Lika-liku Gerakan Pemuda, Sebuah Renungan untuk Kebangkitan


Jika ingin kemakmuran 1 tahun, tumbuhkanlah benih.

Jika ingin kemakmuran 10 tahun, tumbuhkanlah pohon.

Jika ingin kemakmuran 100 tahun, tumbuhkanlah (didiklah) manusia.

Konfusius ( 551 SM-479 SM ), Cina

Masa depan suatu bangsa merupakan varibel dependen yang bergantung pada potret pemuda-pemudi masa kini. Semakin berkualitas kondisi pemuda maka semakin besar peluang suatu bangsa untuk maju. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa peran pemuda sangatlah besar terhadap keadaan suatu bangsa terutama Indonesia. Ditengah problematika bangsa yang semakin hari semakin kompleks, pemuda dituntut untuk bisa menjadi agen yang dapat menyelesaikan permasalahan tersebut secara solutif.

Gerakan-gerakan kepemudaan merupakan kunci dari gembok besi kebodohan dan kemiskinan yang terus membelenggu bangsa ini. Cukup ironi memang, ditengah limpahan sumber daya alam yang begitu besar masih banyak rakyat Indonesia yang mengais tumpukan sampah demi mengganjal perut untuk hanya sekedar bisa hidup dalam satu hari.

Namun kenyataanya gerakan kepemudaan sekarang semakin hari semakin tidak terasa pengaruhnya. Seakan-akan terjadi disfungsi sehingga gerakan pemuda sudah dianggap sebagai gerakan yang statis, tidak berdampak apa-apa terhadap permasalahan bangsa. Bahkan dalam kaca mata masyarakat gerakan pemuda sudah terlihat anarkis, hedonis dan tidak lagi memiliki kepekaan sosial yang pro-rakyat.

Realita Pemuda Indonesia saat Ini

Komponen utama dalam pergerakan adalah individu-individu yang melakukannya, yang dalam hal ini adalah pemuda itu sendiri. Namun pada kenyataanya, pemuda sekarang sudah tidak se-ideal apa yang diinginkan oleh founding fathers bangsa ini. Pemuda sekarang sudah banyak yang skeptis terhadap politik dan enggan terlibat dalam mengurus permasalahan bangsa. Mahasiswa-mahasiswanya juga kebanyakan terkurung oleh jeruji keprofesian, sehingga probelmatika bangsa yang tidak memiliki hubungan sama sekali terhadap ilmu yang ditekuninya di universitas, dia biarkan begitu saja dan tidak mau ikut andil dalam menyelesaikannya.

Mengapa para pemuda dan mahasiswa Indonesia pada masa penjajahan secara aktif ikut berpolitik?

Menurut Bung Hatta, jika para mahasiswa Belanda, Prancis, dan Inggris bisa menikmati sepenuhnya usia muda, pada masa itu para pemuda kita justru harus mempersiapkan diri untuk berani berkorban agar mampu mengubah nasib bangsa Indonesia ke arah kemerdekaan. Pada kenyataannya pembacaan proklamasi pada 17 Agustus 1945 yang lalu bukanlah merupakan kemerdakaan Indonesia. Proklamasi tersebut hanya sebagai gerbang untuk menuju kemerdekaan yang sesungguhnya dimana Indonesia bisa secara mandiri mengelola Negara dan segala kekayaan yang ada didalamnya untuk semata-mata kesejahteraan rakyat tanpa intervensi dari para kapitalis. Intinya pemuda Indonesia saat ini harus ikut andil dalam mengawasi dan mengawal kebijakan-kebijakan yang dibuat apalagi kebanyakan kebijakan sekarang sudah tidak lagi pro-rakyat.

Masuknya budaya-budaya asing yang hedonis juga salah satu yang mempengaruhi kualitas moral pemuda saat ini. Kehidupan borjuis sudah menjadi zona nyaman terutama bagi para mahasiswa sehingga kekritisan yang awalnya merupakan salah satu senjata untuk melawan kedzaliman para penguasa, hilang ditelan oleh gaya hidup yang modern dan serba berkecukupan.

Bagi mahasiswa yang secara finansial pas-pasan  juga lebih memilih jalur pragmatis dengan orientasi yang bersifat materi, yaitu kekayaan dirinya sendiri. Sudah sangat sering terlihat dari fakta kebanyakan mahasiswa top universitas memilih jalur bekerja di perusahaan asing hanya dengan tujuan pemenuhan nafsu materialistis diri pribadi. Efeknya banyak sekali mahasiswa yang buta dan tuli terhadap fenomena dan jeritan kemiskinan yang ada di Negara ini.

Demensia Gerakan Pemuda

Realita karakter pemuda saat ini berdampak semakin melempemnya gerakan-gerakan pemuda dalam menyelesaikan permasalahan bangsa. Gejala demensia, yang dalam dunia kedokteran digambarkan sebagai gangguan syaraf dan otak yang mengakibatkan gangguan ingatan, pikiran dan kemampuan untuk memusatkan perhatian sehingga bisa terjadiinya penurunan kepribadian, sangat tepat sekali menjadi gambaran realita gerakan pemuda saat ini.

Gangguan ingatan dan pikiran terhadap sejarah pejuangan pemuda masa lalu, kerap kali terjadi dalam setiap gerakan-gerakan yang digalang oleh pemuda. Kebangkitan pemuda pada tahun 1908, sumpah pemuda 1928, kemerdekaan tahun 1945, hingga aksi mahasiswa yang berhasil menggulingkan rezim 30 tahun Soeharto pada 1998, semuanya hilang begitu saja dalam memori ingatan.

Mereka lupa akan jutaan liter darah yang mengucur deras tertumpah demi tanah air, dari nadi para pejuang bangsa terdahulu.

Sehingga gerakan-gerakan pemuda sekarang lebih berorientasi terhadap pujian dan pamrih, mengedepankan ego wadah gerak masing-masing untuk menunjukan kepada masyarakat bahwa kita sudah bergerak dan berbuat.

Genggam asa, luruskan niat demi kebermanfaat untuk rakyat Indonesia

Dalam organisasi-organisasi pemuda, terutama kemahasiswaan, juga banyak sekali gerakan-gerakan yang dilakukan tanpa esensi yang jelas. Mereka lebih mengandalkan event besar yang mengundang banyak orang, sehingga terlihat mahasiswa sekarang tidak lebih dari sekedar Event Organizer yang memeriahkan setiap agenda gerak kemahasiswaan di kampusnya masing-masing.

Dalam organisasi juga kebanyakan gerakan yang bersifat konservatif. Jika diartikan dalam hukum fisika, gaya konservatif merupakan gaya yang tidak bergantung kepada lintasan dan nilainya selalu tetap, misalnya gaya gravitasi yang bernilai sama pada setiap titik, lepas dari pengaruh gaya gesek dan udara. Gerakan pemuda sekarang juga kebanyakan konservatif di organisasinya masing-masing. Mereka menjurus ke “program kerja (proker)” oriented, atau berorientasi terhada proker. Sehingga anggota-anggota dari organisasi pemuda banyak yang hanya sekedar menjalankan program kerja tanpa alasan dan landasan yang kuat.  Mereka hanya mengikuti apa yang dilakukan oleh senior-senior sebelumnya. Sehingga layaknya gaya konservatif, mereka seperti gaya yang tidak bergantung terhadap realita-realita bangsa saat ini. Hanya menjadi robot tanpa mengenal esensi dari apa yang sudah mereka lakukan.

Saatnya Indonesia Bangkit

Tidak ada kata terlambat untuk bangkit. “Jika ingin kemakmuran 100 tahun, tumbuhkanlah (didiklah) manusia.” Itulah yang harus dilakukan oleh bangsa sebagai bekal kemajuan di masa depan. Pendidikan manusia, terutama pemuda harus menjadi salah satu titik fokus pergerakan bangsa ini. Generasi-generasi muda harus dipersiapkan agar semakin kuat rasa cinta tanah air dan kebangsaanya.  Sehingga kelak gerakan-gerakan yang dilakukan benar-benar berlandaskan hati nurani untuk membela rakyat dan memajukan Indonesia.

Dalam kenyataanya permasalahan tidak hanya terjadi secara makro pada pemerintahan bangsa, namun itu juga terjadi terhadap pergerakan dan peran pemuda zaman sekarang. Beberapa realita ketidakidealan dan disfungsi terhadap gerakan pemuda seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya harus menjadi pemicu untuk kita segera berubah dan bertindak menjadi solusi dari akar pemasalahan. Kitalah kunci untuk bangkit. Kita jugalah kunci untuk membawa peradaban di Indonesia ini semakin lebih baik

Oleh karena itu, bagi pemuda-pemudi yang mulai sadar akan peran utamanya sebagai actor dan pelopor kesatuan bangsa, mulailah ajak pemuda lainnya untuk tergabung dalam barisan rapat perjuangan kohesif nasional bangsa. Sehingga kelak pemuda-pemudi Indonesia yang akan memegang tonggak kepemimpinan nantinya bisa memiliki satu visi yang sama, dan secara bijak dan jujur dalam memimpin persatuan bangsa mengantarkan Indonesia menuju kebangkitan![]

“Negeri kita kaya, kaya, kaya-raya, Saudara-saudara. Berjiwa besarlah, berimagination. Gali ! Bekerja! Gali! Bekerja! Kita adalah satu tanah air yang paling cantik di dunia“.

— Kutipan Pidato Bung Karno di semarang 29 Juli 1956.

Ditulis oleh:

Muhammad Afif Izzatullah

Staff Kementrian Kebijakan Nasional KM ITB

Sembari menyambut hari besar kebangkitan nasional

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s