#JapanLife Day 2 – Welcome Japan (Part I)


Tidak menyangka memiliki waktu untuk bercerita kembali di blog ini, ditengah kesibukan dunia yang mungkin tidak akan ada habisnya, sungguh rasa syukur terus terucap akan nikmat yang Allah berikan pada salah satu makhluk hinaNya ini.

Di post ini ingin kembali mengabadikan sebuah pengalaman hidup yg tak terlupakan, yaitu hari kedua saya berada di Jepang. Untuk cerita hari pertama bisa dilihat di post ini:

#JapanLife Day 1 – it All Starts Here (Part I)

#JapanLife Day 1 – it All Starts Here (Part II)

Di hari kedua ini tentunya masih berada di bulan ramadhan, dan saya hanya saur dengan minuman yang saya beli di vending machine. Tentunya karena di Jepang sekarang Summer, waktu shubuh menjadi lebih cepat, sekitar pukul setengah 3. Ini karena efek siangnya jauh lebih lama dari malam. Segera kaki pun melangkah mencari musholla.

“Excuse me sir, do you know where is the prayer room for muslim?” I asked to a security guard

“We’re really sorry sir, we don’t have any of them in here” He directly answered

Yah, sedikit mengecewakan, ternyata di Haneda memang sama sekali tidak memiliki musholla. Awalnya saya kira pak Satpamnya ga mengetahui ‘prayer room’-nya orang islam dan saya bersikeras mencari sendiri, tapi ternyata memang benar tidak ada. Apa boleh buat karena seharusnya sebentar lagi waktu shubuh habis akhirnya segera saya ambil wudhu di toilet terdekat dan sholat duduk di ruang tunggu.

Selesai sholat, hilang lah rasa gelisah akan kewajiban yg belum tertunai, jadi saatnya sekarang keliling bandara! Kebetulan sekali hal pertama yang saya temukan saat itu adalah comment box, segera saja saya ambil selembar kertasnya dan saya tulis seperti foto ini

DSC_0138

Bangun musholla di Haneda!!

Yah, semoga ada pihak bandara yg membaca dan mengetahui apa yg saya maksud dengan Musholla.

Okay, selepas shubuh segera saya menuju lantai paling atas Haneda yang katanya terdapat Binocular di sana. Dan ternyata benar ada, jika saya tidak salah penggunaanya juga menggunakan koin, yaitu 100 yen. Inilah pemandangan pertama Jepang dari  Haneda saat matahari mulai menampakkan diri.

DSC_0144 DSC_0148 DSC_0147

Singkat cerita, pasca hati tergugah akan -sekali lagi- betapa hebat bumi Allah di bagian lain ini, betapa luasnya kota Tokyo yang terlihat dari Binocular, saya segera menelpon kakak kelas alumni EL 06 ITB yang sekarang kuliah di TITech, namanya Kang Nur. Telpon seperti biasa karena BB tiada guna, saya menggunakan telpon koin yg ada di Bandara. Lama sekali tersambungnya sebenarnya, berkali-kali akhirnya Kang Nur mengangkat dan singkat kata kita janjian di stasiun Shinjuku sekitar jam 10an.

Suasana stasiun bandara yang masih sepi

Suasana stasiun bandara yang masih sepi

Yuhuu, akhirnya saya akan segera menjajahkan diri di kota Tokyo. Saya sebenarnya memiliki Suica Card[1], yaitu kartu khusus yang biasanya digunakan untuk naik kereta di Jepang, yg sebelumnya dipinjamkan teman saya yg juga baru balik dr Internship di Jepang, Samia. Tapi karena benar2 clueless, belum ngerti cara pake nya, akhirnya nekad saja bertanya.

“Miss, do you know what train should I take to reach Shinjuku” I asked to train officer

“Sure sir, do you have the train map, if no, just take this” she gave me a map “You should take a train to Shinagawa first, then move to the train in Yamanote Line, in here just take a train to Shinjuku, that’s it. It’s simple enough”

“Umm, okay, then how could I buy the ticket?” I asked again

“Just take that machine right there sir, then push Shinjuku button” She stared me at a moment and realized I am a bit confused “Okay, I will show you” she said

Akhirnya  saya ditunjukan cara membeli tiketnya. Ternyata cukup gampang, yaitu kita tinggal membeli tiket sesuai tujuan kita. Misal kalian lihat di foto bawah ada tulisan SHinagawa 400, artinya kita cukup beli tiket 400 yen. Tapi jujur, ini karena saya sudah mengerti, saat pertama kali mencoba ternyata ribetnya minta ampun, Haha. Untung ada suica card (ini akan saya jelaskan di hari berikutnya)

DSC_0149

Tempat mesin pembelian tiket dan map besar di atasnya

Setelah membeli tiket, masuklah pertama kali saya di stasiun. Dan sungguh, ini sangat berbeda sekali dengan stasiun Depok – Jakarta yang pernah saya naiki dulu. Stasiun Haneda ini bersih, cat-cat nya seperti baru dan tertata rapi, seakan-akan terus diperbaharui setiap hari. Yah inilah Jepang.

Di depan keretanya sudah cukup ramai

Di depan keretanya sudah cukup ramai

Suasana di dalam kereta

Suasana di dalam kereta

Di dalam kereta, sudah cukup banyak orang-orang Jepang berjejeran. Seperti memasuki dunia baru kala itu dan mereka memang benar seperti yang saya bayangkan. Ada yg membaca buku, koran, bermain HP, dan juga tidur. Menarik! Saya saat itu karena hanya memegang secarik Map, jadinya hanya melihat2 sekaligus membiasakan diri terhadap jalur kereta.

Melihat jam yang masih pukul 7, sedang janjian pukul 10, saya memutuskan untuk berhenti dulu di Harajuku, yaitu 1 stasiun sebelum SHinjuku. Mengapa? Dasar tertarik aja dengan kata Harajuku yang sering terdengar di internet atau pun di film Jepang, yaitu identik dengan dandanan dan gaya rambut nyentrik khas Jepang. Jika kalian tahu saya benar2 seorang pengembara (tepatnya bocah hilang mungkin ya) saat itu, haha. Just do randomly!

Menyingkat cerita lagi, saya turun dulu di Shinagawa agar bisa transit ke Yamanote line[2], supaya bisa menuju ke Harajuku. Saya ingat sekali bahwa selama 2 minggu saya di Jepang, ketika di kereta kata2 paling sering didengar (jika saya ga salah) adalah “Sugi Wa..”, itu mungkin artinya ‘pemberhentian selanjutnya’ dlm bahasa Indonesia (nebak sih). Jadi ketika terdengar ‘Sugi Wa Harajuku’, berarti stasiun selanjutnya Harajuku. Turunlah saya disana.

Inilah langkah pertama saya di Tokyo. Terus Hamdalah saya ucap, atau ingin rasanya meloncat, menjerit meluluhlantahkan udara dengan teriakan saya saking senangnya, tapi yah daripada nanti polisi lokal datang kemudian mendeportasikan saya karena dikira orang gila, saya urungkan niat tersebut.

Official Shop AKB48

Official Shop AKB48

Pertama kali di Harajuku saya disambut oleh Official Shop -nya AKB48. Mungkin tidak asing lagi kata AKB48. Sayang karena masih pagi jadi belum buka, soalnya terbesit juga niat untuk melihat-lihat ke dalam. Untung masih dilarang oleh TakdirNya, hehe.

Tapi di Harajuku inilah saya mendapat pelajaran berharga pertama. Di saat semua orang berjalan satu arus keluar dr stasiun menuju lokasi tujuannya masing-masing, saya melihat seorang bapak yang sudah cukup tua membungkuk ditengah-tengah arus manusia tadi. Heran, kemudian saya ikuti. Ternyata sungguh tergetar hati saya ternyata beliau memungut puntung rokok & beberapa sampah kecil. Subhanallah.

DSC_0176 DSC_0177 DSC_0178 DSC_0180

Betapa benar rumor terkait karakter orang-orang Jepang. Ada yg bilang, jika kalian ke Singapura, bersih, itu karena orang-orangnya taat karena takut hukum. Tapi orang Jepang, bersih, karena mereka taat atas dasar karakter kuat yang melekat akan kecintaanya terhadap negara. Yah semoga, kita orang Indonesia jg bisa turut menirunya disehari-hari.

Oke Amiin! dengan tergugahnya kembali batin saya, saya terus melanjutkan perjalanan keliling kota. Cerahnya terang mentari, semakin melihatkan betapa indahnya kota ini. Trotoar luas untuk pejalan kaki, sampah terkumpul ditempatnya, aspal hampir tidak ada yang berlubang, cat-cat putih di jalan sangat jelas yg katanya memang terus di cat setiap bulannya, sepeda banyak terlihat sepanjang jalan, yah benar2 mendeskribsikan negara dengan karakter yang khas.

DSC_0186 DSC_0185 DSC_0212 DSC_0206 DSC_0220 DSC_0218

Bahkan meskipun itu ditengah kota, masih banyak rumah-rumah khas, atau tugu-tugu yang menggambarkan akan penjunjungan tinggi terhadap budaya.

DSC_0202 DSC_0199 DSC_0192 DSC_0201

Terbesit ingin terus tinggal disana saja seterusnya, yah tapi memang faktor agama dan cinta tanah air menjadi border utama. Indonesia saya yakin jauh lebih indah dari ini tapi bukan dibagian kota. Besar peluang negara saya untuk berubah yang mungkin belajar banyak dr Jepang. Disanalah peran saya dan teman2 saya lainnya.

Akhirnya setelah puas berkeliling menikmati indahnya panorama kota Harajuku, saya langsung bergegas ke stasiun kembali, karena waktu perjanjian jg sudah mendekati. Disini karena masih awam yang saya pikir gampang membeli tiket, ternyata begitu saya coba sendiri ribetnya minta ampun. Karena deffault display awal adalah bahasa hiragana dengan berbagai macam kanjinya bermunculan di layar. Untuk pindah bahasa saja saya bingung. Ketika bertanya ke petugas

“Sir could you show me how to get a ticket to shinjuku?”

“Nani? Watashiwa blalala des… iki wa iku desuna #@%~ Bla bla desuka” -Jawab petugasnya

Haha, pelajaran kedua ternyata petugas di stasiun kota tidak sefasih petugas2 di bandara bahasa inggrisnya, bahkan sama sekali tidak bisa. Okay modal mencoba, asal pencet saja tombol2nya, dan Alhamdulillah tiba2 layar berganti bahasa inggris, Lol. Dibelilah tiket Shinjuku dan segera meluncur ke daerah lainnya Tokyo.

Cerita di Shinjuku mungkin akan saya lanjutkan di part II. Tapi sedikit Intermezo, saya sempat tersesat di dalam stasiun karena Shinjuku beda dengan stasiun Harajuku. Ini sangat besar dengan banyak gerbang, apalagi karena waktu sudah menunjuki pukul setengah sepuluh terjebaklah saya di tumpukan manusia. Meski begitu, disebabkan kaki yg terus melangkah ke arah cahaya akhirnya saya menemukan pintu keluarnya, inilah suasana kota shinjuku saat itu.

DSC_0231

Suasana kota Shinjuku

DSC_0230

Sword art Online, hehe

Yup enough, begitulah setengah perjalanan saya di Jepang pada hari kedua. Ditunggu saja post selanjutnya ketika saya akhirnya terbebas dari gelar ‘Bocah Hilang’ karena bertemu banyak anak PPI tokodai, di Day 2 Part II. Alhamdulillah. Okay, see you in the next post, and very great welcome Japan![]

[1] http://en.wikipedia.org/wiki/Suica

[2] http://en.wikipedia.org/wiki/Yamanote_Line

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s