A Little Piece of Dream: Amerika, Kampus dan Bisnis Start-up


Post ini  merupakan sambungan post sebelumnya, yang bisa dilihat disini:

[Prolog] A Little Piece of Dream: Mimpi, Memori dan Amerika

move-forward

Yah, memang ada yang bilang, kekuatan utama ketika kita dalam posisi paling bawah dalam hidup; ketika kegagalan bertubi-tubi menghantam jiwa;  ketika kenyataan yang datang jauh sekali dari harapan; dan ketika nurani kita merasa hidup ini tidak lagi memiliki arti; adalah Keyakinan bahwa masih ada hari esok, keyakinan akan asa yang akan bangkit dikemudian hari. Memang itulah satu-satunya tenaga yang tersisa untuk terus bergerak, menembus lika-liku hidup menuju secercah cahaya harapan.

Oleh karenanya jangan pernah berhenti menatap masa depan. Mengepalkan tangan kedepan, menuju cahaya matahari yang menghangatkan, untuk selalu memiliki cita-cita menjadi manusia yang Allah dan Rasul idamkan.

“Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia”
― Andrea Hirata, Sang Pemimpi

Amerika dan Kampusnya

Awal cita-cita saya ingin meneruskan studi di Amerika adalah ketika masa SMA, beberapa kakak kelas saya ada yang berangkat untuk pertukaran pelajar selama 1 tahun di US. Mendengar cerita-cerita mereka bagaimana kehidupan di sana, betapa beragam orang-orangnya dan luar biasanya kemajuan teknologi yang ada, membuat saya ingin segera menginjakan kaki di sana.

Cita-cita itu kembali mengangkasa ketika saya bertemu dengan kakak kelas dan dosen yang kebanyakan alumninya jebolan dari berbagai universitas di Amerika. Kakak kelas saya yang pernah melakukan riset di CMU (Carnigie Mellon University), pernah bercerita bagaimana mahasiswa di sana sangat bersahabat dan menerima kehadiran orang baru. Fasilitas dan teknologinya pun sangat mumpuni untuk mendukung kegiatan dan ide-ide para mahasiswa. Dan yang paling penting masyarakat muslim di sana mulai berkembang dan diakui oleh negara. Yah setidaknya dibandingkan Jepang -bahkan musholla di Bandara saja tidak ada (pengalaman)- dengan kehadiran masjid yang langkanya luar biasa, Amerika masih jauh lebih baik.

Masjid Masyarakat Wisconsin Utara di Altoona, Wisconsin.

Masjid Masyarakat Wisconsin Utara di Altoona, Wisconsin.

Dari republika.co.id, jumlah masjid di Amerika Serikat bertambah sebanyak 74 persen sejak tahun 2000. Pada 2000, tercatat 1.209 masjid di seluruh negeri Paman Sam. Jumlah masjid meningkat menjadi 2.106 masjid pada 2010. Sebagian besar masjid itu dibangun di New York dengan total 257 masjid, California dengan 246 masjid, Texas dengan 166 masjid dan Florida dengan 118 masjid. Yah setidaknya dengan kehadiran masjid, bisa menolong untuk terus menjaga hati dan iman dalam waktu yang cukup panjang di sebuah negara yang liberal.

Penguatan keinginan lebih membuncah ketika dosen saya menguatkan dengan argumennya bahwa sangat disayangkan jika kita yang mengambil kuliah S1 ITB (terutama perogram studi elektro), melanjutkan S2 di dalam negeri. Karena banyak mata kuliah S1 yang diulang, ditambah media dan fasilitas yang belum bisa mengimbangi beberapa riset dan thesis yang notabene membutuhkan teknologi tinggi. Sehingga untuk pengembangan  teknologi memang sebaiknya mahasiswa merantau dan mencuri ilmu dari luar negeri.

Tech-Startup Enterprise

Kampus-kampus di Amerika sudah tidak diragukan lagi sangat produktif menghasilkan para founder & entrepreneur terutama di bidang rekayasa teknologi (atau tech-based) yang berhasil memperkerjakan banyak orang. Bisa dilihat di link forbes di bawah ini”

http://www.forbes.com/sites/michaelnoer/2012/08/01/the-most-entrepreneurial-colleges/

Diambil saja salah satu contohnya,  kampus top di telinga para engineer, MIT, berhasil membangun 25.600 perusahaan yang semuanya dirintis oleh alumnus MIT dan berkisar memperkerjakan 3.3 juta orang di Amerika! Atau salah satu universitas impian saya, California Institute of Technology (berada di posisi ke empat, berdasarkan forbes), alumnusnya Charles Trimbles, berhasil menemukan “Trible Navigation” yang memiliki revenue hingga $1.6 billion.

Bisnis berbasiskan high-tech, sangat berkembang di Amerika karena mereka memiliki fasilitas dan pangsa pasar yang besar, baik untuk rakyat mereka sendiri maupun di ekspor ke luar negeri. Sebut saja Sillicon Valley, pusat seluruh perusahaan IT berkumpul, sehingga mitra sangat mudah ditemukan.

Oleh karenanya salah satu visi saya ke depannya adalah berhasil melanjutkan kuliah S2 di Amerika sekaligus membangun perusahaan start-up di sana. Bidang yang ‘mungkin’ saya geluti (hal ini masih sangat bisa berubah kedepannya dikarenakan masih perlu banyak inputan dan pengetahuan lebih) adalah terkait rekayasa komputer dalam hal mixed reality. Mungkin ada yang pernah mendengar istilah “augemented reality”, yah disitulah (hingga saat ini) saya ingin coba tekuni. Mengapa? jawabannya simpel karena cukup aplikatif dan bisa diterapkan di banyak hal, terutama untuk bisa menolong banyak orang.

Menjadi wirausaha tidak harus DO, ataupun putus kuliah. Justru dengan ilmu yang lebih mumpuni, kita bisa semakin kreatif berinovasi dan berkreasi untuk rekayasa piranti. Banyak orang-orang sukses contohnya saja Bapak Sehat Sutardja yang berhasil mendirikan perusahaan semikonduktor (Marvell Technology Group) di Sillicon Valey. Beliau adalah alumnus Teknik Elektro dan Ilmu Komputer di Universitas California, Berkeley. Berdasarkan data dia pernah menjadi 10 orang terkaya di Amerika versi majalah forbes.

Terus, berarti tidak nasionalis dong? Yah jujur pandangan saya, nasionalis tidak melulu harus ‘berdiam’ di tanah air dan mengabdi di sana. Saya -jika Allah berkenan untuk memberikan kesempatan belajar di Amerika- akan sebisa mungkin menuntut ilmu dari sana. Mencoba merintis perusahaan, memperluas jaringan, memperlebar wilayah berfikir, bertukar gagasan dengan orang-orang expert, dan dengan modal dan pengalaman tersebut mencoba membangun perusahaan di Indonesia.

Mungkin terdengar terlalu idealis (atau mungkin utopis?). Yah tidak ada yang tahu. Yang paling bisa menentukan adalah Dia yang memiliki kuasa atas segala sesuatu, Allah SWT. Yang bisa dilakukan manusia adalah bekerja dan berusaha, untuk hasil akhir biarlah Dia yang menentukan.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.
(Q.S. Al-Baqarah : 216)

Dari alasan-alasan di ataslah, membuat saya segera mematok tujuan untuk bisa belajar di Amerika ini, di hadapan saya. Tapi tidak menempel di kening, lebih baik membiarkan dia menggantung, mengambang 5cm di depan kening sehingga dia  tidak akan lepas dari mata yang menyorot masa depan.

dreams

Masih banyak yang ingin saya ceritakan sebenarnya tentang serpihan mimpi “a little piece of dream” ini. Apakah dengan ini saya hanya mencoba berwacana? Atau bagaimana dengan potensi-potensi alam Indonesia, mengapa tidak bisnis dengan hal tersebut saja? Ada yang bilang “Indonesia mah susah mau buat bisnis, mending kerja aja, zona nyaman? atau di multinasional tuh! kan bisa freshgraduate gajinya belasan juta”? bagiamana tanggapan saya?

Ditunggu part terakhir dari bab EPILOG curahan kecil “A Little Piece of Dream” saya berikutnya.[]

2 thoughts on “A Little Piece of Dream: Amerika, Kampus dan Bisnis Start-up

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s