Kanchanaburi Day 1 Part 1, First Train Back Pack


23 Oktober 2013… Ini catatan pertama backpack selama saya di Thailand. Yah, one of the worth experience selain belajar & menambah ilmu baru, adalah bertafakur alam, mengunjungi tempat2 indah Allah di sisi lain. Thailand, merupakan salah satu destinasi terbaik (kedua setelah Indonesia tentunya) untuk mencuci mata melihat keindahan bumi zona tropis. Banyak turis-turis asing yang rela membunuh waktu untuk sekedar membuat adrenalin jelajahnya terpicu, mencoba menikmati keindahan alam yang bersatu dengan budaya lokal yang terikat kuat. Hari rabu ini, dengan cuaca cerah & matahari bersinar megah, saya dan teman2 Indonesia lain yang juga exchange disini, benar2 acak memutuskan untuk backpack ke Kanchanaburi disebabkan tanggal merah yang tercantum di Kalender Thai. Saya lupa hari apanya, tapi intinya segera saja jiwa berpetualang kami segera bangkit dan mencari titik destinasi yang akan dituju. Ada dua pilihan awalnya, Pattaya atau Kanchanaburi. Melihat Pattaya hanya berjarak sektiar 3 jam dari Bangkok, yang artinya tidak terlalu sulit, maka kita memutuskan untuk berangkat menuju Kanchanaburi di hari libur ini.

map_province

*** Tiket segera dipesan oleh teman2 saya. Ohya FYI, kita berangkat ke Kancha (Selanjutnya akan disebut Kancha, males nulis Kanchanaburi kepanjangan :P), bersama gabungan dari berbagai universitas, KMUTT, Chula, dan Kasetsart. Harga tiket keretanya lumayan murah, cuma 100 Baht atau 40 ribuan. Alasan kita naik kereta juga bukan cuma karena murah saja, tapi memang ingin merasakan pengalaman asik aja, melihat sekeliling di luar hiruk-pikuk kota. Ada kejadian Super Awkward dan Kocak, sebelum saya sampai ke stasiun. Jadi yang ikut ke Kancha dr KMUTT cuma saya dan Eliya, teman satu perjuangan lagi Solya ga bisa ikut karena ada project yang harus diselesaikan. Jadi saya & Eliya berangkat pagi2 bgt dr kampus menuju stasiun berdasar petunjuk teman Thai pada sehelai kertas. Tapi karena rada2 macet, kita hampir telat sampai stasiun, dan parahnya bus yang kita naikin nurunin di halte terdekat yang lumayan jauh misal jalan kaki ke stasiunnya. Akhirnya nekat, kita segera mencari ojek, yg kebetulan emg rame di dekat halte. Dialog seinget saya kayak gini:

“Sawasdeekap, we want to go to station, to Kachanaburi, How much is it?”

Langsung to the point karena emg buru2.

“Forty, one people forty”

Dengg, karena kita anak beasiswa, yang saat itu juga belum turun, wajib pisan nawar, kalo bisa gratis haha.

Kita bilang: “NO, NO, thirty for 2 people”, terus takut dia ga ngerti kita sok2 tambahin pake bahasa thai “Ha Sip okay, one people Ha Sip”, sambil ngacung2in telunjuk ke dia, yah tau lah yah, selain bahasa inggris, komunikasi dengan orang asing yang lebih ampuh yaa bahasa tubuh.

Jadi emg seinget saya, Ha itu lima, Sip itu sepuluh, jadi kalo lima belas, Ha Sip.

“Okay, okay” kata mamang ojek nya, kayak rada kesel juga gitu sih…

Tapi ga masalah, bersyukur dia mau, karena kalo ketinggalan kereta juga bisa berabe. Sang mamang berdua mulai mengenkol, suara berisik motor terdengar, dan roda pun mulai berputar. Ternyata memang lumayan jauh kalo pake jalan kaki, untung banget kita nyewa Ojek.

Pas mau turun, langsung Eliya ngasih 30 ke mamang ojeknya “For two people”, maksudnya buat kita berdua 30. “Thank you, Kopkunkap”. Langsung deh kita ngacir, mencari muka2 cemas yang takut kita berdua telat.

Untung masih sempat, kita langsung berbaur dan meminta tiket yang sudah dibeli terlebih dahulu. Haah lega rasanya.

Tapi tiba2 mamang ojeknya datang ke kita lagi, rada teriak2 gitu “Sip baht more, sip baht!!” ceunah. Dia minta 10 Baht lagi, dan karena menghindari konflik & riweuh, yaudah saya kasih 10 Baht.

Setelah ngobrol2, ternyata emang yang kita bilang terbalik #Deng. Jadi kita bilang ke mamang ojeknya Ha Sip, artinya Lima Puluh, padahal yang kita maksud Lima Belas yang seharusnya Sip Ha. Haha. Pantes aja mamang2nya tadi langsung setuju. Yaah, overall, minimal kita belajar 2 hal disini. Pertama tau Ha Sip itu 50, kedua tau Sip Ha itu 15 (?). LOL

*** Desiran angin yang terbelah menimbulkan bunyi indah pada gendang telinga, menandakan gear-gear pada mesi kereta mulai bergerak memutar roda. Ahh, meskipun tidak ada AC, tapi keretanya cukup nyaman, terbuat dari bilik kayu, dengan kursi saling berhadapan. Karena perjalanan diperkirakan menghabiskan 5 jam, kita pun segera menjepret-jepret foto sepanjang rel kereta.

Yang paling seru, sebenarnya pengen nurutin adegan di film 5cm, titanik versi kereta, haha. Tapi karena masih jomblo jadinya sendiri aja bergelantungan ketika kereta sudah berjalan.

1454829_10202635262232723_564571297_n

1425679_10202635245312300_277607716_n

Rasanya asiiik, yah, ketika elemen2 angin secara rapat bergesekan dengan pipi dengan kecepatan kereta yang relatif cepat, ditambah lagi adrenalin mulai terpicu karena memiringkan badan 45 derajat ke arah luar kereta, membuat sensasi yang sulit diungkapkan dengan kata2 (?). Yah, intinya perjalanan dengan kereta kali ini super worthit dah! Ditunggu aja cerita selanjutnya pas kita sudah sampai di Kancha! [] *** Bersambung ke Day 1 Part 2, River Kwai & Hellfire >>

3 thoughts on “Kanchanaburi Day 1 Part 1, First Train Back Pack

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s