Pentingnya Diversifikasi Gerakan Mahasiswa
Gerakan horizontal dan vertikal. Tentunya kita pemuda (khususnya para mahasiswa) hampir sudah tidak asing lagi dengan kata-kata tersebut. Sudah puluhan bahkan ratusan kali kedua kata tersebut berputar mengelilingi alam sadar pikiran kita. Baik dari berita, hasil diskusi, maupun dalam materi kaderisasi kampus.
Tapi sebenarnya, penggunaan diksi gerakan mahasiswa yang terbagi atas horizontal dan vertikal ini, baru dibuat beberapa tahun belakangan ini. Dalam rangkaian Diklat Dasar Aktivis Terpusat ITB, Kak Ilham Arif Nasution, Mensospol Kabinet KM ITB 2009/2010 mengatakan pada masanya masih belum ada yang namanya gerakan horizontal dan vertikal. Kata-kata tersebut baru mem-booming sekitar tahun 2010 ini, dikarenakan semakin urgen nya diversifikasi dari gerakan mahasiswa tersebut.
Dulu ketika era reformasi, gerakan vertikal-lah yang paling krusial dilakukan mengingat bobroknya bagian atas (system dan pemerintahan) dari Indonesia. Namun seiring berjalannya waktu, mahasiswa mulai resah dikarenakan pemerintah masih belum mampu juga menyentuh ranah-ranah bagian bawah (masyarakat kecil). Akhirnya terbentuklah gerakan horizontal dengan objek masyarakat sekitar.
Namun, di beberapa tahun belakangan ini, beberapa mahasiswa kebanyakan bersifat apatis terhadap gerakan vertikal yaitu yang menusuk secara langsung kebijakan. Mereka lebih bangga dan lebih memilih untuk bergerak secara horizontal melalui pengabdian masyarakat. Padahal seharusnya kedua gerakan tersebut harus seimbang dan keduanya memiliki tingkat kepentingan yang cukup tinggi. Bahkan untuk cakupan tertentu penulis berpendapat gerakan vertikal-lah yang lebih penting dari gerakan horizontal.
Dalam acara Indonesian Young Changemakers Summit 2012 yang penulis ikuti, walikota solo Bapak Joko Widodo, mempresentasikan salah satu dampak jika kebijakan yang dibuat digunakan sebagaimana mestinya. Beliau memperlihatkan ketika beliau memimpin Solo, dengan kekuatan kebijakannya, beliau bisa lebih memperhatikan rakyat-rakyat kecil, merubah sistem pembuatan KTP yang bobrok, memprioritaskan rakyat miskin dalam pelayanan kesehatan, dan lain sebagainya. Hal ini dikarenakan karena beliau mendapat keluhan dari rakyatnya, salah satunya melalui demonstrasi dan audiensi (gerakan vertikal). Coba pikirkan saja misal yang menggunakan kebijakan tersebut adalah presiden, dan objek dari kebijakan tersebut adalah Negara. Seberapa besar perubahan yang bisa terjadi??
Dalam hal ini, bukan berarti gerakan horizontal tidak berguna sama sekali. Gerakan dengan objek masyarakat ini bisa juga mengubah bangsa dari sektor bawah (pondasi) yang mungkin pemerintah masih sulit mencapainya dikarenakan permasalahan di Indonesia yang sudah terlalu kompleks. Meski dampak yang dihasilkan tidak se-signifikan gerakan vertikal namun ini bisa menjadi dasar, bukti bahwa mahasiswa tidak hanya sekedar teriak-teriak dan turun ke jalan namun bisa juga bertindak melakukan sesuatu yang kongkrit untuk bangsa.
Salah satu dampak yang saya rasakan dari gerakan horizontal, adalah ketika Himpunan Mahasiswa Elektroteknik (yang saya tergabung didalamnya) membuat proyek PALAPA, yaitu pembangunan PLTA piko-hidro di suatu desa. Alhasil PLN mendeteksi desa tersebut yang sebelumnya belum mendapat pasokan listrik, menjadi mendapat listrik dari PLN. Hal ini dikarenakan (mungkin) PLN malu, jika mahasiswa saja bisa menerangi suatu desa, sedangkan mereka (PLN) yang seharusnya berkewajiban menerangi seluruh Indonesia belum bisa menunaikan kewajibannya tersebut.
Secara umum kita bisa mengatakan gerakan horizontal itu adalah gerakan instan yang dampaknya bisa kita rasakan dengan cepat namun dengan lingkup objek yang sempit. Sedangkan gerakan vertikal adalah gerakan jangka panjang namun dengan lingkup objek yang cukup luas (kebijakan/policy).
Inti dari tulisan saya ini adalah, diversifikasi gerakan (mahasiswa) sangat penting terutama untuk perubahan bangsa. Jangan skeptis terhadap gerakan vertikal! Dan jangan pula hanya bisa bacot saja tanpa realisasi dan bukti tindakan yang nyata dengan gerakan horizontal! Keduanya harus jalan berdampingan dengan kapasitas kepentingan yang sama. Saya yakin Negara kita akan mengalami perubahan positif dengan semakin dinamisnya berbagai jenis gerakan mahasiswa, InsyaAllah!!
Merefleksikan “Hazard” dari Mata Kuliah Sistem Digital dalam Kehidupan
Sebagai mahasiswa program studi teknik Elektro Institut Teknologi Bandung, di semester ini saya mengambil mata kuliah system digital. Inti dari mata kuliah ini adalah mempelajari dasar fundamental dari teknologi yang tidak bisa lepas dari kehidupan manusia sekarang yaitu teknologi digital. Salah satu penggunaan sederhananya bisa dilihat di jam digital, lampu lalu lintas, papan skor olahraga dll.
Sebelum masuk ke poin utama, saya ingin menjelaskan sesingkat dan sesimple mungkin overview dari matak kuliah ini. Dalam sistem digital hanya diketahui 2 logika yaitu logika ‘1’ dan ‘0’. Simpelnya logika 1 itu adalah ketika rangkaian mendapat aliran listrik tinggi (5 volt misal) dan logika 0 ketika mendapat aliran listrik rendah dan/atau tidak mendapat listrik. Karena dalam rangkaian elektrik hanya bisa dideteksi 2 buah sinyal, yaitu ada aliran listrik dan tidak ada aliran listrik sama sekali makanya logika hanya ada dua, yaitu logika 1 dan 0.
Sederhananya gini deh; ada lampu terhubung dengan switch. Lampu tersebut akan menyala ketika dia mendapat logika 1 (ketika mendapat aliran listrik) dan padam ketika ber-logika 0 (yaitu ketika aliran listrik terputus.
“Hazard” dalam sisdig (singkatan dari system digital) adalah kondisi dimana terjadi perubahan sinyal yang tidak diharapkan, yang sesaat, akibat propagasi delay dalam rangkaian. Untuk penjelasan mungkin tidak perlu ya (karena cukup kompleks, haha). Tapi untuk contoh sederhananya kita lihat pada lampu sen motor deh yang berkedap kedip. Itu merupakan salah satu aplikasi system digital, yaitu lampu motor tersebut akan mendapatkan secara bergantian logika 1 dan logika 0. Nah hazard bisa terjadi sesaat dari 1 ke 0 padahal tidak kita harapkan.
-
Sekarang saya menggambarkan rangkaian tersebut adalah adalah diri kita. Kita mendapat logika 1 adalah ketika kita dalam kondisi prima, optimis dan sedang dalam posisi keberhasilan. Sedangkan logika 0 adalah ketika kita mengalami kegagalan, kesedihan yaitu ketika kondisi kita sedang di bawah. Tentunya layaknya waveform di atas, diagram hidup kita pastinya secara konstan naik turun terus seperti kurva sinus, itu sesuatu yang tidak dapat kita pungkiri. Namun terdapat juga hazard dalam kehidupan kita ini yaitu ketika kita mengharapkan logika satu, tapi yang terjadi adalah kita mendapat kogika 0.
Tentunya dalam system digital ada solusi untuk mengatasinya, yaitu dengan menambah gerbang logika (intinya komponen tambahan) dan pastinya akan memerlukan cost yang lebih. Pemikiran pelitnya, berarti kita harus menambah biaya lagi untuk membeli komponen tambahan. Sama seperti kehidupan kita. Dalam mengatasi hal-hal yang diluar dugaan dan yang tidak diharapkan (hazard ), missal ketika kita gagal, belum mencapai tujuan awal ketika kita melakukan sesuatu, dll; tentunya yang harus kita lakukan bukannya menyesali dan tenggelam dalam kekecewaan. Justru kita harus menambah komponen perjuangan kita agar tidak terjadi lagi hazard di kedepannya.
Tentunya ketika kita meningkatkan usaha yang lebih, tenaga dan pikiran yang baru lagi akan menghasilkan cost dan harga yang tidak seperti biasanya juga. Kita harus bangkit dan rela mengorbankan waktu kita, keluar dari zona nyaman kita dan mengeluarkan cucuran keringat yang lebih dari yang biasa kita keluarkan. Alhasil kita bisa mengatasi hazard tersebut yaitu kembali mencapai logika 1.
Dalam kehidupan, banyak sekali suka duka yang kita rasakan. Kegagalan – keberhasilan, saling bergantian menyapa diri kita. Kita sudah belajar dengan giat, ternyata IP pas-pas-an. Kita berusaha keras dalam suatu lomba, ternyata tidak lolos. Kita sudah seteliti mungkin menyusun rencana ternyata hasil akhir berantakan. Namun justru itulah ujian “hazard” bagi kita. Kita harus menambah komponen ikhtiar kita juga komponen doa kita terhadap yang Maha Mengabulkan permintaan. Karena disitulah esensi dari mengapa kita masih berdiri di kehidupan yang penuh duri saat ini.
Esensi Pendidikan di Indonesia
Sebenarnya apa sih esensi pendidikan terutama di Negara kita Indonesia? Pertanyaan ini terjawab ketika saya mendapatkan kesempatan berdiskusi dengan salah satu former guru besar Universitas Negeri Jakarta yang sekarang masih aktif di dunia pendidikan, Bapak Prof. Arief Rachman.
Mungkin ini hal yang sepele dan jarang dipikirkan banyak orang, namun justru esensi dasar pendidikan di Indonesia inilah yang merupakan suatu basis fundamental untuk kita selama menempuh jenjang pendidikan di Indonesia. Beliau pertama sangat menekankan sekali definisi pendidikan sesuai UU yang berlaku di Indonesia.
Dalam Undang-undang sistem Pendidikan Nasional, Bab I, Pasal I dinyatakan:
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarkat, bangsa dan negara
Adapun fungsi dari pendidikan itu sendiri seperti diutarakan dalam Bab II, Pasal 3:
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Dari 2 wacana di atas dapat kita simpulkan, kata yang pertama kali tertulis sebagai esensi dari pendidikan di Indonesia adalah “kekuatan spiritual keagamaan” dan “manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia”.
Justru bukanlah ilmu eksak ataupun nilai yang menjadi tujuan utama kita menuntut ilmu dalam setiap jenjang pendidikan. Melainkan karakter dan akhlak mulia yang berbasis ketakwaan kepada Tuhan YME –lah yang harus ditanamkan dalam setiap generasi terdidik bangsa kita.
Namun, fakta yang ada di Negara kita sekarang lebih dikerucutkan hanya sebatas pendidikan dasar ke arah pengembangan intelektual belaka (kognitif) dan minim penekanan dalam pembinaan sikap, karakter dan akhlak (afermatif).Idealnya poin-poin termasuk kognitif, pendidikan informal, pengabdian masyarakat, penelitian semua pendidikan itu harus bertujuan utama untuk iman, takwa dan akhlak mulia tadi.
Karenanya esensi pendidikan di Indonesia itu seharusnya “konsistensi kita terhadap definisi dan fungsi pendidikan sesuai UU yang telah berlaku di Negara kita.” Inilah yang menjadi tantangan kita sebagai penerus estafet perjuangan bangsa untuk lebih menitik-beratkan karakter sebagai pembelajaran utama bagi seluruh peserta didik di Indonesia. Agar kelak terbentuk suatu masyarakat yang madani, cerdas dan dapat membawa Indonesia ke jenjang yang lebih tinggi oleh para generasi muda yang terdidik dan berakhlak mulia.
[Sumber Link]
UU Pendidikan: http://www.inherent-dikti.net/files/sisdiknas.pdf
Pernahkah kita berpikir?
Pernahkah kita berpikir?
Ternyata banyak sekali orang-orang yang telah berbuat banyak untuk kita. Sebut saja bapak-bapak yang menggunakan seragam kuning yang siap membersihkan dan mengangkat sampah yang kita buang. Mereka rela dengan ikhlas berkutat dengan sampah mencucurkan keringat demi kebersihan lingkungan tempat tinggal kita. Tentunya apa yang mereka dapat jauh sekali bandingannya dengan apa yang telah mereka lakukan. Berdasarkan sumber data, gaji mereka-mereka hanyalah berkisar 400 ribu per bulan. Silahkan bandingkan. Ekivalen-kah input dan output yang mereka kerjakan?
Pernahkah kita berpikir? Jika orang-orang tersebut mogok kerja dikarenakan protes gaji yang mereka dapatkan sangat sedikit? Apa yang akan terjadi terutama di Indonesia. Dalam headline tertulis “Pasukan kuning, petugas kebersihan seluruh kota di Indonesia sepakat mogok kerja minta dinaikan gaji”. Pernahkah kita berpikir?
Sesungguhnya mogoknya mereka bekerja akan sangat jelas dampaknya ketimbang “maling-maling” di pemerintahan dan perusahaan yang hanya duduk di kursi hangat, dan hanya bertugas menandatangani dokumen-dokumen penting keuangan. Ditambah lagi permainan uang gelap yang kerap kali mereka terapkan meresahkan banyak orang kalangan bawah, justru orang-orang tersebutlah yang jika mogok kerja alhasil malah masyarakat yang bahagia. Ketimbang mereka yang telah rela membersihkan kota demi kemaslahatan bersama.
Pernahkah kita berpikir ?
Oleh karena itu teman hargailah orang-orang yang telah bekerja keras demi kita. Rela menahan bau tengik sampah yang membunuh setiap sel saraf indera penciuman mereka ketika mereka berendam dalam lautan sampah yang disebabkan oleh kita. Mulailah bantu mereka, setidaknya untuk tidak membuang sampah sembarangan. Jika terdapat beberapa kotak sampah berbeda jenis, pilahlah sampah yang kita buang. Kertas, organic, anorganik dsb. Hargailah mereka jika perlu kenal-lah dan tegurlah mereka. Apalah yang bisa kita berikan selain secercah senyum tulus rasa terima kasih kita kepada mereka.
Yang lebih baik lagi gunakan kekuatan yang kalian miliki untuk menolong mereka. Jikalau kalian memiliki komunitas yang peduli perubahan cobalah bantu mereka dengan tenaga kerelawanan. Atau jika kalian seorang calon engineer, ciptakanlah inovasi alat yang memudahkan mereka. Susungguhnya sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain. So, pernahkah kita setidaknya terlintas sesaat berpikir seperti itu ?
Bakat, Konstanta, Variabel, dan Fungsi Keberhasilan
Ada yang tahu seberapa besar “BAKAT” bisa mempengaruhi kesuksesan seseorang ??
Ya, secara general dan pribadi pendapat saya sendiri, saya ternasuk orang yang mempercayai bahwa sedikit sekali bakat itu berpengaruh terhadap kemampuan seseorang akan sesuatu. Bahkan, bisa dibilang saya ga percaya ada yg namanya bakat.
Well, sebenarnya ga gitu juga kan. Saya hanya ingin menyampaikan melalui tulisan ini bahwa variabel yang mempengaruhi seseorang untuk bisa menguasai sesuatu tidak mutlak hanya Bakat. Mungkin tergambar cukup aneh, dikarenakan banyak orang2 yang berhasil sekarang, salah satu sebabnya karena bakat. Tapi sesungguhnya dibalik semua itu, terdapat “variabel2 lain”, yang menurut pendapat saya pribadi, variabel2 lain itulah yang selama ini “dianggap” orang-orang sebagai bakat. Meski padahal secara definisi pribadi, itu sangat jauh dari benar.
Try to make it simpler
Okay, mungkin sedikit rada ribet saya menjelaskannya. Intinya gini deh.. Saya dulu ketika kecil (bukan muda, karena kalo dulu muda, sekarang apa dong #GaPenting) sering sekali bertanya-tanya kenapa orang-orang di depan saya bisa melakukan banyak hal dibanding saya.
“Kenapa sih dia hebat bgt main bolanya? padahal secara postur tubuh *maaf* saya jauh lebih unggul dari dia?” #NoMention
“Mengapa sih, kakak itu lancar sekali baca Al-Quran nya. Sedang saya perasaan udah hampir tiap hari ngaji masih susah banget lancarnya??
“Mengapa sih, dia kok cepat sekali yaa bisa bahasa Inggrisnya dibanding saya??
Dilanjutkan dengan mengapa-mengapa lainnya yang mungkin ga bakal cukup kalo ditulis disini semua. Nah, yang ingin saya tekankan disini, benarkah mereka2 yang saya sebut diatas “bisa” karena “bakat”. Bisa karena mereka sudah ditakdirkan untuk bisa. Bisa, karena sudah di cap tallentnya sejak lahir adalah hal2 tersebut. Satu jawaban: TIDAK.
Yaa, bakat bukanlah variabel mutlak untuk menjawab pertanyaan2 di atas. Sesungguhnya BAKAT disini hanya berlaku sebagai KONSTANTA yang mengikuti VARIABLE-VARIABLE lain yang bisa kita tentukan sesuka kita.
Oke, mungkin sedikit sulit digambarkan dengan kata-kata. Let’s talk about it, mathematically !
Kita kembalikan semua ke dalam hal matematika. Disini kita ibaratkan f adalah suatu fungsi yang bakal menentukan “Kebisaan/Kemampuan” kita terhadap sesuatu, sehingga:
f =Kemampuan Kita terhadap Sesuatu
maka bakat disini hanyalah sebatas konstanta yang tidak akan bisa kita ubah sekeras apapun kita lakukan.
Kita lambang kan Bakat = K
Terus, fungsi f konstan dong kalo gitu, yaitu f = K ?? ntar duluu. Justru disinilah saya baru mau tuliskan, variabel lain yang bisa kita ubah sesuka kita.Yaitu:
Variabel “Kemauan”, kita lambangkan = W
Variabel “Tindakan”, kita lambangkan = A
Variable “Ke-konsisten-an” Kita lambangkan = C
Variable “Waktu” kita lambangkan = T
Variable “Doa” kita lambangkan = D
Nah, sebenarnya masih banyak variable lain yang bisa merupakan input dari fungsi ini. Tapi saya coba sampaikan berdasarkan pandangan pribadi saya. Jadi, fungsi f di atas akan saya tuliskan seperti ini :
f (A,W,C,T) = [K + W(AC+T)] + D
Nah, jadi disini yang ingin saya tekankan, variable terpenting yang akan menentukan fungsi f ini bernilai besar adalah variable W, C, T ini dengan yang paling fundamental dibutuhkan adalah variable W, yaitu will atau kemauan.
Jika diibaratkan, anggaplah seburuk-buruknya, kita mempunya K = 0, misal dalam hal bermain basket. Itu sungguh tidak terlalu mempengaruhi fungsi, jika kita punya kemauan untuk belajar bermain basket tersebut. Akan tetapi, disini variable W diikuti 3 variable lainnya yaitu A, C dan T yg mana misal mereka tiga2nya juga nol, (A=0, C=0 & T=0), meski kemauan kita besar, akan sama saja tetap menghasilkan angka nol.
Karena, disini selain hanya sebatas kemauan harus ada juga act (tindakan) yang nyata yang harus kita lakukan. Misal dalam hal bermain basket tadi, kita punya kemauan untuk bisa, maka kita bertindak dengan mencoba memainkannya. Selain itu, ada juga variable C, yaitu konsisten. Untuk memperoleh nilai f yang besar, aksi (variable A), harus diiringi dengan ke-konsisten-an (variable C). Yaitu kita konsisten dan keep doing n moving forward begitu, dalam mempelajari suatu hal.
Kembali ke pertanyaan
“Kenapa sih dia bisa selancar itu membaca Al-Quran?? sedang saya sudah sering ngaji masih sulit untuk lancar “.
Nah disinilah variable C berperan. Parameter “Sering” yang terpatri dipikiran kita itu, mungkin ga kira2 berbeda dengan parameter sering dengan orang yang kita perbandingkan. Itulah varible C, atau konsisten. Mungkin kita ngaji, namun ga konsisten setiap hari ngaji, karena terlupakan kesibukan2 dunia, sedang dia setiap hari konsisten untuk “menyeringkan” diri untuk mengaji.
Variable T disini cukup berperan juga. Sudah berapa lamakah dia konsisten membaca Al-Quran setiap hari tersebut. Bisa saja, kita hanya setelah dihitung2 baru 1 tahun, sedangkan dia sudah 9 tahun. Kan beda bgt ternyata. Gitu.
Ohya satu variable yang paling penting lagi yang tidak bisa dilupakan adalah variable D, yaitu doa. Karena di dunia ini, semua hasil tidak bisa hanya dari usaha yang kita lakukan. Kita bisa sekeras mungkin mencoba sesuatu, namun untuk urusan hasil Allah lah yang menentukan segalanya. Mengapa saya menggunakan kurung siku yang memisahkan Doa (variable D) dengan yang lainnya, itu untuk lebih menekankan bahwa kedua hal tersebut terpisah. Ikhtiar dan Doa harus lah seimbang. Bahkan, jika untuk ekstremnya, fungsi itu dapat diubah seperti ini:
f (A,W,C,T) = [K + W(AC+T)] D
Yaitu pemisah dan penentu kemampuan dan keberhasilan kita, adalah D ini. Jika D nol, maka sama saja, mau sebesar apapun konstanta K mu, seberapa keras pun kamu meningkatkan variable lain, tetap saja apapun dikalikan dgn nol, makan hasilnya juga akan menjadi nol. Karena bisa saja kan, kita udah punya konstanta bakat gede, variable sudah diasah setinggi mungkin, namun ketika ditengah jalan pulang, saat kita menyeberang zebra cross, tiba2 ada busdengan kecepatan tinggi memberikan momentum kebadan kita?? Nah Lo.. Naudzubillah.
Nah intinya, itu lah bagaimana fungsi f dihasilkan. Bakat sungguhlah tidak penting dalam fungsi ini, karena masih ada varible W yaitu kemauan untuk mengembangkan sesuatu. Jangan takut kalah sama si Fulan dikarenakan dia punya bakat bermain bola yang hebat. Karena dibalik itu saya yakin, justru yang paling besar mempengaruhi kelihaian dia dalam bermain bola, adalah varible W(AC + T) tadi plus doa2nya tadi (variable D). Mungkin disaat kita tidur2an dan bermain game, dia sedang bercucuran keringat untuk melatih teknik drible nya. Disaat kita sedang asik2nya membaca komik dan bermalas-malasan, dia sedang semangat2nya sendirian ditengah kotak 12 lapangan bola, untuk melatih tendangan jarak dekatnya. Di kala kita sedang asik tidur terlelap, dia sedang menangis tersujud dalam qiyamul lailnya, guna memohon kepada Yang Maha Kuasa untuk masa depannya.
Begitulah fungsi f yang akan menentukan keberhasilan manusia !









Recent Comments