Mobil


Sudah lama pisaan tidak berbagi di blog ini. Banyak cerita, pikiran, curahan yang belum sempat tersampaikan dalam tulisan, terutama perjalanan panjang menjelajah negeri orang satu tahun belakang. Untuk tulisan kali ini cuma ingin sedikit berbagi, bukan perjalanan panjang terdampar dalam setahun pertukaran pelajar, tapi hanya perjalanan singkat mengunjungi keluarga besar guna menjalin silaturahmi.

Yap, tepatnya kemarin saya baru tiba kembali di Palembang, sepulang dari mengunjungi rumah sepupu di Lampung selama empat hari. Perjalanan ini berbeda dengan mudik-mudik yang saya lakukan sebelumnya, karena saya menjadi sopir utama keluarga. 

Kilas balik beberapa tahun silam, rasa ingin bisa menyetir mobil sudah terbesit sejak dari SMA. Tapi memang banyak alasan untuk enggan memulainya. Awal masuk kuliah mencoba belajar menyetir, alhasil setiap maju beberapa meter mesin mobil mati, permainan kaki bersama kopling, rem dan gas memang tidak segampang simulasi di game center. Namun seiring berjalannya waktu, setiap kali liburan selalu disempatkan untuk latihan, di tahun kedua kuliah sudah lancar untuk jalan lebar dan sepi. Lecet di sebelah kiri mobil menjadi bukti saya masih harus membiasakan diri untuk menyetir di jalan sempit dan kecil. 

Tingkat tiga, sempat menjadi sopir pengganti ayah perjalanan bandung-jogja. Ini perdana saya membawa jalan antar kota. Tapi karena masih pemula, adrenalin masih rendah, jadinya kecepatan masih terpaku 40-60, ditambah lagi ibu saya yang setiap saya mau menyalip mobil, tidak berhenti menjerit, membuat tambah gugup dan mengurungkan keinginan menyalip. Pengalaman perdana nyetir ditutup dengan kecepatan sedang, jarang nyalip dan macet di jalan. Ayah bangun, berakhirlah masa menjadi sopir.

Akhir tingkat tiga, tantangan datang dari beberapa teman yang ingin ke Tangerang, menyewa mobil rental tapi tidak ada yang bisa nyetir. Jadilah saya menjadi sopir. Tanpa SIM A, tanpa persiapan, dan pertama kali melewati jalan tol. Kocak sih, ketika melewati gerbang tol, sempat berhenti agak lama karena pertama kali, jadi masih rada bingung perlu ngapain, dan ternyata memang tinggal pencet doang. Jalan tol tidak terlalu sulit karena lebar dan lurus. Adrenalin mulai sedikit terpacu karena kecepatan sudah lebih dari 80 bahkan 120. Fokus wajib disini, tanpa itu mobil bisa terpelanting jika tidak stabil memegang stir. Pengalaman tol pertama berhasil terlewati tanpa ada hal yang berarti.

Tapi setiba di tangerang, tempat tujuan memang memasuki jalan kecil dan gang, menghasilkan penyok pertama yang saya buat. Awal-awal masih lancar, tapi ada sebuah belokan sempit dekat masjid yang di tanahnya ada tiang kecil yang tidak terlihat dari sudut pandang sopir. Brak, suara yang masih terngiang di kepala, gesekan antara dua material padat yang membuat pintu bawah mobil penyok. Semoga itu pertama dan terakhir saya merusakan mobil, amiin. 

Kembali ke beberapa hari yang lalu. Saya memberanikan diri bilang kepada ayah saya ingin menyetir full Palembang-lampung. Singkat, ayah memperbolehkan dan ini kali perdana saya membawa mobil dalam perjalanan jauh lebih dari 10 jam. Berangkat menuju lampung, di siang hari masih sempat bergantian dengan ayah, karena rasa kantuk yang tidak tertahan akibat menghadiri reuni akbar SMA malam sebelumnya. Namun perjalanan pulang Lampung-palembang, barulah saya yang full seharian menjadi sopir, baik perjalanan siang maupun malam. 

Disini adrenalin terpacu hingga ke puncak. Beda dengan jalan tol, jalan antarkota di Sumatera masih banyak yang hanya dua jalur dan beberapa area masih berlubang. Namun karena sudah pernah melalui jalan tol, kecepatan bisa mencapai 80 hingga 100, dan meski ibu saya masih tetap menjerit, dengan adrenalin yang semakin terbakar saya tetap memberanikan diri menyalip mobil kecepatan tinggi sampai bus dan truk. Menyupir memang melatih kita dalam berani mengambil keputusan, karena jika ragu-ragu, kecelakaan bisa terjadi, pun jika penakut, perjalanan akan sangat lambat dan lama sampai tujuan.

Begitupun di jalan berlubang, keputusan cepat sangat dibutuhkan disini. Jalan mana yang kita pilih, menghindari lubang, pilih kanan atau kiri, semuanya harus diputuskan dalam seperskian detik. Jika terlanjur mengambil sisi jalan berlubang, tetap lanjut, panjat rem dan lewati perlahan. Jangan stop, mundur dulu, kemudian ambil sisi lain. Tidak bakal sempat dan berpotensi tubrukan dari belakang. Mikir-mikir begitu juga lah kehidupan, jika sudah mengambil sebuah keputusan namun merasa salah, jangan stop dan mengulang dari awal. Tetap jalankan dan lewati perlahan. Perbaiki kedepannya dan jangan ulangi kesalahan. Hidup tanpa cobaan akan menghasilkan pribadi yang lemah dan pengecut. 

Saya bingung menyimpulkan akhir dari tulisan ini. Tapi sedikit pesan, mulailah belajar nyetir dari sekarang. Nyetir itu bukan hanya sebatas antar-mengantar, tapi juga melatih keberanian, fokus dan tanggap dalam mengambil keputusan. Yah meski tidak dipungkiri juga akan sangat berguna untuk masa depan. Masa mau jadi orang kaya tidak bisa nyetir mobil.[]

2 thoughts on “Mobil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s