Ohya mungkin engkau lupa!


Hari ini aku segera beranjak dari tempat tidur, bergegas mengambil motor butut yang terparkir di pojok halaman, mengengkolnya… mungkin butuh belasan hingga puluhan kali agar bisa terdengar bunyi mesin yang menyala

Aku harus cepat! Karena hari ini-lah, hari terakhir untuk bisa membeli bensin dengan harga murah, sebelum besok sudah engkau paksakan -mungkin dengan sedikit naik darah- harga BBM akan mutlak dinaikkan

Aku heran, banyak orang bilang, minyak kita banyak. Tapi kok kita seperti terseok-seok, mengais tanah, mencari apa yang engkau bilang emas hitam.

Aku tidak paham dengan dalih yang engkau berikan. Kekurangan teknologi pengerukan, crude oil dunia naik, atau apalah itu bahasa-bahasa dewa yang engkau gunakan. Yang terpenting bagiku, anak ku bisa makan! bisa berpendidikan! Tidak harus pinjam sana-sini untuk menutupi kebutuhan!

Ohya mungkin engkau lupa!

Engkau lupa jika aku dan teman-temanku hanya berpenghasilan 10 ribu per hari.

Dan parahnya, yang aku tahu, engkau menggolongkanku pada kategori tidak miskin. Terima kasih!

Oke, aku anggap aku paham, dengan berjuta alasan yang engkau berikan -peningkatan kemakmuran, subsidi salah sasaran, ini semua juga untuk kesejahteraan- tapi, mengapa baru sekarang engkau putuskan?

Apakah engkau tidak tahu bahwa sebentar lagi ramadhan? Bahwa harga-harga akan naik secara simultan?

Ohya mungkin engkau lupa!

Dengan setumpuk surat penting yang harus engkau tanda-tangani, demi menjaga nama baik untuk tetap berada di kasta tertinggi

Awal-awal tahun tidak ada suara. Aku kira -dan sangat bersyukur- BBM tidak jadi dinaikkan. Padahal mungkin aku bisa mempersiapkan, jika pada awal tahun engkau naikkan, jika memang itu yang engkau perlukan

Sekali lagi mungkin engkau lupa! Atau sengaja?

Menaikan beberapa hari sebelum ramadhan? Agar aku dan teman-teman ku bisa terlatih hidup lebih “militan” ?

“Oh tenang…” kau berkata “aku sudah menyiapakan bantuan tunai untuk kalian…”

Beberapa temanku tersenyum, mereka senang akhirnya ada uang ganti tambahan.

Tapi apakah itu memang yang engkau inginkan? Membuat kita selalu menadahkan tangan?

Ohya mungkin engkau lupa, bahwa yang sekarang kau perjuangkan adalah membuat kita akan selalu mengemis atas suapan, bukan tujuan utama menumbuhkan kemandirian ?

Aku tahu engkau pasti berat duduk disana. Penuh tekanan, penuh hujatan.

Tapi tolong tegaslah! Jangan lupakan aku dan teman-temanku. Ingat-ingat lah sekeping pikiran engkau yang masih peduli atas nurani dan hati. Ingatlah wajah-wajah kami, yang semakin berkerut ceking, mencari asupan gizi

Atau jangan sampai aku dan teman-temanku akan lama-lama lupa, bahwa sampai sekarang kita masih mempunyai seorang pemimpin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s