Archive | December 2011

Merefleksikan “Hazard” dari Mata Kuliah Sistem Digital dalam Kehidupan

Sebagai mahasiswa program studi teknik Elektro Institut Teknologi Bandung, di semester ini saya mengambil mata kuliah system digital. Inti dari mata kuliah ini adalah mempelajari dasar fundamental dari teknologi yang tidak bisa lepas dari kehidupan manusia sekarang yaitu teknologi digital. Salah satu penggunaan sederhananya bisa dilihat di jam digital, lampu lalu lintas, papan skor olahraga dll.

Sebelum masuk ke poin utama, saya ingin menjelaskan sesingkat dan sesimple mungkin overview dari matak kuliah ini. Dalam sistem digital hanya diketahui 2 logika yaitu logika ‘1’ dan ‘0’. Simpelnya logika 1 itu adalah ketika rangkaian mendapat aliran listrik tinggi (5 volt misal) dan logika 0 ketika mendapat aliran listrik rendah dan/atau tidak mendapat listrik. Karena dalam rangkaian elektrik hanya bisa dideteksi 2 buah sinyal, yaitu ada aliran listrik dan tidak ada aliran listrik sama sekali makanya logika hanya ada dua, yaitu logika 1 dan 0.

Sederhananya gini deh; ada lampu terhubung dengan switch. Lampu tersebut akan menyala ketika dia mendapat logika 1 (ketika mendapat aliran listrik) dan padam ketika ber-logika 0 (yaitu ketika aliran listrik terputus.

“Hazard” dalam sisdig (singkatan dari system digital) adalah kondisi dimana terjadi perubahan sinyal yang tidak diharapkan, yang sesaat, akibat propagasi delay dalam rangkaian. Untuk penjelasan mungkin tidak perlu ya (karena cukup kompleks, haha). Tapi untuk contoh sederhananya kita lihat pada lampu sen motor deh yang berkedap kedip. Itu merupakan salah satu aplikasi system digital, yaitu lampu motor tersebut akan mendapatkan secara bergantian logika 1 dan logika 0. Nah hazard bisa terjadi sesaat dari 1 ke 0 padahal tidak kita harapkan.

Logika 1 dan Logika 0 bergantian

Perubahan tiba-tiba dari logika 1 ke logika 0

Sekarang saya menggambarkan rangkaian tersebut adalah adalah diri kita. Kita mendapat logika 1 adalah ketika kita dalam kondisi prima, optimis dan sedang dalam posisi keberhasilan. Sedangkan logika 0 adalah ketika kita mengalami kegagalan, kesedihan yaitu ketika kondisi kita sedang di bawah. Tentunya layaknya waveform di atas, diagram hidup kita pastinya secara konstan naik turun terus seperti kurva sinus, itu sesuatu yang tidak dapat kita pungkiri. Namun terdapat juga hazard dalam kehidupan kita ini yaitu ketika kita mengharapkan logika satu, tapi yang terjadi adalah kita mendapat kogika 0.

Tentunya dalam system digital ada solusi untuk mengatasinya, yaitu dengan menambah gerbang logika (intinya komponen tambahan) dan pastinya akan memerlukan cost yang lebih. Pemikiran pelitnya, berarti kita harus menambah biaya lagi untuk membeli komponen tambahan. Sama seperti kehidupan kita. Dalam mengatasi hal-hal yang diluar dugaan dan yang tidak diharapkan (hazard ), missal ketika kita gagal, belum mencapai tujuan awal ketika kita melakukan sesuatu, dll; tentunya yang harus kita lakukan bukannya menyesali dan tenggelam dalam kekecewaan. Justru kita harus menambah komponen perjuangan kita agar tidak terjadi lagi hazard di kedepannya.

Tentunya ketika kita meningkatkan usaha yang lebih, tenaga dan pikiran yang baru lagi akan menghasilkan cost dan harga yang tidak seperti biasanya juga. Kita harus bangkit dan rela mengorbankan waktu kita, keluar dari zona nyaman kita dan mengeluarkan cucuran keringat yang lebih dari yang biasa kita keluarkan. Alhasil kita bisa mengatasi hazard tersebut yaitu kembali mencapai logika 1.

Dalam kehidupan, banyak sekali suka duka yang kita rasakan. Kegagalan – keberhasilan, saling bergantian menyapa diri kita. Kita sudah belajar dengan giat, ternyata IP pas-pas-an. Kita berusaha keras dalam suatu lomba, ternyata tidak lolos. Kita sudah seteliti mungkin menyusun rencana ternyata hasil akhir berantakan. Namun justru itulah ujian “hazard” bagi kita. Kita harus menambah komponen ikhtiar kita juga komponen doa kita terhadap yang Maha Mengabulkan permintaan. Karena disitulah esensi dari mengapa kita masih berdiri di kehidupan yang penuh duri saat ini.

Esensi Pendidikan di Indonesia

Sebenarnya apa sih esensi pendidikan terutama di Negara kita Indonesia? Pertanyaan ini terjawab ketika saya mendapatkan kesempatan berdiskusi dengan salah satu former guru besar Universitas Negeri Jakarta yang sekarang masih aktif di dunia pendidikan, Bapak Prof. Arief Rachman.

Esensi Kegiatan Belajar Mengajar ??

Mungkin ini hal yang sepele dan jarang dipikirkan banyak orang, namun justru esensi dasar pendidikan di Indonesia inilah yang merupakan suatu basis fundamental untuk kita selama menempuh jenjang pendidikan di Indonesia. Beliau pertama sangat menekankan sekali definisi pendidikan sesuai UU yang berlaku di Indonesia.

Dalam Undang-undang sistem Pendidikan Nasional, Bab I, Pasal I dinyatakan:

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarkat, bangsa dan negara

Adapun fungsi dari pendidikan itu sendiri seperti diutarakan dalam Bab II, Pasal 3:

Pendidikan  nasional  berfungsi  mengembangkan  kemampuan  dan  membentuk  watak serta peradaban  bangsa  yang  bermartabat  dalam  rangka  mencerdaskan  kehidupan bangsa,  bertujuan untuk  berkembangnya  potensi  peserta  didik  agar  menjadi  manusia yang  beriman  dan  bertakwa  kepada  Tuhan  Yang  Maha  Esaberakhlak  mulia,  sehat, berilmu,  cakap,  kreatif,  mandiri,  dan menjadi  warga  negara  yang  demokratis  serta bertanggung jawab.

Dari 2 wacana di atas dapat kita simpulkan, kata yang pertama kali tertulis sebagai  esensi dari pendidikan di Indonesia adalah “kekuatan spiritual keagamaan” dan “manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia”.

Justru bukanlah ilmu eksak ataupun nilai yang menjadi tujuan utama kita menuntut ilmu dalam setiap jenjang pendidikan. Melainkan karakter dan akhlak mulia yang berbasis ketakwaan kepada Tuhan YME –lah yang harus ditanamkan dalam setiap generasi terdidik bangsa kita.

Namun, fakta yang ada di Negara kita sekarang lebih dikerucutkan hanya sebatas pendidikan dasar ke arah pengembangan intelektual belaka (kognitif) dan minim penekanan dalam pembinaan sikap, karakter dan akhlak (afermatif).Idealnya poin-poin termasuk kognitif, pendidikan informal, pengabdian masyarakat, penelitian semua pendidikan itu harus bertujuan utama untuk iman, takwa dan akhlak mulia tadi.

Karenanya esensi pendidikan di Indonesia itu seharusnya “konsistensi kita terhadap definisi dan fungsi pendidikan sesuai UU yang telah berlaku di Negara kita.” Inilah yang menjadi tantangan kita sebagai penerus estafet perjuangan bangsa untuk lebih menitik-beratkan karakter sebagai pembelajaran utama bagi seluruh peserta didik di Indonesia. Agar kelak terbentuk suatu masyarakat yang madani, cerdas dan dapat membawa Indonesia ke jenjang yang lebih tinggi oleh para generasi muda yang terdidik dan berakhlak mulia.

[Sumber Link]

UU Pendidikan: http://www.inherent-dikti.net/files/sisdiknas.pdf

Pernahkah kita berpikir?

Pernahkah kita berpikir?

Ternyata banyak sekali orang-orang yang telah berbuat banyak untuk kita. Sebut saja bapak-bapak yang menggunakan seragam kuning yang siap membersihkan dan mengangkat sampah yang kita buang. Mereka rela dengan ikhlas berkutat dengan sampah mencucurkan keringat demi kebersihan lingkungan tempat tinggal kita. Tentunya apa yang mereka dapat jauh sekali bandingannya dengan apa yang telah mereka lakukan. Berdasarkan sumber data, gaji mereka-mereka hanyalah berkisar 400 ribu per bulan. Silahkan bandingkan. Ekivalen-kah input dan output yang mereka kerjakan?

Pernahkah kita berpikir? Jika orang-orang tersebut mogok kerja dikarenakan protes gaji yang mereka dapatkan sangat sedikit? Apa yang akan terjadi terutama di Indonesia. Dalam headline tertulis “Pasukan kuning, petugas kebersihan seluruh kota di Indonesia sepakat mogok kerja minta dinaikan gaji”. Pernahkah kita berpikir?

Sesungguhnya mogoknya mereka bekerja akan sangat jelas dampaknya ketimbang “maling-maling” di pemerintahan dan perusahaan yang hanya duduk di kursi hangat, dan hanya bertugas menandatangani dokumen-dokumen penting keuangan. Ditambah lagi permainan uang gelap yang kerap kali mereka terapkan meresahkan banyak orang kalangan bawah, justru orang-orang tersebutlah yang jika mogok kerja alhasil malah masyarakat yang bahagia. Ketimbang mereka yang telah rela membersihkan kota demi kemaslahatan bersama.

Pernahkah kita berpikir ?

Oleh karena itu teman hargailah orang-orang yang telah bekerja keras demi kita. Rela menahan bau tengik sampah yang membunuh setiap sel saraf indera penciuman mereka ketika mereka berendam dalam lautan sampah yang disebabkan oleh kita. Mulailah bantu mereka, setidaknya untuk tidak membuang sampah sembarangan. Jika terdapat beberapa kotak sampah berbeda jenis, pilahlah sampah yang kita buang. Kertas, organic, anorganik dsb. Hargailah mereka jika perlu kenal-lah dan tegurlah mereka. Apalah yang bisa kita berikan selain secercah senyum tulus rasa terima kasih kita kepada mereka.

Yang lebih baik lagi gunakan kekuatan yang kalian miliki untuk menolong mereka. Jikalau kalian memiliki komunitas yang peduli perubahan cobalah bantu mereka dengan tenaga kerelawanan. Atau jika kalian seorang calon engineer, ciptakanlah inovasi alat yang memudahkan mereka. Susungguhnya sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain. So, pernahkah kita setidaknya terlintas sesaat berpikir seperti itu ?

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 612 other followers