Kisah SenandikaKu – Orang Bijak dan Empat Mahasiswa


Ini sebenarnya tulisan dibuat beberapa bulan yang lalu, bisa dibilang sedikit sumbangsih yang ingin kutinggalkan bagi kampus yang sangat mewarnai hidupku. Dan Alhamdulillah tulisan ini sudah menyatu, dalam kumpulan huruf, menjadi e-book yang bisa setiap orang unduh: senandikaganesha.co.nr.

Bukan apa-apa, hanya ingin sedikit berbagi cerita, untuk setiap orang yang kurasa sangat berharga, yaitu pembaca. Seperti qoute-nya seorang traveller:

“Take nothing but picture, kill nothing but time, Leave nothing but footprint”

Yahh, intinya hanya ingin mencoba meninggalkan jejak, untuk dikenang di hari tua kelak. Happy reading!

***

Dikhususkan untuk KM ITBku tercinta, aku mungkin ingin menyampaikan uneg-uneg pemikiranku, dalam sebuah cerita. Tentang seorang yang bijak yang bertemu empat orang mahasiswa.

Ya, alkisah di suatu hari, terdapat seorang yang bijak bertemu dengan empat mahasiswa dari salah satu universitas terbaik bangsa, Institut Teknologi Bandung. Mereka berempat ingin mendapatkan nasehat dari dia. Kemudian orang bijak tersebut menyuruh mereka bercerita siapa mereka dan apa yang sudah mereka lakukan, tapi dengan syarat mereka harus diam dan mendengarkan ketika salah satu dari mereka berbicara. Maka keempat mahasiswa itupun mulai bercerita secara bergantian…

***

Selain mahasiswa, aku seorang demonstran”, teriak mahasiswa pertama.

Terik panas, hujang mengguyur, tidak menghentikan langkahku untuk bergerak maju menuju kantor DPR meneriakan suara kebenaran. Dengan jamal hijau-gelap berlambang gajah kebanggaanku, aku berdiri ke puncak mobil pickup –yang sudah dilengkapi olehsound system ukuran besar –meneriakan kata-kata retorikaku untuk membangkitkan semangat masa aksi, menolak keputusan pemerintah yang tidak bijak. Aku disini berdiri atas dasar hati nurani, melihat hak rakyat kecil terinjak-injak dan tidak dihargai sama sekali. Melihat bagaimana bobroknya orang-orang di atas sana, yang dikelilingi suap dan sodoran kekayaan. Aku tidak bisa tinggal diam. Prinsipku adalah “mendiamkan kesalahan adalah sebuah kejahatan.”

Dengan melakukan demonstrasi ini, aku ingin mengutarakan kebenaran. Tapi jangan salah, aku dan teman-temanku melakukan demonstrasi dengan tertib. Ada izin polisi, tidak merusak barang publik, dan berbicara sesuai dengan kajian intelektual yang sudah kita laksanakan sebelumnya. Tujuan kita hanya satu, suara kita didengar, sehingga pemerintah sadar dan mengubah kebijakannya, yang bisa lebih meraih tangan rakyat-rakyat kecil.

***

Jika aku, aku lebih senang berkunjung ke desa-desa”, teriak mahasiswa kedua. 

Senang rasanya jika bisa bercengkerama dengan warga desa, ketika aku melakukancommunity development untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Setidaknya aku melakukan tindakan yang lebih nyata dibanding mahasiswa pertama. Aku berkunjung ke posyandu, membantu anak-anak mendapatkan imunisasi. Aku juga mengajarkan mereka cara bercocok tanam yang lebih cerdas, sehingga produksi yang mereka hasilkan bisa meningkat. Anak-anak SD, SMP dan SMA di desa itu, aku beri pengajaran sesuai pengetahuanku. Aku mengajak mereka bermain, mengajarkan mereka bahasa Inggris dan memotivasi mereka untuk bisa bermimpi tinggi. Yah, setidaknya aksi NYATA, sudah aku lakukan meskipun masih bergelar mahasiswa.

 ***

Mahasiswa ketiga yang daritadi tidak sabar ingin mengutarakan pendapatnya, akhirnya diperbolehkan oleh orang bijak setelah mahasiswa kedua berhenti berbicara.

Berbeda dengan mereka, menurutku, uang & lapangan pekerjaan adalah hal yang lebih penting diperjuangkan” dengan tegas mahasiswa ketiga berbicara.

Ya, berbisnis adalah kegiatanku selain menjadi mahasiswa. Dengan membuka bisnis baru, aku bisa menghasilkan uang sekaligus membuka lapangan pekerjaan. Meskipun umurku belum mencapai 20 tahun, aku sudah bisa mempekerjakan sekitar 20 karyawan. Aku bisa memberikan mereka gaji yang memadai dan menolong mereka dari cengkeraman pengangguran. Aku juga bercita-cita menjadi pebisnis muda, dimana aku akan memajukan produk Indonesia mengalahkan produk-produk asing yang ada di dalam negeri. Aku lebih KONGKRIT dari mahasiswa pertama dan kedua. Sekian

 ***

Mahasiswa pertama dan kedua ingin membantah, namun ditahan oleh orang bijak tadi.

Jika aku, aku melakukan kewajiban, sebagaimana amanah yang sudah diberikan kepada kita, mahasiswa” tegas mahasiswa keempat yang mulai berbicara.

Ya, hampir setiap semester, IP ku lebih dari 3.5, karena aku tekun belajar. Aku juga mengasah kemampuan keilmuwanku dengan menjadi asisten lab di program studiku. Aku juga sekarang sedang melakukan riset yang hasilnya bisa membuat Indonesia dikenal dibangsa asing, dan meningkatkan produksi pada perusahaan di Indonesia. Aku rasa itulah tujuan utama kita menjadi mahasiswa. Sebentar lagi, aku akan berangkat ke Luar Negeri, karena ingin mendapat ilmu yang lebih luas sekaligus menjalankan penelitian dengan peralatan-peralatan yang mumpuni. Ya, itu yang aku rasa hal yang seharusnya mahasiswa lakukan, tidak seperti ketiga temanku sebelumnya.

 ***

Ketiga mahasiswa lainnya ingin segera membantah, namun secepat mungkin tidak diperbolehkan oleh orang bijak ini.

“Sudah, Cukup!” Dengah nada sedikit tinggi orang bijak berkata.

Aku tau masih banyak hal yang ingin kalian debatkan. Di antara kalian mana yang paling benar, atau yang paling hebat dalam apa yang sudah kalian lakukan. Tapi niscayalah kalian semua BENAR.

Apa yang terjadi jika mahasiswa pertama tidak turun ke jalan, menyuarakan suara rakyat kecil yang tidak terdengar di telinga para wakil rakyat? Atau apa yang terjadi, ketika kesalahan yang pemerintah lakukan -yang sudah merugikan banyak khalayak- didiamkan begitu saja oleh mahasiswa pertama? Kebijakan tidak akan berubah! Dan pemerintah akan tetap mempertahankan kesalahannya.

Namun jika hanya menyuarakan saja, dan ternyata pemerintah lama untuk membenarkan kesalahannya, tindakan-tindakan seperti mahasiswa kedua ini lah yang patut dilakukan. Dengan turun ke desa, dia juga bisa mengetahui suara-suara hati rakyat. Apa yang mereka butuhkan atau apa yang mereka rasakan. Hal ini bisa juga melatih untuk berpikir dengan-sudut-pandang-rakyat-kecil ketika mahasiswa kedua ini –siapa tau- menjadi pemimpin Negara kita.

Mahasiswa ketiga juga benar! Ekonomi harus ditingkatkan, dan dengan banyaknya para pengangguran di Indonesia sekarang, lapangan pekerjaan wajib diciptakan. Uang mungkin bukan merupakan hal yang paling penting, tapi hal-hal penting bisa dipenuhi dengan uang. Rakyat butuh makan, pakaian, tempat tinggal dan pekerjaan. Mahasiswa ketiga inilah yang akan menjadi secercah solusi untuk ekonomi Negara kita yang akan datang.

Begitupun dengan mahasiswa keempat. Belajar adalah kewajiban utama mahasiswa, jangan pernah sampai kalian lupakan. Riset dan penelitian juga sangat dibutuhkan Negara kita, yang secara notabene tertinggal dibanding Negara-negara maju di luar sana. Kita tidak selamanya akan mengemis teknologi dari Negara lain, tapi kita sendirilah yang harus menciptakannya. Jika tidak ada mahasiswa keempat ini, Negara kita, akan semakin sedikit jumlah kaum-kaum intelektualnya yang akan memajukan perteknologian bangsa.

Sebenarnya tidak hanya keempat kalian saja mahasiswa di Negara kita ini. Ada yang dia mengembangkan bakatnya dalam bidang olahraga dan membantu mengharumkan Negara kita di mata internasional sehingga kerjasama luar negeri kita bisa dipermudah. Ada yang dengan bakat bermain musiknya dia pergi ke berbagai benua, mengadakan konser amal dengan beberapa persen keuntungan dibagikan kepada mereka yang membutuhkan. Bahkan ada juga mereka yang senang melakukan berbagai hal, mereka memiliki riset yang berbobot, tapi mereka juga siap untuk turun di jalan.

Semua yang dilakukan itu sangat benar! Asal disisipkanlah tujuan kalian bergerak dan berkarya itu tidak hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang lain.

tumblr_m3319bdLDO1r3e62yo1_500

Jika kalian bayangkan, betapa harmoninya kehidupan di Negara ini ketika rakyatnya bisa saling tolong menolong satu sama lain. Sungguh indah bukan? Dan percaya juga lah, setiap yang kalian lakukan, pasti ada yang pro & kontra. Asal tidak merugikan orang lain, tegarlah pada prinsip kalian, tetaplah lakukan yang bisa kalian lakukan, sesuai minat yang kalian miliki, dan kemampuan yang kalian yakini, dengan tujuan untuk bermanfaat bagi orang lain. Beruntunglah kalian memiliki Keluarga Mahasiswa (KM) ITB, yaitu wadah yang bisa menyalurkan apa yang bisa kalian minati. Teruslah berjuang dan berkarya, bergeraklah sesuai dengan senandika yang kalian miliki, agar kelak menjadi benih unggul untuk masa depan bangsa ini.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s