[Prolog] A Little Piece of Dream: Memori, Mimpi dan Amerika


 

jalan-Hidup

Membuka kembali ruangan-ruangan dalam memori, mengingatkan saya akan banyaknya cita-cita yang ingin saya capai ketika masih kecil.

Teringat sesosok anak SD, dengan kerah dikancing, berdasi merah, memikul tas ransel dan rambut disisir belah pinggir, yang berteriak dengan antusiasnya “Saya ingin menjadi tentara!” dihadapan banyak orang ketika ditanya ingin jadi apa kedepannya. Dia tanpa rasa malu dan bangga, meskipun tingginya hanya sebatas pinggang orang-orang tersebut. Ya itulah saya.

Terbayang juga wajah polos anak berbaju putih biru yang menenteng tas ranselnya dengan hanya 1 bahu, rambut pendek cepak dan agak mohawk, dengan lantangnya berteriak “saya ingin jadi pilot! tapi juga ingin mengajar murid menjadi guru – sekaligus jadi dokter juga biar kaya kayak oom saya!”. Dia mengatakannya dengan tegas dan penuh sorot mata keseriusan. Badai tsunami yang berkali-kali menghantam Jepang, yakin tidak dapat menggoyahkannya. Ya itulah saya.

Hingga merenungkan beberapa tahun lalu, seorang remaja, dengan celana abu-abu nya, berangkat mengendarai motor butut namun kokoh, belajar di salah satu sekolah menengah atas terbaik, bersiap menghadapi & menadah ilmu disana. Ketegasan dan kelantangan bicaranya tidak lagi dituangkannya dalam suara, melainkan dalam keseriusannya belajar agar bisa masuk di salah satu universitas terbaik di Indonesia. Dia ingin bertemu orang-orang hebat di pulau Jawa, yang katanya berkumpul para “tentara, pilot, dokter dan guru-guru hebat”. Karena dia sedikit ‘alergi’ dengan yang namanya Kimia & Biologi, masuklah dia di elektro ITB. Ya itulah saya.

Sekarang saya hanya makhluk biasa, pendamba surga. Cita-cita yang sering terlontar di masa lalu, semuanya berganti menjadi satu tujuan “Saya hidup untuk menjadi seseorang yang bisa menggapai Ridha Allah, Sang Maha Penentu cita-cita”. Ya itulah mimpi besar saya. A Big Dream that I always move on to.

Palestinian youth prays on street outside destroyed mosque in Mughraqa

Sungguh kebahagiaan sejati yang akan didapat dari-Nya

Namun untuk mencapai mimpi tersebut, tidak mengharuskan saya hanya bersemedi bertahun-tahun di dalam kamar, bertasbih, berdoa sepanjang hari untuk meminta Ridha dari-Nya. Melainkan saya harus melangkah melihat dunia, berusaha mencapai derajat tertinggi seorang insan manusia. Menuntut ilmu, beribadah, memberi manfaat kepada banyak orang, berbagi rezeki dan pengetahuan, menggaet banyak orang untuk bersama menuju surga-Nya, mengajak diri sendiri & orang lain dalam kebaikan & kesabaran, dan masih banyak lagi amal kebaikan yang membuat jiwa tenang dan merasakan kedamaian sejati. Secara tidak langsung Ridha-Nya pun mengalir mengiringi gerak-gerik kita di dunia. Asal semua hal tersebut berdiri dalam satu fondasi kokoh “niat karena Allah”

A Piece of Dream: America

“Allah akan meninggikan orang-orang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”. (QS.Al Mujadalah:11)

Betapa indah dan tegas Allah menjelaskan orang-orang yang berilmu.   Derajat yang lebih, ya itulah hal yang paling menjanjikan melebihi apapun di dunia ini yang akan diberikan kepada mereka yang berilmu. Begitupun saya.Cita-cita lama yang sudah keluar dari mulut saya ketika SD, SMP semuanya berganti bahwa saya ingin menjadi seorang insinyur di bidang teknologi.

Saya ingin membuka lapangan pekerjaan untuk banyak orang sekaligus mengembangkan perteknologian di Indonesia. Sesulit itukah membangun “Facebook, Microsoft, Apple, Samsung atau Logitech”-nya Indonesia? Yah, saya masih belum tau, dan biarlah itu menjadi tantangan yang ingin saya coba selesaikan. Meskipun hal tersebut ‘katanya’ dipengaruhi kebijakan pemerintah, yah saya rasa itu tidak masalah, biarlah teman-teman saya yang lain yang turun di pemerintahan dan membuat kebijakan-kebijakan pro-inovasi. Bukankah itu gunanya generasi muda? Yang bergerak bersama meski dengan minat & ketertarikan berbeda, namun ingin mencapai satu tujuan bersama, yaitu perubahan?

Tantangan dan cita-cita tersebut mengharuskan saya untuk berjuang lebih keras, menggali ilmu lebih dalam dan mempercepat akselerasi diri. Oleh karena itu salah satu serpihan mimpi saya adalah belajar di Amerika. Ya, United States atau yang biasa disebut negeri Paman Sam ini merupakan salah satu mimpi saya didunia ini, guna merangkai kisah menuju derajat yang Allah janjikan. Saya ingin belajar dari salah satu Negara dengan kemajuan teknologi yang luar biasa, agar kelak bisa menyebarkannya ke tanah air tercinta.

Mengapa Amerika? Mengapa tidak eropa, jepang atau korea? Apa saja yang dimiliki Negara paman Sam ini yang membuat saya mematok mimpi ini 5cm di depan saya? Apa target dan langkah yang akan saya coba lakukan jika saya berhasil belajar di sana?

Semua pertanyaan tersebut akan terjawab pada post ISI “A little peace of Dream” selanjutnya. So just wait!

2 thoughts on “[Prolog] A Little Piece of Dream: Memori, Mimpi dan Amerika

  1. Pingback: A Little Piece of Dream: Amerika, Kampus dan Bisnis Start-up « Curahan Kehidupan dalam Rangkaian Kata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s