Tag Archive | future

Bacaan Ketika Saya (atau Kamu) Gagal

Tulisan ini dibuat tujuan utamanya untuk mengingatkan diri saya pribadi & kalian yg mungkin pernah mengalami perasaan yang sama, yaitu pahitnya kegagalan. Ya benar, saat ini banyak kegagalan yang sedang saya rasakan. Tidak perlu diutarakan semuanya, tapi kegagalan yang paling mengombang-ambingkan pikiran saya adalah nilai dan hasil ujian saya yg sungguh tidak memuaskan di semester ini. Terlepas dari variable eksternal (dosen yang mengajar, kegiatan non-akademik, dll), entah mengapa saya merasa memang nasib saya sedang berada di bawah sekarang. Menjumpai kegagalan terhadap amanah dari orang tua dan masyarakat yaitu hasil dari ujian berkuliah di ITB ini. Meski Indeks Prestasi (IP) belum keluar, namun beberapa nilai sudah diumumkan dan saya sangat down terhadap nilai-nilai tersebut, terutama akan sangat berpengaruh di IPK saya nanti.

When we start to have life

Life is not such flat! Hidup layaknya kurva sinus yang beresonansi terhadap sumbu y positif dan negatif. Alkisah, suatu hari keledai milik seorang petani terjatuh ke dalam sumur. Sementara si petani sang pemiliknya memikirkan apa yang harus dilakukannya terhadap keledai tadi. Akhirnya dia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan sumur itu juga perlu ditimbun karena berbahaya. Jadi tidak berguna menolong si keledai. Ia kemudian mengajak tetangganya untuk membantunya. Mereka membawa skop dan mulai menyekop tanah ke dalam sumur. Si keledai menyadari apa yang terjadi. Dia meronta-ronta namun ia kemudian jadi diam. Setelah beberapa skop tanah dituangkan ke dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang melihatnya. Walaupun punggung si keledai terus ditimpa dengan tanah dan kotoran. Si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah. Lalu dia menaiki tanah tersebut. Si petani terus menuangkan tanah kotor itu ke atas punggung hewan itu namun si keledai juga terus menggoncang-goncangkan badannya. Dan kemudian melangkah naik akhirnya si keledai bisa meloncat dari sumur dan bisa melarikan diri. [1]

Kehidupan terus saja menuangkan tanah dan kotoran serta masalah kepada kita. Maka cara untuk keluar dari sumur kesedihan dan masalah itu adalah dengan menjadikan kesediahan dan masalah tersebut menjadi tangga untuk keluar masalah dan kesedihan itu sendiri, jangan pernah benamkan masalah dan kesedihan dalam otak dan hati kita, tapi leparkanlah keluar lalu rakitlah menjadi tangga bersama orang-orang yang pandai merakit. Nah dalam usaha merakit itu jangan pernah menyerah dan berputus asa karena sikap menyerah dan putus asa itu adalah jenis barang dagangan Iblis yang paling laku keras.

Putus asa merupakan hal yang mudah sekali didapatkan. Saya bisa saja segera mengambil tali dan menggantukan leher saya dilangit-langit tanpa pijakan di lantai. Saya juga bisa segera pergi ke gedung bertingkat dan langsung jatuh bebas dari lantai teratasnya. Mungkin terdengar sedikit berlebihan, tapi fakta menyatakan banyak sekali orang, terutama mahasiswa yang melakukan hal tersebut dikarenakan hal-hal seperti nilai, ditolak dan tidak sanggup melanjutkan perkuliahan. Tapi apakah hal tersebut menyelesaikan masalah?

Silvester stallone memasarkan film Rocky ditolak 1855 kali.

Walt Disney ditolak 302 kali ketika mengajukan proposal Disneyland.

Merry Curie sebelum menemukan elemen radium, penelitiannya gagal sebanyak 48 kali

Thomas Alfa Edison menciptakan bola lampu melakukan percobaan sampai 999 kali

Rasulullah ketika melanjutkan kehidupan Islam di dunia. Dengan berbagai cara , beliau ditolak di Thoif , dicemooh, dicaci maki. Bahkan diembargo kebutuhan konsumsinya bertahun-tahun dan Beliau tidak pernah menyerah.

Berkaca dari kehidupan mereka, tidak ada orang yang berhasil tanpa melewatkan kegagalan. Justru karena kegagalan, tokoh-tokoh besar tersebut bisa meningkatkan diri menjadi pribadi yang lebih tangguh dengan kapasitas diri yang semakin tinggi. (Mengingatkan diri) nilai-nilai bukanlah yang seharusnya mejadi tujuan utama kuliah. Bukan berarti tidak penting, namun jika sudah terlanjur mendapatkan hasil ujian yang buruk janganlah diam dalam genangan kegelisahan akan nilai tersebut. Sisihkanlah tanah-tanah kegagalan akan nilai tersebut dan manfaatkanlah untuk meningkatkan derajat diri, layaknya keledai di kisah sebelumnya yang hendak ditimbun oleh tuannya.

Ada satu kisah lagi yang sungguh menginspirasi terutama bagi kita-kita yang sedang berada di bawah payung kegagalan. Ada seorang laki-laki yang memiliki sejarah hidup yang luar biasa:

  • 1831 – ia mengalami kebangkrutan dalam usahanya.
  • 1832 – ia menderita kekalahan dalam pemilihan tingkat lokal.
  • 1833 – ia kembali menderita kebangkrutan.
  • 1835 – istrinya meninggal dunia.
  • 1836 – ia menderita tekanan mental sedemikian rupa, hingga hampir saja masuk rumah sakit jiwa.
  • 1837 – ia menderita kekalahan dalam suatu kontes pidato.
  • 1840 – ia gagal dalam pemilihan anggota senat Amerika Serikat.
  • 1842 – ia menderita kekalahan untuk duduk di dalam kongres Amerika Serikat.
  • 1848 – ia kalah lagi di kongres Amerika Serikat.
  • 1855 – ia gagal lagi di senat Amerika Serikat.
  • 1856 – ia kalah dalam pemilihan untuk menduduki kursi wakil presiden Amerika Serikat.
  • 1858 – ia kalah lagi di senat Amerika Serikat.
  • 1860 – ia akhirnya menjadi presiden Amerika Serikat.

Siapakah dia? Namanya ialah Abraham Lincoln. Ialah laki-laki yang menjadi presiden Amerika Serikat ke-16 yang berhasil memimpin bangsanya keluar dari Perang Saudara Amerika. Ia juga mampu mempertahankan persatuan bangsa kala itu dan menghapuskan perbudakan yang ada di Amerika Serikat [3]. Mungkin jika orang lain yang mengalami demikian banyak kegagalan ia sudah mengangkat bendera putih untuk mundur secara teratur. Tetapi Abraham Lincoln maju terus, kata mundur sama sekali tidak ada dalam kamusnya. Akibatnya, setelah semua kegagalan ia dapati, ia kemudian mencapai suatu sukses yang luar biasa.

Keberhasilan merupakan akumulasi dari kegagalan sebelumnya. Namun definisi gagal disini harus diluruskan dan diperlukan persamaan persepsi. Kegagalan (menurut saya pribadi) adalah ketika kita sudah berikhtiar semaksimal mungkin namun hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Ada variable takdir dan keputusan dari Yang-Maha-Menentukan disini, yaitu Allah SWT. Berbeda jika kita melakukan sesuatu dengan minim ikhtiar dan jauh dari doa tapi berharap mendapatkan hasil yang maksimal, itu namanya kebodohan.

Allah SWT pun ketika Dia memberikan kegagalan dan cobaan kepada umatnya, pastinya sudah memiliki alasan yang jauh dari jangkauan pikiran manusia. Pasti ada berjuta hikmah dan pelajaran yang dapat dipetik dari kegagalan yang kita dapatkan tersebut. Betapa indah Allah SWT mengungkapkan dalam firmannya;

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (Q.S. Al-Insyiroh 94: 5-8)

Belum ada dan dipastikan tidak akan ada manusia yang bisa menciptakan mesin waktu. Jika sudah selesai dalam urusan, terutama ketika hasilnya adalah kegagalan maka berlalulah untuk mengerjakan urusan lain di masa sekarang. Hadapilah yang sekarang bisa dihadapi, jangan hanya merenungi masa lalu dan terucap berkali-kali “Jika saja saya waktu itu mengerjakan ini…”, itu artinya kita hanya orang bodoh yang membiarkan diri kita tenggelam dalam penyesalan masa lalu. Biarkan masa lalu menjadi tangga untuk kita terus melangkah menuju cita-cita yang lebih tinggi. (Kembali mengingatkan diri) biarlah nilai-nilai yang sudah keluar menjadi angka yang tidak berarti lagi untuk diubah, tataplah ke depan untuk memperbaiki nilai-nilai mata kuliah yang masih dapat diubah. Sungguh-sungguhlah dalam ikhtiar dan doa serta jadikanlah kegagalan di masa lalu menjadi evaluasi agar tidak terulang untuk masa yang akan datang.

Satu kisah terakhir sebelum saya menutup tulisan ini, yaitu kisah seorang pemuda yang sungguh membuat saya untuk berusaha menjadi orang yang besar yang seimbang kehidupan dunia dan akhirat.  Yang membuat saya ingin terus meningkatkan kapasitas diri terhadap pengetahuan dan kedekatan dengan Sang Illahi. Yaitu, seorang pemuda yang sangat saleh yang ketika berusia 21 tahun berhasil memimpin islam menaklukan eropa. Namanya Muhammad Al Fatih.

Ketika memimpin, Muhammad Al Fatih  dikenal dengan sifatnya yang tenang, berani, sabar menanggung penderitaan, tegas dalam membuat keputusan dan mempunyai kemampuan mengawasi diri (self control) yang luar biasa. Kemampuanya dalam memimpin dan mengatur pemerintahan sangat menonjol. Namun satu hal yang paling menginspirasi saya, terutama dalam menghadapi meteor-meteor kegagalan yang sedang berjatuhan ini adalah mengenai frekuensi shalat malamnya (Qiyamul lail).

Suatu hari timbul soal ketika pasukan islam hendak melaksanakan shalat jum’at yang pertama kali di kota yang baru berhasil ditaklukannya, konstatinopel. “Siapakah yang layak menjadi imam shalat jum’at?” tak ada jawaban. Tak ada yang berani yang menawarkan diri ! lalu Muhammad Al Fatih tegak berdiri. Beliau meminta kepada seluruh rakyatnya untuk bangun berdiri. Kemudian beliau bertanya. “ Siapakah diantara kalian yang sejak remaja, sejak akhil baligh hingga hari ini pernah meninggalkan meninggalkan shalat wajib lima waktu, silakan duduk!!” Subhanalloh!!! Maha suci Allah! tak seorangpun pasukan islam yang duduk. Semua tegak berdiri. Apa artinya? Itu berarti, tentara islam pimpinan Muhammad Al Fatih sejak masa remaja mereka hingga hari ini, tak seorangpun yang meninggalkan shalat fardhu. Tak sekalipun mereka melalaikan shalat fardhu. Luar biasa!

Lalu Muhammad Al Fatih kembali bertanya: “ Siapa diantara kalian yang sejak baligh dahulu hingga hari ini pernah meninggalkan shalat sunah rowatib? kalau ada yang pernah meninggalkan shalat sunah sekali saja silakan duduk!!”. Sebagian lainya segera duduk. Artinya, pasukan islam sejak remaja mereka ada yang teguh hati, tidak pernah meninggalkan shalat sunah setelah maghrib, dua roka’at sebelum shubuh dan shalat rowatib lainnya. Namun ada yang pernah meninggalkanya. Betapa kualitas karakter dan keimanan mereka sebagai muslim sungguh bernilai tinggi, sungguh jujur, pasukan islam Al Fatih.

Dengan mengedarkan matanya ke seluruh rakyat dan pasukanya Muammad Al Fatih kembali berseru lalu bertanya: “ Siapa diantara kalian yang sejak masa akhil baligh sampai hari ini pernah meninggalkan shalat tahajud di kesunyian malam? Yang pernah meninggalkan atau kosong satu malam saja, silakan duduk!!” apa yang terjad? Terlukislah pemandangan yang menakjubkan sejarawan barat dan timur. Semua yang hadir dengan cepat duduk! ”Hanya ada seorang saja yang tetap tegak berdiri. Siapakah dia? dialah, Sultan Muhammad Al Fatih, sang penakluk benteng Byzantium Konstantinopel. Beliaulah yang pantas menjadi imam shalat jumat hari itu. Karena hanya Al Fatih seorang yang sejak remaja selalu mengisi butir-butir malam sunyinya dengan bersujud kepada Allah SWT, tak kosong semalampun. [4]

Qiyamul lail, shalat tahajud, inilah senjata utama Muhammad Al Fatih dalam mengarungi kehidupan di dunia yang fana ini. Inilah Pedang Malam, yang selalu diasahnya dengan tulus ikhlas dan khusuk, ditegakkan setiap malam. Dengan pedang malam ini timbul energi yang luar biasa dari pasukan Muhammad Al Fatih. Hal itu juga yang meyakinkan pola pikir saya bahwa orang-orang besar yang berpengaruh, memiliki sejarah hidup yang tidak selayaknya orang-orang pada biasanya. Beliau rela bangun disepertiga malamnya, mengurangi waktu istirahatnya guna berkhalwat dengan Sang Maha Pencipta.

Which one will you choose, surrender or keep moving forward ?

Ditengah (beberapa) nilai-nilai ujian yang kelam ini, memotivasi saya bahwa harapan itu masih ada. Masa depan dapat dirubah dengan melakukan yang terbaik untuk hari ini. Masih ada beberapa nilai yang tersisa yang masih bisa diubah hasil akhirnya. Masih ada keberhasilan dibalik hujaman tajam dari pedang kegagalan hari ini. Justru luka tersebutlah yang kelak membuat kita kuat untuk menghadapi hari-hari esok yang lebih baik. Allahualam.[]

Sumber:

[1] http://ramah.fh.unsri.ac.id/

[2] http://www.nomor1.com/

[3] http://en.wikipedia.org/wiki/Abraham_Lincoln

[4] http://menarainspirasi.blogspot.com/

Masihkah kita tetap diam? (Untuk para pemegang gelar Mahasiswa di Indonesia)

Tulisan ini khusus saya tujukan kepada saya pribadi dan teman-teman saya yang masih memikul gelar mahasiswa di pundaknya. Para calon pemimpin bangsa yang katanya sekelompok agen perubahan yang akan membawa bangsa ini menjadi lebih baik.

Sebelumnya saya terpicu untuk menulis tulisan ini dikarenakan saya baru saja melihat fakta negeri ini, yang tidak hanya terjadi kemarin atau 2-3 hari yang lalu, namun hampir setiap tahun kejadian ini beresonansi. Seakan-akan tidak ada evaluasi dari para pelaku kejadian.

Kita sudah menyaksikan bagaimana sidang paripurna wakil rakyat berlangsung hampir tidak berbeda dengan demo yang dilakukan para buruh di luar gedung DPR. Namun bukan itu penekanan dalam tulisan ini.  Bukan ricuhnya pendemo ataupun kegaduhan sidang paripurna. Namun betapa ironinya negeri kita ini.

Pagi ini saya baru membaca berita bahwa pemerintah Malaysia pilih pertahankan subsidi BBM untuk rakyatnya. Kita perlu perbandingan supaya kita bisa intropeksi dan bahan untuk refleksi diri. Yang lebih mirisnya terdapat fakta seperti ini di akhir paragraph:

“Untuk diketahui, minyak beroktan RON 95 atau sejenis pertamax plus di Indonesia adalah jenis minyak terendah yang digunakan masyarakat Malaysia. Di negara ini tidak diproduksi minyak jenis premium yang beroktan lebih rendah dari jenis pertamax” (detik.com)

Apakah kalian tahu fakta Indonesia ?? Indonesia memiliki 60 cekungan migas, 77 Milyar barel minyak (setara dengan 77 JUTA MILYAR rupiah) dan 332 triliun kkgas (setara dengan 50 JUTA TRILIUN rupiah) (google.com). Tapi mengapa, dengan Negara tetangga saja yang kekayaan alamnya tidak semelimpah kita, jenis kualitas bahan bakar kita masih lebih rendah. Kemudian, hanya untuk mempertahankan subsidi saja perlu susah payah, perjuangan hidup mati untuk memperdebatkannya. Bahkan dengan fakta dan data diatas saja rakyat Indonesia tidak memiliki alasan untuk jatuh miskin.

Sumber: Google.com

 

Sekarang, kita balikan ke topic utama tulisan ini yaitu Apakah kita sebagai mahasiswa hanya tetap diam? Apakah kita bisa santai, mengedepankan keegoisan kita untuk hidup dalam zona nyaman kita, sedangkan disekeliling kita banyak yang terjerat di jurang kemiskinan.  Jangan buat negeri kita menjadi lebih Ironi teman!!

Saya menulis ini, bukan berarti menyuruh kita mahasiswa untuk berbondong-bondong menjadi aktivis kemudian melakukan aksi menolak kenaikan BBM.  Banyak aktualisasi diri dan kita bisa menjadi hebat di jalan kita masing-masing! Namun inti dari tulisan ini, jangan lupakan variable kebangsaan dalam setiap jalan kejayaan kita.

Ketika kita menjadi aktivis, aktif di BEM, himpunan, dengan akademik juga lumayan baik, kita siap setelah lulus dan di masa depan akan menjadi tonggak pemimpin yang adil dan secara bijak dalam pengambilan kebijakan. Ketika kita memilih jalan menjadi akademisi, dengan IP 4, cumlaude hingga s3, kita siap mengabdikan diri menjadi dosen di negeri ini., mengembangkan pendidikan di Indonesia. Ketika kita memilih jalan menjadi insinyur, kita siap berkuliah ke luar negeri, mengambil ilmu sebanyak-banyaknya dari sana dan mengembangkan perteknologian di Indonesia.

Yang salah adalah ketika kita mahasiswa hanya menuntut ilmu, mendapat IP 4 dan setelah lulus kita kuliah di perusahaan asing, gaji berpuluh2 juta dan tidak pernah kembali lagi ke Indonesia guna mengembangkan Negara kita. Menjadi aktivis yang tanggung-tanggung juga salah, hanya tergabund di suatu organisasi, namun didalamnya hanya bercenda gurau dengan teman, dengan visi akhir membawa organisasi mahasiswa tersebut sukses setelah kita keluar. Dilupakan hal penting, bahwa kita menimba pengalaman organisasi di kampus, itu hanya sebagai jembatan supaya kita siap menjadi pemimpin kelak untuk Indonesia. Organisasi tersebut adalah miniatur untuk kita memimpin Negara ke depannya.

Dan yang lebih salah lagi adalah ketika kita hanya diam saja sebagai mahasiswa. Tidak tau apa yang harus dilakukan, tidak memiliki visi jelas kedepannya dan tidak peduli terhadap kejadian yang terjadi di Negara kita. Kuping kita berpura-pura tuli ketika rakyat menjerit berdemo meminta subsidi BBM tetap dipertahankan. Mata kita berpura-pura buta terhadap ketidakharmonisan sidang paripurna para wakil-wakil kita di DPR sana. Bahkan hati kita, kita tutupi sendiri dengan semen dan baja, ketika rakyat banyak yang berjatuhan setiap harinya dikarenakan mengais-mengais tanah demi mencari sebutir nasi untuk perutnya.

Apakah kita masih tetap diam kawan? Apakah kita masih tetap santai dengan kehidupan perkuliahan kita? Oleh karena itu bergerak lah dari sekarang. Belajar dan tuntutlah ilmu setinggi-tingginya. Dapatkan IP 4 sekaligus menjadi ketua organisasi yang membawa anggotanya untuk peduli terhadap Indonesia

 

Entrepreneurship for Nation

Di post kali ini, saya ingin berbagi hasil dari apa yang telah saya dapatkan ketika mengikuti Future Leader Summit di Semarang tempo hari. Sekaligus merespon janji saya di post sebelumnya. Ini merupakan review apa yang saya dapat dari presentasi Kang Goris Mustaqim, one of inspiring people for me.

Well, sebelumnya saya ingin pembaca mengetahui terlebih dahulu.. fakta apa saja sih yang Indonesia miliki sekarang ? Take a look at this picture:

Facts of Indonesia

Indonesia merupakan negara keempat terpadat populasinya di Dunia. Namun itu bukan sepenuhnya berarti kabar baik bagi kita, karena dari total 235 juta jiwa penduduk dengan jumlah tenaga kerja ‘labor force’ sebesar 112,74 juta orang, Indonesia masih memiliki sekitar 8,96 juta jumlah tenaga kerja yang menjadi pengangguran ‘unemployed’. Betapa miris bukan fakta tersebut?? Ditambah lagi jumlah pekerja yang terlepas dari jerat pengangguran masih berada di jurang kemiskinan.

Namun, tidak semata-mata Indonesia sudah pupus dari harapan. Secercah cahaya penerang masa depan, yaitu 36,4% pemuda masih memiliki kesempatan untuk membangun dan memajukan Indonesia menjadi negara yang lebih baik. Mereka lah yang akan membawa angka pengangguran dan kemiskinan tersebut menjadi sedikit berkurang dan lama kelamaan menghilang.

But, what youths need to do??

Benar, yaitu dengan memperbanyak kuantitas entrepreneur (wirausaha) yang ada di Indonesia.

Dengan semakin banyak pemuda yang berwirausaha mandiri, maka dampak kedepannya adalah semakin banyaknya terbuka lapangan pekerjaan yang dapat diisi oleh sejumlah pengangguran yang terdata diatas. Jadi, mindset pemuda sekarang, terutama yang sedang melanjutkan studi setaraf perguruan tinggi, haruslah berubah yang dulunya mencoba mencari pekerjaan menjadi menciptakan pekerjaan. Ada beberapa hal lagi yang semakin membuat kita (pemuda) harus aware terhadap isu ini dan menciptakan lebih banyak entrepreneur, yaitu fakta di bawah ini:

Kondisi Wirausaha Indonesia

Indonesia, at least, harus memiliki porsi wirausahawan sekitar 2% dari total jumlah penduduk untuk mengembangkan perekonomian dan meretas pengangguran. Bandingkan dengan negara lain, yang tidak perlu jauh-jauh, Malaysia saja sudah memiliki 2,1% penduduknya yang berwirausaha, juga Thailand yang sudah mencapai 4,1%-nya. Oleh karena itu, kita lah yang perlu menebarkan di ranah Ibu Pertiwi ini entrepreneur2 muda penghasil lapangan pekerjaan Bangsa.

We need more Entrepreneurs

Sebenarnya, masih banyak selain kuantitas yang perlu ditingkatkan. Ada juga kualitas para entrepreneur yang mengacu pada sustainable development (lihat post saya sebelumnya: http://bit.ly/lE0DtH), kemudian entitas, perbedaan, dll. Namun, kesimpulan dan inti dari post ini, adalah marilah kita semua pemuda pondasi Bangsa membangun Indonesia yang lebih baik dengan cara menciptakan lapangan pekerjaan lebih banyak secara kuantitas dengan menjadi entrepreneur. Berikanlah kontribusi nyata terhadap masyarakat. Karena sesungguhnya:

Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain

Be useful for others, dan jadilah insan persada Bangsa yang dikenang karena hal baik yang ditinggalkannya. :)

Sustainable Development, Giving our Scion the day to smile

In the yesterday friday March 11th 2011, I was involved in one awesome forum which discussed about “the sustainable development” together with kak Cinta Azwiendasari, an alumni of Environmental engineering class 2004, who is continuing her master degree in German. Kak cinta came together with her other two German friends, Deibl and Vogel in order to share and discuss with us about the sustainable development. So in here I just wanna sharing the knowledge what I have gotten at there.

So, what is actually Sustainable Development? According to Wikipedia:

Sustainable development (SD) is a pattern of resources use that aims to meet human needs while preserving the environment so that these needs can be met not only in the present, but also for generations to come (sometimes taught as ELF-Environment, Local People, Future).

To realize the sustainable developments and implement them to every country all over the world, we need to take the environment issues on the top all other issue (without ignoring others). To make it easier to understand, there are 2  models picturing this:

Which one reflect our country?

The ‘Mickey Mouse’ model is the one who use the most by all countries in the world. They more think about how to jack up their economy side by ignoring the society and enironment. Whereas, the ‘Bullseye’ model is the sustainability one which places environment in the wide range circle, before the economy and the society. In chain-simple-question we got.. “What for money if the society is not welfare? And what for welfare society if the place where they are gonna live is damaged and broken?.” It is all about a place where we can live. As far as today, none any astronaut either the engineer have found another planet that human can live in. Just the earth who is very kind to give us the enjoyable place so we can live our life inside Him. Then what will happen if “He” die??

3 circles of sustainable development

Most of us, perhaps still have the mindset that the age of the earth is still too too long. Even, some of them have the damn conceited taught that:

“In the case I will still live and will die before the earth die.. What for I protect the earth? It’s not related with me what will the earth will be.”

Well for you who still have the mindset like that, c’mon soon realize that we live in here not only for ourselves. We still have the young generation under us who still want to live and enjoy the beauty of the earth. They still want to shelter under the shade of tree, they still want to drink the fresh water which can fulfill their windpipe quenching the thirst. They still want thousand things like we got when the earth still green. Did you ever know that?

So from now on, when you still have the power to care each others.. when you still have the soul to be one with the earth.. when you still want your scion live with smile while facing the world.. give ‘them’ the future by using the sustainable development. Using green lifestyle in your day and never ignoring about the environment.[]

“Only after the last tree has been cut down, Only after the last river has been poisoned, Only after the last fish has been caught, Only then will you find that money cannot be eaten.”

Final Decision: Bandung Institute of Technology

Alhamdulillah, a great gate for my bright future has been opened by The Almighty to continue my Bachelor study as a Collegian at Bandung Institute of Technology. After taking my graduation from my senior high school number 17, I can step to go out from there with big pride as alumnus of Acceleration class by bringing a gratified National Examination’s result.

Million of gratitude I extend to my parent whom never stop supporting and praying me to get the best life; all my senior high school’s teachers whom have given me infinities knowledge of which I will keep along my life eternity; my friends whom have supported me, made me smile and been such kind-friends by these 2 years before; and others with lot of helpings you’ve given to me, I can’t live without you. Thanks and sorry for everything that honestly I cannot do the same to you all entirely. Thanks a lot! ;)

Now, let me enter a new world. A new world with more obstacles than my world before. Yes that is being a Collegian. And Alhamdulillah, a moment ago I’ve been accepted as one of collegian at School of Electrical Engineering and Informatics (Sekolah Elektro Informatika, STEI) – Bandung Institute of Technology (Institut Teknologi Bandung, ITB).

Alhamdulillah

I’m so delighted can continue my study at this one of the best Institute in Indonesia. Even, this institute which was founded on March 2nd 1959, has the main campus which is the site of earlier engineering schools in Indonesia. ITB is included as an old and historical institute. First name of ITB was De Techniche Hoogeschool te Bandung, established July 3rd 1920, had only one faculty named de Faculteit van Technische Wetenschap and one major too, named de afdeeling der Weg en Waterbouw. Supported with firm ideas and convictions by spirit of Proclamation of Independence, government of Indonesia officially established the existence of ITB on March 2nd 1959. Until now this institute which has a motto “In Harmonia Progressio” (Latin : Progress in Harmony), keep growing and be one of the best Institute in Indonesia. [more about ITB: English | Indonesia]

Technische Hooge School 1929


Bandung Campus in 1950

Fortunately, I got School of Electrical and Informatics (STEI) in ITB of which is eligible with my interest and proclivity. STEI ITB was officially established on January 1st 2006, is a merger of two regarded departments in ITB, Electrical Engineering and Informatics Department. STEI ITB has been instituting bachelor of engineering program on Electrical Engineering and Informatics (Sarjana Teknik S1), Sarjana in Electrical Engineering and Sarjana in Informatics, each of which is to be conducted within 8 semesters consisting of 144 semester credits. Moreover, STEI ITB also institutes Master Program (S2) and Doctorate Program (S3). But in here I’m taking the bachelor engineering for my bachelor degree (S1). STEI ITB has vision and mission which put down here:

Vision:

To be a higher educational institution of developing competitive and outstanding science Electrical engineering and Informatics in Indonesia, acknowledged in the world and having active participating within efforts to expand and achieve social welfare.

Missions:

  1. To provide high education and continuous education in Electrical Engineering and Informatics by using communication and information technology toward creative communities.
  2. To promote current technology (State of The Art) and develop Electrical Engineering and Informatics science through innovative research activities.
  3. To disseminate science, technology and view/knowledge of Electrical Engineering and Informatics possessed by society through its alumnae, partnership with industry or other institutions and through activities of service to community program to form wise and technological society.

[Source and Know more STEI: http://www.stei.itb.ac.id/profile]

In ITB, I am signed as 2010 generation (Angkatan ’10), since I’ll begin taking college at this year, 2010. From next august on, I’m gonna take OSPEK and start to wander collegian’s life. Getting this institute is included the one of my 2010 resolutions, means I’ve already accomplished it.

Actually it spends much enough my parent’s finance to pay the expense, therefore I promise in my heart: I will fully do my best struggle in here to get the pride graduation and get the bright future for making proud them (Aaamiinn!).

With Bismillahirrahmanirrahim, I hope it will be my best final-decision by taking college in one of the best institute in Indonesia, Bandung Institute of Technology__School of Electrical Engineering and Informatics! Aaamiiinn! :D

“In Harmonia Progressio”

Ceremonial Hall by architect Henri Maclaine-Pont


ITB's Campus

[Know More ITB: Web(English) | Web(Indonesia) | Facebook:ITB | @itbOfficial ]

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 612 other followers