#JapanLife Day 1 – It All Starts Here (Part I)


Ingatan ibarat kerikil di tepi sungai, bisa saja tertumpuk kerikil lain dan hilang dalam timbunan. Kecuali jika kita mengambilnya dan menyimpannya dalam toples, menaruhnya di sudut kamar sebagai pajangan. Tulisan ini adalah tulisan pertama yang insyaAllah akan terus bersambung ke tulisan-tulisan berikutnya, menceritakan pengalaman saya di Jepang dari-hari-ke-hari. Waktu yang saya lalui di negeri matahari terbit tersebut begitu berharga, sehingga adalah harga mutlak untuk mengabadikannya ke dalam tulisan. Ya, ibarat mengambil kerikil indah di antara timbunan kerikil di tepi sungai, membersihkan debu dan kotoran yang melekat padanya dan mengabadikannya dalam suatu toples hiasan.

Okay, intermezo awal dicukupkan. Saatnya bercerita.

Suasana bandara internasional malaysia saat siang

Sebelum ke Bandara Internasional Haneda, saya transit terlebih dahulu di Malaysia, sekitar 3 jam. Menyempatkan sholat di musholla bandaranya dan menghabiskan waktu bercenda gurau di dunia maya melalui twitter. Saya berangkat benar-benar sendiri dikarenakan teman2 ITB lainnya sudah berangkat terlebih dahulu, satu hari sebelum saya. Yah, tidak ada hal lain yang bisa dilakukan, ringgit tidak punya sehingga tidak bisa membeli sesuatu di toko atau supermarket. Yang menarik adalah memperhatikan orang lalu lalang, dan karena itu adalah terminal penerbangan internasional jadinya mulai berkeliaran suara2 bahasa asing memasuki telinga.

Pengalaman menarik pertama saat di Bandara Malaysia

Ketika saya duduk di ruang tunggu, ada satu orang Ibu (atau Mbak yah? kurang bisa menebak umur) mendatangi saya dan berbicara

“Could you keep my bag a second?”

Saya yang tiba-tiba masuk dalam atmosfir bahasa asing tentunya belum siap menjawab dengan bahasa inggris. Sehingga neuron spontaneous otak saya bekerja cepat dan random dari mulut saya keluar kata yang paling gampang:

“Pardon ma’am?”

Kurang tau dia tersinggung atau engga saya panggil ma’am, tapi yang jelas dia langsung merespon balik. Dan akhirnya terjadilan percakapan antara kita, kira2 percakapannya (yang saya ingat) kayak gini:

“I am in rush! I have to meet my friend there, so I want you to keep my bag just for a second in here?”, ucap Ibu tadi.

“Umm… ya, okay, so…”, dengan dadakan mendengar bahasa asing, gendang telinga saya masih cukup lambat untuk merespon input, sehingga mempengaruhi lidah juga untuk berbicara. Alhasil terbatah2 lah saya.

Dengan sedikit kesal Ibu tadi bertanya lagi, “Are you Indonesian !?” dengan nada sedikit naik, dan saya masih tetap diam & mencoba untuk angkat bicara…

“Apaekeh kamu Indonesia!?” Yap, akhirnya keluar juga aksen MALAYSIA dari Ibunya, ternyata orang yang mengajak saya berbicara ini orang Malaysia. Dan barulah saya ngeuh untuk ngomong.

“Tolong tietip seubentar tas ini, nanti sayeu ambil lagi” (kok malah agak sedikit sunda ya, haha). Kira2 gitu lah aksen Malaysianya, saya juga sulit mengutarakannya dalam tulisan :p

Yah tapi dengan begitu saya mengerti dan menjawab Iya. Sebenarnya saya mengerti maksud dia sejak awal, tapi memang perubahan bahasa lidah mendadak, membuat saya cukup kesulitan untuk mengutarakan pikiran kedalam ucapan bahasa inggris.

Saya teringat perkataan dia dengan bahasa Malaysianya (cem Upin-Ipin) sedikit menggelitik perut saya untuk tertawa. Mungkin karena memang belum pernah mendengar langsung dari orang Malaysia sehingga agak sedikit lucu omongannya di telinga saya. Lol.

It is time. The call to fly…

Oke, kembali ke jalan yang benar. Panggilan untuk penerbangan menuju Haneda sudah tersiarkan, saya harus menuju terminal 4 untuk berangkat. Mulai berdatangan wajah2 Jepang yang juga menuju tujuan sama, Haneda, Tokyo. Setelah berjalan menuju pesawat, saya baru sadar bahwa pesawat yang akan saya naiki menuju Jepang memiliki besar yang berbeda dari pesawat lokal yang biasa saya naiki (paling sering Jakarta-Palembang). Pesawat kali ini memiliki ukuran 2 kali lipat dari pesawat biasa sehingga bisa membawa banyak kapasitas orang.

Perdana Menaiki Jenis Pesawat Muatan Besar

Deretan Kursinya 3 Row loh!! :)

Setelah duduk nyaman di kursi, akhirnya lampu tanda sabuk pengaman sudah dinyalakan, mengartikan bahwa pesawat sudah bersiap untuk lepas landas. Jantung saya berdetak begitu kencang, pikiran2 saya membuncah tidak karuan, dan bola mata saya terpejam dengan kuat. Saya membayangkan akhirnya saya bisa melihat bumi Allah di sisi lain, sungguh dengan duduknya saya di pesawat ini, kemungkinan untuk menginjakan kaki di luar negeri sudah lebih dari 90%. Subhanallah, betapa senangnya saya di masa2 itu.

Orang yang duduk disebelah saya, adalah bule, kemungkinan orang australia yang sedang bertugas di Jepang. Sebenarnya ingin mengungkapkan perasaan untuk minta tolong difoto, tapi saya urungkan niat tersebut. Soalnya dia terlihat cukup lelah dan mau akan tidur. Pramugari mulai berdiri di sela2 kursi mempraktikan tata cara keselamatan ketika terjadi hal-hal darurat yang tidak diinginkan. Yang menariknya mereka memperagakannya dengan 3 kali pengulangan, menggunakan Malaysia, Bahasa Inggris dan Bahasa Jepang. Sudah lama sekali tidak mendengarkan bahasa Jepang selain dari film dan musik yang sering saya dengarkan. Hal ini semakin menggairahkan curahan keinginan saya untuk segera cepat-cepat tiba di Jepang.

Diberitahukan bahwa perjalanan saya ke Haneda membutuhkan waktu sekitar 8 Jam, bukan waktu yang sebentar untuk hanya sekedar duduk & menunggu.  Saya kebetulan belum makan siang, karena tadi di Bandara tidak bisa menggunakan ringgit. Akhirnya di pesawat saya memesan makanan, dan untungnya saya juga membawa beberapa makanan kecil dari Indonesia. Airasia adalah low cost flight, jadi pelayanan juga tidak elit seperti ketika naik garuda atau pesawat mewah lainnya.

Kala itu saya memutuskan membeli nasi rendang saja, karena ada label halal di sana (buatan malaysia). Tapi yang paling menusuk memang harganya, yaitu 300 yen, atau sekitar 30 ribuan!! Untuk sekedar rendang dan nasi (awetan pula) harga tersebut sungguh memukul mahasiswa bet. Tapi untungnya saya juga membawa beberapa makanan tambahan seperti silverqueen  dan sariroti. Air putih botol terpaksa harus beli karena tidak diperbolehkan membawa cairan ke dalam pesawat. Tau harganya? 100 yen (sami mawon). Ini lebih memukul lagi, kecil segitu dihargai 10ribu. Benar2 tidak cocok untuk mahasiswa seperti saya. T_T

Makanan di dalam pesawat. Mahal bro 300 yen! Padahal cuma rendang doang

Cukup bosan menunggu, apalagi perjalanan malam, sehingga tidak ada yang bisa dilihat dari jendela kecuali pekatnya kegelapan malam. Sehingga saya memutuskan untuk mengambil laptop di tas bagasi atas saya untuk sekedar mencurahkan beberapa kata dalam tulisan. Seusainya saya memutuskan untuk tidur, karena sesuai perhitungan waktu saya akan tiba di Haneda pukul 11 Malam.

Waktu bergulir, 8 Jam Kemudian

Mata terbuka, pramugari mulai memberitahukan dalam bahasa Inggris bahwa sebentar lagi kita akan mendarat di Bandara International Haneda. Semakin meledak pikiran saya segera ingin merasakan atmosfir sebuah negara dengan kemajuan teknologi yang luar biasa. Sungguh ribuan kata syukur saya panjatkan kepada Satu2nya Rabb yang selalu merangkul hambanya bagaimapun keadaannya. Sabuk pengaman dipakai, pesawat memasuki transisi landing, getaran akibat gesekan roda dengan landasan terasa hingga kesetiap bangku penumpang. Semua orang hening mendengarkan gemuruh suara aliran udara ketika pesawat mengerem, membelah angin malam. Hingga akhirnya sang Burung Besi ini diam menandakan sudah masuk kedalam sangkar terbukanya.

Finally Haneda International Airport!!

Suasana menuju lobbi bandara, cukup jauh ternyata

Dengan Bismillah, saya melangkahkan kaki pertama di negeri matahari terbit. Ini adalah perdana bagi saya merasakan udara di luar Indonesia, karpet lembut berwarna abu2 menyambut lembut, dengan dinding kaca megah di kiri dan kanan, ciri sebuah bandara elegan yang selalu membuat para imigran yang pertama kali mengunjunginya tersenyum.  Jalan dari pesawat menuju ruang lobbi bandara cukup jauh, tapi untungnya ada eskalator sehingga tidak memerlukan banyak langkah untuk mencapainya.

Gerbang imigrasi Haneda

Saat saya sedang menuju perjalanan ke immigration gate, saya mendengar 2 orang, 1 laki-laki masih muda menggunakan jas, yang satu lagi ibu-ibu menggunakan jilbab, berbicara dengan bahasa Indonesia. Segera aja, jiwa merah-putih untuk menegur langsung muncul:

“Dari Indonesia juga Bu?”

“Iya dik”

“Wah sama Bu, saya juga! Ini pertama kali saya ke Jepang”

Ternyata Ibu dan laki2 tadi bukan anak dan Ibu, melainkan mereka baru saja bertemu di pesawat, sehingga dengan nyaman kita bertiga mengobrol. Saya bertanya terkait sejenis kuisioner yang perlu diisi sebelum memasuki Jepang, terkait mau ngapain, tinggal dimana, nomor passport dsb. Sungguh saya kembali tertolong dengan bertemu mereka, sehingga bisa lebih pasti melintas gerbang imigrasi. Tidak terlalu ribet ternyata, hanya di tanya “what are you going to do?” dan “for how long?”. Kemudian petugas imigrasi tersebut memeriksa passport dan visa, dan meminta kesepeluh sidik jari tangan. Setelah itu, gerbang imigrasi tembus. Kita bertiga berpisah, karena Ibu tadi bertemu dengan anaknya yang kuliah di Jepang tadi, dan laki2 muda tadi (saya lupa namanya) bertemu dengan perempuan, mungkin teman atau istrinya.[]

[To be continued in the Next Post…]

2 thoughts on “#JapanLife Day 1 – It All Starts Here (Part I)

  1. Pingback: #JapanLife Day 1 – It All Starts Here (Part II) « Curahan Kehidupan dalam Rangkaian Kata

  2. Pingback: #JapanLife Day 2 – Welcome Japan (Part I) | Curahan Kehidupan dalam Rangkaian Kata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s