Tag Archive | leadership

Berjuta Inspirasi dalam 5 Hari – Forum Indonesia Muda 12

“Pemuda Indonesia!”

“Aku, untuk, bangsaku!”

Sembari mengepalkan telapak tangan kanan di depan bahu kiri, ke bahu kanan dan ke atas menuju langit-langit!

Begitulah jargon utama dari Forum Indonesia Muda (FIM) 12 yang beberapa hari yang lalu baru saja saya ikuti. FIM 12 ini diadakan di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata (BUPERTA), Cibubur, Jakarta Timur, mulai dari tanggal 28 April hingga 2 Mei 2012. Sungguh 5 hari yang takan pernah terlupakan dalam hidup saya, yaitu bisa tergabung dalam keluarga besar dimana setiap anggota keluarganya adalah orang-orang yang peka dan peduli terhadap permasalahan bangsa.

FIM (Forum Indonesia Muda) adalah sebuah forum independen yang beranggotakan pemuda dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi maupun organisasi kepemudaan di Indonesia, dari Aceh sampai Papua, bahkan yang sedang berada di luar negeri. FIM dibentuk untuk menjadi sarana peningkatan kompetensi pemuda dan mahasiswa dalam rangka mempersiapkan pemimpin masa depan dan wahana silaturahmi antarpemuda dari berbagai latar belakang. Hingga saat ini, FIM sudah menaungi pemuda-pemudi dari seluruh nusantara hingga angkatan 12, dengan total 13 angkatan yaitu mulai dari FIM 1, FIM 2, hingga FIM 12 dan ditambah 1 angkatan FIM Rescue. (http://forumindonesiamuda.org/about-3/)

Untuk FIM 12, tema yang diangkat dalam pelatihan adalah mengenai character building yaitu dengan tagline khasnya #manakaraktermu. Materi dan pematerinya sungguh inspiratif yang bisa menggugah para peserta maupun panita untuk semakin bersemangat membentuk karakter pribadi dalam rangkaian kehidupan yang akan dijalani kedepannya. Namun, tambang inspirasi yang sesungguhnya bukan hanya bersumber dari pemateri saja, justru keberjalanan acara yang membawa kedekatan antar panita dan peserta-lah yang lebih memberikan hujan inspirasi bagi setiap individu yang tergabung didalamnya.

Saya pribadi jujur tidak merasakan gep sama sekali baik dengan panitia maupun teman 1 angkatan FIM 12. Oleh karena itu canda-gurau dan obrolan santai antar orang menjadi hal yang biasa di 5 hari pelatihan tersebut. Teman-teman yang paling dekat dan banyak memberikan inspirasi untuk saya adalah teman-teman satu asrama dan satu kelompok. Saat pelatihan, peserta laki-laki dibagi menjadi 2 asrama dan saya mendapatkan asrama Imam Bonjol.

Di asrama, hampir setiap waktu kosong kita gunakan untuk bertukar pikiran dan informasi dari asal kampus dan latar belakang masing-masing. Saya banyak sekali mengobrol dengan orang-orang hebat yang baru saya kenal kala itu. Ada yang baru turun jabatan dari presiden BEM universitas, sedang memegang amanah sebagai ketua BEM fakultas, inisiator dari suatu gerakan sosial, sedang berkuliah di luar negeri dan orang-orang dengan pikiran besar lainnya yang tercermin dari setiap kata yang terlontar dari mulutnya hingga bisa saya cerna dengan telinga dan otak saya.

Foto keluarga besar penghuni asrama Imam Bonjol #FIM12

Bertukar pikiran dalam nuasa kebersamaan dan kekeluargaan

Dari hasil obrolan singkat seperti itulah justru yang jika diakumulasikan mengalahkan ribuan inspirasi dari para pemateri. Diskusi masalah bangsa secara solutif, saling tukar pikiran mengenai politik kampus, membahas isu BBM sembari makan pagi, melempar gagasan untuk pilgub DKI nanti, hingga menceritakan pengalaman hidup masing-masing orang yang terkadang kocak namun mengandung nilai-nilai motivatif yang bisa diambil. Hal-hal inilah yang secara tidak langsung terkonversi menjadi bahan bakar bagi diri saya untuk terus maju kedepannya. Saya semakin yakin bahwa Indonesia bisa menjadi negara besar dan benar-benar merdeka di tangan para pemuda kelak.

Sungguh 5 hari yang luar biasa sepanjang hidup saya. Nuansa kekeluargaan kental yang tercipta, hingga Atmosfir positif yang sungguh menyelimuti seluruh rangkaian acara Forum Indonesia Muda 12 ini. Ingin rasanya terus marajut hari-hari positif dengan mereka hingga kita semua bosan satu sama lain dan bergairah untuk segera menyebarkannya ke adik-adik kita nanti.

Namun kita semua sadar bahwa 5 hari tersebut hanyalah sebagai batu loncatan untuk semakin melejit kedepannya. Diharap FIM 12 ini bisa menjadi amunisi bahan bakar untuk melaju di ranah dan wadah pengembangan diri kita masing-masing. Dengan bahan bakar jutaan inpirasi yang didapat selama 5 hari tersebut, kita semua siap menambah kecepatan di jalan masing-masing dengan satu garis finish yang akan menghubungkan kita semua. Yaitu garis keberhasilan dalam 1 keluarga yang akan membawa Indonesia menjadi negara besar yang mensejahterakan seluruh rakyatnya. Amiin!

Semangat setiap anggota keluarga FIM 12! Tunjukan karakter baik kita di setiap detik, menit, jam hingga setiap untaian rantai kehidupan! :D

Peserta FIM pada saat sesi penutupan

Masihkah kita tetap diam? (Untuk para pemegang gelar Mahasiswa di Indonesia)

Tulisan ini khusus saya tujukan kepada saya pribadi dan teman-teman saya yang masih memikul gelar mahasiswa di pundaknya. Para calon pemimpin bangsa yang katanya sekelompok agen perubahan yang akan membawa bangsa ini menjadi lebih baik.

Sebelumnya saya terpicu untuk menulis tulisan ini dikarenakan saya baru saja melihat fakta negeri ini, yang tidak hanya terjadi kemarin atau 2-3 hari yang lalu, namun hampir setiap tahun kejadian ini beresonansi. Seakan-akan tidak ada evaluasi dari para pelaku kejadian.

Kita sudah menyaksikan bagaimana sidang paripurna wakil rakyat berlangsung hampir tidak berbeda dengan demo yang dilakukan para buruh di luar gedung DPR. Namun bukan itu penekanan dalam tulisan ini.  Bukan ricuhnya pendemo ataupun kegaduhan sidang paripurna. Namun betapa ironinya negeri kita ini.

Pagi ini saya baru membaca berita bahwa pemerintah Malaysia pilih pertahankan subsidi BBM untuk rakyatnya. Kita perlu perbandingan supaya kita bisa intropeksi dan bahan untuk refleksi diri. Yang lebih mirisnya terdapat fakta seperti ini di akhir paragraph:

“Untuk diketahui, minyak beroktan RON 95 atau sejenis pertamax plus di Indonesia adalah jenis minyak terendah yang digunakan masyarakat Malaysia. Di negara ini tidak diproduksi minyak jenis premium yang beroktan lebih rendah dari jenis pertamax” (detik.com)

Apakah kalian tahu fakta Indonesia ?? Indonesia memiliki 60 cekungan migas, 77 Milyar barel minyak (setara dengan 77 JUTA MILYAR rupiah) dan 332 triliun kkgas (setara dengan 50 JUTA TRILIUN rupiah) (google.com). Tapi mengapa, dengan Negara tetangga saja yang kekayaan alamnya tidak semelimpah kita, jenis kualitas bahan bakar kita masih lebih rendah. Kemudian, hanya untuk mempertahankan subsidi saja perlu susah payah, perjuangan hidup mati untuk memperdebatkannya. Bahkan dengan fakta dan data diatas saja rakyat Indonesia tidak memiliki alasan untuk jatuh miskin.

Sumber: Google.com

 

Sekarang, kita balikan ke topic utama tulisan ini yaitu Apakah kita sebagai mahasiswa hanya tetap diam? Apakah kita bisa santai, mengedepankan keegoisan kita untuk hidup dalam zona nyaman kita, sedangkan disekeliling kita banyak yang terjerat di jurang kemiskinan.  Jangan buat negeri kita menjadi lebih Ironi teman!!

Saya menulis ini, bukan berarti menyuruh kita mahasiswa untuk berbondong-bondong menjadi aktivis kemudian melakukan aksi menolak kenaikan BBM.  Banyak aktualisasi diri dan kita bisa menjadi hebat di jalan kita masing-masing! Namun inti dari tulisan ini, jangan lupakan variable kebangsaan dalam setiap jalan kejayaan kita.

Ketika kita menjadi aktivis, aktif di BEM, himpunan, dengan akademik juga lumayan baik, kita siap setelah lulus dan di masa depan akan menjadi tonggak pemimpin yang adil dan secara bijak dalam pengambilan kebijakan. Ketika kita memilih jalan menjadi akademisi, dengan IP 4, cumlaude hingga s3, kita siap mengabdikan diri menjadi dosen di negeri ini., mengembangkan pendidikan di Indonesia. Ketika kita memilih jalan menjadi insinyur, kita siap berkuliah ke luar negeri, mengambil ilmu sebanyak-banyaknya dari sana dan mengembangkan perteknologian di Indonesia.

Yang salah adalah ketika kita mahasiswa hanya menuntut ilmu, mendapat IP 4 dan setelah lulus kita kuliah di perusahaan asing, gaji berpuluh2 juta dan tidak pernah kembali lagi ke Indonesia guna mengembangkan Negara kita. Menjadi aktivis yang tanggung-tanggung juga salah, hanya tergabund di suatu organisasi, namun didalamnya hanya bercenda gurau dengan teman, dengan visi akhir membawa organisasi mahasiswa tersebut sukses setelah kita keluar. Dilupakan hal penting, bahwa kita menimba pengalaman organisasi di kampus, itu hanya sebagai jembatan supaya kita siap menjadi pemimpin kelak untuk Indonesia. Organisasi tersebut adalah miniatur untuk kita memimpin Negara ke depannya.

Dan yang lebih salah lagi adalah ketika kita hanya diam saja sebagai mahasiswa. Tidak tau apa yang harus dilakukan, tidak memiliki visi jelas kedepannya dan tidak peduli terhadap kejadian yang terjadi di Negara kita. Kuping kita berpura-pura tuli ketika rakyat menjerit berdemo meminta subsidi BBM tetap dipertahankan. Mata kita berpura-pura buta terhadap ketidakharmonisan sidang paripurna para wakil-wakil kita di DPR sana. Bahkan hati kita, kita tutupi sendiri dengan semen dan baja, ketika rakyat banyak yang berjatuhan setiap harinya dikarenakan mengais-mengais tanah demi mencari sebutir nasi untuk perutnya.

Apakah kita masih tetap diam kawan? Apakah kita masih tetap santai dengan kehidupan perkuliahan kita? Oleh karena itu bergerak lah dari sekarang. Belajar dan tuntutlah ilmu setinggi-tingginya. Dapatkan IP 4 sekaligus menjadi ketua organisasi yang membawa anggotanya untuk peduli terhadap Indonesia

 

Future Leader Summit: Great Moment to Start Having Entrepreneurship Mindset

Past April, 22th I joined one of awesome event in Semarang, Undip exactly. The name of the event is Future Leader Summit. This event is such kinda summit moment that is gathering all of future leaders from some cities in Indonesia to make some project by given some knowledge before. There are so many project topics here, yet these future leader only can choose one of them that related with their passion. And I chose  “Business and Development” which is not caused because of my passion yet because the speakers are so inspiring for me. At that time Kak Mohammad Iqbal and Kang Goris Mustaqim.

In UNDIP

Conference Room

The simple rundown of this event is, first we had such a seminar with a keynote speaker, Iman Usman that truly motivated all of participants in order to make a change. Then, after the keynote speaker all of participant go to the each rooms they chose (room here means a place that one project topic be conducted, both seminar and the workshop project) and met with some people who had the same passion.

Since I chose business development I directly went to the location in the second floor of the building at that time. First time I entered the room, the atmosphere was truly different. All people ahead of my face at there such showed the aura of the real entrepreneur, Haha. Yet, even though it hears like a little exaggerating, I really feels (not an aura of course) that what made me deserve to enter this room compared with the other competence participants. I still have a little passion in entrepreneurship, and also I still have no more corporation that can be proud of. Yet I ensure myself, that it was not too important because I still have an aching wish to know more about the entrepreneurship.

Finally, after met with some of new friends from the other cities and listened the seminar from inspiring speaker kak Iqbal and Kang Goris.. I just recently realized the main important point of the entrepreneurship. Indonesia population growing extremely fast each years and the people that need the job are also increased coincide with a few job field available, final words causes the jobless. So here, collegian like me who has a little higher degree in the eyes of civilians has to be the main actor in the movement to go to better Indonesia. We are the main role to enlarge the job field in Indonesia. We are the ones who should increase the GDP of Indonesia. And we are the ones who must change the percentage of the Indonesia entrepreneur that in dawn couldn’t reach the number 1% to be the number more than 2%. Because, the number 2% is the minimal percentage in order to make Indonesia more independent at least in job sector.

Kang Goris explain about Indonesia and Entrepreneurship.

So here, I change all of my mindset especially the vision what I am going to be for the future. Although perhaps I will choose to work first to search the experience or continue my education to higher level first than go to entrepreneurship world, or directly to be entrepreneur after the graduation… but the main goal that I want to reach is still one that want to be the entrepreneur that gives the contribution for Indonesia and the world. So from this Future Leader Summit moment, I will start to dig more about the entrepreneurship knowledge and have the entrepreneurship mindset for the next of my life. InsyaAllah. :)

PS: Ohya, the matters and the knowledge I got from this FLS, insyaAllah I will share in my next posting. So keep it up. :)

Ciptakan Perbedaan, Jadilah Minoritas, dan Berinovasilah

Bagaimana sih gambaran pemuda zaman sekarang? Jika kita bertanya random ke masyarakat, kebanyakan mereka pasti mengaitkan dengan hal-hal buruk seperti tawuran, kriminalitas, rokok, mabuk-mabukan hingga tindakan asusila. Karena hal-hal buruk tersebut seperti telah menjadi cap awal setiap pemuda di Indonesia. Ratusan kali tindakan-tindakan yang tidak sepatutnya dilakukan pemuda disiarkan di media-media TV maupun Koran. Menyebabkan beban berat yang harus dipikul setiap pemuda untuk bagaimana mereka bisa merubah imagenya tersebut di mata masyarakat.

Berdasarkan fakta, jika dibandingkan, memang sangat sedikit pemuda yang dikatakan sebagai agen-agen perubahan suatu bangsa disbanding pemuda biasa yang belum tersadarkan akan perannya di kenegaraan. Bahkan untuk pemuda sekelas mahasiswa-mahasiswa di perguruan tinggi jika mereka ditanya akan jadi apa mereka kedepannya, kebanyakan mereka menjawab bekerja di perusahaan dengan gaji yang mumpuni dan hidup sejahtera. Sedikit sekali mereka yang berbeda menjawab untuk mencoba merintis wirausaha guna mengubah bangsa Indonesia menjadi lebih baik dengan menciptakan lapangan pekerjaan yang lebih luas.

Sekarang, pertanyaan utama sebenarnya adalah bagaimana dengan kalian? Apakah kalian akan mengikuti mayoritas dan hidup hanya untuk diri sendiri menyingkirkan kata-kata pemuda sebagai agen pengubah, ataukah mencoba menjadi minoritas dengan segala daya upaya memberikan kontribusi terhadap bangsa Indonesia? Kedua pilihan tersebut merupakan sesuatu dasar fundamental bagaimana masa depan suatu bangsa. Karena percuma jika “titel” agen pengubah tersebut hanya sebagai penanda semata tanpa disertai tindakan nyata.

Perbedaan dan sesuatu yang baru. Itulah yang harus dilakukan pemuda-pemuda sekarang untuk menunjukan, siapa aktor penting dibalik perubahan suatu bangsa. Dengan berinovasi menciptakan sesuatu yang baru, pemuda dapat mengalahkan kalangan mayoritas lainnya dan memberikan dampak yang besar untuk Indonesia. Namun perbedaan di sini, hendaknya memiliki sesatu yang benar-benar belum terpikirkan oleh orang lain dan memiliki ciri khas tersendiri yang dapat lebih meningkatkan ketertarikan.

Jika dianalogikan sebuah jarum. Jadilah jarum yang berwarna emas sendiri diantara jarum-jarum putih lainnya. Berbeda dengan jarum yang terbuat dari aluminium dengan kadar kemurnian hingga 100% namun memiliki warna yang sama dengan jarum lain. Akan jelas terlihat mana yang mencolok jika di taruh di antara jarum-jarum lainnya yang sama. Akan lebih baik lagi jarum berwarna emas tersebut, juga memiliki bahan yang baik dan warna yang berbeda dari yang lain.

Jika kebanyakan pemuda lebih memilih menuntut daripada menciptakan, maka jadilah pemuda yang menciptakan tersebut. Jika mayoritas pemuda lebih memilih menuntut ilmu hanya untuk diri pribadi, maka jadilah pemuda yang menyebarkan ilmu tersebut dan berkontribusi nyata untuk masyarakat. Jika banyak pemuda lebih memilih menetap di zona nyamannya, menjaga peluang untuk bisa hidup stabil, maka jadilah kalian pemuda yang segera keluar dari zona nyaman tersebut, menantang dan menciptakan sesuatu yang baru menuju zona lebih tinggi dimana seharusnya kalian berada. Karena percayalah, dunia hanya dikuasai oleh orang-orang yang sedikit maka jadilah yang sedikit tersebut.

Dan satu hal yang perlu di garis bawahi lagi adalah tindakan. Ucapan tanpa disertai tindakan merupakan hal yang sia-sia dan tidak ada gunanya. Bergeraklah dari sekarang, coba lah langkah demi langkah menuju agen perubahan. Mulailah bertindak, berinovasi menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda.

Tulisan diatas merupakan salah satu pergerakan yang saya lakukan dalam mendukung gerakan yang lebih massive lagi yang diselenggarakan oleh Fasilkom UI yaitu compfest 2011. Disini mereka mengambil tema mengenai inovasi. Disertai dengan dasar saya ingin berkontribusi setidaknya melalui tulisan, saya juga bisa tergabung di salah satu tindakan nyata di kompetisi blog yang diadakan comfest 2011 ini.

Blogging Competition Compfest 2011

AIESEC Recruitment (Part I)

A moment ago, I just joined the recruitment for new AIESEC members. AIESEC LC Bandung exactly. First we have to pay 10.000 IDR to buy the form. The deadline for us to give it back to the AIESEC committee is today, August 27th 2010. In the form there are some questions that have relation with personality, life, vision and future. I think it’ll be better if I post in this blog while hoping it can inspire others.  I will divide into two parts.  These questions are the first part, just check them out:

Please describe your strength and weakness! And how do you eliminate your weakness?

I am a sociable people who has a little of humorous sense. That is why until now I cannot count how many friends I get. I have the artistic side too therefore I do love drawing and designing. Yet, I think I do not have a big confidence to speak before public. That is a big weakness I have meanwhile, my big ambition is to be a leader which really needs the public speaking skill.

Leadership, the one we need for great future

Public Speaking. The Important Soft Skill

But, by the time runs, I succeed to eliminate this big weakness through my desire to change and my ambition to be a leader. I have my incredible parent, friends, teachers and people near me who always encourage me to be better. So I take my desire up and try to be brave to speak before public. I try to be the head of class, active in OSIS and other organizations and dare to speak in front of other people. Therefore I am truly sure now that public speaking is no longer one of my weaknesses but it has already changed to be my strength as my way to be the next leader.

What is your ultimate life ambition? Please explain! And what have you done to achieve that ambition?

My biggest ambition for just now is go abroad through scholarship. This is want I very want to achieve in this moment. I am so regret actually, because you know, the desire to go abroad and get knowledge out there has just showed up when I have already been 3rd grade of senior high school. Perhaps other people can say here that I have already too late to do this. But unfortunately I don’t give up as fast as other people think.

Start from 3rd grade of SHS I try to search as much as information about scholarships, exchange programs and etc. And until now I am still on my way to achieve that. Those are included why I want to join AIESEC, since I want to open my chance gate as wide as possible to go abroad.

What do you want to achieve on the next 5 years? Please explain!

In the next five years my goals are: first is go entering MIT with the scholarship and succeed graduated from there with satisfactory results, since I really want to be the engineer for my future. Besides that, I also aim to be the president of one big youth organization which moves in global issues and technology. Then, I will lead and encourage all of youth in Indonesia to be engaged in this organization and make Indonesia be the one of the most influence countries in the world especially for youth movement.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 612 other followers