Ciptakan Perbedaan, Jadilah Minoritas, dan Berinovasilah
Bagaimana sih gambaran pemuda zaman sekarang? Jika kita bertanya random ke masyarakat, kebanyakan mereka pasti mengaitkan dengan hal-hal buruk seperti tawuran, kriminalitas, rokok, mabuk-mabukan hingga tindakan asusila. Karena hal-hal buruk tersebut seperti telah menjadi cap awal setiap pemuda di Indonesia. Ratusan kali tindakan-tindakan yang tidak sepatutnya dilakukan pemuda disiarkan di media-media TV maupun Koran. Menyebabkan beban berat yang harus dipikul setiap pemuda untuk bagaimana mereka bisa merubah imagenya tersebut di mata masyarakat.
Berdasarkan fakta, jika dibandingkan, memang sangat sedikit pemuda yang dikatakan sebagai agen-agen perubahan suatu bangsa disbanding pemuda biasa yang belum tersadarkan akan perannya di kenegaraan. Bahkan untuk pemuda sekelas mahasiswa-mahasiswa di perguruan tinggi jika mereka ditanya akan jadi apa mereka kedepannya, kebanyakan mereka menjawab bekerja di perusahaan dengan gaji yang mumpuni dan hidup sejahtera. Sedikit sekali mereka yang berbeda menjawab untuk mencoba merintis wirausaha guna mengubah bangsa Indonesia menjadi lebih baik dengan menciptakan lapangan pekerjaan yang lebih luas.
Sekarang, pertanyaan utama sebenarnya adalah bagaimana dengan kalian? Apakah kalian akan mengikuti mayoritas dan hidup hanya untuk diri sendiri menyingkirkan kata-kata pemuda sebagai agen pengubah, ataukah mencoba menjadi minoritas dengan segala daya upaya memberikan kontribusi terhadap bangsa Indonesia? Kedua pilihan tersebut merupakan sesuatu dasar fundamental bagaimana masa depan suatu bangsa. Karena percuma jika “titel” agen pengubah tersebut hanya sebagai penanda semata tanpa disertai tindakan nyata.
Perbedaan dan sesuatu yang baru. Itulah yang harus dilakukan pemuda-pemuda sekarang untuk menunjukan, siapa aktor penting dibalik perubahan suatu bangsa. Dengan berinovasi menciptakan sesuatu yang baru, pemuda dapat mengalahkan kalangan mayoritas lainnya dan memberikan dampak yang besar untuk Indonesia. Namun perbedaan di sini, hendaknya memiliki sesatu yang benar-benar belum terpikirkan oleh orang lain dan memiliki ciri khas tersendiri yang dapat lebih meningkatkan ketertarikan.
Jika dianalogikan sebuah jarum. Jadilah jarum yang berwarna emas sendiri diantara jarum-jarum putih lainnya. Berbeda dengan jarum yang terbuat dari aluminium dengan kadar kemurnian hingga 100% namun memiliki warna yang sama dengan jarum lain. Akan jelas terlihat mana yang mencolok jika di taruh di antara jarum-jarum lainnya yang sama. Akan lebih baik lagi jarum berwarna emas tersebut, juga memiliki bahan yang baik dan warna yang berbeda dari yang lain.
Jika kebanyakan pemuda lebih memilih menuntut daripada menciptakan, maka jadilah pemuda yang menciptakan tersebut. Jika mayoritas pemuda lebih memilih menuntut ilmu hanya untuk diri pribadi, maka jadilah pemuda yang menyebarkan ilmu tersebut dan berkontribusi nyata untuk masyarakat. Jika banyak pemuda lebih memilih menetap di zona nyamannya, menjaga peluang untuk bisa hidup stabil, maka jadilah kalian pemuda yang segera keluar dari zona nyaman tersebut, menantang dan menciptakan sesuatu yang baru menuju zona lebih tinggi dimana seharusnya kalian berada. Karena percayalah, dunia hanya dikuasai oleh orang-orang yang sedikit maka jadilah yang sedikit tersebut.
Dan satu hal yang perlu di garis bawahi lagi adalah tindakan. Ucapan tanpa disertai tindakan merupakan hal yang sia-sia dan tidak ada gunanya. Bergeraklah dari sekarang, coba lah langkah demi langkah menuju agen perubahan. Mulailah bertindak, berinovasi menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda.
Tulisan diatas merupakan salah satu pergerakan yang saya lakukan dalam mendukung gerakan yang lebih massive lagi yang diselenggarakan oleh Fasilkom UI yaitu compfest 2011. Disini mereka mengambil tema mengenai inovasi. Disertai dengan dasar saya ingin berkontribusi setidaknya melalui tulisan, saya juga bisa tergabung di salah satu tindakan nyata di kompetisi blog yang diadakan comfest 2011 ini.
RoboSoccer 2010.. A Beginning
One new tech-competition for Senior High School Student had been conducted in itb some weeks ago. A contest of making a “car-robot” of which will be battled one v one with fighting over one pingpong ball like a soccer match yet only played by two players. Feel curious?
Well, in this post Im gonna upload a small video of one match in the robosoccer contest itb. Because I was actually one of committee in this event, so without any specific purpose I rec a part of final match by my mobile phone leisurely (it’s legal, no problem). Then here it is:
Problematika HAM, Delinkuensi di Era Globalisasi [Essay]
Namun demikian tidak semua orang mempraktekkan hal-hal tersebut dalam setiap aktivitasnya. Terlihat masih banyak penyimpangan dan perselisihan yang diakibatkan oleh gender, dikotomi warna kulit, materi, sehingga tidak heran bullying terjadi di banyak tempat. Padahal tanpa mendesegregasikan perbedaan tersebut, akan sangat merugikan keharmonisan antar masyarakat. Apalagi sampai menghubungkan ke masalah genetik. Dan lagi sadarkah mereka bahwa telah mutlak setiap manusia memiliki Hak Asasi Manusia?
Namun, terkadang di abad ke 21 ini semua seperti serba salah. Rakyat di berikan Bantuan Langsung Tunai (BLT) malah menjadikannya sebagai ajang meminta-minta. Busway dengan tujuan utama untuk mengatasi masalah transportasi malah menjadi tempat pelecehan seksual. Bahkan demo-demo yang diwarnai aksi brutal terus bergejolak di setiap depan kantor pemerintah. Apakah semua itu bisa dikatakan ‘hak’ mereka?
Kadangkala alasan-alasan yang dilontarkan oleh pelaku kejahatan tertuju kepada Hak Asasi Manusia itu sendiri. Seenaknya para mahasiswa berkata “itu hak saya untuk berbicara” dalam aksi demo yang kebanyakan bukan berbicara melainkan aksi anarkis yang merugikan masyarakat umum. Begitu juga BLT, mereka yang menggunakannya sebagai ajang “meminta-minta” memberikan alasan: itu hak kami menggunakannya untuk apa. Padahal jelas BLT bukan ajang pemberian uang, tapi modal agar mereka bisa membuka usaha untuk menunjang kehidupannya.
Kedua kasus tersebut adalah contoh simpel penyalahgunaan HAM yang sekarang banyak terjadi di kehidupan nyata. Mereka menggunakan Hak Asasi sebagai tameng alasan untuk melakukan perbuatan yang mereka anggap benar namun kenyataannya jelas-jelas salah.
Memang, arti dasar dari Hak Asasi Manusia itu sendiri adalah hak yang melekat pada diri setiap manusia sejak awal dilahirkan yang berlaku seumur hidup dan tidak dapat diganggu gugat siapa pun. Namun bukan berarti Hak asasi berada di puncak dari segala-galanya. Masih banyak nilai-nilai yang harus diperhatikan dalam bertindak, bukan hanya beralaskan Hak asasi saja.
Dalam Hal ini kita termasuk saya sadar betapa pentingnya hak asasi bagi kehidupan “jika” diasumsikan tidak adanya penyalahgunaan. Jelas! Kita semua sekarang bisa hidup berdiplomat karena setiap orang memiliki hak asasi dalam dirinya. Jujur kita tidak akan bisa lepas dari ketergantungan terhadap hak asasi. Karena itu sudah menjadi kodrat sekaligus berkah bagi kita sebagai makhluk homo socius.
Secara prinsip HAM dibagi lagi menjadi 6 bidang, yaitu: Hak asasi pribadi, Hak asasi politik, Hak asasi hukum, Hak asasi Ekonomi, Hak Asasi Peradilan dan Hak asasi sosial budaya yang semuanya saling berkesinambungan satu sama lain. Namun dari semua itu yang jelas merupakan hak terpenting terutama bagi para pemuda/pemudi adalah hak asasi pribadi (personal rights).
Adapun personal rights itu meliputi: Hak kebebasan bergerak, bepergian dan berpindah-pindah tempat; Hak kebebasan mengeluarkan atau menyatakan pendapat; Hak kebebasan memilih dan aktif di organisasi atau perkumpulan; Hak kebebasan untuk memilih, memeluk, menjalankan agama dan kepercayaan yang diyakini masing-masing. Dan Hak-hak lain yang berkaitan dengan diri pribadi.
Hak pribadi sangat penting bagi setiap orang terutama mahasiswa yang sedang menjalani pendidikan kuliahnya. Mereka mempunyai hak untuk berekspresi, menyampaikan pendapat, berorganisasi yang sangat dibutuhkan dalam proses perkembangan hidup perkuliahan.
Namun disini, masih terdapat banyak penyalahgunaan hak asasi dalam beberapa tindakan yang bertentangan dengan norma-norma dan peraturan yang berlaku di masyarakat. Demo salah satunya. Hak untuk berpendapat sangat berkaitan dengan delinkuensi ini. Kebanyakan para pendemo mahasiswa beralasan: ‘itu hak mereka untuk berpendapat’ tanpa melihat peraturan-peraturan dasar lain. Keanarkismean mereka salah satunya.
Berdemo sebenarnya merupakan salah satu hak pribadi setiap orang “asalkan” taat dan patuh dengan peraturan yang berlaku. Bukannya menjadi pendemo yang indisipliner. Menghindari perbuatan anarkis yang merugikan masyarakat umum salah satunya. Karena meski mereka beralasan “kami memiliki hak berpendapat” tetapi mereka melupakan sesuatu yang lebih penting dari itu. Yaitu menganggu hak pribadi masyarkat umum disebabkan perbuatan brutal mereka.
Disini yang harus digarisbawahi adalah minimnya sosialisasi dan pengetahuan dasar para penyalahguna hak tersebut dalam menjalani kehidupan nyata. Mereka seenaknya menjadikan Hak Asasi sebagai tameng penyelewengan mereka. Karena sebenarnya hak bukan satu-satunya alasan dalam setiap tindakan. Namun norma, peraturan, hak orang lain juga harus dipertimbangkan.
Karena hal-hal diataslah saya sebagai salah satu generasi muda bangsa sadar perlunya pengetahuan yang lebih terutama mengenai Hak Asasi Manusia ini. Agar kedepan bisa berbagi dan sebisa mungkin meluruskan kebengkokan yang terjadi dalam problematika HAM di Indonesia. Salah satunya dengan mengikuti berbagai seminar, workshop atau apapun dengan tujuan menggali sedalam-dalamnya seluk beluk masalah Hak Asasi Manusia terutama bagi pemuda Indonesia.
*I made this essay just for joining Change Magazine workshop. Actually in this case, I succeeded chosen as one of delegate to go to Jakarta to make a HAM book. Yet, I couldn’t since I still have INKM in itb. Beside I was also not in perfect condition at that time.




Recent Comments