Resensi Buku: Neoliberalisme Mengguncang Indonesia


Mulai dari post ini, saya kedepan mencoba membuat resensi dari berbagai buku yang pernah saya baca, dan mengelompokannya dalam 1 tab. Diharap resensi-resensi yang saya buat ini bisa bermanfaat bagi pembaca sekaligus untuk saya sendiri dalam menanamkan ilmu-ilmu dari buku tersebut didalam memori jangka panjang.

Resensi buku pertama yang akan saya buat adalah buku yang tidak terlalu tebal, hanya berjumlah 138 halaman yang berjudul “Neoliberalisme Mengguncang Indonesia” karya dari Syarafuddin Usman dan Isnawita. Dalam buku ini dijelaskan  mulai dari dasar-dasar pemikiran neolib itu sendiri, alur sejarah masuknya neolib ini ke Indonesia, hingga ambruknya roda ekonomi Indonesia. Pada awal buku ini sempat tertulis nama Prof. Dr. Boediono sebagai salah satu tokoh neolib di Indonesia.

Hal yang paling identik dengan neolib adalah privatisasi BUMN yang seakan-akan menjual bumi, tanah dan air Nusantara kepada pihak asing. Selain itu kebijakan penghaspusan subsidi dan pengurangan tarif pajak juga merupakan salah satu kebijakan-kebijakan ala neolib. Contohnya penaikan harga BBM yang multiflier effect-nya bukan memukul kelas menengah ke atas, tetapi justru mencekik masyarakat menengah ke bawah. Kemudian, pengurangan pajak bagi perusahaan-perusahaan besar bukan berarti terbukanya kesempatan kerja yang lebih luas, justru perusahan-perusahan besar menggunakan fasilitas tax holiday untuk memupuk laba dan menyimpannya di bank-bank luar negeri.

Awal Neoliberalisme

Neoliberalisme muncul pada akhir 1960-an yang dilatarbelakangi oleh beragam kegagalan kebijakan ekonomi teknokratis dan intervensionis yang melahirkan ketidakpuasan dan konflik kepentingan. Kemunculan neoliberalisme dipicu krisis berupa stagflasi pada 1970-an di negara-negara maju. Krisis ini meberi kesempatan kaum neolib untuk menyerang balik kubu prointevensi. Masa jaya neolib terjadi pada dekade 80-an ketika Amerika Serikat dan Inggris mengurangi peran negara dalam mengelola sektor-sektor strategis perekonomian lewat jalan deregulasi dan privatisasi. Perekomnomian Inggris membaik setelah Margareth Thatcher menjadi perdana Menteri Inggris pada 1979. Demikian pula kepemimpinan Ronald Reagan di Amerika Serikat selam dua periode (1981-1989) yang berhasil menurunkan inflasi dan pengangguran. Keduanya menerapkan kebijakan yang sama, yaitu privatisasi, deregulasi, serta pengurangan pajak dan subsidi.

Banyak negara yang berhasil menerapkan sistem ekonomi neolib, namun layaknya pedang bermata dua, banyak juga negara-negara yang melah semakin terpuruk ketika menerapkan sistem ekonomi makro ini. Dalam buku ini desbutkan negara Afrika Selatan salah satu contoh yang ekonominya semakin menurun dengan adanya neolib ini. Perkembangan kebijakan neoliberalisme di Afrika Selatan telah merontokkan tingkat pertumbuhan. Kebijakan lain seperti mempertahankan tingkat suku bunga yang tinggi untuk meredam laju inflasi justru memperburuk perekonomian. Sementara itu, kebijakan pasar bebas menyebakan meningkatnya pengangguran sejak pemerintah baru pada 1994 sehingga meningkatkan tingkat Kemiskinan di Afrika.

Neoliberalisme  dan Indonesia

Neoliberalisme jika dibahas secara mendetail sungguh sangatlah kompleks dan banyak pokok pemikiran yang perlu dicerna lebih dalam dari berbagai sejarah dan pemikiran para ekonom-ekonom besar dunia. Namun dari semua pokok pemikiran tersebut dapat diambil arti dangkalnya bahwa neolib itu adalah menerapkan sistem pasar bebas, dimana para pemilik modal bebas memiliki perusahaan, meskipun itu adalah BUMN (privatisasi). Pemilik modal ini biasa dikenal dengan pihak kapitalis.

Masuknya ekonomi liberal ini berkisar pada tahun 1870-1900 di Indonesia, dimana pihak asing bebas menyewa lahan-lahan petani. Puncaknya sekitar pada tahun 1930, penjajahan-penjajahan di Indonesia dilakukan oleh pihak asing. Dari total hasil kakayaan alam Indonesia yang berjumlah 670 Juta Gulden (Mata uang belanda kala itu), warga pribumi HANYA kecipratan sebesar 3,6 juta Gulde (0,54 %) sisanya 0,4 juta gulden warga tionghoa dan 665 juta gulden milih warga kulit putih (asing).

Setelah Indonesia merdeka presiden Soekarno memiliki pemikiran untuk merangkul negara2 bagian timur dan melepas barat. Namun sepegantinya pemerintahan Soeharto beliau lebih memilih untuk mulai merangkul barat namun tidak melepaskan yang timur. Akhirnya dikarenakan inflasi yang tinggi kebijakan yang diambil adalah peminjaman dana dengan IMF. Indonesia cukup sejahtera kala itu namun memiliki hutang dan perjanjian dengan IMF yang merugikan. Inilah permulaan dari ekonomi liberal dengan cara baru “neo” yang memungkinkan pihak asing melakukan intervensi ke Indonesia terutama dalam perusahaan2 sektor strategis.

Banyak diungkapkan sejarah-sejarah neolib di Indonesia dalam buku ini dan diungkap secara cukup detail setiap tahunnya. Meski tidak terlalu holistik dan komprehensif, namun buku ini cukup untuk menjadi bacaan bagi orang-orang yang ingin mengetahui dasar neolib.

Penutup

Untuk penutup saya dapat menyimpulkan dari buku ini bahwa bencana yang menimpa Indonesia lebih disebabkan masih berpakunya Indonesia pada makroekonomi. Padahal dalam soal ini pemerintah masih kurang lihai. Ekonominya terlalu liberal. Sehingga banyak sumber daya yang dimiliki dan dikelola perusahaan asing. Kini pemerintah dan bangsa ini harus kembali pada sumber daya alam dan ekonomi mikro. Memanfaatkan misalnya gas dan minyak bumi untuk kepentingan industri plastik, tekstil dan lain-lain. Selain itu juga perlu ditingkatkannya industri manufaktur melalui industri dasar. Jangan lagi menggantungkan kebutuhan dasar pada negara luar.

Peningkatan-peningkatan wirausahan yang membangun perekonomian dari sekala mikropun harus terus digalang dan mencapai angka 2% dari total seluruh penduduk Indonesia sebagai wirausaha. Dan yang paling penting adalah pemberantasan besar-besaran praktek KKN yang semakin menguntungkan pihak-pihak tertentu. Kembalikanlah perekonomian sesuai pasal 33 UUD 45, yaitu segala kekayaan alam Indonesia mutlak untuk kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s