Problematika HAM, Delinkuensi di Era Globalisasi [Essay]


Era globalisasi, era dimana kebebasan telah menjadi dasar yang digunakan manusia dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Setiap orang sudah memiliki kebebasan mutlak dalam bertindak, berbicara dan berpartisipasi di era serba moderen ini. Derajat telah disamaratakan tanpa diskriminasi dan perbedaan. Jenis kelamin tidak lagi menjadi tembok untuk berkembang. Warna kulit telah diabaikan di setiap komunikasi. Hak dan kewajiban telah bersatu menjadi bagian dari setiap masyarakat.

Namun demikian tidak semua orang mempraktekkan hal-hal tersebut dalam setiap aktivitasnya. Terlihat masih banyak penyimpangan dan perselisihan yang diakibatkan oleh gender, dikotomi warna kulit, materi, sehingga tidak heran bullying terjadi di banyak tempat. Padahal tanpa mendesegregasikan perbedaan tersebut, akan sangat merugikan keharmonisan antar masyarakat. Apalagi sampai menghubungkan ke masalah genetik. Dan lagi sadarkah mereka bahwa telah mutlak setiap manusia memiliki Hak Asasi Manusia?

Namun, terkadang di abad ke 21 ini semua seperti serba salah. Rakyat di berikan Bantuan Langsung Tunai (BLT) malah menjadikannya sebagai ajang meminta-minta. Busway dengan tujuan utama untuk mengatasi masalah transportasi malah menjadi tempat pelecehan seksual. Bahkan demo-demo yang diwarnai aksi brutal terus bergejolak di setiap depan kantor pemerintah. Apakah semua itu bisa dikatakan ‘hak’ mereka?

Kadangkala alasan-alasan yang dilontarkan oleh pelaku kejahatan tertuju kepada Hak Asasi Manusia itu sendiri. Seenaknya para mahasiswa berkata “itu hak saya untuk berbicara” dalam aksi demo yang kebanyakan bukan berbicara melainkan aksi anarkis yang merugikan masyarakat umum. Begitu juga BLT, mereka yang menggunakannya sebagai ajang “meminta-minta” memberikan alasan: itu hak kami menggunakannya untuk apa. Padahal jelas BLT bukan ajang pemberian uang, tapi modal agar mereka bisa membuka usaha untuk menunjang kehidupannya.

Kedua kasus tersebut adalah contoh simpel penyalahgunaan HAM yang sekarang banyak terjadi di kehidupan nyata. Mereka menggunakan Hak Asasi sebagai tameng alasan untuk melakukan perbuatan yang mereka anggap benar namun kenyataannya jelas-jelas salah.

Memang, arti dasar dari Hak Asasi Manusia itu sendiri adalah hak yang melekat pada diri setiap manusia sejak awal dilahirkan yang berlaku seumur hidup dan tidak dapat diganggu gugat siapa pun. Namun bukan berarti Hak asasi berada di puncak dari segala-galanya. Masih banyak nilai-nilai yang harus diperhatikan dalam bertindak, bukan hanya beralaskan Hak asasi saja.

Dalam Hal ini kita termasuk saya sadar betapa pentingnya hak asasi bagi kehidupan “jika” diasumsikan tidak adanya penyalahgunaan. Jelas! Kita semua sekarang bisa hidup berdiplomat karena setiap orang memiliki hak asasi dalam dirinya. Jujur kita tidak akan bisa lepas dari ketergantungan terhadap hak asasi. Karena itu sudah menjadi kodrat sekaligus berkah bagi kita sebagai makhluk homo socius.

Secara prinsip HAM dibagi lagi menjadi 6 bidang, yaitu: Hak asasi pribadi, Hak asasi politik, Hak asasi hukum, Hak asasi Ekonomi, Hak Asasi Peradilan dan Hak asasi sosial budaya yang semuanya saling berkesinambungan satu sama lain. Namun dari semua itu yang jelas merupakan hak terpenting terutama bagi para pemuda/pemudi adalah hak asasi pribadi (personal rights).

Adapun personal rights itu meliputi: Hak kebebasan bergerak, bepergian dan berpindah-pindah tempat; Hak kebebasan mengeluarkan atau menyatakan pendapat; Hak kebebasan memilih dan aktif di organisasi atau perkumpulan; Hak kebebasan untuk memilih, memeluk, menjalankan agama dan kepercayaan yang diyakini masing-masing. Dan Hak-hak lain yang berkaitan dengan diri pribadi.

Hak pribadi sangat penting bagi setiap orang terutama mahasiswa yang sedang menjalani pendidikan kuliahnya. Mereka mempunyai hak untuk berekspresi, menyampaikan pendapat, berorganisasi yang sangat dibutuhkan dalam proses perkembangan hidup perkuliahan.

Namun disini, masih terdapat banyak penyalahgunaan hak asasi dalam beberapa tindakan yang bertentangan dengan norma-norma dan peraturan yang berlaku di masyarakat. Demo salah satunya. Hak untuk berpendapat sangat berkaitan dengan delinkuensi ini. Kebanyakan para pendemo mahasiswa beralasan: ‘itu hak mereka untuk berpendapat’ tanpa melihat peraturan-peraturan dasar lain. Keanarkismean mereka salah satunya.

Berdemo sebenarnya merupakan salah satu hak pribadi setiap orang “asalkan” taat dan patuh dengan peraturan yang berlaku. Bukannya menjadi pendemo yang indisipliner. Menghindari perbuatan anarkis yang merugikan masyarakat umum salah satunya. Karena meski mereka beralasan “kami memiliki hak berpendapat” tetapi mereka melupakan sesuatu yang lebih penting dari itu. Yaitu menganggu hak pribadi masyarkat umum disebabkan perbuatan brutal mereka.

Disini yang harus digarisbawahi adalah minimnya sosialisasi dan pengetahuan dasar para penyalahguna hak tersebut dalam menjalani kehidupan nyata. Mereka seenaknya menjadikan Hak Asasi sebagai tameng penyelewengan mereka. Karena sebenarnya hak bukan satu-satunya alasan dalam setiap tindakan. Namun norma, peraturan, hak orang lain juga harus dipertimbangkan.

Karena hal-hal diataslah saya sebagai salah satu generasi muda bangsa sadar perlunya pengetahuan yang lebih terutama mengenai Hak Asasi Manusia ini. Agar kedepan bisa berbagi dan sebisa mungkin meluruskan kebengkokan yang terjadi dalam problematika HAM di Indonesia. Salah satunya dengan mengikuti berbagai seminar, workshop atau apapun dengan tujuan menggali sedalam-dalamnya seluk beluk masalah Hak Asasi Manusia terutama bagi pemuda Indonesia.

*I made this essay just for joining Change Magazine workshop. Actually in this case, I succeeded chosen as one of delegate to go to Jakarta to make a HAM book. Yet, I couldn’t since I still have INKM in itb. Beside I was also not in perfect condition at that time. ;)

3 thoughts on “Problematika HAM, Delinkuensi di Era Globalisasi [Essay]

  1. it was very nice that you could be success being the delegation, bro!
    and i do agree with your writing above. sometimes i feel really sad seeing people’s behavior that’s not suitable with our culture.
    i still believe that indonesia is a friendly country and not the cruel or anarchy one.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s