Syukur


Datang edisi curahan hati, yap tulisan kali ini cuma ingin mengucapkan tak hingga rasa syukur yang saya panjatkan atas anugerah Sang Illahi.

Sungguh jika Allah menghendaki sesuatu maka dengan mudahnya terjadilah hal itu. Tepat sabtu pagi hari ini, ketika asa sedang membuncah setinggi-tingginya dalam olaharga olah kaki, ketika jiwa sedang semangat-semangatnya terbakar api untuk sekedar menempa diri, sebuah musibah terjadi. Lapangan futsal 76 di Pasteur Bandung menjadi saksi kaki saya tergelincir dan mengakibatkan luka robek pada pergelangan lutut kiri. Saya kira hanya luka ringan, tapi ternyata cukup menyakitkan. Darah bercucuran dan dengan sigap saya keluar lapangan.

Bingung apa yang harus dilakukan, akhirnya meminta dengan pengurus lapangan tersebut botol mineral yang terpampang dalam kulkas. Yah logika singkat mengatakan darah bisa dihentikan dengan es batu/air dingin, segera saya tempelkan botol tersebut di luka robek lutut saya. Logika kedua yang jalan adalah bahwa luka harus ditutup. Sempat terlintas ingin merobek baju dan melilitkannya di sekujur luka, tapi diurungkan niat karena pertama cukup sulit untuk dicoba dan kedua akan lebih mudah jika saya bertanya dahulu ke paman penjual minuman apakah ada sejenis kain guna menutup luka? Alhamdulillah, dengan sigap mas-masnya mengeluarkan secercah kain oranye, yang jelas langsung saya samber untuk mencegah semakin banyakanya Hemoglobin yang keluar layaknya kebocoran air pada drainase.

Beruntung punya teman yang tanggap. Singkat cerita saya langsung dibonceng dengan motor coupling berkecepatan tinggi.  Jika pernah membayangkan salah satu scene pada film 3 idiots saat ayahnya Raju yang sekarat dibawa oleh Rancho dengan scooter, mungkin seperti itulah adegan saya dibawa dengan motor oleh teman saya. Klakson tidak berhenti dibunyikan, bodoh amat kendaraan lalu lalang, yang penting kita bisa sampai di Rumah Sakit terdekat dengan aman. Disinilah titik-titik saya bisa sangat dekat dengan Sang Pencipta, doa terus saya baca, dzikir terus berkumandang dalam jiwa, berharap tidak terjadi apa-apa.

emergency2

Dari awal kita sudah menargetkan pintu emergency pada rumah sakit borromeus di dekat kampus. Cukup menegangkan, karena jika satu detik saja petugas terlambat menghentikan, mungkin kita segera menyelonong masuk (langsung dengan motornya) ke dalam ruangan. Di depan pintu bertuliskan gawat-darurat dengan mesin motor yang masih menyala, saya langsung didudukan di kursi roda. FYI, ini adalah perdana saya menaikinya.

Segera dengan lutut yang terus mengeluarkan sel darah yang meletup-letup, saya didorong menuju suatu bilik tertutup. Suster dan dokter disana langsung dengan cekatan membersihkan luka saya. Disiapkan sejumlah jarum suntik, beberapa alat operasi mekanik dan kesimpulan yang saya petik bahwa luka saya harus dijahit. Ah, sudah saya duga, dakwa tersebut tidak mungkin saya bantah, mengingat nilai bologi saya -terutama berhubungan dengan sel tubuh manusia- hanya sebatas rata-rata.

Jelas sebelum dimulai ‘pemintalan’, cairan bius harus disuntikan. Tapi tenang untungnya hanya bius lokal, jadi tidak sampai membuat saya pingsan. Tapi memang masa penyuntikan tersebut adalah masa yang paling menyengsarakan. Tidak ada yang bisa saya lakukan kecuali menggigit SIM C (yang lupa kenapa saya pegang kala itu) -guna menahan rasa sakit yang luar biasa- hingga terdapat keretakan pada kartu SIMnya. Tidak hanya kaki kiri namun juga kaki kanan ikut bergetar, kepala merasakan nyeri yang tiada dua, tangan kiri & kanan marambat kesemutan, seakan-akan tubuh saya adalah konduktor yang mengalirkan elektron dari sumber luka keseluruh badan. Benar-benar lima menit yang menyeramkan.

Namun setelah efek obat bius bekerja, entah mengapa sakit mulai sedikit demi sedikit menghilang. Nafas mulai menjadi tenang, mata coba saya pejamkan karena tidak tahan melihat penjahitan yang dilakukan. Sekitar 15 menit akhirnya penderitaan tersebut selesai. Dokter bilang terdapat kira-kira 9 jahitan. Astaga, sungguh rekor terbaru yang saya ciptakan dalam riwayat ke-terluka-an saya.

Operasi selesai, jutaan rasa syukur terus saya panjatkan, yah minimal luka tersebut tidak termasuk dalam kategori membahayakan. Sempat terbayang bagaimana jika infeksi, bagaiamana jika luka tersebut terus memberikan nyeri, apalagi sampai perlu diamputasi x_x. Namun ALhamdulillah semua bayangan tadi tidak ada yang menjadi kenyataan. Intinya operasi selesai, luka tersebut kembali dibersihkan dan dibalut dengan perban. Sangat bersyukur endingnya cukup menyenangkan, karena banyak teman yang menyempatkan datang sehingga mampu mengukir bibir saya sebuah senyuman. :D

alhamdulillah_by_morningrainbow-d47bjh71

Sebagai penutup izinkanlah saya mengutip Hadist ini.

Dari Abdullah r.a. katanya: “Saya masuk ke dalam rumah Rasulullah SAW dan beliau sedang demam. Lalu saya raba tubuh beliau dengan tanganku Saya berkata: “Ya Rasulullah! Sesungguhnya demam engkau amat sangat.” Beliau menjawab: “Ya! Sesungguhnya aku menderita demam, serupa demam dua orang laki-laki di antara kamu. “Saya bertanya: “Karena itu engkau memperoleh pahala dua kali lipat?” Beliau menjawab: “Ya!” Kemudian itu Rasulullah SAW bersabda: “Setiap Muslim yang ditimpa bahaya seperti penyakit dan lainnya, melainkan digugurkan (diampuni) oleh Allah kesalahannya, sebagaimana pohon kayu menggugurkan daunnya.”

2 thoughts on “Syukur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s