Rekonstruksi Jalan Hidup


Sudah 2 tahun lebih saya mengarungi kehidupan perkuliahan di ITB, tidak terasa waktu terus bergulir dan sekarang sudah memasuki tingkat tiga. Benar sekali apa yang termaktub dalam Al-Qur’an surat Al-Ashr bahwa sesungguhnya setiap manusia itu merugi, jika mereka menyia-nyiakan waktunya tanpa amal kebajikan.

Sesekali -atau mungkin sudah berkali-kali- saya merenungkan akan jadi apa saya kedepannya. Setiap duduk di kelas menjalani pentransferan ilmu dari dosen; menggoreskan tinta di tengah malam hanya untuk sekedar mengejar deadline tugas; hingga ketika bertemu banyak teman satu organisasi dalam rapat ataupun diskusi informal; selalu terbesit dipikiran saya jalan seperti apa yang akan saya lalui dalam menggapai impian; atau bahkan impian pun saya tidak punya(?) Terus saja hal tersebut berputar-putar secara rekursif di setiap neuron syaraf otak saya hingga akhirnya beberapa waktu ini saya menemukan jawabannya.

Benar! Hidup tidak hanya sekedar ‘let it flow’ atau hanya membiarkan mengalirnya buliran-buliran kisah hidup yang terjadi hingga akhirnya mentok di suatu jalan, jalan buntu. Hidup harus mempunyai tujuan dan arah sehingga dengan jelas kita bisa menghadap ke depan, menapak dengan percaya diri,dan berlari menuju titik akhir sebuah pencapaian. Life is by ’designed’, dari pola pikir itu lah akhirnya sebuah renungan pertanyaan akan-jadi-apa-saya-kedepannya bisa terjawab. Jawabannya sederhana, hanya berjumlah tiga kata yaitu: saya-lah yang menentukan!

Semua Berawal dari Cita-cita Masa Depan

Saya mempunyai cita-cita untuk menjadi inventor di bidang rekayasa piranti, sehingga bisa menciptakan alat atau produk yang bermanfaat untuk banyak orang. Namun, saya tidak ingin hanya menjadi sebatas penemu, dan meyerahkan temuan saya kepada orang lain untuk dijual; atau bahkan alat tersebut tidak terpasarkan sama sekali. Tapi saya ingin, saya sendirilah yang menjual alat-alat temuan saya tersebut.

Saya bermimpi untuk dapat memiliki perusahaan sendiri di bidang  pengembangan teknologi tinggi ‘high-tech’, khusuhnya berbasis elektroteknik yang bisa bermanfaat untuk banyak orang. Tidak hanya selevel national-company akan tetapi hingga tataran global, internasional. Terbukanya lapangan kerja sekaligus meningkatnya perkembangan teknologi di Indonesia hingga sejajar dunia adalah mimpi yang ingin saya realisasikan ketika saya sudah memasuki masa kerja produktif nanti.

Dari keterangan tersebut akhirnya saya menyimpulkan bahwa cita-cita saya adalah untuk menjadi technopreneur sekaligus inventor yang bermanfaat untuk kehidupan manusia. Jawaban ini belum lama terpatri dalam benak pikiran saya, karena ketika awal saya menginjakan kaki di ITB saya masih terombang-ambing di tengah derasnya arus kegiatan yang tidak jelas arah dan tujuannya. Namun saya bersyukur saya sudah menemukannya sekarang.

Dari sana saya mencoba merekonstruksi kehidupan saya, yaitu dengan cara berfikir “memulai dari akhir”, seperti salah satu ungkapan Steven Covey -penulis buku 7 Habits- “start from the end“. Saya mulai memetakan apa yang saya butuhkan untuk mencapai cita-cita tersebut. Kompetensi-kompetensi apa saja yang harus saya miliki, hingga jalan mana yang harus saya lalui. Untuk menjadi inventor sekaligus teknopreneur, saya setidaknya harus memiliki 3 kompetensi;

  1. Kemampuan pengembangan diri dan kepemimpinan;
  2. Kemampuan dalam akademik dan keprofesian;
  3. Serta pengalaman dalam berwirausaha.

Runtutan Penyesalan (?)

Saya sadar betapa bodohnya saya mengapa baru menyadari ini sekarang, ketika saya sudah memiliki 2 angkatan adik kelas; ketika Kerja Praktik akan saya hadapi semester depan; dan juga ketika sebentar lagi saya akan mengerjakan TA dan lulus. Mengapa tidak saya sadari ini ketika saya masih melangkahkan kaki pertama kali di ITB, sehingga saya bisa lebih siap dan hidup di kampus secara terarah dengan satu titik sentral sebagai tujuan. Itulah mengapa penemuan mesin waktu adalah hal yang paling menakjubkan jika bisa ditemukan. Karena kita bisa mengulang hal bodoh yang kita perbuat dan memperbaikinya. Namun hal utopis seperti itu tidak akan mungkin terjadi. Seberapa keras pun ilmuwan berfikir, mereka tidak akan bisa menyentuh variabel waktu. Hal tersebut hanya akan tetap abadi di film dan games-games fiksi belaka.

Namun seyogyanya kehidupan, tidak ada kata terlambat dalam belajar dan mengejar mimpi. Kita tidak bisa mengubah masa lalu, tapi kita bisa menciptakan masa depan. Akhirnya mulai dari sekarang saya tekadkan untuk menjalani kehidupan perkuliahan sesuai dengan passion dan arah cita-cita saya, yaitu untuk menjadi seorang inventor dan teknopreneur yang bermanfaat.

Kedepannya dalam memenuhi kompetisi pertama –yaitu pengembangan diri dan kepemimpinan, karena saya membutuhkannya untuk kelak menginisiasi dan memimpin perusahaan– sudah cukup banyak saya dapatkan dan kembangkan dengan terlibat di beberapa organisasi, kegiatan dan kepanitiaan. Sehingga hal ini tidak menjadi konstrain utama yang saya kejar. Yang perlu saya utamakan adalah 2 kompetisi lainnya, yaitu kemampuan akademik dan keprofesian serta pengalaman kewirausahaan.

Saya sangat menyesal mengapa saya kurang serius dalam belajar dan mengejar IP, dua tahun belakang. Tidak berarti harus berorientasi pada IP, namun proses pengejaran IP tinggi itu penting karena sangat dibutuhkan ketika saya ingin melanjutkan perkuliahan di luar negeri. Tapi Alhamdulillah sekarang saya bisa benar-benar mengetahui bahwa belajar sungguh-sungguh untuk mengejar IP itu adalah hal yang urgen dilakukan dan saya insyaAllah akan melakukannya di semester ini, meskipun hal tersebut sedikit ‘menutup’ waktu sosial perkuliahan, namun tidak masalah karena waktu memang untuk dimanage dalam kebaikan, bukan hanya untuk ‘bersosial’ namun faktanya bercenda gurau untuk hal yang tidak berguna.

Selain mengejar akademik -yang notabene lebih teoritis- saya juga harus mampu menguasai ilmu elektroteknik praktis, karena lebih dekat dengan aplikasi nyata sebuah teknologi. Banyak kata menyesal akan terungkap dalam tulisan ini, salah satunya -kembali -dalam kasus ini adalah ingin rasanya mengulangi tingkat 1 dan serius dalam kaderisasi URO (Unit Robotika) ataupun tingkat 2 dengan mendaftar workshop HME yang bergerak di bidang elektronika praktis. Namun, seperti yang saya ungkapkan sebelumnya tidak ada kata terlambat untuk belajar, akhirnya di tingkat 3 ini saya memutuskan untuk mendaftar kaderisasi Workshop dan mengikuti pelatihannya.

Alhamdulillah (lagi) saya memiliki teman-teman yang sudah lama berkecimpung di dunia keprofesian sehingga saya sekarang bisa banyak belajar dari mereka tepatnya di lab AVRG (Autonomous Vehicle Research Group) ITB. Lab AVRG adalah satu diantara sedikit Lab yang bisa bebas digunakan oleh para pengenyam pendidikan strata 1 (termasuk saya). Dan anggota AVRGpun adalah para orang hebat yang mengikuti URO dari tingkat satu dan bahkan ada teman satu angkatan saya yang sudah pernah mengikuti ajang robot tingkat Nasional hingga internasional. Sering hal keseharian yang saya lakukan saat ini adalah bolak-balik lab yang terletak di lantai 4 Labtek delapan ITB ini, demi mengejar ilmu keprofesian keelektroteknikan dari teman-teman saya disana dan menumbuhkan jiwa inventor dalam lubuk terdalam keprofesian saya. Saya belajar banyak terkait software & hardware dasar, kembali ngoprek rancangan, belajar rangkaian, mikrokontroler dan banyak hal menarik lainnya yang baru saya temukan disini. Sungguh menyenangkan dan bersyukur saya memiliki kesempatan seperti ini!

Saya juga baru mengetahui ternyata keprofesian saya di bidang elektro, memungkinkan banyak pengimplementasian dalam inovasi produk yang dapat bermanfaat untuk banyak orang. Terbukti ketika saya baru belajar beberapa dasar mikrokontroler di AVRG ini, saya sudah terbayang banyak ide yang dapat diaplikasikan dalam inovasi piranti. Inilah salah satu rekonstruksi hidup saya agar kelak bisa menjadi inventor muda di bidang elektroteknik dan salah satu prospektif engineer yang insyaAllah bisa membawa pengaruh positif untuk masyarakat khususnya orang-orang terdekat saya.

Selain keprofesian, kompetensi ketiga yang harus juga saya miliki adalah pengalaman kewirausahaan. Meskipun cukup sulit bagi saya untuk secara langsung menerapkan bidang keprofesian elektroteknik dalam kewirausahaan -karena membutuhkan modal/dana yang cukup besar- maka setidaknya bisnis kecil-kecilan pun seharusnya bisa saya lakukan untuk menyerap pengalamannya. Namun untuk hal ini saya belum konkrit karena entah mengapa -mungkin bisnis adalah suatu bakat atau apapun alasannya -saya cukup kesulitan untuk bisa secara ‘nekad’ untuk segera melaksanakannya. Cukup berbeda dibanding teman-teman saya yang mungkin sudah memiliki jam terbang lebih & jiwa wirausaha yang kuat bahkan dengan modal 10ribu pun mereka bisa menjalankan bisnisnya. Tapi belajar memang tidak gampang, jalan yang ditempuh pasti berliku dan penuh rintangan. Yang harus saya lakukan adalah meluruskan niat bahwa saya harus bisa menolong orang salah satunya dengan penciptaan lapangan pekerjaan. Saya sekarang sedang dan masih merencanakan bersama teman-teman saya untuk membuat bisnis, doakan saja cepat konkrit dan kompetisi pengalaman ketiga ini bisa segera saya dapatkan.

Penutup

We own ourselves. We’re masters of our own fate. We control our own destiny. Lotso (Toy Story 3)

Sebagai penutup saya ingin menyampaikan betapa indahnya kita hidup jika memiliki tujuan dan arah yang jelas. Betapa indahnya jika kita sudah menemukan passion apa yang kita punya. Betapa menakjubkannya jika kita bisa memperhitungkan setiap langkah yang kita lakukan agar langkah-langkah tersebut bisa terletak di jalur yang benar dengan satu tujuan besar kehidupan kita.

Dengan tujuan dan cita-cita ini saya coba mulai merekonstruksi hidup saya, sehingga apapun yang saya lakukan harus satu jalur dengan apa tujuan saya. Ketika menentukan prioritas pun saya bisa dengan gampang mengaturnya, yaitu apakah diantara dua hal yang berbentrokan tersebut ada yang memiliki kaitan erat dengan mimpi saya? Maka akan saya prioritaskanlah hal tersebut.

Diharap tidak hanya saya tapi kalian para pembaca juga –yang terutama belum mengetahui cita-cita masa depannya- dapat segera menyadari dan mulai merekonstruksi jalan hidup masing-masing untuk mencapai figure masa depan terbaik untuk diri sendiri dan orang lain.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s