang di kampus gajah

One thought on “Ramadhan Pertama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s