Investasi Waktu


Satu event biasanya menjadi pemantik ingatan akan suatu pembelajaran, dan merambat kepada ingatan dan pembelajaran lainnya. Terkadang lompatan memori tersebut hanya menjadi suatu percikan dan langsung hilang, kecuali kita mengabadikannya ke dalam tulisan yg dapat dibaca di masa depan.

Kemarin malam baru tepar paska fulltime 3 hari menjadi supir di suatu dauroh. Yap literally fulltime supir atau kerennya driver atau PJ transportasi. Kejadian tersebut mengingatkan saya akan satu pembelajaran yaitu tentang investasi waktu. Lokasi dauroh cukup jauh dari Bandung, dan dalam satu hari perlu bolak-balik untuk mengambil konsumsi, membeli logistik dan menjemput pembicara. Track record saya dlm hal nyetir sebenarnya masih sangat minim bahkan terakhir kali saya bawa mobil rental, menyisakan penyok sedikit di samping (untung bayarnya patungan lol). Tapi karena memang dauroh ini minim personil & butuh driver saya memberanikan diri membawanya.

Tapi dari 3 hari tersebut saya belajar banyak hal terkait “persopiran”, mulai dari baru tau cara buka stir yg terunlock (ga sengaja keputer pol ke kanan haha), macet di tanjakan curam, main kopling, sampai jd center attention di salman gara2 alarm mobil tiba2 idup (super berisik lagi -_-) dan kunci elektroniknya rada2 error (inget ini malu pisan). Tapi dengan saya menginvestasikan waktu di situ saya jadi punya pengalaman memalukan dan bisa menjadi pembelajaran ke depannya.

111225-r-Investasi-Waktu-400x250

Nah jadi poin utamanya teman-teman, investasikanlah waktumu untuk kegiatan yang baik dan juga benar untuk masa depan. Bahkan Om Gladwell bilang dalam bukunya outliers, untuk menjadi ahli seseorang membutuhkan minimal 10,000 jam? Setelah dipikir-pikir, benar juga.

Kejadian kemarin merambat dalam neuron ingatan, dan mengingatkan saya ketika dulu baru awal-awal ikut mentoring. Sebelum mentoring dimulai biasanya dilakukan tadarus satu orang dan yang lain menyimak. Saya benar-benar heran dulu kepada mentor saya kok bisa ngaji tanpa satupun kesalahan. Maksud saya ketika kita baca Quran terkadang ada probabilitas kesalahan kan, misal ain di baca alif, atau yang 2 harakat jadi satu harakat, yah namanya manusia. Nah mentor saya ini saat saya menyimak sangat minim kesalahan bahkan hampir gaada. Pertanyaan utamanya “How could?”. Saat itu saya masih malu2 dan cupunya lebih menyimpan pertanyaan ini di dalam hati.

Tapi alhamdulillah, secret formula dari mentor saya itu berhasil saya temukan saat ikut tahsin di tingkat tiga (telat banget -_-). Bahwa salah satu hal untuk memperlancar Quran adalah dengan intensitas berinteraksi dengan Quran yang banyak. Dengan semakin sering membaca, mendengarkan murotal, apalagi menghafal, insyaAllah bacaan semakin lancar dan probabilitas kesalahan bacaan bisa sangat berkurang. Ga percaya? Coba aja. Tapi untuk Quran tetap harus menginvestasikan waktu untuk belajar ilmunya terlebih dulu (tahsin, tajwid, makhroj), kemudian terapkan dalam target bacaan misal awal 1 hari 1 lembar. Terus naik setengah juz, 1 juz, dst. Saya yakin probabilitas kesalahan bacaan bisa mendekati titik nol.

It Totally Works in Company 

Kejadian tersebut merambat lagi pada ingatan lainnya. Saya baru menyelesaikan buku “Good to Great” karangannya om Jim Collins. Sebenarnya rada males baca buku2 lama terkadang tidak relevan dengan era sekarang. Tapi entah mengapa buku ini sering banget masuk di top list must-read buku-buku bisnis hingga hari ini. Akhirnya pinjam dengan teman yang kebetulan punya cetakan barunya, dan baru sadar ada investasi waktu juga disana.

Di bab kesekian di buku itu (lupa), om Collins menyebutkan tentang “roda gaya”, bahwa good to great company, tidak pernah terjadi karena satu momen keajaiban, atau revolusioner. Melainkan selalu dampak komulatif dari roda gaya perjalanan panjang, perjuangan dan konsistensi dengan jangka waktu yang lama.

Jadi, salah satu contoh company yang saya ingat, Gillette, tidak karena mereka mengadakan satu event besar, promosi jos2an, kemudian langsung menaikkan penjualan dan dikenal banyak orang. Tidak. Melainkan mereka konsisten, riset bertahap yang mendalam, menerapkan sistem landak, kultur disiplin, memiliki kepemimpinan level 5, dll (baca aja bukunya) sehingga menjadikan mereka great company hingga sekarang. Bahkan dari 15 list great companies yang diseleksi ketat oleh Om Collins, mereka memiliki 4% (kalo ga salah) list CEO yang berasal dari eksternal (luar perusahaan), sisanya dari dalam perusahaan (internal), which is pemimpin-pemimpin mereka adalah orang2 yang sudah menginvestasikan waktu lama mereka untuk perusahaan.

It also Totally Works in Relationship

Dari kejadian tersebut, teringat juga salah satu isi tulisan (lagi-lagi) om Gladwell dalam bukunya Tipping Point (saya salah satu fans nya om Gladwell soalnya hehe). Beliau menulis seperti ini:

“To be someone’s best friend requires a minimum investment of time. More than that, though, it takes emotional energy. Caring about someone deeply is exhausting.”

Jadi kalo kata om Gladwell, kita juga memiliki kapasitas saluran untuk perasaan. Coba luangkan waktu untuk membuat list semua orang yang kematiannya membuat kita sangat kehilangan. Rata2 kebanyakan paling banyak hanya sekitar 12 nama. Alasannya karena quote di atas, bahwa peduli dengan orang itu exhausting. Kita butuh investasi waktu yang banyak dan emotional energy yang besar. Oleh karenanya investasikan waktu kalian untuk orang-orang yang tepat. Dalam hal ini yang paling simpel adalah keluarga. Spend waktu kalian untuk keluarga, orang tua adik kakak. Jika tidak bisa sering bertatap muka minimal telfon rutin, atau grup WA keluarga hehe. Dan para calon orang tua, silahkan pikirkan sendiri, berapa investasi waktu untuk anak, jangan sampai pembantu yang malah lebih banyak menginvestasikan waktunya untuk anak anda.

Setelah keluarga, yang kedua adalah sahabat. Sahabat mutlak harus pilih-pilih, berbeda dengan teman, untuk berteman mah liberal aja, sebanyak mungkin, seheterogen mungkin, bahkan preman pinggir jalan jadikan saja teman. Karena mereka bisa menjadi sasaran untuk kita menyeru kepada kebaikan. Tapi untuk sahabat spend waktu kalian lebih banyak dengan mereka. Dan ini selaras dengan hadist Rosul yang berteman dekatlah dengan penjual minyak wangi jangan penempa besi. Tau kan?

Investasikanlah Waktumu ke Dua Hal Besar

Pesan akhir saya di tulisan ini, investasikanlah waktu kalian ke dalam 2 hal besar. Dunia dan Akhirat. Jangan condong ke salah satu, tapi harus dua2nya.

Sebagai muslim, luangkanlah waktu sebagian untuk belajar tahsin, tafsir, tahfidz, membaca sirah, membaca buku-buku tentang sunnah, ilmu fiqh, dakwah dll. Luangkan juga untuk ikut ta’lim, mabit, dauroh, ikut mentoring, dan sarana penimba ilmu lainnya. Dan mutlak investasikan juga waktu untuk ibadah. Yang wajib2 mah ga usah dibahas, tapi pikirkan lebih investasi waktu untuk dhuha, qiyamul lail, baca al-matsurat, rawatib, puasa sunnah, sedekah, dll.

Kemudian untuk hal dunia, investasikan waktu kalian pada hal-hal yang bisa menunjang mimpi besar di masa depan. Paska lulus langsung kerja, it’s okay jika memang ingin menjadi profesional di bidangnya. Belajar IELTS, GRE, menulis essay dll juga wajib diinvestasikan dalam waktu, jika ingin melanjutkan S2 di luar negeri. Kemudiam Investasikan waktu untuk membaca buku-buku bisnis, mencoba usaha kecil-kecilan, berjejaring, untuk siapapun yang bermimpi menjadi pengusaha. Jangan lupa juga investasi waktu dalam hal-hal sederhana namun (menurut saya) penting untuk masa depan, misal belajar nyetir, memasak, menyetrika, mencuci, dll. Last but not least investasikan juga waktu kalian untuk penunjang kesehatan, seperti olahraga, hiburan dikala penat dan istirahat yang cukup.

So let’s be wise to invest our time!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s