Tentang Memantaskan Diri


Beberapa hari belakang saya cukup bimbang. Tentang satu hal. Tentang memantaskan diri. Banyak teman terus mengingatkan. “fif, luruskan niat” “fif, benerin dulu niatnya” “fif, tujuan kamu begitu untuk apa” dan berbagai redaksi maupun diksi lain

Membaca ini juga http://www.hipwee.com/hubungan/untukmu-tujuan-akhirku-memantaskan-diri/ rasanya ada segenggam rasa akan ketidaksetujuan. Atau mungkin mutlak ketidaksetujuan (!)

Puncaknya saya juga teringat terkait gambar yang pernah di share teman di salah satu group whatsapp, dan ternyata mencari nama pengutipnya, saya menemukan bacaan menarik disini: https://febriantialmeera.wordpress.com/

Bw5MiFRCcAEFdcf

Jleb. Tulisan di gambar tersebut benar-benar menusuk hingga saraf hati paling dalam.

Benar itulah salah satu ujian tertinggi iman. Ketika Allah sudah bukan lagi menjadi yang tertinggi di hati. Ketika memantaskan diri bukan lagi untukNya tapi untuknya.

Tapi setelah dipikir-pikir. Allah pasti Maha Tahu isi hati kita. Allah pasti tahu bahwa hamba Nya ini lemah. Dan niat pun juga Allah lah yang paling tahu.

Sangat disayangkan jika kita menghentikan suatu kebaikan bila takut karena salah niat. Berhenti memantaskan diri karena takut bukan lagi untukNya. Sangat disayangkan. Perbuatan baik yang seharusnya bisa kita perbanyak, bisa hilang begitu saja.

Toh bukankah berhenti melakukan suatu amal/ kebaikan karena takut dibilang riya, adalah riya itu sendiri ??

Jadi teman-teman yang mungkin merasakan hal yg sama (terutama saya), jangan lah berhenti berbuat kebaikan atau membina diri karena ketakutan-ketakutan tersebut. Jalani saja, dan tetap terus memantaskan diri. Allah pasti Maha Tahu. Tetap istiqomah dan terus perbaiki niat. Bahwa segalanya Allah lah yang menentukan. Jadi sudah sepantasnya Allah yang menjadi tujuan utama kita. Allahu ghoyatuna.

***

Saya teringat juga salah satu hal yang saya baca dari buku lapis-lapis keberkahan, karya Salim A Fillah. Tentang betapa indahnya pemilihan diksi yang Rosul gunakan dalam sabdanya, diriwayatkan Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim

Sesungguhnya,” kata beliau, “setiap amal tergantung pada niatnya. Dan sungguh tiap-tiap diri akan memperoleh apa yang diniatkan. Barang siapa yang hijrahnya menuju Allah dan Rasul-Nya, dia akan mendapatkan Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin diraihnya atau wanita yang ingin dinikahinya, maka ….

Santai kita potong dulu. Kebayang ga kira-kira apa kelanjutannya? seharusnya secara logika, diksi lanjutan hadits tersebut langsung menyatakan, tentunya, jika hanya niat hanya mengejar dunia & wanita, maka tentunya ia hanya akan mendapat dunia & wanita itu saja (sementara). Begitu sebakdanya.

Namun inilah Nabi pembawa rahmat, yang tak ingin sedikit pun memutus harapan orang-orang tersalah. Ia bentangkan kalimatnya, meluas menjadi harapan yang memenuhi timur dan barat. Sabdanya:

“…. dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin diraihnya, atau wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa yang dia niatkan untuk berhijrah

Alangkah indahnya kesempatan untuk memperbaiki diri, memperbarui niat, dan mengganti motivasi ketika awalan terlanjur tercemar. Apa yang dia niatkan untuk berhijrah. Betapa terbukanya kalimat ini. Betapa sejuknya, hingga diri-diri yang alpa ketika berangkat bisa memperbaiki niat dan menata kembali keikhlasannya.

begitu juga Allah yang juga mengfirmankan dalam kalimat terbuka:

Dan ingatlah tatkala Rabb kalian memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambahkan nikmat kepada kalian. Dan jika kalian mengingkari, sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.’ (Q.S Ibrahim 14:7)

Allah tidak langsung menklaim orang-orang yang ingkar langsung diadzab pedih. Tidak! sama sekali tidak. Namun Allah memberi kesempatan untuk manusia memperbaiki diri, yaitu dengan mengfirmankan sebuah kalimat terbuka sebagai tanda kasih sayang-Nya.

***

Jadi teman-teman. Teruslah memantaskan diri. Membina diri. Dan berbuat sebanyak mungkin amal kebaikan. Terus perbaiki niat. Dikala ada nafsu yang mulai menguasai, tetap terus memperbaiki niat. Tetaplah selalu diam dalam taatmu. Allah pasti tahu kita lemah. Dan yang bisa kita lakukan hanya berusaha, dan terus menempatkan Allah sebagai tempat tertinggi dihati. Memantaskan diri bukan hanya untuk jodoh, tapi harus terus berlanjut pun pasca pernikahan nanti. Karena tujuan kita sebagai manusia bukan hanya sebatas separuh agama. Masih ada separuhnya lagi untuk terus dilengkapi hingga kita dipanggil Illahi.[]

2 thoughts on “Tentang Memantaskan Diri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s