Islam dan Kebahagiaan


Sedang menunggu mata kuliah Elektronika 2, jadi iseng mau menulis atau mungkin lebih tepatnya curhat dalam serangkaian kata mengenai hal dasar dan fundamental sebagai kejaran hidup manusia, yaitu tentang ‘kebahagiaan’.

Sebenarnya apa itu kebahagiaan? Banyak orang hidup di dunia ini hanya mengincar zona dimana kebahagiaan bisa benar-benar dirasakan. Tapi kebanyakan mereka gagal menemukannya. Kenyamanan dalam hidup dan ketenangan tanpa ada beban merupakan sesuatu yang sulit untuk didapatkan, entah mengapa? meskipun orang terkaya sedunia sekalipun masih bertanya, apakah saya bahagia?

Di tahun 1923 di Pantai Hotel EdgeWater di Chicago, berkumpul 8 orang paling sukses dan terkaya di dunia untuk melakukan pertemuan. Faktanya jika total aset dan kekayaan mereka di jumlahkan maka akan melebihi kekayaan Amerika Serikat kala itu. Namun pada kenyataannya, bagaimana mereka mengakhiri hidupnya kira-kira 25 tahun kemudian:

  1. Charles Schwab, presiden perusahaan baja terbesar, mengalami kebangkrutan dan hidup dengan modal pinjaman sebelum mengakhiri hayatnya
  2. Howard Habson, presiden perusahaan gas terbesar bahkan sampai menjadi orang gila
  3. Arthur Cutton, salah satu pedagang komoditi terbesar meninggal karena pailit
  4. Richard Whitney, masuk penjara dan meninggal di rumahnya
  5. Albert Fall, meski meninggal dengan tenang di rumahnya, sebelumnya ia juga masuk penjara
  6. Jessi Livermoe, broker terbesar di Wall Street, memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri
  7. Ivan Krueger, presiden monopoli terbesar di dunia, bunuh diri
  8. Leon Fraser, presiden the Bank of International Settlement juga bunuh diri

(sumber: http://muesa-maseno.org/rich_men.html)

Jelas materi tidak akan menjamin seseorang mendapat kebahagiaan. Orang yang kaya belum tentu merasakan nikmatnya hidup. Orang yang menjabat sebagai presiden perusahaan atau berkuasa penuh atas kepemimpinan suatu negara tidak bisa mendapat jaminan bisa tersenyum dan bahagia hingga akhir usia. Contohnya kedelapan orang termasyur di atas. Mereka mungkin dari segi materi & kedudukan sangat berkecukupan dan mungkin banyak orang yang mendambakan berada di posisi mereka. Namun apakah mereka bahagia sebelum mencapai penghujung hidupnya?

Kehidupan bukan Hanya Sebatas Materi

Saya dan mungkin kebanyakan orang di dunia pasti pernah merenungkan sebenarnya apa tujuan hidup di dunia? Apakah sebatas mencari uang dan mencukupi kebutuhan? Ataukah untuk mengincar kekuasaan sehingga nama kita dikenang banyak orang? Mungkin kebanyakan orang menjadikan hidupnya sebagai sarana pengejar kebahagiaan dengan cara menimbun materi dan menggunakannya untuk foya-foya. Atau dengan serakah mengambil hak kekayaan orang lain demi memuaskan nafsu dunianya. Namun apakah itu hakekat sebenarnya kehidupan?

Saya baru membaca buku Character Building, tulisannya Bapak Erie Sudewo dan menemukan 1 paragraf yang menarik: Uang bisa membeli tempat tidur, tapi yakinkah kenyenyakan bisa dibayar? Rumah bisa dibeli namun bisakan kenyamanan dibayar? Satpam digaji, peralatan pengamanan pun diadakan. Tapi bisakah keselamatan dibayar. Obat ditebus dan rumah sakit luar negeri pun disambangi. Tetapi bisakah kesembuhan dibeli? Sajadah didatangkan dari Persia, hanya bisakah sajadah itu membuat shalat kita menjadi khusyuk?

Seyogyanya nikmat, kenyamanan, dan kebahagiaan belum tentu sebanding lurus dengan kekayaan materi yang kita punya. Banyak fakta dan kejadian yang sudah membuktikan kalimat tersebut. Semua itu tidak lain hanyalah nafsu manusia yang jika tidak terkendalikan, akan menjadi keserakahan yang membuat mereka buta, tuli dan mungkin lebih hinda daripada binatang. Ada hal lain selain materi yang menjadi titik sentral dari segala garis kebahagiaan kehidupan. Yaitu kedekatan kita terhadap Tuhan satu-satunya di dunia, Allah SWT.

Islam Datang sebagai Kunci Kebahagiaan

 Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya? [QS Al-Qasas: 60] 

Banyak kegelisahan-kegelisahan yang pastinya kita rasakan selama menjalani kehidupan dunia. Misalnya bagi golongan mahasiswa pernah merasakan kehilangan benda berharga dan menyebabkan kerugian (mungkin) hingga jutaan rupiah, yang bagi saya dan mayoritas kaum mahasiswa lainnya itu sangatlah besar. Tidak bisa mencapai IPK yang ditargetkan atau bahkan anjlok di salah satu semester. Mendapat cemoohan dari teman-teman sebaya karena perbuatan yang telah kita lakukan. Di cap sebagai tidak amanah karena ‘terlihat’ gagal dalam memimpin suatu organisasi/acara, padahal kenyataannya kesuksesan-kesuksesan yang pernah diraih tidak tercitrakan ke mata mereka dan pada umumnya manusia hanya menangkap dari sudut pandang yang terlihat dari mereka. Atau mungkin ketakutan masa depan terkait bisakah pasca kuliah nanti menjadi orang yang sukses dan bahagia?

Menurut al-Ghazali, puncak kebahagiaan pada manusia adalah jika dia berhasil mencapai ma’rifatullah”, telah mengenal Allah SWT. Selanjutnya, al-Ghazali menyatakan:

“Ketahuilah bahagia tiap-tiap sesuatu bila kita rasakan nikmat, kesenangan dan kelezatannya mara rasa itu ialah menurut perasaan masing-masing. Maka kelezatan (mata) ialah melihat rupa yang indah, kenikmatan telinga mendengar suara yang merdu, demikian pula segala anggota yang lain dan tubuh manusia.

Ada pun kelezatan hati ialah ma’rifat kepada Allah, karena hati dijadikan tidak lain untuk mengingat Tuhan. Seorang rakyat jelata akan sangat gembira kalau dia dapat herkenalan dengan seorang pajabat tinggi atau menteri; kegembiraan itu naik berlipat-ganda kalau dia dapat berkenalan yang lebih tinggi lagi misalnya raja atau presiden.

Maka tentu saja berkenalan dengan Allah, adalah puncak dari segala macam kegembiraan. Lebih dari apa yang dapat dibayangkan  oleh manusia, sebab tidak ada yang lebih tinggi dari kemuliaan Allah. Dan oleh sebab itu tidak ada ma’rifat yang lebih lezat daripada ma’rifatullah.”

Islam mengajarkan kita untuk menyandarkan diri ke satu tempat yaitu Allah SWT. Kegelisahan-kegelisahan di atas bisa langsung di bantah dengan hanya satu jawaban, yaitu kita hidup semata-mata untuk mencari keridhanNya. Kita mengetahui bahwa Allah menjajikan tempat yang kekal dan jauh lebih baik dibanding dunia bagi orang-orang yang beriman, yaitu Jannah! Lekas untuk apa bersedih karena kehilangan materi, toh itu tidak akan dibawa ke liang lahat.

Orang tidak melihat ketika kita banyak melakukan hal baik dan malahan karena yang terlihat perihal buruk di mata orang langsung di cap jelek oleh orang lain. Lantas apakah kita merasa kecewa? Jika dikembalikan lagi ke hakekat hidup dalam islam, niscaya kegelisahan seperti itu akan hilang. Kita hidup untuk Allah, tidak masalah orang menilai apa yang penting kita baik di mata Dia, yang tentunya tidak akan pernah tertidur dan lepas pandangan dari segala aktivitas kita. Kegagalan-kegagalan yang kita rasakan pun akan sangat cepat tersingkirkan jika kita mengembalikan lagi bahwa kebahagiaan mutlak itu hanya ada pada Allah, bukan kekayaan, prestasi ataupun kekuasaan yang gagal kita raih. Rezeki sudah Allah tentukan, dan di tangan Dialah segala sesuatu diputuskan. Jika kita berfikir bahwa Allah-lah yang paling mengetahui apa yang paling baik buat kita buat apa maratapi kegagalan?

Betapa indahnya islam menjelaskan konsep kebahagiaan asalkan kita benar-benar yakin dan beriman akan eksistensi Allah sebagai salah satu elemen penting kehidupan manusia. Entah apa yang dipikirkan oleh orang yang bunuh diri karena kekecewaan di dunia, itu merupakan hal yang sangat bodoh dalam islam. Hidup ini bagaikan roda yang berjalan, pasti akan selalu berputar dan saling berganti nasib baik dan buruk. Setiap orang memiliki waktunya masing-masing jadi jangan saling iri akan kebahagiaan orang lain ataupun senang atas penderitaan orang lain. Kita punya Allah dan dengan Islam lah Dia memberikan kita makna mutlak sebuah kebahagiaan.[]

Institut Teknologi Bandung, 4 September 2012, 10:48 AM
Muhammad Afif Izzatullah
-sembari menunggu waktu masuk mata kuliah Elektronika Sinyal Analog & Mixed-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s