Teman


Cuaca cukup cerah, ditemani Machiato Caramel, saya menunggu teman yang hampir telat satu jam. Huff. Saya tau, waktu akan terus berjalan, mau bagaimana pun cara orang menghentikannya, oleh karenanya akan sangat sia-sia jika tidak termanfaatkan.

Udara yang cukup menyegarkan, membuat nafas dengan tenang berhembus, menghirup setiap oxygen yang keluar dari dedaunan. Waktu sendiri memang sangat nyaman dihabiskan untuk sebuah renungan. Menyelami alam bawah sadar guna membuka lembar demi lembar memori lama yang tersimpan. Neuron memang berjalan secara cepat dan acak, tetiba mengingatkan saya akan aktivitas setahun belakang. Banyak hal-hal yang bisa dikategorikan “tidak terlupakan” terjadi dalam hidup. Sedih, senang, susah, bahagia, semuanya mengalir begitu saja layaknya kurva sinus yang secara beterusan mengukir bekas dalam kepingan ingatan. Rangkaian renungan masa lalu itu, berujung akan bagaimana masa depan saya.

Saya kepikiran apakah sebaiknya saya menjadi dosen, researcher, walikota, karyawan atau memulai usaha sendiri. Saya tahu semuanya memiliki peluang manfaat masing-masing. Tinggal bergantung apakah niat kerja yang dilakukan hanya untuk Allah atau yang lain. 

Banyak lika-liku berlalu, membuat waktu berjalan melewati alam sadar. Tidak terasa akan banyak orang menanyakan saya tentang masa depan. Yah hal itu wajar, tuntutan terkadang bisa menjadi pemicu lejitan. Tekanan yang terus menerus diberikan, dapat membuat bola memantul lebih tinggi.

Namun, setelah berjuang hampir 4 tahun di kuliah, saya memiliki tujuan baru untuk masa depan. Yah, saya ingin berteman. Saya tidak mengkhawatirkan akan jadi apa saya ke depannya, asal saya bisa dikelilingi orang-orang yang saling mengulurkan tangan bersama-sama. Orang-orang yang peduli satu sama lain, dan saling mengingatkan akan kebaikan. Melarang ketika memasuki jalan yang salah dan membantu konsistensi berjalan di jalan kebenaran.

Benar, mau jadi apapun saya… tujuan utama saya tetap mencari tempat di mana saya bisa memiliki banyak teman. Bercengkrama tentang pekerjaan, berbagi akan kebahagiaan, pun saling memberikan pundak di kala kesusahan. Seribu teman tidak akan pernah cukup, saya ingin lebih dari itu! Etnis, suku bangsa, bahasa, tidak akan menjadi penghalang, saya hanya ingin berteman dan berteman. Bahagia rasanya punya orang-orang yang saling berbagi senyuman dan objek kebermanfaatan.

friendship-50a

Semoga, masa depan saya bisa dikelilingi teman. Berbagi kebermanfaatan, bersama menyelami rasa bahagia pekerjaan.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s