Pembelajaran Utama dari FIM 17


Alhamdulillah, akhirnya bisa menulis dan berbagi lagi.

Jadi ceritanya, beberapa minggu yang lalu, saya mendapatkan kesempatan untuk bisa hadir menjadi panitia di Forum Indonesia Muda angkatan 17, di taman Wiladatika Cibubur. Selain nuansa kekeluargaan, FIM juga tidak lepas dari sarat pembelajaran yang menghadirkan tokoh-tokoh inspiratif untuk menjadi bekal di bawa pulang para peserta pelatihan. Pun panitia juga secara tidak langsung menjadi salah satu tabung terbuka yang siap menampung ilmu dari para pemateri

Di FIM17 saya mendapat banyak pembelajaran, tapi saya putuskan ada satu yang paling utama, yang paling inspiratif dan paling mengesankan menurut saya. Satu pembelajaran ini saya dapat dari berbagai pemateri, namun dalam tulisan ini terwakili oleh 3 pemateri. Bukan substansi materinya, namun justru hal lain. Penjabarannya seperti ini:


Pertama, Ricky Elson. Beliau menurut saya pemateri paling super selama FIM17. Selain karena background kita mirip (dia mechanical, saya electrical engineering), juga cara penyampaian beliau yang berkobar-kobar menjelaskan jatuh bangunnya membangun aplikasi teknologi di Indonesia. Beliau bekerja selama belasan tahun di Jepang, menciptakan paten, ketika balik ke Indonesia membangun mobil listrik dengan mesin sendiri, kecelakaan saat uji coba, tapi terus berjuang, kemudian ide pembangkit tenaga angin di desa ditertawakan, tapi beliau tetap totalitas dan yang paling penting “take action” untuk mewujudkan mimpinya mengukir senyuman untuk warga desa dengan teknologi.

Tapi teman, itu bukan pembelajaran utama menurut saya. Pembelajaran utama terletak pada slide ppt pertama yang beliau tampilkan sebelum memulai presentasi. Ada yang bisa menebak? Ya, pada slide pertama, beliau mengawali dengan surat ke 45 di Al Quran, ayat ke 13

Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir (QS Al-Jatsiyah:13)

Beliau bergerak dari ayat tersebut, bahwa Allah sudah menurunkan apa-apa yang ada di bumi sebagai rahmat. Termasuk angin, panas bumi, elektron, besi, dll. Itulah yang menginspirasi beliau untuk bergerak menggunakan pemberian Allah tersebut untuk memberikan kebermanfaat bagi orang lain.


Kedua, pak Bambang Widjojanto, wakil ketua KPK. Beliau menyampaikan materi tentang integritas dan sangat memotivasi peserta. Apalagi saat ini beliau masih di tengah hectic nya pemeriksaan karena kasus KPK – Polri yang riweuh di Indonesia.

Tapi teman, apa pembelajaran utama yang saya dapat? bukan substansi materinya, okelah itu juga luar biasa, yaitu bisa mendengarkan dari orangnya secara langsung, ujian integritas yang dilakukannya setelah menceburkan diri di “kolam lumpur” sistem di Indonesia. Tapi justru, pembelajaran utama yang saya dapat adalah ketika menjelang akhir talkshow. Saat itu hari kamis, dan materinya menjelang magrib. Moderator memotong sedikit sesi talkshow dan berkata

Jika sudah azan magrib kita berhenti sejenak ya. Karena pak Bambang mau berbuka puasa sebentar

Tokoh besar, dengan sibuknya jadwal, plus hecticnya pemeriksaan pengadilan, tidak menutupi kemauan beliau untuk melaksanakan puasa senin-kamis. Subhanallah. Yang lebih mengesankan lagi, adalah setelah acara, beliau menaiki mobil dengan asistennya (menjaga dari peserta yang banyak ingin selfie dengan beliau -__-), yang awalnya saya kira pulang. Tapi ternyata beliau memutar menuju masjid untuk sholat di sana. Saya juga sempat menjadi makmum jamaah sholat masbuq yang dipimpin beliau.


Ketiga, pak Jimly Asshiddiqie. Ketua MK pertama di Indonesia ini -yang juga sama dengan saya, memiliki tanah kelahiran di Palembang (terus? haha)- juga menjelaskan tentang integritas. Beliau menceritakan banyak pengalaman hidup ketika menjadi ketua MK pertama di Indonesia. Tapi satu kisah yang paling saya ingat, terutama tentang integritas, ketika beliau mengutip kisah Umar bin Khattab

“Zaman Umar, ada seseorang yang ditunjuk menjadi hakim, tapi dia menolak. “Umar bertanya mengapa?”, dijawab dia “Karena saya yakin wahai Amirul Mukminin, saya tidak akan bekerja. Karena tidak akan ada kasus selama engkau memimpin”

Pak Jimly menekankan “mengapa zaman Umar bisa seperti itu?” Kuncinya sederhana, karena rakyatnya sudah tau mana yang hak dan kewajiban mereka. Mereka tidak sedikitpun menambah hak mereka, dan tidak sedikitpun mengurangi kewajiban mereka. Itulah integritas.


StrengtheningOurFoundation

Jadi sudah terlihat pembelajaran utama apa yang saya dapat dari FIM 17? Ya, pembelajaran membangun karakter seorang muslim sebagai landasan dalam bergerak.

Mau jadi apapun kita, sebesar apapun mimpi yang dicanangkan, selalu tetapkanlah ajaran Islam dan Al-Quran sebagai fondasi utama dalam mengambil keputusan

Semoga di masa depan kita semua (saya dan para pembaca) bisa mejadi orang yang bisa memberikan manfaat bagi orang lain. Baik melalui riset, profesionalitas, perusahaan sendiri, pemangku jabatan publik, atau bahkan dengan menjadi pemimpin negara. Aamiin.

Dan ketika kita mendapat pertanyaan “siapa anda?” jawaban kita pertama kali dengan kepala tegak dan suara yang lantang menjawab “saya adalah seorang muslim“.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s