Hidup untuk Mencintai dan Bermanfaat bagi Sesama ??


Saya ingin sekali mengabadikan khutbah Jumat kemarin di Masjid Salman dalam tulisan, oleh karenanya post ini diciptakan. Saya tidak tahu siapa ustad yang berbicara, tapi intinya khutbah jumat kemarin membahas tentang cinta kepada sesama Manusia dan Cinta Allah. Mengutip salah satu Hadits,

Nabi Muhammad SAW bersabda : Barangsiapa yang tiada mengasihi manusia maka Allah-pun tiada mengasihinya! (Kanz al-Ummal, hadits ke : 5972)

Iya begitulah faktanya, bahwa cinta Allah akan tidak sampai kepada kita yang tidak mencintai sesamanya. Yang tidak ada rasa untuk memberikan manfaat bagi manusia. Awal khutbah diceritakan sebuah kisah menarik yang sungguh mengguggah jiwa. Mencari di google, dan akhirnya saya temukan kisah yang sama, yaitu kisah Sufi Abu Bin Azhim yang didatangi Malaikat pada malam hari.

cinta_allah_320_320_0_9223372036854775000_0_1_0 (1)

Kisah Sufi Abu bin Azhim

Diriwayatkan bahwa seorang sufi besar, Abu bin Azhim, suatu waktu terbangun di tengah malam. Kamarnya bermandikan cahaya. Di tengah tengah cahaya itu ia melihat sesosok makhluk, seorang malaikat yang sedang memegang sebuah buku. Abu bin Azhim bertanya: Apa yang sedang anda kerjakan? Aku sedang mencatat daftar pecinta Tuhan, jawab sang malaikat.

Abu bin Azhim ingin sekali namanya tercantum sebagai salah seorang pencinta Tuhan di dalam daftar tersebut. Dengan cemas ia mencoba melongok ke daftar itu, tapi kemudian ia sangat terpukul dan kecewa, karena ternyata namanya tidak tercantum di daftar tersebut.

Ia pun bergumam: Mungkin aku terlalu kotor untuk menjadi pecinta Tuhan, tapi sejak malam ini aku ingin menjadi pecinta manusia. Beberapa hari kemudian ia terbangun lagi di tengah malam. Kamarnya dipenuhi cahaya terang benderang, malaikat yang bercahaya itu hadir lagi.

Abu bin Azhim kembali mencoba melihat daftar para pencinta Tuhan, dan ia pun sangat terkejut, karena namanya tercantum pada papan atas daftar pecinta Tuhan. Ia pun bertanya kepada sang malaikat sambil terheran-heran, Aku ini bukan pecinta Tuhan, aku hanyalah pecinta manusia, bagaimana mungkin namaku tercantum sebagai salah seorang pencinta Tuhan? Sang malaikat pun menjawab, Baru saja Tuhan berfirman kepadaku bahwa engkau tidak akan pernah bisa mencintai Tuhan sebelum kamu mencintai sesama manusia.

Sungguh indah kisah tersebut. Ketika saya duduk mendengarkan pada saat khutbah jumat, semakin bertambah lah tingkat kepercayaan saya bahwa islam adalah agama paling benar. Agama yang menyuruh untuk mencintai sesama. Sehingga Sang Pencipta alam semesta ini pun bisa mengalihkan cintanya kepada kita yang mencintai manusia.

Jiwa peduli, rasa kasih sayang dan keinginan untuk saling tolong-menolong adalah sumber mutlak sebuah kebahagiaan. Pernahkah kalian merasa ketika kita menolong seseorang, bahkan hanya untuk hal sepele, kita merasakan sebuah gugahan jiwa, sebuah rasa, yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Rasa ini melebihi kebahagiaan ketika kita mendapat penghargaan, harta atau jabatan setinggi apapun. Benar, karena itulah kebahagiaan sejati. Ketika melihat orang-orang disekeliling kita tersenyum dan nyaman akan kehadiran kita. Nyaman akan kasih sayang yang kita berikan.

take-a-smile-copy

Rasulullah SAW juga bersabda, Kecewa dan Merugilah orang yang Allah tidak mengaruniai di dalam hatinya rasa kasih sayang kepada umat manusia (Kanz al-‘Ummal hadits no. 5978)

Ciri Orang yang Mencintai Manusia

Dalam isi khutbah, diungkapkan juga bahwa terdapat lima ciri orang yang mencintai manusia. Orang-orang tersebutlah yang insyaAllah akan menggapai cinta tertinggiNya. Orang-orang yang akan merasakan makna kebahagiaan dalam hidup, yang mengukir senyuman diri di Dunia dan akhirat.

1. Akhlak yang Terpuji

Orang yang mencintai sesama tentunya memiliki akhlak yang terpuji. Yang menghindarkan perbuatan-perbuatan tercela yang dilarang olehNya. Dan selalu bertindak atas dasar perintahNya. Mereka akan selalu bertobat ketika melakukan kesalahan, bersabar ketika musibah datang bertebaran, dan bersyukur ketika nikmat hadir ditengah kehidupan. Ya, mereka yang mencintai sesama akan dengan senang hati mejaga akhlak terpuji di dalam setiap aktivitas yang dilakukan sehari-hari.

2. Tingkat Kebermanfaatan

Ciri yang kedua, dalam setiap tindakan, ataupun aktivitas yang dikerjakan, orang yang mencintai sesama manusia selalu memikirkan tingkat kebermanfaatan yang dapat mereka berikan. Ketika terbentur diantara dua kegiatan, maka kegiatan yang paling banyak memberikan kebermanfaatan akan senantiasa menjadi pilihan. Mereka dengan senang hati berkorban waktu, tenaga dan pikiran agar sebisa mungkin menimbulkan benih kebermanfaatan bagi sesama.

3. Mempermudah urusan orang lain

Permudahlah urusan orang lain seakan-akan kita sedang berada pada posisi mereka – jangan malah dihambat atau bahkan dipersulit. Benar, hal tersebut merupakan ciri ketiga orang yang mencintai sesamanya. Berikanlah kemudahan kepada saudara-saudara kita, selagi kita bisa, namun tentunya masih dalam koridor kebaikan dan tidak melanggar aturan. Adalah salah ketika kita mempermudah teman kita mencontek, mencuri atau bahkan korupsi. Mempermudah disini adalah ketika orang lain membutuhkan pertolongan kita, dan selama memiliki tujuan yang baik, maka tolonglah mereka. InsyaAllah Allah juga akan mempermudah urusan kita sebagaimana kita memudahkan urusan sesama.

4. Dermawan

Yang keempat adalah sifat kedermawanan. Dalam khutbah, ustad tersebut berkata bahwa rekening kita yang sesungguhnya berada di akhirat, bukan di dunia dalam bentuk emas atau rekening tabungan, melainkan dalam bentuk amal. Amal kebaikan yang kita kerjakan. Sisihkanlah sebagian harta kita untuk berinfaq, karena sebagian amal kita dibawa oleh orang lain. Tidak ada yang abadi didunia ini, toh selain kain kafan tidak akan ada lagi yang bisa dibawa ketika kita dipanggil Sang Illahi. Oleh karenanya jadilah orang yang dermawan, jangan takut kehilangan uang atau pun kekurangan tenaga untuk menolong sesama, karena Allah menjanjikan sesuatu yang lebih di akhirat nanti.

5. Tidak menganggu orang lain

Yang terakhir, jika memang kita belum mampu untuk menolong sesama, maka seminimalnya hindarilah menganggu orang lain, baik secara lisan maupun fisik.

Dalam hadits Abu Musa al-Asy’ari z, ketika Rasulullah SAW ditanya tentang orang yang paling utama dari orang-orang Islam, beliau menjawab:

مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“(Orang Islam yang paling utama adalah) orang yang orang lain selamat dari kejahatan tangan dan lisannya.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 11 dan Muslim no. 42)

Selalu, jagalah lisan dan tangan kita. Akan sangat baik diam daripada berbicara tapi mencela. Dan begitu utama bagi mereka yang menjaga tangan-tangannya (perbuatannya) kepada amal kebaikan. Ketika kita ingin mencintai sesama maka hindarilah perbuatan yang dapat menganggu orang lain.

Dialog Imam Husain as dengan Ayahnya

Ada satu tambahan kisah yang ingin saya tambahkan pada post ini. Meskipun ini tidak disampaikan dalam khutbah jumat, namun sangat berkaitan. Yaitu tentang dialog antara Imam Husain dengan Ayahnya.

Sewaktu masih kecil Imam Husain as (cucu Rasulullah SAW) bertanya kepada ayahnya, Imam Ali as, Ayah, apakah engkau mencintai Allah?

Imam Ali as menjawab, Ya, Tentu!

Lalu Husain kecil bertanya lagi, Apakah engkau mencintai kakek dari Ibu? (maksudnya Rasulullah)

Imam Ali as kembali menjawab, Ya, tentu saja!.

Imam Husain bertanya lagi, Apakah engkau juga mencintai Ibuku?

Lagi-lagi Imam Ali as menjawab, Ya, Tentu saja aku mencintai ibumu

Husain kecil kembali bertanya, Apakah engkau juga mencintaiku?

Imam Ali as tersenyum dan menjawab, Ya, tentu saja aku juga mencintaimu! Terakhir kali Husain kecil bertanya,Ayahku, bagaimana bisa engkau menyatukan begitu banyak cinta di dalam hatimu?

Imam Ali as kemudian menjelaskan kepada puteranya yang sangat dicintainya itu, Wahai Anakku, pertanyaanmu hebat! Ketahuilah, cintaku pada kakek dari ibumu (Nabi SAW), ibumu (Fathimah as) dan kepadamu sendiri adalah karena cintaku kepada Allah. Karena sesungguhnya semua cintaku itu adalah cabang-cabang cintaku kepada Allah SWT. Setelah mendengar penjelasan ayahnya itu, Husain kecil tersenyum mengerti.

Untuk yang sekian kalinya saya tergugah oleh islam, benar nikmat terbesar yang diberikan oleh Allah SWT adalah nikmat iman. Ketika kita bisa benar-benar merasakan kebahagiaan karena cintaNya.

Penutup

Oleh karenanya saudara-saudara yang menyempatkan membaca tulisan ini, segera berikanlah cinta dan kasih sayang kepada sesama. Berikanlah manfaat sebanyak-banyaknya kepada sesama manusia. Karena sesungguhnya sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Khairunnas anfaauhum linnaas.

sebaik-baik-manusia-21

Dan jangan pernah takut kehilangan sesuatu hal pun, atau berkorban sebesar apapun kepada orang lain. Karena Allah sudah menjawabnya dalam surat Al-Isra ayat 7:

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, Maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri.. (Q.S Al-Isra: 7)”

Sungguh indah bukan? firman-firman yang Allah tuangkan dalam Al-Quran. Segeralah tebar benih manfaat kepada orang lain, dan berikan rasa kasih sayang terutama dalam mempermudah urusan orang seakan-akan kita sedang dalam posisi orang tersebut. Karena sesungguhnya, kita diperbolehkan menuntut ilmu setinggi apapun, mengejar jabatan sebesar mungkin, mencari penghasilan sebanyak-banyaknya, agar semakin bisa memberikan kebermanfaatan bagi manusia. Berikanlah rasa senang ketika kita hadir diantara mereka, jangan sampai mereka merasa tidak ada apa-apa tanpa kita, atau bahkan menghindari kehadiran kita.

La haula wala Quwwata illa billah.[]

3 thoughts on “Hidup untuk Mencintai dan Bermanfaat bagi Sesama ??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s